Trip ke Solo II

Cerita kali ini adalah tentang perjalanan saya dan beberapa teman ke Candi Sukuh di daerah Solo. Seperti biasa kami janjian di bundaran pukul 5 pagi. Setengah enamlah mentok mentoknya. Setelah menunggu beberapa teman, kami berangkat. Sayangnya hanya ada beberapa orang saja kali ini. Ratna sakit, Liana, Dwi dan beberapa orang lainnya tidak bisa datang karena mempunyai urusan masing masing.

Klaten

Klaten

Klaten on the way to Solo

Klaten on the way to Solo

Sudah di kota SOlo

Sudah di kota SOlo

Suasana menjelang Imlek di kota Solo

Suasana menjelang Imlek di kota Solo

Lihat penanda arah

Lihat penanda arah

Klaten, Solo ditempuh dalam waktu satu setengah jam. Pukul 7.30 kami sampai di jantung kota Solo. Makan pagi dimulai. Saya memilih makan soto. Kampret banget, saya ngambil kerupuk dihargai seribu rupiah. Mahal bingit kan. Padahal harusnya itu kerupuk cuma setengah harga. Ya sudahlah, anggap aja sodaqoh.

Setengah sembilan pagi kami lanjut perjalanan. Tempat yang kita tuju terletak di Kabupaten Karang Anyar, sebelah timur kota Solo. Jalannya sudah cukup bagus dengan aspal yang halus. Saya bernostalgia perjalanan di jalan yang sama di kota yang sama. Perjalanan yang sama namun tempat yang berbeda. Pada saat itu kami menuju ke sebuah candi bernama Candi Cetha, sedangkan kali ini kami menuju Candi Sukuh, sebuah candi di bawah Candi Cetha.

Berbelok ke kiri, akan sampai ke Candi Cetha. Kali ini kami mengambil jalan lurus. Ceilah.. jalan lurus. Eh, beneran jalannya emang lurus. Jalan ini juga sama curamnya dengan jalan yang kami ambil ketika dua tahun lalu pergi ke Cetha. Bedanya jika jalan ke Cetha lebih jauh dan dengan pemandangan kanan kirinya lebih indah karena hamparan kebun teh di kanan kiri jalan, kali ini jalanan dipenuhi dengan kebun penduduk dan rumah rumah. Tapi sama sama cantik kok.

Candi Sukuh

Tiket masuk ke Candi Sukuh sebesar Rp 3000,00. Candi Sukuh sebenarnya hampir sama dengan Candi Cetha namun dengan bentuk lebih kecil. Menurut saya candi ini lebih mirip dengan peradaban suku Aztec yang ada di Amerika Selatan.

Gerbang Sukuh

Gerbang Sukuh

Relief timbul alat kelamin pria di Candi Cetha

Relief timbul alat kelamin pria di Candi Cetha

Candi utama Cetha yang terlihat seperti istana Aztec

Candi utama Cetha yang terlihat seperti istana Aztec

Banten di atap candi utama

Banten di atap candi utama

Garuda?

Garuda?

Patung patung

Patung patung

IMG_5455
Patung lagi

Patung lagi

Celeng (babi hutan)

Celeng (babi hutan)

Gajah

Gajah

Relief

Relief

Relief lagi

Relief lagi

Relief lagi ya

Relief lagi ya

IMG_5462
Relief

Relief

Di dalam candi terluar ada sebuah arca yang berbentuk alat kelamin perempuan dan laki laki. Sementara teman teman saya asyik bernarsis ria, saya tidak sabar untuk masuk ke bagian lain candi. Saya hanya ingin tahu apa yang membedakan candi ini dengan cetha selain dari beda luasan. Sungguh, mirip dengan cetha hanya beda luasan saja.

Saya masuk ke gerbang pertama candi kemudian masuk ke gerbang kedua dan akhirnya masuk ke gerbang ketiga dan disitulah letak candi utama Sukuh. Sebuah tatanan batu yang ditumpuk ke atas menyerupai istana Aztec. Bangunan utama tersebut terdapat tangga yang bisa dinaiki hingga puncak. Dari puncak kita bisa melihat keseluruhan bangunan candi dan tempat di sekitarnya. Seperti halnya bangunan candi lainnya, selalu ada banten yang berisi bunga, dupa (ini ada biskuitnya pula, entah siapa yang memberi).

