Suap – Suapan di Sekolah

Setiap warga negara berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak (pasal 27 ayat 1)

Nampaknya masyarakat modern saat ini sangat memperhatikan pendidikan untuk putra putrinya. Pendidikan yang layak pastinya adalah hal yang sangat diinginkan oleh semua orang tua untuk anaknya. Orang tua dan anak sama sama bersemangat untuk mendapatkan masa depan yang cerah. Bimbingan belajar menjamur dan laris didatangi siswa demi pemecahan masalah pada pelajaran. Kelompok belajar marak dibentuk, Istighosah dimana mana dan berbagai cara lainnya. Tapi takdirlah yang pada akhirnya berbicara. Setelah usaha dan doa yang dilakukan dirasa sudah sangat maksimal, tapi tidak diterima maka hanya ada kekecewaan mendalam di hati siswa dan orang tua. Sebagian diantaranya akan menerima nasib dan memilih ke sekolah lain. Sedangkan ada sebagian diantaranya yang tetap bersikukuh untuk mendapatkan apa yang mereka impikan. Ujian gelombang II atau III, bahkan jika masih belum cukup, ada sebagian lainnya yang sanggup untuk mengeluarkan uang lebih demi tercapainya pendidikan yang mereka inginkan. Istilah sogok menyogok yang dulu saya dengar di berita politik sudah merambah pada pendidikan kita sejak lama.

Setidaknya ada tiga tingkatan sekolah di sekitar kita. Pertama sekolah elit yang oleh masyarakat dianggap berhasil mendidik siswa siswanya menjadi ‘orang’. Kedua, sekolah menengah yang kualitasnya biasa biasa saja dan terakhir sekolah ‘buangan’ dimana katanya menjadi pelarian anak anak nakal yang dikeluarkan dari sekolah lamanya. Sekali  lagi, masyarakatlah yang menciptakan strata sekolah yang bertingkat tingkat. Tuntutan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu sangatlah tinggi. Itulah kenapa mereka berlomba lomba memasukkan anak anaknya ke sekolah sekolah yang dianggap elit (RSBI, SNI atau apalah namanya dulu). Setiap tahunnya jutaan anak bersaing secara ketat untuk mendapatkan sekolah. Persaingan akan menyisihkan dua sisi : pemenang  dan pihak yang kalah. Untuk para pemenang, dunia sungguh indah karena akhirnya ia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Namun untuk pihak yang kalah? Jalanan masih sangat panjang untuk didaki.

Ketika saya masih bersekolah, saya sudah berpikiran bahwa sogok menyogok di sekolah adalah cara yang sungguh tidak benar. Sampai saat ini pun saya masih berpikir seperti itu. Sungguh tidak adil karena dari sekian banyak orang yang mencoba, berusaha dan kemudian gagal, ada segelintir orang yang bermain dengan uang dan kekuasaan mencoba membeli pendidikan.

Di hari pertama masuk sekolah, teman teman saya menunjuk nunjuk pada seorang gadis muda yang berjalan ke arah kerumunan orang di lapangan sekolah kami. Teman saya berkata ‘eh bukannya dia nggak keterima ya,’. Lalu sebagian lainnya nimbrung ‘iyalah, dia kan masuk sini pake uang. orang kemarin  dia cerita kalo nggak keterima sini. Aku tanya dia mau kemana habis ini, dia bilang mau nerusin di semarang ikut kakaknya.’. ‘yah, maklum, orang kaya.’ Saya hanya mengangguk takzim sambil menggumam tidak jelas.

Di lain hari, teman saya yang lain bercerita bahwa untuk bisa membayar oknum yang membantu memasukkan siswa yang kemarin gagal diterima dibutuhkan uang sebesar 10 juta rupiah. Berkali kali lipat dari besarnya uang sumbangan yang harus dibayarkan siswa reguler yang besarnya hanya seperempatnya saja. entah berita itu benar atau salah hanya oknum dan siswa tersebut yang tahu. Di satu sisi, masyarakat yang bersikap acuh akan berpikiran “memang sih suka suka orang yang nyogok karena itu duit juga duit mereka”. Tetapi tetap saja ada perasaan tidak adil karena ada sebagian yang sudah bekerja keras melalui usaha mati matian namun tak mendapatkan apa yang mereka harapkan dan ada segelintir orang yang bisa masuk lebih mudah melalui politik uang. Jika suatu saat mereka mendapatkan pekerjaan pun apakah mereka juga akan menyisihkan orang lain dengan kelebihan uang mereka?.

Tidak ada orang tua yang menginginkan putra putrinya gagal. Semua orang ingin mereka sukses tanpa terkecuali entah bagaimana caranya. Saya mencoba melihat masalah dari sudut pandang lain yaitu sudut pandang siswa dan orang tuanya. Suatu hari, saya bertemu dengan seorang teman lama yang bersekolah di tempat yang sama. Obrolan yang nyambung membuat saya betah berlama lama ngobrol dengan teman saya tersebut. Dia bercerita tentang apa yang ia alami yang tidak pernah saya sangka sebelumnya. Dia mengakui bahwa dia pada awalnya tidak diterima di sekolah saya tersebut. Dia juga tidak menginginkan untuk melanjutkan hidupnya di sekolah ini dan sebenarnya lebih suka bersekolah di sekolah swasta. Orang tuanya memaksa dia untuk bersekolah disana sementara ia sebenarnya tidak pernah menginginkan. Ia berdebat karena merasa tidak setuju dengan jalan yang orang tuanya tempuh namun mereka berdua bersikukuh agar si anak menuruti kemauan mereka demi masa depan. Akhirnya mau tidak mau si anak harus mengikuti apa kata kedua orang tuanya. Suap menyuap memang tidak adil bagi sebagian besar orang. Tapi bukan berarti si anak setuju dengan hal itu. Orang tua si anak hanya takut jika si anak gagal karena menurut mereka pendidikan diukur dari kualitas sekolah untuk anaknya.

