Buku Harian Keong I

Chapter I

Awal mula penciptaan

Keong. Mahluk kecil bercangkang ini menjadi bahan utama kami dalam menyusun proposal pemberdayan masyarakat. Bersama dengan seorang (calon) yang mengerti tentang psikologi manusia (saya lebih curiga dia patut untuk disembuhkan dibandingkan dengan menyembuhkan orang lain.haha. *peace Arma), seorang yang mengerti tentang dunia gizi dan teknik pengolahan makanan, seorang yang paham industri makanan serta dua orang yang paham bahasa, kami tersesat dalam sebuah proyek pemberdayaan masyarakat.

Ide dimulai ketika Nur mendapatkan ide untuk membantu masyarakat daerah Cawas untuk menggunakan keong sebagai salah satu sumber makanan tambahan yang akan berguna dari segi nutrisi dan tambahan penghasilan keluarga. mulailah kami berdua bergerilya mencari korban korban untuk dijadikan relawan proyek ini. Huliyya, seorang adik perempuan yang mempunyai semangat tinggi, Arma psikolog edan yang seru, dan Suko seorang kawan lama yang sama sama berjalan dari awal dulu kala kami memulai proyek sebelumnya yang belum beruntung untuk dikerjakan. Setelah berunding mengenai ide yang ada, semua sepakat untuk lanjut menjadikan program tersebut berjalan dan bermanfaat untuk masyarakat.

Saya tahun lalu sebenarnya mengajukan program akan tetapi tidak lolos. Karena saya, Nur dan Suko masih penasaran, kami memutuskan untuk lanjut berjuang lagi di kesempatan berikutnya. Kali ini dengan tim yang baru karena tim lama memutuskan untuk fokus pada proyek mereka sendiri.

Lagi lagi hanya orang-orang itu saja yang mau rempong membuat program. Lagi lagi saya, Nur, Ratna dan Dani. Saya agak merasa sedikit kecewa karena tidak ada penambahan orang lagi. Lebih banyak orang yang ikut malah lebih baik karena suasana dan aura persaingan lebih terasa. Buat saya rejeki itu tidak akan kemana. Jika memang rejekinya ya pasti Tuhan berikan, tetapi jika memang tidak lolos ya berarti memang bukan rejekinya. Rejeki sudah diatur Yang Kuasa. Simpel saja.

Sesudah kami bertemu, kami memutuskan untuk melakukan praktek pembuatan abon keong. Nur kece banget. Malam malam dia ke sawah mencari keong. Dapat banyak pula. Kemudian kami membeli bahan bahan di pasar dan memasak bersama di kosan Nur. Parahnya masakan itu tidak jadi abon karena berubah bentuk menjadi tumis keong. Seharian masak, kami akhirnya tidak jadi makan abon keong, tetapi nasi goreng keong, sambal keong dan tumis keong. Serba keong. Tapi enak kok.

Keong-keong dalam penampungan

Keong-keong dalam penampungan

Merebus keong agar lebih sehat

Merebus keong agar lebih sehat

Ide sudah, tim sudah, sekarang saatnya membuat proposal. Saat paling rempong adalah mengurus lembar pengesahan yang membutuhkan tanda tangan pembimbing dan berbagai macam birokrasi lainnya. belum lagi kesalahan ketik, kecerobohan dalam pembuatan, kurang NIP dan berbagai macam kesalahan lainnya mewarnai tahap pertama lembar pengesahan proposal kami. Untunglah kami bisa mengurusnya tepat waktu. oke, lebih jujurnya : mepet waktu.

Ada cerita seru di detik detik pengumpulan lembar pengesahan. Semua orang masih sibuk dengan urusan belajar masing masing ketika banyak lainnya berempong rempong ria mengantri tanda tangan kepala Dirmawa. Saya memutuskan untuk kabur dari pelajaran karena tanda tangan lebih urgent. Antrian mengular sampai keluar ruangan. Ada seratusan orang datang di hari terakhir penandatanganan berkas. Sialnya samping kanan kiri saya ribut menanyakan masalah nomer urut online. Posisi kelompok saya belum online pada saat itu (ini kecerobohan kelompok kami). Saya masih tenang tenang saja”ah.. paling nanti juga onlinenya bisa besok”. Kemudian saya melanjutkan dengan ngobrol ngobrol dengan kanan kiri saya lainnya. Sekedar basa basi penghilang kekakuan.

Jelang sore, antrian semakin memanjang saja dan syukur bahwa saya bisa maju sedikit demi sedikit. Setelah hampir dua jam menunggu, saya bisa masuk ke ruangan. detik detik terakhir antrian depan saya maju, seorang ibu petugas menghentikan langkah antrian kami. Saya tidak peduli. Saya mengambil sisi kanan dan berhasil menerobos melewati ibu tersebut. Sayangnya Dani yang berada jauh di belakang tidak mungkin masuk ke dalam ruangan karena terlanjur distop. Disuruh datang besok? OmiGod, ogah. Makasih. Saya udah nunggu dari tadi.

