Chapter V : Surveyor Bercerita

Chapter IV

Survey Bahaya

What is the next agenda? Survey bro. Mau tidak mau kami tetap akan pergi ke Karangasem, Cawas, Klaten. Apa yang mau kami lakukan? jelas menemui Bapak Pena Nata Sudarma yang kemarin sudah bersedia dengan tangan terbuka menerima kami dan program kami. Hari apa? Sabtu. Sayangnya Arma ada kegiatan lain sehingga Nur memutuskan hanya saya dan dia yang survey. Oke, why not. Selama program jalan, mari kerjakan apa yang bisa dikerjakan. Jangan buang waktu.

Kami baru berangkat pada pukul 08.00. Ada kurang lebih 40 km untuk mencapai desa tersebut dengan estimasi perjalanan satu jam lebih. Jalanan tampak lengang, tidak banyak kendaraan lewat. Mungkin karena masih jam kerja dan masih pagi juga.

Ada sedetik dua detik waktu dimana saya merasa melayang dan merasakan tubuh saya seolah terseret sepanjang beberapa meter. Dalam detik detik itu saya masih bisa melihat orang lain dalam slow motion. Nur tertelungkup di jalan raya, dua meter jauhnya dari saya. Sedetik kemudian saya menyadari bahwa kami terpelanting dan jatuh ke aspal. Saya melihat dalam keadaan yang sedikit fly karena efek jatuh tapi otak saya  masih sadar sepenuhnya. Saya mendengarnya mengatakan sesuatu “Gimana Mbak keadaanmu? Luka kah?”. Saya tidak menjawab karena masih sedikit high. Saya buru-buru berdiri dan menenangkan diri secepat mungkin. Saya lihat Nur sekali lagi dan saya segera mengambil sendalnya yang terpelanting agak jauh. Ada seorang pengendara yang lewat dan membantunya berdiri. Saya memberikan sandal ke dia. Kami duduk di depan rumah warga.

Saya sama sekali tidak panik atas kejadian ini. Saya lihat kondisi Nur. Lukanya dimana mana. Dagu, tangan, kaki, lutut (celananya sampai sobek). Saya duduk dan mencerna apa yang  barusan terjadi. Bahkan saya tidak memikirkan apakah saya sendiri terluka sampai Nur berkata “Bagaimana? Ada yang luka?”. Kemudian saya baru mengecek kondisi tubuh saya. Tangan saya sedikit terseret tadi dan rasanya agak sedikit perih. Tapi tidak ada luka sedikitpun di telapak. Siku saya perih tapi saya tidak menemukan adanya goresan di dalamnya. Mungkin jaket jeans saya menahan benturan dengan aspal tadi. Hanya saja lutut saya perih memang. Saya cek, ternyata ada memar namun tidak parah. Juga perut saya karena tadi saya merasa aspal menyentuh perut tapi dalam waktu yang cepat saya menutup baju yang terbuka karena aspal. Saya harus bersyukur karena masing masing dari kami hanya luka ringan saja. Tidak perlu sampai membutuhkan penanganan khusus. Sudah diberi keselamatan saja harusnya kami wajib untuk bersyukur.

Setelah itu kami memutuskan untuk meneruskan perjalanan untuk menemukan apotek atau setidaknya Indomaret yang menjual peralatan P3K.  Berjalan kurang lebih enam kilo, kami tidak menemukan apapun selain rumah dan kebun. Saya jadi kangen perkotaan kalau begini. Kami bisa mendapatkan akses mudah kemanapun jika ada di kota. Sampai ke sebuah pertigaan kami berhenti mencari warung terdekat yang menyediakan betadin dan kapas. Dari beberapa warung hanya ada satu warung yang menyediakan betadin. Syukurlah kami bisa mendapatkannya. Kami duduk dan memberi betadin pada luka Nur.

Lima belas menit berlalu. Tidak mungkin untuk tidak merawat luka. Apotik menjadi hal wajib pada saat ini. Setelah bertanya pada warga setempat, kami memutuskan untuk mencari apotek sampai ke kota Wonosari. Jika harus kembali ke asal tadi kami berangkat sungguh tidak mungkin. Kami sudah makan setengah perjalanan. Maka kami putuskan untuk terus melaju.

Barulah sampai di kota Wonosari kami menemukan sebuah apotik di kanan jalan. Plester, kassa, rivanol adalah barang wajib yang kami beli. Setengah jam di apotik, kami menutup luka dengan benda benda tersebut untuk menghindari infeksi. Satu pelajaran yang bisa kami ambil. Nanti pada agenda bepergian kemanapun selanjutnya, harus ada yang membawa peralatan P3K. Bukannya pengen kenapa-napa. Tapi siapa yang bisa menjamin setiap perjalanan akan selalu dan pasti akan baik-baik saja?. Semua kemungkinan bisa terjadi, entah berapa persen persentasenya. Pencegahan lebih baik daripada tidak menemukan pertolongan sama sekali bukan?.

Pukul 10.00, kami meneruskan perjalanan. Oleh karena kami tidak melalui jalan yang biasanya, kami menggunakan cara gambling untuk menemukan jalan kesana. Melalui kota Wonosari kami menembus pedesaan pedesaan di utara kota menuju daerah Cawas, Klaten. Setengah jam berlalu, akhirnya kami sampai di desa yang dimaksud. Saya hanya bisa bengong melihat keindahan alam dari atas bukit. Untuk mencapai dusun Karangasem, kami harus mengitari sebuah bukit terlebih dahulu. Jalannya sumpah ngeri. Naik banget dan turun banget. Tipikal jalan gunung lah.

Kami disambut dengan hamparan padi yang menguning seluas ratusan hektar. Panorama alam berselang seling coklat hijau kuning hitam menjadi satu formasi warna yang indah. Belum lagi petani yang sedang memanen padi dan membakar jerami membuat suasana pedesaan yang tenang makin terasa. Saya bernostalgia dengan masa kecil saya yang sering sekali bersentuhan dengan hamparan pemandangan alam seperti itu. Indah.

Kami berhenti di sebuah rumah tua dengan kandang ternak dan hamparan sawah di sampingnya. Ini adalah rumah bapak pena Nata Sudarma, kepala kampung yang pernah ditemui Nur pertama kali dulu. Beliau berdua dengan istrinya menyambut kami dengan sangat ramah. Kami ngobrol ngobrol akrab. Bahkan ada sesi ngemil bersama siang itu. Kacang tanah dari kebun dan kerupuk menjadi cemilan yang sangat enak. Kami bertukar pikiran dan beliau berjanji akan menghubungi kami ketika sudah siap.

Tidak hanya membahas mengenai proyek, obrolan merambah kemana mana. Dari cerita mengenai beratnya hidup di masa lalu, kerasnya hidup di perantauan, putra putri serta cucunya, pekerjaan sampai ke pernikahan. Seolah kami adalah bagian keluarga. Kami bahkan tidak boleh pulang sebelum makan siang. Lauk sederhana berupa sayur soto dengan tahu dan telur menjadi luar biasa enak ketika kita menikmatinya dengan keramahtaman dan ketulusan pemberinya. Terimakasih Bapak Sudarma.

Kami pulang ketika tengah hari. Dengan kondisi yang belum fit, Nur memutuskan untuk kembali belajar dan saya sendiri tidak jadi mengikuti lomba kaligrafi perdana karena waktu yang tidak memungkinkan. Entah kapan kami akan ke Cawas lagi. Nanti saja, kita pikirkan kembali bersama ketiga anggota lainnya. Harus pergi kesana bareng-bareng. Harus!.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s