Outbond Ekstrim? Naik Gunung!

Kalau ada yang bertanya, mana outbond paling ngeri yang pernah saya ikuti, saya akan jawab : naik gunung. Naik gunung memang bukanlah outbond tetapi sama sama kegiatan yang menantang dan membutuhkan keberanian. Persamaannya keduanya dilakukan di alam terbuka tetapi bedanya resiko naik gunung jauh lebih besar dibandingkan hanya outbond saja. Jika mengalami kecelakaan ketika outbond, rumah sakit masih bisa dijangkau lebih cepat dan dekat. Sedangkan di gunung, mana ada rumah sakit kan?.

DSCN0065

Memandang Sumbing Sindoro Slamet dari lereng Merbabu

Saya memang anggun. Jangan dibayangkan saya adalah putri cantik dengan penampilan menawan dengan tingkah laku sopan nan memukau bak putri keraton. Anggun yang saya maksudkan adalah anak nggunung karena saya memang tinggal di daerah pegunungan, tepatnya di kaki gunung Merbabu. Kota kecil dimana saya tinggal merupakan daerah yang dikelilingi gunung seperti gunung Merbabu, Telomoyo, Kendhalisodo, Gunung Gajah dan pegunungan-pegunungan lain yang entah apa namanya. Setiap hari saya berangkat ke sekolah sambil menatap Merbabu dari kejauhan tanpa bisa mencapainya. Tampak biru kokoh dengan dua puncak dan jurang yang membelah sisi sisinya. Merapi yang berupa gunung kecil di belakangnya mengeluarkan asap putih. Di sebelah timur merapi terdapat gunung Telomoyo yang menurut saya bentuknya sangat mirip dengan merapi

Tidak pernah terpikir untuk naik gunung ketika saya masih SD atau SMP. Baru ketika SMA akhir saya ingin mendaki sampai puncak namun tidak ingin mengikuti kegiatan pecinta alam. Pada saat saya SMA, hanya anak Pecinta Alam yang biasanya mendaki gunung. Mereka lah orang orang hebat yang dilatih bertahan hidup di alam terbuka, sedangkan saya? membayangkan seleksi PA yang sedemikian ribetnya saja sudah malas. Lagipula orang tua pasti akan melarang dengan keras keinginan naik gunung tersebut. Saya hanya gigit jari ketika teman teman saya dari PA menceritakan pengalamannya naik gunung ke beberapa gunung di sekitar kota kami. Baru selang beberapa tahun kemudian saya bisa merasakan secara langsung bagaimana maut ditantang di salah satu puncak di pulau jawa ini. Saya mengikuti kegiatan pendakian masal Geodipa, salah satu pecinta alam di kota Yogyakarta.

Persiapan yang saya lakukan jauh dari cukup. Saya berprinsip, rencanakan dan persiapkan apapun dalam hidup untuk mengurangi resiko. Entah apapun usaha kita, sekecil apapun, tapi jika itu bisa mengurangi resiko tentunya akan lebih baik. Palupi, salah seorang teman saya menyarankan untuk melakukan latihan fisik minimal satu bulan sebelum mendaki. Latihan fisik yang paling memakan tenaga yang saya lakukan hanyalah lari keliling lapangan besar sebanyak lima kali berturut turut, itupun hanya saya lakukan dua kali dengan jeda waktu yang tidak terukur. Bukan saya merasa sudah kuat tetapi karena saya tidak mempunyai banyak waktu untuk latihan fisik. Kegiatan saya berlangsung sejak pagi sampai sore, tidak memungkinkan untuk terus latihan secara rutin. Bisa lari dua kali dalam dua minggu pun sudah bagus karena saya harus curi-curi waktu.

