Chapter II : Lakon Cerita Keong

Chapter II

Lakon Cerita

Empat bulan terasa sangat lama. Bahkan kami sampai lupa bahwa kami pernah mengirimkan proposal proyek. Terkadang jika sedang ingat, kami sampai bertanya tanya kapan sebenarnya pengumuman proyek kami. Hanya dua tujuan kami : membantu mencarikan solusi untuk permasalahan di desa tersebut dan kedua kami ingin membuat sesuatu yang baik untuk diri kami dan sekitarnya. Kami sangat berharap bisa lolos karena kekalahan tahun lalu cukup membuat kami kecewa.

Malam itu saya masih dalam perjalanan pulang dari Pemalang. Masih sekitar tiga puluh menit perjalanan terakhir sebelum bisa tidur melepas nyenyak. Saya nyalakan ponsel dan ada pesan masuk dari beberapa teman salah satunya Nur. Dia bilang “keong merajalela, rock on”. Ha?? Apa maksudnya berkata demikian. Saya dengan polosnya berpikir bahwa ia berkata begitu karena musim hujan benar benar sedang hitnya (karena selama di Pemalang, hujan terus menerus terjadi setiap harinya. Lima menit sekali sepanjang hari dari pagi sampai pagi lagi dengan interval lima menit sekali ditambah dengan angin ribut dan tebalnya kabut). Karena curah hujan sedang tinggi maka akan ada banyak keong di sawah. Tapi sedetik kemudian akal sehat saya berdentang. Saya yakin bukan hanya itu maksudnya. Dengan rasa penasaran, saya telepon dia. Betapa kagetnya ketika ia bilang bahwa tim kami akhirnya lolos. Saking tidak percayanya saya sampai bilang “heh, saya lagi jetlag lho. Masih perjalanan ni. Itu beritanya beneran apa bohong?”. Nur sekali lagi meyakinkan saya bahwa memang tim kami kali ini beruntung. Oke, saya percaya. Tapi saya mau melihat sendiri hasilnya.

Saya berbagi kebahagiaan (sekaligus kesedihan) dengan Dani yang duduk di samping saya waktu itu. Karena tidak ada koneksi internet, dia sendiri belum mengecek apakah timnya lolos atau tidak. Bersama dengan Ratna, kelompoknya tahun lalu berhasil lolos proyek. Kali ini dia mengajukan proposal dalam dua tim namun dua duanya dinyatakan tidak lolos. Saya ikut bersedih karena saya pernah merasakan bagaimana kerja keras yang sudah dilakukan belum menjadi rejeki. Lagipula kami berempat memang dari awal berjuang bersama sama walaupun dalam tim yang berbeda. Harapannya adalah kita sama sama bisa lolos, akan tetapi tidak pada kenyataannya. Yah, rejeki memang rahasia Yang Kuasa yang kita tidak pernah tahu secuilpun.

Turun dari bis, dengan tangan penuh hasil bumi daerah pegunungan yang diberikan oleh keluarga Bapak Slamet dan tanaman cantik bernama ekaliptus dan daun daunan lainnya, saya mampir untuk istirahat sambil membuka portal berita. Fokus saya sebenarnya adalah laman pengumuman proyek. Saya download beberapa pengumuman tapi tidak sama sekali menemukan kelompok kami. Agak sedih. Tapi kemudian saya berpikir bahwa ya masa sih Nur mau bohong. Itu bukan tipikal dia. Dengan sabar saya mencoba melihat dari laman web yang lain. Ada sebuah file pdf yang kemudian saya buka ternyata berisi judul proyek kami. Saya hanya ternganga seakan tidak percaya bahwa pada akhirnya rejeki ada di pihak kami. Syukur Alhamdulilah. Capek, tapi saya tidur dengan senyum mengembang. Akhirnya kerja keras dan keseriusan kami dibalas Tuhan dengan cara yang manis.

