Orang-Orang Ceria

Apakah saya orang yang ceria? Iyalah. Saya mah ceria ceria aja tiap hari. Nggak panas nggak hujan, nggak mendung nggak cerah, saya selalu ceria. No matter what. Simpel saja, jangan menampakkan dirimu bersedih. Hidup ini indah dan tidak perlu terlalu banyak disedihkan. Berhubungan dengan keceriaan, kali ini saya mau cerita yang temanya menyerempet tentang komunikasi.

Masalah komunikasi, jujur sampai sekarang saya masih terbata bata. Saya bisa berkomunikasi lancar tapi tidak sebaik dan sekeren orang lain. Cadel? Tidak. Masalah saya ada pada penyusunan kalimat yang terkadang masih acak-acakan dan terlalu singkat. Berbicara di depan publik adalah salah satu masalah terbesar saya. Sekarang saja masih jauh lebih mendingan dibandingkan dulu. Saya nggak suka ngomong panjang lebar di depan publik (bahkan sampai sekarang). Kalau dipikir-pikir, dulu itu gara-gara saya tidak punya kepercayaan diri yang cukup. Alasannya? Ada. Ini tentang lingkungan yang tidak mendukung untuk bisa belajar berkomunikasi dengan baik. Saya jadi pemalu, nggak ada keberanian untuk berbicara lebih. Lingkungan yang masih memikirkan ego masing-masing tanpa memberikan kesempatan untuk orang lain berkembang lebih baik dalam bidang komunikasi. Tapi sekarang sedikit lebih baik karena saya sudah punya keberanian untuk sekedar sedikit berbicara. Dulu? Saya maju aja ogah-ogahan. Mendingan duduk diam, tanya dari bangku dibandingkan harus menjelaskan panjang lebar di depan. Sekarang saya sudah mau untuk menerima tanggungjawab yang diberikan untuk memimpin sebuah divisi kecil. Saya belajar banyak dalam hal berkomunikasi ketika saya disini. Lingkungan yang mendukung untuk berkembang dengan baik disertai orang orang yang sudah berpikiran untuk maju bersama-sama tanpa memikirkan egoisitas masing-masing.

Saya bisa bilang bahwa saya tidak pandai untuk membawa suasana. Pernah saya beberapa kali mengikuti kelas public speaking. Hasilnya? Ancur. Saya nggak bisa ngomong panjang dan banyak seperti halnya orang lain. Kadang saya iri dengan orang-orang yang bisa membawa suasana menjadi sedikit lebih ceria karena mereka bisa menempatkan diri sebagai orang yang menyenangkan untuk diajak bicara. Lebih tepatnya orang-orang lucu dan ceria. Sebenarnya saya sejak kecil sudah bisa menempatkan diri saya menjadi orang yang bisa diajak bertukar pikiran. Tapi saya bukan golongan orang lucu yang bisa menghibur orang lain dengan celotehan-celotahan pengusir sedih seperti Ibuk saya, Erlina, Sri, Ratna, Mas Yona, Mas Ardi, Agil, Mas Jaka, Mbak Rinda, Arma dan orang orang lainnya.

Tidak jauh jauh, ibuk saya termasuk orang yang bisa membawa situasi menjadi menyenangkan. Teman teman saya menyukai ibuk saya. Mereka bilang beliau hangat. Memang iya. Beliau memang begitu ceria dan hangat. Setiap orang yang berkunjung, selalu disambut oleh ibu saya dengan tangan terbuka dan kehangatan. Teman-teman saya bahkan bilang “kamu itu beda. Ibukmu hangat tapi kamu tidak. Bisa dibilang kamu ini pendiam dan cenderung dingin”. Oke, Fine, itu situasi beberapa tahun lalu. Sekarang saya bukan lagi orang yang dingin. Mungkin masih, tapi saya sangat berusaha menjadi orang yang hangat.

Dalam perjalanan saya, saya mulai berpikir bahwa menjadi orang yang dingin bukanlah sebuah jawaban. Jika kamu bisa menjadi pelita yang menjadi penerang dan menghangatkan suasana untuk orang lain, kenapa tidak?. Bukankah menjadi sedikit lebih ramah lebih menyenangkan dibandingkan dengan berlaku sok jaim nggak keren?. *tapi saya dari dulu bukan tipe orang sok jaim lho. Cuma banyak gaul tapi pendiam aja, tapi nggak jaim-jaim juga lah. Nah lo, bingung kan?.

Saya mulai berpikir ketika kita ngomong sama orang yang sok dingin itu menyebalkan. Berapa kali saya dijutekin sama orang yang sok dingin. Saya cuma bisa mengumpat. Sialan, ditanyain baik-baik malah jawabannya sengak. Dikasih tahu malah responnya kayak nggak terima kayak sok bener sendiri. Siapa yang nggak males sendiri dong kalo diperlakukan seperti itu. Oleh karena dijutekin sama orang malesin model kayak gitu adalah sebuah hal yang menyebalkan, saya mulai belajar untuk menata diri menjadi orang yang lebih baik. Saya menjadi orang yang lebih hangat. Bisa? Saya berusaha, dan bisa!. Ahay..