Ransel yang saya punyai jauh dari standar kelayakan pendaki gunung. Untuk itu saya meminjam salah seorang teman saya yang juga pecinta alam. Kupluk, jaket, kaos tangan, sepatu gunung, sendal gunung, kaos kaki panjang, kamera poket. Hampir semua barang adalah modal pinjam. Banyak teman geleng-geleng kepala karena saya termasuk terlalu nekat. Mereka begitu baiknya karena mengkhawatirkan keselamatan saya. Beberapa sempat berusaha mencegah namun apa daya, anak bandel seperti saya akan semakin tertantang jika semakin dilarang. Kalau boleh jujur selama setengah bulan sebelum keberangkatan saya sebenarnya juga merasa takut. Takut karena keselamatan saya bisa jadi hanya sebatas hari pendakian saja karena meskipun tim pendakian kali ini adalah mereka yang sudah berpengalaman berkali kali, namun maut siapa yang bisa memprediksi. Apalagi saya adalah pemula yang tidak tahu apa apa. Tak ada yang tahu kapan kematian menjemput. Tidak juga di gunung yang tinggi atau di atas kasur empuk di hotel bintang lima. Saya berdoa sepanjang waktu memohon keselamatan.

Penting untuk mengetahui apa apa yang terjadi selama pendakian. Pengalaman orang orang yang sudah terlatih untuk mendaki gunung harus disimak dengan penuh perhatian. Saya meminta nasihat dari teman teman yang sering mendaki gunung. Mukuffa, bahkan bercerita bahwa beberapa minggu sebelumnya ia naik merbabu di musim eddelweiz mulai berbunga. Ikhwan, seorang rimbawan memberitahu saya banyak hal mengenai gunung. Cerita cerita mereka ketika naik gunung benar benar membulatkan tekad untuk segera meraih puncak. Saya pun rajin blogging ke blog blog yang menceritakan pengalaman naik Merbabu. Cukup banyak info yang bisa saya dapatkan. Bahkan saya berkeinginan menemukan buah arbei hutan yang saya baca di salah satu blog (namun sayang, saya tidak menemukannya ketika di perjalanan).

Tibalah hari H perjalanan. Awalnya saya tidak sendirian mengikuti pendakian ini. Maksud saya, karena saya orang luar kelompok tersebut, bisa dibilang saya sendirian. Sebenarnya ada seorang teman saya yang ikut dalam pendakian. Akan tetapi Aie tidak bisa datang karena dia sakit. Gamang rasanya karena teman tidak bisa turut. Nasi sudah menjadi bubur, kesempatan tidak datang dua kali, lagipula pembayaran sudah dilakukan dan barang barang sudah dipacking sejak sehari lalu, saya putuskan untuk tetap berangkat mendaki. Walau saya tahu langit mendung tanda akan turun air dari langit. Beberapa hari lalu flu berat menyerang sampai suara hilang dan kondisi tubuh belum begitu sembuh tetapi saya nekat untuk berkumpul di basecamp. Saya tidak peduli meski sakit dan hujan. Yang saya inginkan adalah pengalaman secara langsung untuk diri saya.

Perjalanan selama dua jam menuju sebuah desa bernama Wekas di Magelang ditempuh dalam dua jam dibawah rintik hujan yang mengiringi malam. Waktu menunjukkan pukul 7 malam ketika kami sampai di basecamp. Setelah beribadah dan makan, dimulailah acara pembukaan dan perkenalan antara panitia dengan seluruh peserta untuk lebih mengakrabkan diri. Baru pukul 9.30 tiga tim yang masing masih berisi 10 orang memulai perjalanan. Satu jam pertama pendakian adalah siksaan terberat untuk paru paru. Mungkin bisa disebut dengan adaptasi antara tubuh dengan udara pegunungan yang mempunyai tekanan berbeda dari tempat tinggal peserta. Megap-megap napas saya selama berjalan di pematang perkebunan warga. Hal yang terpikirkan dalam awal perjalanan adalah “ Salut sama pemilik kebun sayuran di gunung. Dengan kemiringan lereng kayak gini mereka naik turun kebun setiap hari. Oke, mereka kece euy”.

