Bu Guru, Mari Belajar

Apa rasanya mengajar?. Jika saya ditanyakan hal tersebut maka saya akan menjawabnya dengan : challenging but amazing !. Tapi jangan salah. Jangan menganggap saya sudah sedemikian baiknya dalam mengajar. Saya akan menceritakan bagaimana mengajar menurut pandangan saya.

Sebenarnya saya adalah tipe pendengar, bukan tipe pembicara. Saya lebih suka mendengarkan dibandingkan dengan bicara panjang. Mengajar adalah sebuah kegiatan yang membutuhkan keterampilan berbicara di depan publik. Keluarga saya adalah keluarga pendidik. Memang tidak semua menjadi guru, tapi kami adalah pengajar yang membagi ilmu yang pernah kami peroleh kepada orang lain di sekitar kami. Harusnya darah mengajar juga menurun kepada saya walaupun saya adalah tipe pendengar yang tidak suka banyak bicara.

Saya mengajar sebenarnya sudah dari saya kecil. Kala itu saya mengajar adik adik saya ketika belajar. IPA, matematika, apapun. Kami belajar sore hari di halaman samping rumah kami (rumah kami yang dulu). Sehingga kami bisa langsung segera bermain setelah belajar.

Tidak hanya adik adik saya, saya juga belajar bersama teman teman saya. Banyak teman datang ke rumah kami untuk belajar bersama. Akan tetapi saya tidak pure mengajar mereka karena sistem kami adalah sharing bersama. Bukan mengajar seperti layaknya guru dan murid. Waktu itu sebenarnya masih ada teman yang kepandaiannya jauh melebihi siapapun di kelas bernama Arif akan tetapi saya tidak tahu kenapa kami berkumpul bersama dan belajar bersama. Mereka memilih main ke tempat saya dibandingkan bersama dengan Arif.

Menginjak SMP, saya tidak lagi belajar ataupun mengajar. Nilai nilai berantakan dan saya lama-lama malas belajar. Intinya sudah tidak ada semangat belajar setinggi di SD. Sudah tidak ada lagi belajar bersama karena pergeseran fokus jadi main kesana kemari. Saya dan teman-teman di SMP sudah tidak akan menyentuh buku ketika kami bersama. Fokus kami adalah bertemu, interaksi dan tidak lagi soal akademis. Pagi pagi ketika hampir masuk, kami malah sibuk nyari contekan kesana kemari. Parah cuy..

Di SMA, semangat belajar lebih tinggi dibandingkan ketika saya di SMP. Apalagi menginjak kelas dua dan tiga. Sekarang saya seperti kembali lagi ke masa SD dimana saya akan duduk bersama beberapa teman dan saling sharing pengetahuan. Saling mengajarkan apa yang dipahami oleh satu anak ke orang lain yang tidak bisa. Saya paling suka kelas tiga. Yaiyalah, waktu itu kan tensinya masih tinggi. Ujian menjelang, semua mendadak serius. Masih bisa bercanda tapi tentu tidak selepas ketika kami masih jadi freshman di sana.

Apa untungnya membuang waktu untuk belajar bersama?. Sangat banyak. Apa yang kita tidak tahu akan bisa ditutupi dengan sharing pengetahuan. Kita akan jadi tahu apa yang sebelumnya tidak kamu tahu. Setidaknya itu menyelamatkanmu ketika ujian tiba. Minimal itu. Hal lain? ilmu itu penting untuk diamalkan. Jika kita bisa membaginya untuk orang lain, mengapa tidak?. Belajar bersama juga membantu kita untuk belajar berkomunikasi dengan orang orang lain di sekitar kita. Saya juga awalnya tidak bisa membayangkan untuk bisa ‘mengajar’ lagi. Saya sudah lama merindukan masa masa itu. At least saya merasa saya sedikit mempunyai kesempatan untuk memperbaiki cara komunikasi saya yang parah.

Saya juga punya kelompok belajar. Setiap kami mau ujian kami akan berkumpul untuk saling melengkapi catatan dan saling mengajarkan apa yang tidak kami pahami. Lagi lagi saya teirngat tentang masa kecil saya. Saya suka tim ini. Kami tidak pelit ilmu, tidak sungkan untuk membagi apa yang kami punya. Waktu belajar kami cukup fleksibel. Jika sore ada waktu maka kami akan berkumpul sore itu. Tapi tidak jarang karena kesibukan satu dengan lainnya berbeda, ada yang punya urusan setelah selesai sekolah atau les atau kegiatan lainnya maka kami belajar di malam hari. Pernah sampai pukul 00.30 kami baru selesai. Hey Guys.. I miss all the time we had passed together.

Oke, itu sudah lama berlalu. Saya mau cerita soal bagaimana mengajar sendirian.

Siang itu saya diwawancarai untuk mengajar ke sebuah kelas. Saya ditanyai mengapa saya mau mengajar. Saya menjawab karena ini soal berbagi. Saya tidak ekspert dalam bidang apapun, tapi setidaknya apa yang saya punyai ini adalah sedikit yang bisa saya bagi. Alasan lain adalah saya ingin menjadi jembatan antara angkatan atas dan adik adik saya. Beberapa hari kemudian, fix. Saya jadi bu gurunya walaupun secara volunteer, sendirian. Bagaimana bisa sendirian saja? iya. Sendirian karena anak lain juga sendirian.

Tapi emang kalo yang ngajar saya, malah jadi koplak banget. Saya malah jadi heran sendiri sebenarnya saya ini bakat jadi bu guru nggak sih. Ngajarnya masih seenak udel. Tapi kok ya anak anaknya manis manis aja selama ini (apa mereka emang nyaman dengan saya atau emang ditutup tutupi saya nggak tahu).