Cerita lain adalah suatu hari ada seorang anak yang diterima di sebuah perguruan tinggi negeri di kota Semarang setelah ‘mengalahkan’ berpuluh puluh siswa yang mendaftar di jalur undangan yang sama. Hanya ada dua siswa yang diterima. Seorang putri dan seorang putra. Seorang putri yang memang diterima karena prestasinya bagus sedangkan seorang putra yang prestasinya kacau. Bagaimana bisa seseorang yang prestasinya kacau bisa diterima sedangkan (mungkin) banyak anak lain yang nilainya lebih mumpuni tidak diterima?. Salah seorang pengajar pernah membeberkan bahwa tidak lain kekuatan uang yang berbicara. Lima puluh juta melayang demi ‘membeli’ kursi masuk ke perguruan tinggi. Saya bisa memahami betapa kecewanya anak anak yang merasa nilai mereka masih jauh lebih baik dari siswa tersebut. Mereka yang merasa terlalu miskin untuk sekedar membayar uang sogokan akhirnya harus pulang dengan tangan hampa karena ada orang kaya yang mengambil tempat yang mereka perebutkan melalui persaingan ‘prestasi’. Seperti celoteh salah seorang anak ‘lama lama dia bisa beli ijasah tuh’.

Salah seorang teman yang kenyang dengan kegagalan pernah bercerita ‘saya bangga dengan usaha saya sendiri’. Sebenarnya kalau ia mau, ia bisa masuk ke jalur belakang dengan bantuan teman teman orang tuanya yang katanya bisa diandalkan. Ketika ia dipusingkan dengan kegagalan pada ujian masuk sekolah menengah atas favorit di kotanya, ia diberi pilihan untuk bisa tembus ke sekolah tersebut lewat jalur belakang yang tentunya berbayar dengan nilai fantastis. Ia menolak dan melanjutkan ke sekolah negeri yang lain. Bahkan ketika ia gagal masuk perguruan tinggi orang tuanya sendiri pun menawari untuk bisa masuk ke salah satu perguruan tinggi top di Indonesia (tentunya lewat kolega kolega yang bisa meloloskannya). Namun lagi lagi ia menolak. Ia lebih memilih masuk ke sekolah swasta.

Seorang bapak yang bekerja di sebuah perguruan tinggi elit pernah bercerita bahwa ia sangat kecewa dengan keponakannya yang terancam DO. Sebagai paman yang baik, ia berusaha untuk menemui pihak dosen si keponakan akan tetapi gagal karena si keponakan selalu berkelit. Orang tua si anak bahkan karena putus asanya pernah menawarkan ‘jikalau memang harus memakai uang, pasti  akan diberikan agar kau bisa lulus’. Sayang mereka tidak pernah tahu apa mau si anak. Ia berhasil keluar dari perguruan tinggi tersebut dengan predikat Drop Out. Seketika itu ketika kami terlibat percakapan, ia mengutarakan keluh kesahnya. Ia merasa kecewa karena tidak bisa mengantarkan keponakannya lulus dengan baik. Ia menerawang memikirkan putranya yang masih SMP, berharap ia akan serius dengan sekolah dan tidak mengulangi kesalahan keponakannya tersebut. Beliau sempat berkata ‘saya punya hak untuk memasukkan putra saya ke sekolah tersebut tanpa tes karena saya pegawai disana’. Saya jadi bengong sendiri. Apakah setiap pegawai pada sebuah instansi tertentu berhak untuk mendapatkan ‘jalan mudah’ seperti itu?. Jika setiap pegawai mendapatkan privilegenya lalu bagaimana dengan nasib anak anak dari jauh yang tidak punya koneksi apa apa yang hanya mengandalkan kerja keras dan doa?.

Pada akhirnya saya mendengar sendiri sudut pandang lain selain dari pendangan masyarakat yaitu dari pihak siswa dan keluarganya. Bagaimana si anak sebenarnya tidak setuju namun di sisi lain ia harus menuruti kemauan kedua orang tuanya. Masih ada nurani di hati si anak namun apa daya desakan menyudutkannya harus tunduk pada orang yang harus ia hormati. Bukan berarti saya jadi memaklumi praktek suap-menyuap di ranah pendidikan. Yang terjadi biarlah terjadi dan menjadi rahasia serta riwayat hidup yang akan mereka kenang. Biarlah menjadi urusan antara pihak penyuap, tersuap dan Tuhan. Jauh dilubuk hati saya berharap semoga orang orang yang pernah saya temui tersebut tidak akan menggunakan cara yang sama seperti yang dilakukan orang tuanya ketika putra-putri mereka dewasa. Selain itu, bertemu dengan mereka menjadi pelajaran besar untuk saya. Ada banyak orang di luar sana yang masih menginginkan pendidikan yang berkualitas bahkan mereka sampai mengusahakan mendapatkannya meski dengan cara yang tidak benar. Ada sebagian orang di luar sana yang tidak seberuntung kami yang mendapatkan pendidikan yang layak. Bahkan untuk bersekolah saja merupakan hal mewah untuk mereka. Hal yang harus saya syukuri karena nyatanya ada banyak orang di luar sana yang bersedia menggantikan tempat saya dalam menuntut ilmu. Semangat saya dalam menuntut ilmu harus tetap terjaga karena Tuhan sudah begitu menyayangi saya.  Terimakasih Tuhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s