Setelah melewati perkebunan, kami benar benar memasuki hutan yang sebenarnya. Jalanan naik, naik dan naik membuat saya dalam tiga jam ke depan sempat bertanya tanya “ Kok nggak sampai sampai ya? Tuhan, kenapa Engkau ciptakan track yang hanya ada naik, naik dan naik ? kenapa nggak ada turunan atau jalan datar?”. Naik gunung memang sebuah jalan pencerahan diri. Kemudian saya berpikir bahwa sebenarnya sudah ada tiga track yang Tuhan ciptakan disini. Track naik yang sedang saya lewati. Baru saya tersadar bahwa track tersebut lengkap. Tuhan memang menciptakan track turun dan track tersebut ada di sebelah kiri saya berupa jurang. Sedangkan jalan datar ada namun bisa dibilang hampir tidak ada. Analoginya kadang hanya ada satu jalan untuk memaksa manusia berhasil. Ibarat jika ini sebuah misi dan diharuskan mencapai puncak untuk mendapatkan sesuatu, maka pendaki tidak akan mungkin mengambil jalur turun karena itu adalah jurang, bukan puncak. Jika hanya ada jalan datar saja, maka kapan akan sampai puncak?. Hanya ada jalan naik dan naik saja karena itulah jalan yang harus ditempuh dalam berusaha. Berat memang tetapi inilah hidup. Penuh dengan perjuangan.

Track pertama saya bisa menemukan perkebunan warga. Meskipun dalam gelap, saya masih bisa melihat bahwa kontur sekitar saya adalah perkebunan sayur. Baru kami masuk ke hutan yang sebenarnya. Sesekali saya melihat ke belakang, melihat cantiknya kota kota di belakang sana. Kota Magelang, Jogjakarta dan sekitarnya menjadi pemanis dalam kegelapan hutan. Sebelah kanan saya adalah rimbun pepohonan di sela pekatnya malam sedangkan sebelah kiri saya adalah lereng semiring 60 %. Saya pastikan bahwa track saya pada saat itu adalah track mendaki (yaiyalah.. namanya aja mendaki gunung. Jelas mendaki lah. Bukan menuruni). Jalanan becek karena hujan. Saya menutup tubuh dengan jas hujan dari plastik peninggalan Aulia yang sekarang sudah pindah ke Bandung untuk mengejar passionnya di bidang bahasa Jepang. Makasih lho Au.

Dalam hati saya kadang menanyakan kapan sampainya. Akan tetapi saya tidak pernah berani untuk mengeluh karena saya tahu itu pantangannya. Naik gunung bukan berarti hanya keberanian mengambil resiko. Ini juga masalah kesabaran. Ada hal dimana kesabaran manusia diuji. Lagipula ada satu superstitious dimana ketika orang naik gunung jika ia mengeluh maka perjalanan adalah seperti yang ia keluhkan. Jadi ketika ia mengeluh perjalanan jauh maka akan terasa jauh juga. Saya tidak mau itu.

Baru pukul 01.00 kami sampai di basecamp. Disana sudah ada kakak-kakak yang mendirikan tenda untuk kami semua. Saya tidak membawa matras. Untungnya teman teman saya pada bawa. Kami segera menata matras dan masuk ke dalamnya. Saya mengambil tempat paling pojok. Baru saja kami berbaring, saya merasakan air merembes masuk ke dalam matras saya. belum hujan angin di luar sana cukup menakutkan. Saya tidak berani untuk melanjutkan tidur. Dalam dingin, saya peluk tubuh saya sendiri. gigi gemeletuk, tangan kaki dingin, mata mengantuk tapi otak memaksa tetap terjaga. Saya tidak mau mati hipotermia. Dan saya tidak mau menyusahkan teman teman saya lainnya kalau sampai saya kena penyakit atau mengalami gagal napas. Untuk itu saya memaksa diri saya sendiri tetap terjaga.

Sampai pagi menjelang, saya tidak tidur. Subuh menjelang, saya paksa tubuh untuk bangun. Saya keluar, buang air dan kemudian mengambil air wudhu. Dalam keadaan survival di hutan, tentu saja tidak ada kamar mandi. Jangan lagi pikirkan soal sanitasi. Saya hanya bermodalkan tisu basah. Risih memang. Tapi mau bagaimana lagi. Jangan samakan dengan kita di rumah dimana kita bisa bersih bersih diri di kamar mandi.