Beberapa hari kemudian kami melakukan pertemuan kelompok membahas program kami ke depan. Dari pertemuan tersebut dihasilkan beberapa timeline yang akan dikerjakan segera. Agenda kami antara lain adalah menemui Bu Kanoni sebagai pembimbing, mencoba produk kembali, bertemu dengan warga desa cawas dan sosialisasi program. Permasalahan muncul. Kali ini masalah klasik : waktu. Seperti biasa tidak semua anggota datang di setiap kegiatan yang sudah disepakati. Semua sibuk. Saya agak khawatir dengan program kami karena program ini bukan hanya melulu mengenai program. Program ini dibuat oleh tim. Kita sejak awal adalah tim, bukan individu. Tidak bisakah kita berjalan bersama sama?. Saya selalu merasa ketika ada yang tidak datang entah karena alasan apa, seperti ada yang kurang. Kita sudah berjalan bersama sama, maka setidaknya semua mari kita lakukan dengan orang yang lengkap. Susah senang sama-sama. Ah, sudahlah. Saya lagi-lagi harus memahami bahwa kesibukan setiap orang memang beda-beda. Maklumi saja. (lagi-lagi).

Mencoba membuat produk kembali menjadi kegiatan utama sebelum pergi menyosialisasikan program. Seperti biasa kami menyiapkan bahan-bahan untuk masak-masak. Sebenarnya kami sudah sepakat untuk melihat pembuatan abon lele di daerah Boyolali pada hari minggu beberapa minggu yang lalu. Tiba tiba ada pesan dari Nur bahwa ia sakit. Saya, Arma dan Hulul jadi agak bingung harus ngapain untuk mengganti agenda. Akhirnya kami sepakat untuk mencari keong. Kami sepakat untuk mencari keong pada pukul delapan pagi. Saya pikir Arma ada di kosan, eh ternyata dia masih di rumahnya di Klaten. Parah coy.. Saya sama Hulul udah nunggu dia dari tadi pagi. Sampai sampai kami bisa menyempatkan diri untuk sekedar membeli wallpaper di pasar kaget Sunmor.

Suko tidak bisa datang karena sibuk. Oleh karena agenda berubah menjadi tidak jelas, maka saya memutuskan untuk ikut kelas gambar bersama Pak Hardi dan teman teman menggambar saya. Hulul pergi untuk menemui teman teman klub Pramukanya. Menjelang siang kabar semakin tidak jelas kami mau ngapain pada hari itu. Akhirnya saya memutuskan jika memang tidak bisa, lebih baik saya dan Hulul yang mencari keong karena bagaimanapun agenda harus tetap berjalan. Harus ada hal yang kami kerjakan walaupun itu sepele.  Menjelang pukul dua siang, saya dan Hulul duduk di bangku berdua. Kami menghabiskan cemilan sebelum pergi mencari keong. Tetapi di tengah waktu, kami memutuskan untuk mencancel agenda mencari keong dengan pertimbangan kasihan dengan keongnya jika terlalu lama menunggu untuk dimasak. Setengah jam kemudian pesan dari Arma datang bahwa ia sudah siap mencari keong. Yaelah.. cancel bro.

Tiga hari kemudian, kebetulan saya menginap di tempat Fitri. Esoknya, saya bangun dan segera ke sawah mencari keong. Jarak rumahnya ke sawah sekitar satu kilometer. Matahari belum muncul ketika saya berjalan menuju pematang sawah. Perlahan matahari bersinar, saya masih belum berani masuk ke dalam sawah. Saya hanya mengobservasi sawah dan mengambil keong yang bisa saya jangkau dari pematang. Baru pukul enam, saya masuk ke dalam sawah. Sudah lama sekali tidak merasakan lembutnya tanah gembur. Rasanya agak aneh dan menakutkan, seolah olah mungkin saja ada binatang menakutkan yang menggelitik kakimu di dalam tanah. Tapi lama lama saya jadi terbiasa dan rasanya tidak ingin berhenti main main dengan lumpur. Ada seorang bapak bapak tua membantu saya mengumpulkan keong tersebut. Bapak itu kebetulan juga sedang menjaga sawahnya.

Pukul setengah delapan saya pulang ke rumah Fitri dengan membawa setengah plastik ukuran agak besar. Jika ditotal, mungkin beratnya sekitar dua kilogram. Sebuah pesan saya pendek saya kirim kepada Arma bahwa saya akan berkunjung untuk menitipkan bahan keong di rumahnya pukul sebelas siang. Saya ketuk pintu kamarnya, dan menitipkan keong itu ke dia segera karena diburu waktu yang mengharuskan saya bepergian ke tempat lain. Saya asal nyelonong pergi tanpa memberi kata apa apa soal bagaimana dan harus diapakan keongnya.

Bersambung ke chapter III Uji Coba Bahagia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s