Erlina, salah satu sahabat saya waktu saya kecil mampu membuat orang orang di sekitarnya tertawa. Ratna adalah salah satu keluarga saya. Sri, salah satu teman saya di sekolah dasar juga suka melontarkan candaan candaan lucu yang sumpah saya ngakak karena bukan hanya candaannya tapi caranya. Ada perbedaan cara berpikir antara dia dan saya. Saya hanya tertawa ketika dia mulai menggunakan pikirannya untuk menilai sesuatu. Saya harus tertawa karena itu tidak biasa. Dia perempuan yang punya jiwa kepemimpinan tinggi dengan tingkat humor tinggi. Ngakak kalau udah ada dia.

Saya ketemu mas Yona ceritanya aneh dan lucu. Suatu malam dia mengirim pesan kepada saya untuk briefing kegiatan karena pada briefing pertama saya tidak bisa datang. Dengan polosnya karena saya mengira beliau adalah seorang perempuan, maka saya panggil dia dengan sebutan Mbak. Baru beberapa hari kemudian ketika saya datang ke gathering, saya agak sedikit kaget dengan Yona yang saya pikir adalah perempuan. Semua perempuan yang ada di ruangan tersebut saya kenal semua. Lalu dimanakah Mbak Yona?. Tiba tiba seorang laki laki yang duduk di depan saya mengulurkan tangan, menjabat saya dan mengenalkan diri sebagai Yona. Saya hanya bisa bengong kaget nggak jelas gitu. Haaaa.. jadi selama ini yang saya panggil sebagai Mbak Yona adalah seorang cowok? Saya cuma bisa bilang minta maaf sambil ngerasa bersalah. -.-. tapi masnya juga nggak jelas sih, dia dari awal juga nggak jelasin kalau dia cowok. Mukanya lucu banget, kayak pemeran utamanya film Suck Seed. Mulai hari itu kita malah temenan dan sering saling ejek. No offense, nggak ada yang tersinggung sama sekali. Malah kampret banget ketika dia ngejek saya Indomaret. -.-haha.

Selama kerja bareng beliau, saya menilai kalau dia adalah tipe orang yang hangat. Orang yang ada di dekatnya tidak merasa terintimidasi malahan merasa gembira karena dia menyenangkan. Walaupun hanya beberapa hari bisa bertemu, saya seperti merasa sudah berteman lama. Cara dia menyapa, ngobrol, memperlakukan orang lain benar benar membuat orang merasa dihargai karena keramahannya. Saya belajar banyak dari Mas Yona.

Mas Jaka adalah salah satu sosok pemimpin yang baik yang pernah saya temui. Cara beliau memperlakukan staffnya, bahkan sampai ke rakyat jelata seperti saya. Dimana pun, dia berusaha memanusiakan manusia. Dia menyapa setiap orang yang ia kenal, mengajak bicara dan bercanda kepada siapapun yang sudah pernah ngobrol dengannya. Beliau tidak segan untuk membantu orang lain walaupun cuma orang biasa. Saya belajar kepemimpinan yang merakyat salah satunya dari beliau.

Anak anak KMMS rata rata juga lucu. Mereka sangat amat sangat menghibur. Tidak ada kata sedih bersama mereka. Mas Reski, Mas Ipul, Mas Bondan, Mas B.s, Mas Fajri, Anung, Daya, Fitri, Sukma, Mbak Cinta dan banyak anak KMMS lainnya terasa sangat selo seperti orang yang bisa santai walaupun beban hidup di pundak. Hidup memang berat, tapi tidak harus dijadikan beban bukan? Mungkin itu yang bisa saya pelajari dari mereka. Saya tidak bisa menceritakan mereka satu persatu satu karena saking banyaknya dan tidak cukup 5 halaman untuk bercerita tentang mereka.

Mengapa saya iri pada orang orang ceria? Karena mereka bisa bersikap santai dan tidak spanneng ketika menghadapi hidup. Hidup perlu candaan untuk sedikit meregangkan tegangnya hidup. Hidup udah susah, jangan dibikin susah. Mereka tidak akan mudah tersinggung karena tidak terus terusan menempatkan diri mereka sebagai orang yang stuck dengan perasaan mereka saja.

