Umbul Ponggok Deles Indah

Entah sudah minggu ke berapa ini untuk mengerjakan proyek. Minggu lalu saya dan Nur pergi ke Karang Asem, sekarang kami pergi ke Boyolali. Niatnya adalah berguru pada pemilik abon lele yang telah lebih dulu sukses mengembangkan usahanya yang bersifat sosiopreneurship.Teman-teman tidak jadi ikut karena masing masing mempunyai urusan. Endah sakit, Ratna sudah mempunyai janji, Fitri ingin beristirahat, Dani ingin di rumah saja, Husein tidak bisa. Kemana Arma? Dia lagi di Kelud untuk menjadi relawan disana.

Hanya tinggal kami berempat. Saya berharap Suko bisa datang kali ini. Pukul 06.00 dengan tergesa saya mempersiapkan segala sesuatunya. Pukul 06.30 baru kami berangkat karena menunggu Sugeng dan Rizal selesai sarapan di burjo Samsi. Pukul 07.00 kami bertemu Ulya di pom bensin dekat rumahnya. Kami segera bertolak ke Boyolali. Perjalanan berlanjut setelah Rizal memutuskan untuk berganti dengan Ulya. Ulya yang tadinya sendirian sekarang diboncengkan oleh Rizal. Lebih baik begitu karena perjalanan masih panjang. Ulya perempuan, kasihan kalau di depan. Begitu intinya.

Jangan pikir kami langsung pergi berguru. Destinasi pertama kami adalah sebuah umbul (kolam renang alami) yang bernama Umbul Ponggok yang terletak di Klaten. Pagi pagi berenang? Yap. Jangan salah. Kami memang ingin sedang ingin berenang. Sudah lama saya tidak menyentuh air kolam dan berenang di dalamnya. Saya berenang di pantai beberapa bulan lalu. Tapi berenang di laut dan pantai jelas beda. Sugeng, Rizal, Ulya dan Nur hanya bertahan satu jam. Sementara mereka sudah capai, istirahat dan makan pagi, saya masih keluyuran di kolam. Berenang kesana kemari tidak kalah dengan ikan ikan yang bergerak di sekitar saya. saya naik, lompat ke kolam, berenang sebentar, naik lagi, loncat lagi. Jika capai, saya hanya berdiam di pinggiran. Semua teman saya sampai geleng geleng kepala melihat tingkah saya. Saya hanya cuek bebek meneruskan agenda berenang ceria saja. “sak bahagiamu wae nduk” begitu quote dari Arma jika dia lihat saya (btw, untung dia nggak ikut. Bisa diejek habis habisan saya pas dia saya). Sampai saat ini saya masih belum bisa berenang jarak jauh. Saya menyesal dulu tidak menekuni latihan berenang ketika saya masih SMP. Ya gini nih hasilnya. Saya nggak bisa tahan lama-lama berenang jarak jauh.

Baru seperempat jam sebelum Suko datang (akhirnya ia datang juga), saya memutuskan untuk keluar sepenuhnya dari kolam. Sudah lelah. Berganti pakaian dan makan tempura, itu yang bisa saya lakukan sesudahnya. Berenang, dua jam benar benar menguras tenaga. Dulu pas saya berenang bersama Reni atau adik adik saya, kami bisa menghabiskan setidaknya minimal 4 jam. Kadang di bawah matahari yang sedang sangat terik teriknya. Tapi saya tidak selelah ini rasanya. apakah ini karena saya tidur larut tadi malam sehingga saya lelah atau karena memang belum sarapan saya tidak tahu. (Belum sarapan memang kesalahan fatal sebelum berenang. Syukur, saya tidak mengalami kram).

Kami keluar dari area kolam pukul 10.00. Suko sudah menunggu di luar. Kami segera melanjutkan perjalanan menuju kampung Lele di daerah Janti. Sudah berbelok kesana kemari kami akhirnya menemukan kampung tersebut. Jalanan menuju tempat itu diwarnai dengan dedaunan padi yang sedang mulai tumbuh. Tempat ini sepertinya memiliki mitos air yang mungkin saja baik karena saya lihat banyak umbul dimana mana. Biasanya jika suatu tempat memiliki banyak sumber air, maka masyarakat di dalamnya memiliki mitos yang baik.

Kami ketuk tempat pembuatan abon tersebut, datanglah ibu ibu muda menghampiri kami. Setelah menjelaskan keperluan kami, beliau memberitahukan bahwa hari ini bukanlah saatnya memproduksi. Kami kecewa. Kemudian beliau menyarankan untuk mengirim pesan pada ketua kelompok produksi dan berjanji akan memberi tahu kami kapan jadwal produksi secepatnya.

