Aksara

Ini pertama kalinya saya belajar aksara daerah. Bukan pertama juga sih, orang aksara pertama saya adalah aksara Jawa. Saya dulu fasih menulis dalam aksara Jawa, tapi sekarang sudah agak lupa. Sembari mengingat ingat lagi aksara Jawa, saya belajar aksara Pallawa, sebuah jenis aksara yang berasal dari India. Hurufnya sedikit sedikit mirip dengan aksara Jawa. Sudah lama sekali saya ingin belajar Pallawa dan baru sekarang menemukan gurunya. Should I mention my teacher? It seems not an important at all. Wkwk. (no offense ya Mas C. Ramadhani. Thanks for giving me chance to learn much thing from you). Hehe.

Pertemuan pertama, saya belajar delapan belas huruf pallawa beserta unsur suara yang menyertai huruf. Malamnya saya langsung fasih. Saya baru menyadari saya menulis banyak sekali dalam huruf Pallawa. Agak susah memang pada awalnya (karena saya agak bermasalah dengan simbol) akan tetapi it was surprising bahwa saya bisa menulis dengan lumayan lancar. Ketika saya menunjukkan tulisan tersebut kepada guru saya, dia malah ketawa cekikikan. Dia senang karena saya begitu niat belajar aksara. (Fine, tapi ketawanya yang anggun dong).

Berbeda ketika saya belajar aksara Mandarin atau Jepang beberapa tahun yang lalu. Mungkin karena memang saya punya passion yang lebih di sini. Passion untuk membaca aksara prasasti lebih besar dibandingkan dengan membaca symbol bahasa asing tersebut. (Kalau bisa sih tidak hanya pallawa saja. Saya juga ingin membaca aksara bahasa daerah lain). Hiragana Katakana Kanji mungkin orang akan bilang keren banget kalau kita bisa menguasainya. Semacam pembuka pintu kesuksesan karena bahasa tersebut merupakan beberapa dari bahasa yang digunakan secara internasional. Tapi saya akan bilang, lebih kece kalau kamu menguasai budayamu sendiri. Well, mungkin untuk bisa sampai pada tahap menguasai dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. Tetapi sungguh hal yang baik jika orang Indonesia tahu kebudayaan Indonesia. Minimal tahu lah.

Belajar Pallawa mungkin tidak akan banyak membantu di masa modern ini karena orang lebih menyukai simbol-simbol bahasa Jepang, Mandarin dan lainnya. Tapi buat saya tidak begitu. Saya belajar Pallawa karena saya merasa membutuhkan. Saya merasa harus mengenali kebudayaan negeri ini. Yeah, pallawa memang bukan asli Indonesia, tapi jika suatu saat saya bisa baca prasasti, pergi ke Hyderabad atau membaca kitab kuno milik leluhur bangsa, siapa tahu kan? Suatu hari nanti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s