Air wudhu yang mengenai tubuh melebihi dinginnya air kulkas. Sungguh menjadi tantangan tersendiri ketika kita ingin memanjatkan doa di pagi buta pada Sang Pencipta. Solat subuh dua rekaat yang saya lakukan begitu berarti. Berjamaah dengan lainnya, beralaskan selembar terpal basah, ditemani hujan rintik dan embun embun dingin dalam khusyuknya bacaan disela gemelutuk kedinginan, ini pertama kalinya saya bersujud menyimpuh di hadapanNya dalam bebasnya alam. Beratnya proses yang dijalani membuat saya harus mengucap syukur atas kesempatan yang telah diberikanNya.

Keadaan membaik sesudah subuh. Keadaan masih dingin, tapi saya sudah merasa lebih lega karena sudah terang. Langit perlahan menunjukkan dirinya. Tidak cerah memang. Tapi terang sudah. Dingin yang saya rasakan seolah pergi digantikan dengan sejuk yang terasa lebih baik. Saya berjalan jalan di sekitar tenda, melihat kesibukan orang orang dan keindahan alam sekitar. Saya lihat tiga gunung di belakang sana. Gunung Sumbing, Sindoro dan Slamet berdiri kokoh berderet di selimuti selendang awan cantik. Kota kota di bawah sana bagai liliput yang duduk diam berbaris.

Sayangnya kami tidak jadi mengejar sunrise karena badai semalam dianggap terlalu berbahaya untuk ditembus. Kami memilih keselamatan daripada idealisme. Idealisme bisa diulang, tapi tidak untuk keselamatan. Kami berjalan mulai pukul 06.00. track yang kami hadapi kali ini lebih curam dibandingkan jalan tadi. Sekarang hutan tidak lagi berbentuk pohon yang tinggi. rata rata perdu yang tingginya maksimal kurang dari 10 m dengan vegetasi perdu di sekitarnya. Kami juga melewati jalan belerang. Dengan track naik turun bukit. Entah berapa bukit kami daki sampai lelah saya menghitungnya. Saya naik hanya berbekal air minum dan sedikit roti untuk pengganjal lapar. Semua barang saya tinggalkan di tenda. Saya tidak lagi membawa jaket (jaket saya basah semalam). Saya hanya memakai Gabiel  (kemeja favorit saya) setengah kering, kaos polo shirt berbahan tipis dan celana olahraga serta sandal gunung. Simpel. Tidak lupa saya oleskan sunblock karena saya tahu matahari akan menyengat dengan sangat jika saya tidak menggunakannya. Kulit saya biasanya akan mengencang dan mengelupas. Saya termasuk sensitif dengan matahari. Oleh karena itu penting untuk menggunakan sunblock. Saya juga hanya membawa air minum dan sedikit makanan berupa roti serta snack kering. Ransel tidak boleh terlalu penuh. Saya tidak mau terlalu capai.

Track paling berat adalah track terakhir sebelum puncak Kentengsongo. Jalanan terjal dan harus merangkak. Jika tidak hati hati akan terjatuh di jurang sekitarnya. Untuk naik ke puncak, kami harus menggunakan bantuan webbing yang diikatkan ke pepohonan sekitar.

Sampai di Kentengsongo, rasanya hanya syukur yang bisa saya ucapkan. Di sepanjang jalan tadi saya sempat bilang dalam hati bahwa saya mungkin tidak kuat lagi dan mungkin tidak melanjutkan perjalanan. Akan tetapi rasa tersebut terus saya lawan dan sedikit demi sedikit saya bisa mencapai puncak. Kelegaan luar biasa menyelimuti pikiran dan hati saya. Apakah ini nyata? Benarkah saya bisa?. Masih tidak percaya.