Di dalam sumpeknya setengah mati. Saya hampir nggak bisa nafas karena pengapnya udara dijejali puluhan mahluk pemburu tanda tangan. Di detik detik terakhir saya maju ke meja, saya mendengar teman saya, Afif disuruh oleh petugas untuk kembali karena ada berkas yang kurang. Entah itu kurang nomer online atau memang ada berkas yang kurang saya tidak tahu. Saya mulai sedikit bimbang. Ada juga beberapa orang yang belum mendapatkan nomer online terpaksa harus gigit jari karena mereka diminta untuk kembali lagi besok. Sialnya, Nur sampai sekarang belum sama sekali mengirimkan nomer online kami dan saya tidak tahu apakah ia berhasil online atau tidak. Saya mencoba untuk sms dia tapi sayangnya tidak terkirim. Baru berapa kali kemudian berhasil dan di detik terakhir petugas hampir meminta berkas saya, nomer yang diinginkan muncul di inbox saya. Senyum bahagia.

Berkas kelompok saya akhirnya diterima dan diverifikasi. Tidak ada berkas yang salah. Lega rasanya. Keesokan harinya, saya berangkat pagi untuk mengambil berkas yang sudah ditandatangani. Karena datang paling pagi, otomatis saya bisa segera mendapatkan kembali berkas kami. Saatnya move on ke langkah berikutnya.

Tahap pembuatan proposal adalah tahap paling berat dalam pengajuan proposal ini. Format harus benar, tata bahasa, isi, kebenaran, semua aspek di dalamnya harus sempurna. Bagian paling kampret adalah masalah pendanaan. Kami harus mengira-ira bagaimana dana harus dibuat dan dialokasikan ke pos pos yang membutuhkan. Setelah mengalkulasi ini itu, didapatlah dana Rp. 12.500.000,00 untuk menunjang proyek kami. Angka paling pol dalam pengajuan dana proposal. Sebenarnya jika mau jujur, dana segitu masih sangat kurang dalam anggaran kami karena mahalnya beberapa alat yang dibutuhkan seperti spinner yang harganya jutaan.

Oleh karena saya yang menghandle urusan proposal, saya pusing dan kebingungan dengan beberapa materi di dalamnya. Untungnya Nur memberikan saya contoh proposal milik temannya (Terimakasih Mas Miftah) sehingga saya bisa menentukan langkah apa yang harus dilakukan untuk menunjang keberlangsungan program. Permasalahan paling utama dalam kelompok kami adalah ketersediaan waktu. Setiap orang mempunyai kesibukan masing masing. Saya pusing. Bingung bagaimana membagi tugas untuk tim saya dalam pembuatan proposal. Tidak usah saya ceritakan bagaimana panjangnya cerita yang sebenarnya, akhirnya proposal jadi juga.

Proposal memang sudah jadi, tapi itu belum selesai. Masalah terbaru yaitu ketiadaan cap dari daerah mitra kami. Saya sudah mengecek ke Dirmawa apakah boleh tidak menyertakan cap dalam surat pernyataan mitra daerah namun sayangnya mereka tidak mengijinkan. Solusinya, Nur terpaksa harus pergi ke Cawas lagi untuk meminta tanda tangan dan cap RT dan RW daerah setempat. Ia bahkan harus membolos demi kelancaran berkas kami ke desa yang jaraknya satu jam lebih dalam kondisi tubuh kurang fit. Saya kasihan. Sumpah. Usai ia kembali, surat tersebut memang tidak disertai cap karena pemerintah lokal daerah sana tidak mempunyai cap. Oke, apa yang bisa dilakukan sekarang?. Putar otak. Di bagian bawah surat, kami menuliskan keterangan bahwa pemerintah daerah setempat tidak mempunyai cap. Fiuhhh.

Ada satu tahapan rempong lagi yang memakan akal bernama upload Dikti. Kami (hanya saya dan Nur saja yang bisa. Yang lain sedang ada urusan lain entah apalah saya tidak mau dengar waktu itu) sempat mengalami masalah login karena portal sibuk dengan orang orang yang juga mau upoad. Untungnya akhirnya bisa masuk juga.  Satu masalah selesai, muncul masalah lain yang lebih besar. Kali ini mengenai pendanaan kami karena salah hitung. Setelah dikalkulasi ulang untungnya hasilnya tetap bisa mencapai seperti yang kami harapkan. Sejak dari pukul 16.00 hingga 22.00 kami melakoni prosesi ruwet ini. Bahkan kami sampai tidak enak hati karena semacam diusir oleh Pak Satpam. Haha. Maaf Pak satpam, kami lagi rempong. Sumpah.

Kami sejak siang belum makan karena terlalu fokus dengan program yang kami buat, memutuskan untuk makan malam. Kami makan penyetan (harus selalu ada sambalnya. Wajib ain) yang dibungkus dan dibawa pulang. Pukul 10.30 saya baru sampai di kamar. Capek tapi lega luar biasa. Perasaan kesal yang tadi sempat muncul, sekarang hilang. Saya menutup hari yang melelahkan dengan senyum kelegaan. Doa, tidur nak.

Bersambung ke chapter selanjutnya : Chapter II Lakon Cerita

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s