Rasanya setiap kali masuk kelas adalah nervous. Sumpah. Nggak sampai keringat dingin emang, tapi cukup bikin saya bengong mau ngapain hari ini. Mana lagi kadang saya merasa nggak siap materi walaupun sudah saya baca sebelumnya. Sempat tersirat pikiran “aku ini sebenarnya beneran bisa ngajar nggak sih?. Atau jangan jangan aku salah langkah ya?”. Sempat mikir kayak gitu. Rasanya tiap kali mau kelas, saya merasa gugup. Walaupun semua anak di kelas adalah anak yang kooperatif dan menyenangkan, saya tetap merasa belum bisa menjadi bu guru yang baik. Saya malah terlalu banyak cerita daripada mengajar mata pelajaran yang sebenarnya. Kelas yang saya ampu adalah kelas menulis tapi saya malah lebih banyak berbicara di depan mereka (tuh… bingung nggak ni? Saya nggak bisa ngajar tapi saya banyak cerita. Sungguh aneh). Ya iyalah, seneng. Orang ini nggak strict kelas kayak biasanya yang lain mengajar. Menurut saya terlalu selo malah.

Tiap minggu kehadiran mencapai 80 %. Ada lah satu dua anak yang tidak berangkat dengan berbagai alasan. Tapi rata rata anaknya pada rajin. Anak anaknya malah seneng seneng aja saya kebanyakan cerita. Bahkan sempat ketemu di jalan, mereka bilang ke saya “besok mbak lagi kan yang ngajar?”. Saya hanya bisa bilang “apa sih yang nggak buat kamu”. *nggombal.Di dalam hati saya tambah nervous. Haaaa… kadar kegugupan saya nambah.

Kali ini saya diberi kepercayaan lagi oleh jurusan untuk mengajar. Saya awalnya agak gugup karena merasa kurang kompeten dalam mengajar. Akan tetapi saya akhirnya memutuskan menerima tawaran ini setelah beberapa waktu berpikir kembali. Saya sebenarnya nggak jelek jelek banget kok ngajarnya. Walaupun public speaking saya masih ancur tetapi toh nyatanya saya bisa melakukan sharing di depan adik adik di kelas. Saya nggak boleh nervous lagi.

Minggu pertama saya sengaja mengosongkan kelas karena saya pikir beberapa anak masih sibuk dengan urusan mereka. Saya pun masih rempong dengan tanda tangan ini itu yang harus saya kejar. Minggu kedua barulah saya masuk ke kelas. Saya tidur pukul 01.00 karena gugup mempersiapkan kelas saya besok. Materi di Ms.Word saya ulang beberapa kali seolah saya sedang mempresentasikan bahan di depan kelas. Saya berusaha mengurangi nervous yang menyerang. Lagi lagi saya tidak bisa membayangkan besok saya mengajar lagi setelah liburan usai.

Ketika masuk ke kelas, hanya ada beberapa anak saja. Anita, Mei dan Eka. Saya memulai kelas pada pukul 11.10. saya tidak mau menunggu anak lain datang. Langsung saja lah. Tidak banyak yang datang tidak masalah. Saya tidak mau membuat anak anak yang tepat waktu datang merasa terbuang waktunya hanya gara gara keterlambatan orang lain. baru beberapa menit kemudian sisanya datang. Tidak banyak anak yang yang datang, namun buat saya its oke untuk pertemuan awal awal. Saya harap mulai minggu depan sudah banyak anak yang datang.

Saya mulai dengan pendahuluan singkat selama beberapa menit. Saya memang sudah tidak lagi mengampu kelas menulis. Sekarang saya masuk kelas tata bahasa. Sewaktu ditawari kelas tata bahasa, saya semacam stres sendiri karena takut tata bahasa saya yang parah banget. Kemudian saya berpikir ini bisa menjadi semacam tantangan. Saya harus bisa mempersiapkan diri untuk mempelajari materi yang sudah lama tidak saya buka ini. Mana lagi sejak awal saya memang hanya mengajar sendirian tanpa partner. Tidak seperti teman teman lain yang mengajar dengan menggunakan partner (ada sebagian yang sendirian tapi ada sebagian yang menggunakan partner). Dengan menggunakan slide yang sudah saya pelajari semalam, saya mengoceh di depan kelas. Semua anak memperhatikan saya. Saya sendiri tidak yakin apakah yang saya ucapkan di kelas ini akan bisa dimengerti oleh mereka. Semoga iya.

Di tengah tengah kelas, lagi lagi saya bercerita panjang lebar. Saya mungkin memang terlalu ramah sehingga mereka meminta saya menjadi pengajar mereka. Setelah kelas usai, saya menarik napas tanda sedikit lega. Hari pertama saya tidak terlalu buruk. Hanya perlu penguasaan materi dan mengurangi gugup saya.

Jika ditanya apakah saya akan menjadi Bu Guru suatu saat nanti?. Saya akan menjawab entah tapi sudah pasti. Nah, lho. Pusing nggak tuh maksudnya gimana. Maksud saya adalah saya belum tahu apakah saya akan menjadi pengajar untuk orang lain atau tidak. Menjadi Bu Guru adalah pengalaman menarik tapi saya belum tahu apakah akan sampai kesitu atau tidak. Tapi saya sudah pasti akan menjadi Bu Guru, untuk : putra putri saya. kelak. Unyu kan? : )

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s