Menikmati Waktu dengan Memancing Ceria

Nampaknya plesir adalah ide cantik untuk menikmati kemarau juli. air, matahari, angin, ikan, kebersamaan. Ide imut bahagia : piknik ! 🙂

Jika ada yang bisa saya lakukan sekarang, hanyalah menikmati air, langit, matahari dan rumput bulan Juli. di pertengahan tahun, saya selalu piknik bersama adik adik. Bukan piknik mengunjungi suatu tempat yang jauh. Cukup di desa saja, karena kami tidak ada waktu karena pulang sore dan tugas sekolah yang begitu banyak. Kami menyiapkan makanan dan minuman, dibungkus dalam daun pisang yang diambil dari depan rumah. Perjalanan dimulai dengan menyeberangi jembatan sempit pembelah sungai dangkal berdasar batuan di seberang jalan raya. Bercelana pendek, kami menyusuri pematang sawah dengan padi hijau bulan juli. Menikmati pemandangan padi yang menguning di bagian lain dengan ibu ibu berani- ani yang sedang memanen dan menebas damen. Melambai pada orang orang desa, menyeberangi kandang sapi yang kosong, perjalanan belum usai. Masih ada pematang panjang yang harus dituruti sampai ke sawah atas, dimana hanya ada hamparan hijau permadani menyelimuti bumi Tuhan. Gubug beratap genting berdinding bambu cukup menjadi tempat piknik keluarga yang cantik. Jauh dari keramaian dan lalu lalang orang, ramai suara angin dan hewan sawah sudah cukup menjadi orkestra yang mengantar perlahan pada tidur siang. Mentari melelehkan keringat namun angin siap untuk menerpa panas dan sepoi sejuk datang pada saat yang tepat. Sungguh es merupakan minuman sempurna dikala siang terik bulan kemarau menyapa. Saat kami ingin kembali ke rumah, kami akan menyempatkan mampir ke sungai kecil yang mengalir dari bendungan besar di ujung sawah, sekedar merasakan spa dari aliran air yang terus berjalan tanpa lelah melewati kaki kaki kecil yang masuk ke kali.

Sayangnya saya sudah tidak bisa lagi melakukan piknik seperti halnya saya lakukan. Sebagai gantinya saya memancing dengan teman teman. Perjalanan yang lagi lagi tidak direncanakan. Usai sebuah acara, kami saling berunding apa yang akan dilakukan selama masa libur. Saat sebagian orang pergi mengunjungi ibu kota, kami memilih untuk melanglang buana di alam terbuka. Seketika itu memancing tampaknya menjadi ide cantik untuk menikmati musim panas bulan juli. Nampaknya plesir adalah ide cantik untuk menikmati kemarau juli. air, matahari, angin, ikan, kebersamaan. Ide imut bahagia : piknik !. Rawa Pening atau tuk Senjoyo menjadi pilihan yang mungkin cocok namun karena ada Rawa lain yang ingin dikunjungi, kami menunda dulu Rawa Pening. Klaten adalah tujuan kami memancing. Cukup jauh, namun inilah perjalanan yang kami tempuh.

Semalam sebelum kami bepergian, saya sudah mempersiapkan barang barang yang sekiranya berguna dalam kegiatan yang akan kami lakukan kali ini. Butuh hanya beberapa menit untuk menentukan pancing apa yang akan saya gunakan untuk memancing. Yang murah murah saja karena tujuan kami bukan memancing di laut. Sebetulnya saya ingin membeli senar yang saya lupa apa namanya, daito atau kaito atau apa. Senar itu yang sering saya lihat digunakan oleh ayah saya setiap beliau memancing. Sayangnya toko yang saya datangi tidak menyediakan senar tersebut. Saya pun tidak membeli makanan ikan karena saya pikir besok anak anak akan menggunakan cacing sebagai umpan. Oleh karena saya tidak suka dengan cacing, maka saya akan meminta bantuan pada teman-teman saya yang laki laki untuk memasangkan umpan pada kail dipancing. Tisu dan beberapa lembar koran tidak lupa untuk disiapkan. Sebelum pergi, sebotol air minum wajib masuk ke dalam tas. Hanya hal hal kecil, tapi saya tahu hal kecil pun justru akan banyak berguna di perjalanan.

