Memilih dan (atau) Tidak

Entah ini pemilihan umum ke berapa yang saya alami. Tahun ini, SBY tidak lagi menjabat sebagai presiden dan akan digantikan oleh pemimpin baru lewat suksesi bernama Pilpres. Tahun ini saya tidak tahu apakah saya akan memilih atau tidak. Beberapa orang koar-koar mengenai jangan golput atau lainnya. Mereka bilang golput akan memberikan kesempatan lebih kepada orang orang not capable untuk menjadikan negeri ini semakin rusak. Mungkin memang iya. Tapi saya punya pendapat saya sendiri mengenai golput. (kalau saya pulang pas musim pemilu gini, ngobrol soal politik sama nenek saya pasti seru nih).

Golput adalah sebuah kondisi dimana tidak ada calon yang capable untuk dipilih (pendapat menurut saya pribadi). Jika ada yang bilang pasti ada yang capable kok. Saya akan bilang : itu kan menurut panjenengan sendiri. Oleh karena pendapat orang berbeda-beda, saya tidak akan menyalahkan orang lain –dan saya harap orang lain pun tidak perlu berkomentar menyalah nyalahkan pendapat saya-. Golput itu tidak salah. Memilih adalah membuat keputusan untuk sebuah pilihan, namun tidak memilih pun juga sebuah pilihan bukan?. Buat saya, kalau kamu emang niat memimpin rakyat, maka tunjukkan apa yang kamu bisa lakukan, sebelum kamu berkoar koar mencalonkan dirimu sendiri dalam kancah perpolitikan. Baru setelah apa yang kamu lakukan dinilai baik oleh masyarakat, dengan sendirinya warga akan memilihmu menjadi pemimpin.

Bahkan kalau boleh jujur, ada sebagian kecil dari keluarga saya yang tahun ini menjadi calon legislatif. Sederhana saja, di tingkat DPR daerah. Apakah saya pulang untuk memilih mereka? tidak. Alasan saya simpel saja : mengapa saya harus memilih calon yang tidak capable. Persoalannya lebih kompleks lagi, kita tidak tahu banyak apa yang melatarbelakangi mereka maju sebagai caleg. Tidak ada basic politik, tidak paham peta perpolitikan dan kemudian maju menjadi wakil rakyat. Sudahlah, duduk diam manis saja dan kerjakan tugasmu sehari-hari sebagai warga negara yang bertanggungjawab kepada Tuhan, diri sendiri, keluarga dan anggota masyarakat. Jangan mengurusi masyarakat jika tanggung jawab terhadap keluarga saja belum bisa dipenuhi dengan baik.

Kadang saya ngerasa gusar dan esmosi sendiri ketika melihat beberapa anggota parlemen atau kader partai tertentu yang tersandung masalah. Apalagi beberapa mereka merupakan kader partai agama tertentu. Woy.. eling Gusti woy.. Jangan menjual agama atas nama partai. Apalagi kasus mereka seringkali tentang korupsi. Parah. Nggak usah bawa bawa agama kalau cuma mau mendahulukan kepentingan pribadi diatas kepentingan umum. Saya jadi inget sama perkataannya Bapaknya teman saya Mega, Pak Pri yang berprofesi sebagai pengacara. Beliau bilang kadang hukum itu lucu. Orang korupsi dan maling ayam itu sama sama maling tapi beda perlakuan. Orang korupsi bisa jadi hukumannya lebih ringan daripada maling ayam. Maling ayam yang cuma maling seekor ayam yang nggak seberapa mahalnya, palingan cuma habis buat makan dua hari bisa kena penjara lebih lama dibandingkan mereka yang korupsi harta melimpah. Maling ayam bahkan bisa jadi mati digebukin massa, tapi anehnya tidak dengan wakil rakyat yang katanya membela kepentingan rakyat padahal dia adalah koruptor. Ingat ketika beberapa waktu yang lalu, baju tahanan KPK malah jadi stylish?. Yah, boro boro. Maling ayam ngejual ayamnya aja biasanya buat menyambung hidup, bukan buat permak baju mereka sehari hari. Koruptor datang ke KPK dengan mobil mewahnya (yang bisa jadi hasil korupsi juga) dengan ditemani pengacara bertarif setinggi langit. Maling ayam? Bisa jadi keluarganya tidak ada di sekitar mereka ketika mereka membutuhkan dukungan moral di depan hakim dan jaksa. Harusnya wakil rakyat yang korupsi dan melakukan hal-hal geblek sebaiknya digebukin aja karena bisa aja mereka dulu waktu masih sekolah sering bolos pelajaran PPkn sama Agama, makanya moralnya rendah.

Beberapa kali saya merasa tidak terwakili sebagai warga negara karena ada ketidaktransparansian dalam hal politik dan administrasi negara. Kasus contoh simpel saja, beberapa tahun lalu kami mengurus surat surat penting melalui lembaga desa. Selain prosesnya ribet, berbelit belit, kami masih harus membayar ini itu ini itu. Rinciannya apa saja kami tidak tahu. Pokoknya asal terima beres, bayar, selesai. Kalau ditanya tanya soal tata cara administrasi malah dilempar-lempar, uangnya juga tidak jelas. Kampret. Terus dimana transparansinya coba?.