Saya berjalan 100 meter ke puncak lain bernama Puncak Triangulasi, kemudian kembali lagi ke Kentengsongo. Saya arahkan pandangan ke lain arah, saya lihat Merapi bediri kokoh, anggun dalam keangkuhan. Kota kota di bawah sana ditutupi oleh awan putih. Begitu luar biasanya penciptaan alam oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Saya ucapkan syukur berulang ulang. Ini kesempatan pertama dan luar biasa yang Tuhan berikan pada saya untuk menikmati indahnya dunia dari atas puncaknya. Tidak semua orang mau dan mampu. Saya mengucap syukur karena begitu kecilnya saya dan betapa Tuhan selama ini memberikan hal hal luar biasa untuk saya jalani. Saya mengucap syukur atas semua cinta yang sudah diberikanNya dalam bentuk apapun.

Kami melingkar, dan seraya memanjatkan doa, kami bersyukur dengan semua hal yang sudah dilalui selama sehari semalam. Haru. Itu yang saya rasakan. Tidak lama kami di atas, hanya sejak pukul 11.30 hingga pukul 12.30, kami segera turun.

Perjalanan turun saya lalui dengan bahagia. Tidak sesulit ketika kami harus naik ke atas. Sayangnya saya sudah dalam kondisi fisik capai. Maka saya sering berhenti karena saya tidak terlalu fit. Kondisi tidak tidur semalam, masih dalam flu berat membuat saya tidak mampu berjalan lebih jauh. Jujur, saya merasa sudah menyusahkan anak Geodipa. Ada salah satu yang menemani saya berjalan. Saya pun minta maaf ke masnya yang udah nemenin saya. Dia bilang nggak papa, memang harus ditemenin. Saya tambah ngerasa bersalah *sedih. Tapi terimakasih banget.

Saya baru sampai di tenda pukul 15.00 padahal yang lainnya sudah sampai dari tadi. Hujan badai sudah sejak saya separuh perjalanan tadi. Di tenda angin bertiup lebih kencang lagi. Saya masuk tenda, semua basah. Lagi lagi saya tidak berani tidur siang gara gara dinginnya. Saya tidak mau menyusahkan orang lain jika saya kenapa napa. Baju habis, basah semua. Saya hanya menggigil kedinginan memeluk lutut. Sambil ngobrol untuk mengurangi hawa dingin. Walaupun nggak terlalu ngefek juga, tapi setidaknya sudah cukup sedikit mengalihkan perhatian.

Pukul 16.00, kami turun. Di tengah badai, kami menuruni lereng gunung. Saya baru menyadari bahwa kanan kiri jalan yang saya lalui semalam adalah jurang dalam. Saya seketika mengucap syukur karena tidak ada satupun dari kami yang mengalami kecelakaan sejak perjalanan awal. Hujan rintik rintik sesekali masih menemani perjalanan. Saya merasakan lagi indahnya pemandangan kota kota yang bertaburan di bawah sana. Cantik. Kadang saya juga terpeleset karena licinnya jalan di pegunungan. *special thanks buat Derianto karena meminjami saya sandal gunung. Sangat membantu saya untuk berjalan di atas medan gunung. Sepanjang perjalanan saya lagi lagi merasa “Jalan pulangnya dimana ya? Kok dari tadi muter muter. Semoga cepat sampai deh”. Baru ketika saya melihat hamparan kebun penduduk dalam kegelapan, saya tersenyum. Tinggal sedikit lagi.

