Trip ke Solo I

Pukul tujuh, kami berbelas orang berkumpul di Plaza untuk segera berangkat ke Candi Cetha, Karang Anyar, Jawa Tengah. Candi tersebut menjadi pilihan karena candi candi di daerah Jogja dianggap sudah terlalu mainstream untuk dikunjungi. Cuaca cerah indah mengawali perjalanan kami. Pukul 10.00 ketika kita memutar melewati jalan raya Palur untuk menemukan tempat makan. Baru pukul 11.30 kami sampai di tempat yang dituju.

Candi Cetha

Candi Cetha merupakan candi kuno yang sampai sekarang masih digunakan sebagai tempat ibadah bagi umat Hindu. Saat itu, perjalanan kami bertepatan dengan sembahyangan umat Hindu. Kami naik ke candi utama dan berpapasan dengan orang orang berbaju putih seperti orang Hindu yang sedang membawa bunga ke candi utama. Sayangnya kami tidak bisa naik ke candi utama karena upacara masih berlangsung. Ada beberapa bangunan yang di dalamnya terdapat patung alat kelamin perempuan dan laki laki yang terdapat banten di sebelahnya. Nampaknya candi ini dibangun sebagai sarana untuk memohon kesuburan dan keturunan pada Sang Kuasa.

Kanan kiri kebun teh (Courtesy Mutiara Trisnawijaya Mei 2011)

Kanan kiri kebun teh (Courtesy Mutiara Trisnawijaya Mei 2011)

Rimbun kebun teh

Rimbun kebun teh

Kebun warga menuju Cetha (Courtesy Mutiara Trisnawijaya Mei 2011)

Kebun warga menuju Cetha (Courtesy Mutiara Trisnawijaya Mei 2011)

Pelataran candi Cetha (Courtesy pribadi)

Pelataran candi Cetha (Courtesy pribadi)

Batuan (Courtesy Mutiara Trisnawijaya Mei 2011)

Batuan (Courtesy Mutiara Trisnawijaya Mei 2011)

Berkumpul (Courtesy Mutiara Trisnawijaya Mei 2011)

Berkumpul (Courtesy Mutiara Trisnawijaya Mei 2011)

Relief (Courtesy Mutiara Trisnawijaya Mei 2011)

Relief (Courtesy Mutiara Trisnawijaya Mei 2011)

Patung di salah satu bangunan candi Cetha (Courtesy Mutiara Trisnawijaya Mei 2011)

Patung di salah satu bangunan candi Cetha (Courtesy Mutiara Trisnawijaya Mei 2011)

Air Terjun Jumog

Pukul 1.30, kami meninggalkan tempat tersebut untuk menuju ke air terjun Jumog yang teletak beberapa kilometer di bawah bukit candi Cetha. Jalan menuju gerbang Jumog kanan kirinya adalah kebun sayur milik warga. Lima belas menit kemudian, kami sampai gerbang Jumog. Dengan tiket Rp. 5000,00, kami masuk ke area air terjun. Butuh perjuangan yang lumayan besar untuk sampai ke air terjun. Jika hanya turun saja, masih mudah tetapi pada perjalanan pulang kembali ke gerbang Jumog, energi yang keluar lumayan besar sehingga cukup melelahkan. Kami disuguhi pemandangan hutan yang masih asri dengan tumbuhan paku pakuan besar berdiri di kanan kiri jalan. Air terjun yang turun menumpahkan berton ton volume airnya benar benar sebuah hiburan di tengah hutan. Beberapa teman mandi siang disana. Saya hanya duduk di tempat yang terlindung dari air terjun. Dingin. Saya tidak mau ikutan mandi.

Kami baru meninggalkan air terjun pada pukul 16.00. saatnya perjalanan pulang ke rumah masing masing. sepanjang jalan kami kebingungan untuk makan malam. Pada akhirnya kami memutuskan untuk makan di Klaten, di sebuah warung nasi goreng langganan keluarga Nur. Tidak diduga, di warung tersebut ada orang tua Nur. Mereka menraktir kami makan malam. Alhamdulilah. Rejeki tidak boleh ditolak. Pukul 09.00 kami baru sampai di rumah kami masing masing. Perjalanan panjang bersama teman teman yang berkesan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s