Turun ke bawah, saya menemukan dua buah dolmen yang terletak di depan candi utama. Saya bertanya kepada bapak penjaga candi. Beliau mengatakan bahwa dolmen tersebut mungkin saja pernah digunakan untuk tempat sesaji. Sudah saya duga. Saya menanyakan juga apakah candi ini digunakan sebagai tempat ibadah. Ternyata sudah tidak lagi. Umat beragama Hindu akan pergi ke Candi Cetha untuk bersembahyang.

IMG_5465

Taman Hutan Rakyat di lereng Gunung Lawu

IMG_5464

Komposisi Taman Hutan Rakyat Lawu

Relief

Relief

Patung tanpa kepala

Patung tanpa kepala

Tuh kan mirip banget sama istana Aztec

Tuh kan mirip banget sama istana Aztec

Kok jadi inget sama suku bangsa Maya ya?

Kok jadi inget sama suku bangsa Maya ya?

Dua dolmen di depan candi utama

Dua dolmen di depan candi utama

Relief

Relief

Relief

Relief

Kala makara versi candi Sukuh

Kala makara versi candi Sukuh

Relief panahan

Relief panahan

Relief

Relief

Relief

Relief

Saya berharap bisa membaca huruf pallawa di prasasti ini

Saya berharap bisa membaca huruf pallawa di prasasti ini

Relief gajah

Relief gajah

Ada juga relief timbul di kanan kiri bangunan kecil di sekitar candi utama. Saya tidak paham apa maksud dari relief itu. Kemudian ada juga relief timbul berbentuk seperti patung. Patung tersebut antara lain babi, gajah dll.

Saya sempat tertarik menjelajahi hutan di belakang Candi Sukuh. Kawasan hutan tersebut bernama Taman Hutan Rakyat. ada banyak tanaman yang ditanam di daerah tersebut. Saya tidak berani masuk jauh ke dalam hutan.

Pukul 11 kami meninggalkan Candi Sukuh untuk menuju ke air terjun. Kami agak galau mau memilih air terjun yang mana karena ada beberapa air terjun di daerah tersebut. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Tawang Mangu. Melewati jalan pintas, kami akhirnya sampai di daerah tawang mangu tepat sebelum jumatan berlangsung.

Air Terjun Sewu, Tawangmangu

Kami menunggu Nur, Dani, Sugeng dan Husein selesai jumatan. Sementara mereka melakukan ibadah jumat, kami tiduran di musola kecil di daerah tersebut. Hujan dan dinginnya cuaca membuat saya harus mengambil sarung dan bergelung dibawahnya. Saya kedinginan. Jujur.

Pukul 1.30, beberapa kawan makan mi ayam di warung sekitar mushola.  pukul dua, kami memutuskan untuk turun ke lokasi air terjun. Tiket masuk air terjun sekitar Rp. 8000,00. Kami harus berhati hati untuk turun ke lokasi karena banyaknya monyet dan licinnya batuan yang kami injak. Jalan menuju air terjun tidaklah terlalu mengerikan seperti jalan menuju air terjun Jumog.

Dari kejauhan, air terjun terlihat cantik. Sayangnya karena turun hujan di hulu, air yang turun berwarna coklat karena membawa material lumpur. Niat untuk turun ke air terjun terpaksa tidak terlaksana. Kami harus puas memandangi keindahan alam dari jembatan saja. Hanya setengah jam menikmati air terjun, kami memutuskan untuk kembali.

Penampakan air terjun dari kejauhan

Penampakan air terjun dari kejauhan

ada yang bisa baca? (Kreteg gantung)

ada yang bisa baca? (Kreteg gantung)

Air terjun yang sebenarnya

Air terjun yang sebenarnya

Air yang mengalir mengandung material lumpur karena terjadi hujan di hulu

Air yang mengalir mengandung material lumpur karena terjadi hujan di hulu

IMG_5496

Pedagang di sekitar pintu masuk air terjun

Pedagang di sekitar pintu masuk air terjun

Pedagang buah pun ada

Pedagang buah pun ada

Kami tidak melewati jalan yang kami ambil tadi karena mengira jalan sesudah jembatan adalah jalan pulang. Melewati hutan, kami tak kunjung sampai ke pos akhir. Baru setelah lima belas menit berjalan kami menemukan pos terakhir. Sialnya pos terakhir tersebut bukan tempat dimana kami bisa keluar dan melanjutkan perjalanan pulang. Bapak penjaga pos terakhir mengatakan bahwa untuk dapat kembali ke parkiran, kami bisa kembali ke air terjun dan melewati jalan yang kami ambil tadi ketika berangkat. Ada opsi lain untuk kembali ke parkiran. Kami bisa melanjutkan jalan melewati jalan aspal dan berjalan memutar. Bapaknya berkata bahwa ada sekitar dua kilometer setengah untuk mencapai parkiran. Kami memilih opsi terakhir.