Kami diberikan sampel abon dan keripik sirip serta keripik kulit lele. Rasanya? mak nyusss. Bondan Winarno harus mencobanya. Cocok untuk cemilan dan lauk atau dibawa pulang kampung untuk buah tangan dari daerah Boyolali. Kok jadi promosi ya? Haha. Nggak papa deh, saya kan putra daerah, walaupun bukan dari daerah Boyolali. Tetanggaan. Nggak papalah.

Hari menunjukkan pukul 11.30 ketika kami memutuskan untuk keluar dari tempat tersebut. Suko pergi duluan karena ada urusan, sedangkan kami disini masih ingin menikmati hari. Plan B is going to take. Nur mempunyai ide untuk pergi ke Deles Indah. Kakeknya pernah memberitahukannya soal primadona kota Klaten bernama daerah Deles. Kami penasaran apa itu Deles Indah.

Setelah melewati pasar Jatinom, mulailah sesi wawancara dengan warga alias tanya arah. Kami melewati perkampungan perkampungan kecil yang jalannya agak sulit untuk dikatakan bagus. Aspalan tapi tidak terlalu baik kondisinya. Saya selalu turun dan bertanya kepada warga setempat mana jalan yang harus dicapai untuk menuju Dles Indah. Warga dengan baiknya menunjukkan kepada kami. Tapi menurut saya ada satu hal yang kadang membuat bingung. Warga bilang ke kanan atau kekiri tapi ternyata setelah kami sampai, itu tidak meyakinkan. Sungguh membingungkan kadang.

Setelah melalui perjuangan jalan panjang yang melelahkan, sampailah kami di Deles Indah. Jalanan menanjak kami lalui sebelum sampai di pintu gerbang. Saya sempat berkata kepada teman teman untuk turun saja karena saya merasa bingung apa yang mau dilihat di tempat itu. Saya melihat gunung tertutup kabut dan suara petir bersahutan di sebelah timur laut. Saya pikir cuaca akan hujan sehingga saya ingin kami turun saja. tapi tidak dengan teman teman saya yang laki laki. Mereka bilang lanjut saja karena sayang sudah sampai di atas. Akhirnya kami naik ke atas. Dengan tiket Rp. 3000, kami melewati pintu gerbang.

Hanya berjarak sekitar 50 meter, kami sampai di lereng jurang yang menampilkan pemandangan hutan cemara yang masih asri dengan Gunung Merapi yang muncul perlahan berdiri dengan anggunnya berselimut kabut. Semua orang berdecak kagum.

Sekitar setengah jam kemudian, kami naik ke atas. Kami ingin mengunjungi goa Jepang akan tetapi tidak jadi karena jalannya begitu cantiknya. Aspal rusak ditambah dengan becek disana sini, tanjakan yang membahayakan motor dan pengendaranya cukup menjadi hal yang mengerikan di siang mendung ini. Kami hanya naik sampai di lereng bukit. Menikmati keindahan alam, kami berteriak melepas ketegangan. Kami berteriak untuk melepas penat. Sepuluh menit di atas, kami turun segera.

Melanjutkan perjalanan pulang, kami ingin melewati Kaliurang. Lagi lagi bertanya sana sini kanan kiri. Nyasar sana sini, kami tidak bisa menemukan jalan raya yang sebenarnya. Dari tadi kami keluar masuk perkampungan untuk menemukan jalan pintas. Pukul 15.00 kami sampai di Bimomartani Sleman. Kami mampir makan di sebuah warung mi ayam. Dari tadi siang kami belum makan sama sekali. Apalagi saya yang dari pagi tidak kemasukan energi makanan kecuali dari gorengan dan tempura di area kolam renang tadi. Saya ingin makan nasi tapi akhirnya berubah pikiran setelah teringat dengan mi. Mi ayam ceker yang kami beli cukup enak untuk dinikmati. Entah karena memang benar benar enak atau kami memang lapar berat. Kombinasi keduanya mungkin.

Kami mampir di sebuah langgar kecil sekitar 50 m dari mi ayam enak tadi. Baru setelah selesai beribadah, kami melanjutkan perjalanan. kami hampir sampai ke Kaliurang ketika Nur akhirnya memutuskan untuk putar balik karena Ulya meminta untuk lewat jalan Solo saja. Budhenya pasti khawatir memikirkan Ulya yang belum sampai rumah di sore hari.

Menurut saya, perjalanan kali ini cukup meremukkan badan. Dari tadi kami hanya berjalan menyusuri perbatasan Jateng dan DIY untuk menemukan jalan. Saya kena heatstruck akibat kurang cairan dan tidak memakai sunscreen ketika berenang. Ya sudahlah tidak apa apa. #sambil berharap kulit saya tidak perih untuk beberapa hari ke depan.

Pukul 17.00 kami sampai di kota. Perjalanan melelahkan, cukup untuk membuat saya tertidur lelap. Setidaknya untuk hari ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s