Rawa Jombor adalah salah satu tempat wisata alam yang ada di kota Klaten. Rawa alami yang dikelilingi bukit bukit merupakan tempat yang tepat untuk memancing. Kami berhenti sejenak untuk membeli barang barang seperti timbal, penanda, dan pancingan bagi yang belum memiliki pancing. Kami memilih bagian rawa yang sudah dibuat tambak karena lebih mudah untuk memancing ikan. Ini pertama kalinya saya belajar memasang kail dan peralatannya serta memancing sendiri. Senar yang berantakan lama lama bisa dibetulkan walaupun membutuhkan kesabaran ekstra.

Mengurai Senar (Courtesy : Husein Fendiansyah 4 Juli 2013)

Menarik senar (Courtesy : Husein Fendiansyah, 4 Juli 2013)

Sibuk mengail (Courtesy Husein Fendiansyah, 4 Juli 2013)

Hamparan tambak (Courtesy Husein Fendiansyah, 4 Juli 2013)

Mengecek tambak (courtesy : Husein Fendiansyah, 4 Juli 2013)

Tangkapan pertama saya adalah ikan kecil berwarna orange entah apa namanya. Satu persatu teman saya bisa menangkap ikan. Ikan ikan nakal membuat saya berkali kali harus memasang pelet karena saya tidak menyadari mereka diam diam memakan umpan. Ikan yang paling saya suka adalah ikan patin karena dibandingkan ikan lainnya di rawa itu, mereka lah yang paling cantik. Tubuh hitam dengan sedikit semburat kebiruan, sirip yang mirip ikan hiu. Tangkapan segera dimasukkan ke dalam keranjang yang tenggelam dalam air kolam untuk menjaga ikan agar tetap hidup. Lele, patin, gurami memenuhi keranjang belanja kami hari ini. Sebagian dibawa pulang, sebagian dimasak untuk makan siang di rawa. Menurut saya rasanya cukup enak tapi kurang bumbu pada ikannya dan sambal pelengkap yang terlalu manis. Ikannya seperti hanya dibumbui dengan kecap dan sambalnya terlalu banyak gula pasir. Tapi hidangan ikan yang kami pancing sendiri sudah merupakan hal yang menyenangkan karena kami bisa menikmati hari dengan cara yang tidak kalah menyenangkan. Sementara sebagian orang dilanda kebosanan karena macet nun jauh di ibukota sana, kami duduk – duduk ceria di atas air sambil dininabobokan angin danau yang bertiup sepoi. Bulan Juli yang penuh dengan agenda gila, dinikmati dengan menikmati keindahan alam terbuka. Sungguh, alam sangatlah cantik.

Setengah tahun kemudian, kami pergi lagi memancing bersama. Kali ini kami tidak memancing pada pagi hari. Sore hari seusai lepas dari tanggung jawab yang sudah kami selesaikan, kami memutuskan untuk refreshing memancing di Rawa Jombor lagi. Beruntungnya kami juga menyaksikan sunset yang indah sebagai penutup hari. Tuhan sungguh Maha Kuasa.

Air nan tenang (Januari 2014)

Air nan tenang (Januari 2014)

Bukit dari kejauhan (Januari 2014)

Bukit dari kejauhan (Januari 2014)

Memancing bersama (Januari 2014)

Memancing bersama (Januari 2014)

Jalan ekstrim (Januari 2014)

Jalan ekstrim (Januari 2014)

Pondokan warna warni (Januari 2014)

Pondokan warna warni (Januari 2014)

Ujung tambak

Ujung tambak

Panorama senja

Panorama senja

Mengail di senja bahagia

Mengail di senja bahagia

Menunggu buruan

Menunggu buruan

Horizon senja

Horizon senja

Nila bakar

Nila bakar

Melalap lalap

Melalap lalap

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s