Jalan sepi memutar bukit untuk kembali ke parkiran

Jalan sepi memutar bukit untuk kembali ke parkiran

Mahluk mahluk tersesat yang (tau) arah jalan pulang

Mahluk mahluk tersesat yang (tau) arah jalan pulang

Mari semangat menemukan jalan

Mari semangat menemukan jalan

Kami berjalan naik dan menemukan hamparan kebun, villa serta rumah penduduk. Karena merasa perjalanan tidak kunjung berhenti, saya mengambil inisiatif untuk bertanya ke penduduk sekitar. Mereka bilang tinggal berjalan mengikuti jalan utama saja. Setengah jam kami berjalan, barulah sampai ke parkiran. Kami bersyukur Ratna tidak jadi berangkat karena bisa jadi sakitnya tambah parah karena kejadian nyasar ini.

Beberapa menit kemudian kami sampai ke parkiran. Sepanjang jalan, banyak ibu-ibu menawarkan stroberi dan bunga Eddelweiz. Kami ternganga ketika seorang ibu mendemonstrasikan kekuatan bunga Eddelweiz untuk meyakinkan kepada Nur bahwa bunga tersebut kuat. Ibu tersebut meremas bunga Eddelweiz. Gila, emejing banget, itu udah dibeli lho bu. Tenang aja, kita percaya kok kalau bunga Eddeleweiz itu awet, tapi nggak perlu dikremes juga Bu.

Kami meninggalkan tawangmangu pukul 16.30. Sempat beristirahat selama setengah jam untuk solat ashar di jalan Jenawi. Sebelum pulang ke rumah masing masing, kami memutuskan untuk mengunjungi Sekaten Solo mumpung masih di Solo.

Makan malam, seperti biasa galau lagi. Sepanjang perjalanan saya menyurvei tempat kami bisa makan malam. Tidak ada nasi goreng, atau warung apapun yang bisa kami singgahi. Usai kami melewati jembatan bengawan solo yang bersebelahan dengan UNS, kami berhenti di sebuah selasar yang merupakan food court jajanan sore. Saya memesan nasi pecel, Fitri makan selat solo, Dani soto, Endah memesan wedang uwuh, Nur, Husein, Sugeng saya lupa dia memesan apa. Nasi pecel madiun yang saya makan cukup enak, murah pula. Cukup untuk mengganjal lapar sesorean. Berhenti sejenak menikmati sore, makan dan ngobrol bersama sungguh menyenangkan. Lupakan soal gadget kalian. Saatnya sharing bersama keluarga.

Pecel Madiun nan enak dan murah meriah

Pecel Madiun nan enak dan murah meriah

Selat Solo, makanan khas Solo

Selat Solo, makanan khas Solo

Makan malam bersama

Makan malam bersama

Sekaten Solo

Sekaten hanya ada di dua tempat saja di Indonesia, yaitu di Jogja dan di Solo. Sekaten Solo terlihat meriah seperti halnya di Jogja. Bedanya adalah jika Sekaten Jogja menggunakan seluruh luasan alun alun kidul sebagai space pedagang, arean pasar malam dan parkir. Sekaten Solo hanya menggunakan luasan lapangan mengeliling. Jadi, Sekaten Solo tidak penuh menggunakan luasan lapangan alun alun. Kami berkeliling Sekaten selama satu jam. Saya sempat membeli tas kosmetik yang akan saya gunakan sebagai tempat alat mandi saya ketika penelitian Pemalang.

Imaji cahaya malam pedagang Sekaten Solo

Imaji cahaya malam pedagang Sekaten Solo

Sekaten, here we go

Sekaten, here we go

Tenda warna warni dengan kerumunan massa

Tenda warna warni dengan kerumunan massa

Solo Eye siap melaju

Solo Eye siap melaju

Warna warni Sekaten

Warna warni Sekaten

Sircuss of movement

Sircuss of movement

Bagai konser warna warni

Bagai konser warna warni

Apparition

Apparition

Sekaten, berkah bagi semua

Sekaten, berkah bagi semua

Capek berkeliling, kami merasa sudah saatnya untuk pulang. Kami segera pergi pulang. Sampai di rumah pukul 9 malam. Capek, tapi berkesan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s