Pernah ketemu sama orang kaku? Pernah dong. Ada banyak orang, tapi saya hanya akan memberikan seorang contoh saja. Tidak perlu saya sebutkan namanya, saya pernah kerja bareng dia. Sebenarnya dia mempunyai kepemimpinan yang baik, tapi bawaannya nggak enak. Rasanya tiap kali di dekatnya, hawanya mendadak tegang, kaku dan tidak ada nyaman-nyamannya sama sekali. Pernah lho, saya nggak ngomong sama sekali padahal kita satu ruangan. Cuma karena bingung mau ngobrolin apa. Oleh karena saya nggak suka dengan situasi seperti itu, akhirnya sayalah yang biasanya dengan -selalu memaksakan diri- membuka pembicaraan walaupun topiknya nggak penting. Ah, sudahlah yang penting saya berusaha untuk bersikap tidak dingin. Mau dia merespon dengan pikiran terbuka atau tidak, saya tidak peduli. Saya cuma mau nunjukin kalau saya bisa ramah kok.

Bahasa yang ia tuturkan pun bisa dibilang nggak enak banget. Saya bahkan sedikit bernegatif thinking kalau sikapnya di depan saya adalah karena sebenarnya dia nggak suka sama saya. Oleh karena (mungkin) penampilan saya dan cara saya bergaul yang (mungkin) ia anggap tidak syar’i. Saya menilainya sebagai orang yang tahu agama, sedangkan saya bukan seseorang yang terlihat sangat agamis. (Bahkan bisa dibilang saya ini nyantai banget, cuek sama penampilan dan tidak merasa bahwa berteman harus dengan yang itu-itu saja atau yang segolongan dengan saya-alias sama sama ukhti aka cewek. Berteman itu yang fleksibel dong, bukan perkara ikhwan-akhwat. Ini soal gimana kamu bisa menjaga diri). Saya tidak tahu benar atau tidak karena saya merasa itu bukan topik yang baik untuk ditanyakan. Tapi saya mah cuek aja. Penampilan dan pergaulan itu urusan masing-masing orang. Yang penting saya tidak melanggar batas norma. Jujur, kalau nggak gara-gara harus satu kelompok sama dia, saya nggak akan mau deket-deket dia. Cukup tau aja, nggak perlu dalam-dalam. Males.

Satu tahun kemudian, keadaan berubah. Saya bengong ketika dia mengerjai saya. dia meletakkan isi asam jawa di tangan dan meminta saya memakannya. Saya tidak sadar bahwa itu asam jawa, saya pikir itu bahan makanan yang bisa ditelan. Candaannya memang sedikit berbahaya. Salah seorang teman saya bilang memang kalau dia bercanda seperti itu. Dan dia hanya akan bercanda jika sudah merasa dekat saja.

Sebenarnya yang membuat saya bengong adalah angin apa yang membuatnya berubah sedrastis ini. Dulu sama saya dia terkesan angkuh, dingin, seolah saya bisa berlaku seperti tersangka di depannya. Dia bahkan mengajak bicara saja hanya satu dua itupun berkesan nggak enak didengar. Sekarang? Dia mengajak bercanda, sedikit lebih ceria dan keangkuhannya berkurang. Apakah ini karena efek dia sudah berubah karena bisa bertoleransi terhadap lingkungannya, atau karena ada salah satu sahabatnya yang kerja bareng kami atau memang dia berusaha untuk introspeksi dan berusaha mencairkan diri?. Ah, sudahlah, semoga dia bisa belajar menjadi orang yang hangat. Dingin tidak selamanya keren, bung.

P.S : Lebih keren kalau kamu bisa dekat dengan rakyatmu.

Diantara semua orang orang ceria nan hangat yang pernah saya temui, saya amat sangat belajar tentang kehangatan dan hospitality dari Ibu saya. Beliau contoh terbaik yang pernah ada. Bagaimana ia memperlakukan semua orang yang datang ke kediaman kami, bagaimana ia menyambut tamu, bagaimana ia memanusiakan setiap orang yang mengenal keluarga kami. Bagaimana ia bersikap ceria, bagaimana ia menempatkan diri dalam berbagai situasi, bagaimana ia bersikap tegar, mencairkan suasana dan berbagai macam hal lainnya.

Saya jadi bernostalgia lagi sewaktu kakek nenek kami masih jadi satu sama kami dimana banyak sekali orang yang berkunjung. Kami layaknya sebuah keluarga yang sangat besar padahal tidak semua orang yang datang adalah bagian dari keluarga. Tapi mereka diperlakukan seperti keluarga dekat. Mungkin itulah yang membuat Ibu saya mempunyai hospitality yang sangat baik. Karena ia pernah melihat sendiri dan belajar secara langsung bagaimana interaksi antar manusia begitu pentingnya. Saya pun juga belajar banyak dari memori masa kecil saya. Dengan dinamika yang ada, saya memilih untuk menjadi seseorang yang hangat, seseorang yang bisa menempatkan diri dimanapun saya berada. Ketika kita bisa menjadi layaknya api penghangat untuk orang lain, mengapa tidak?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s