Jika wakil rakyat yang saya pilih nantinya pekerjaannya hanya mempersulit warganya, saya mah ogah aja. Sama aja seperti orang orang yang mengira mereka bisa sejahtera dengan mendirikan kekhilafahan di negeri ini (plis, lihat sejarah bangsa ini. Jangan mendirikan negara Indonesia baru lagi. Sejarah kita sudah cukup rumit, tidak perlu diperumit dengan mendirikan sebuah negara berdasarkan agama tertentu. Kita hidup bertetangga, berwarna warni, silakan belajar bertoleransi. Kalau emang mau hidup secara agama tertentu, silakan refleksikan ke diri masing-masing saja apakah sudah sesuai dengan syariat). Kembali lagi ke wakil rakyat, saya males kalau wakil rakyat yang saya pilih kerjaannya hanya duduk manis di rumah, ngopi kemudian telat ngantor sedangkan saya sebagai warga negara butuh mengurus surat ini itu. Saya keteteran cuma karena mereka males ngantor pagi. Ingat, kalian dipilih untuk menjadi pelayan masyarakat. Ingat, P e l a y a n untuk masyarakat.

Tahun ini ada beberapa kandidat calon kuat yang menjadi kandidat calon presiden Indonesia selama lima tahun ke depan. Salah satunya adalah Jokowi, putra daerah Solo, Jawa Tengah. Sepak terjang beliau selama menjabat sebagai walikota Solo periode beberapa tahun yang lalu sangat bisa dikatakan salah satu pemimpin daerah terbaik sepanjang masa. Sikapnya yang down to earth, ngemong dan bersahaja membuat rakyat luluh. Penataan PKL menjadi salah satu topik hangat yang dibicarakan setiap orang ketika ia berhasil duduk bersama menyelesaikan persoalan PKL yang menjadi salah satu masalah penting di daerah Solo.

Usai purna tugas sebagai walikota Solo, Jokowi ditarik ke Jakarta untuk mengurusi permasalahan ibukota. Satu setengah tahun berlalu. Penataan kota Jakarta perlahan mulai berjalan. Tiba tiba muncul wacana ia akan maju lewat PDI-P sebagai Presiden Indonesia 2014-2019. Sempat saya bertanya tanya mengapa ia mencalonkan diri menjadi presiden kali ini. Padahal di awal kepemimpinannya sebagai walikota Jakarta, ia mengatakan tidak akan maju sebagai Capres. Dalam hati saya berdoa semoga beliau kalah. Kok doanya jelek?. Ya memang. Saya mengharapkan Jokowi kalah dalam pertarungan politik kali ini agar Jakarta bisa mendapatkan perhatiannya terlebih dahulu. Selesaikan dulu tanggungjawab Jakarta. Baru setelah purna, silakan kalau mau mencalonkan diri.

Kalau saya merasa tidak ada yang mengena, buat apa saya harus memilih?. Buat yang menyalahkan bahwa saya ini goblok karena membiarkan orang lain memanfaatkan jatah suara kita, let me talk. Selo bro, golput itu tidak selamanya. Ketika kita menemukan seorang sosok yang mengena di hati, hati akan memilih dengan sendirinya. Seperti Nur dan Arma bilang : istikharah dulu sebelum memilih. Saya setuju sama mereka. Emangnya cuma milih jodoh aja kita harus istikharah? Milih pemimpin juga harus di-istikharah-in dong cuy.

Saya mungkin akan menjadi pemimpin tapi saat ini saya belum mau menjadi wakil rakyat. Konsekuensi menjadi wakil rakyat sungguh berat. Seperti Mas Jack bilang, wakil rakyat adalah sebuah profesi dimana kedudukannya separo di neraka dan separo di akhirat. Tanggung jawab menjadi pemimpin di hadapan Tuhan sungguh berat. Belum lagi saya merasa belum capable dalam pengetahuan, kepemimpinan dan aspek aspek lain. Saya butuh banyak belajar banyak. Saat ini saya adalah pemimpin untuk diri saya dan adik-adik saya (karena saya seorang kakak). Suatu saat saya akan menjadi pemimpin untuk anak anak saya (karena saya akan menjadi seorang Ibu). Memimpin diri sendiri saja susah apalagi memimpin orang lain?. Yang mau saya lakukan adalah membenahi diri saya baru saya belajar untuk menata orang lain.

Taruhlah apa yang saya tulis ini picisan. Saya tidak banyak tahu mengenai politik. Hanya tahu sedikit dan tidak dalam. Memang, karena saya harus banyak belajar. Tapi setidaknya ini tulisan jujur saya mengenai politik menurut perspektif saya sendiri. Setiap warga negara berhak berpendapat bukan?.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s