Pukul 19.00, kami sampai di basecamp utama Wekas. Berwudlu di sela dingin, solat Magrib dan Isya, kemudian makan bersama. Seketika lega luar biasa. Itulah yang saya rasakan. Lagi lagi rasa syukur terucap. Begitu Maha Kuasanya Tuhan karena memberikan kesempatan luar biasa ini. Terutama untuk saya sendiri. Begitu banyak pelajaran yang bisa saya petik. Tentang pertemanan, persaudaraan, tolong menolong, kepekaan, kepedulian, kecermatan, persiapan, taktis, menyelesaikan masalah, tidak egois, melihat mana yang egois, tentang menunggu orang lain padahal ada ego di dalam diri, tentang kesederhanaan yang muncul saat kita lepas dari semua rutinitas, tentang menjadi diri sendiri, mengenal diri sendiri, menyadari kesalahan kesalahan yang pernah kita buat, menyadari bahwa Tuhan sungguh Maha Luar Biasa, tentang siapa yang rela berkorban untuk orang lain, tentang memberikan kesempatan kepada orang lain yang lebih membutuhkan, saling menjaga, bahwa hidup adalah kesempatan luar biasa, menurunkan ego, memikirkan perasaan orang lain, mengusir kesombongan, mengukur kemampuan diri, melihat ketulusan orang lain dan banyak pelajaran penting lain yang bisa saya dapatkan.

Saya sangat berterimakasih pada Geodipa karena sudah memberikan kesempatan untuk menjadi peserta pada pendakian kali ini. Pada semua mas dan mbak yang sudah bersedia menjaga saya dan teman teman padahal baru pertama ini bertemu dan saya termasuk orang luar. Pada semua ketulusan kalian yang sudah mau repot repot mengurusi anak ingusan seperti saya yang tidak paham apa-apa tentang naik gunung padahal saya tahu kalian juga pastinya capek. Pada hospitality yang telah kalian berikan yang membuat saya merasa begitu diterima padahal saya bukan bagian dari kalian. Untuk teh, susu atau kopi hangat yang saya dapatkan ketika saya sampai di pos. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana repotnya memasak di tengah hujan di pagi buta di antara rumput basah. (Kalian mungkin membawa nesting dan peralatan lain untuk memasak, tapi saya tahu itu juga prosesnya repot). Yang bahkan saya akan membayangkan belum tentu saya akan membuatkan segelas air hangat untuk orang lain di tengah dingin seperti itu. Saya terharu. Suatu saat saya mungkin akan melakukan hal yang sama seperti kalian tunjukan. Untuk orang orang alam yang hangat. Terimakasih atas kebaikan kalian selama pendakian. Saya paham bagaimana repotnya mengurus acara ini, jika mungkin ada dari kalian atau siapapun merasa ada kekurangan di sana sini, saya tidak akan bilang apapun. Tapi satu hal yang saya akan bilang : kalian keren. Acaranya sangat bagus. Buat saya : sempurna. Ini pendakian yang berkesan. Untuk saya. Lagi lagi terimakasih sangat dalam untuk kalian. Love you. Teruntuk teman teman yang saya temui di pendakian, siapapun kalian. Terimakasih sudah mengisi hari saya dengan hal yang sangat bermakna. Terimakasih untuk teman teman yang bersedia meminjami barang barang pendakian. Tanpa kalian pula, saya tidak mungkin bisa mendapatkan pengalaman luar biasa ini.

Perjalanan pulang, saya tertidur selama hampir dua jam. Kemudian kami turun di basecamp Geodipa. Baru hampir pukul 12 malam, saya diantar pulang Kak Put.

Dari segi fisik, perubahan tubuh yang saya rasakan adalah nafas yang saya hirup terasa lebih segar, bersih dan dalam. Hutan tidak menyimpan polusi, maka udara yang masuk pun lebih sehat untuk tubuh. Usai pendakian, entah mengapa saya merasa lebih sehat. Padahal keesokan harinya saya mengikuti acara bakti sosial bersama teman teman pada pukul 8 pagi. Meskipun saya baru sampai di kamar pukul 12 malam dan tertidur pukul 1 pagi, entah mengapa tubuh saya terasa lebih nyaman. Memang masih flu, tapi rasanya lebih ringan. Aktifitas selama seharian tetap dilakukan dan lusa pun saya masih bertemu dengan teman teman saya. Sebagian masih geleng geleng kepala karena saya bisa bisanya beraktifitas setelah sehari semalam dihajar oleh outbond’ di gunung. Tetapi inilah kekuatan yang diberikanNya. Sungguh berkah karena stamina saya tidak drop.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s