Mereka Berubah, Saya? Entahlah

Seperti halnya roda, kehidupan ini terus berputar. Saya masih unyu, tapi usia udah menginjak kepala dua. Saya sudah bukan lagi remaja. Saya adalah dewasa awal. Remaja adalah sebutan untuk masa masa dimana kita masih labil (sebenarnya saya masih labil juga sih. Tapi saya merasa sudah bukan lagi jamannya remaja unyu). Mereka belum paham betul artinya tanggung jawab. Sedangkan dewasa artinya kamu sudah harus serius dengan kehidupan kamu sendiri. Setidaknya itulah yang saya rasakan.

Saya sudah lama tidak bertemu dengan teman teman lama saya entah di SD, SMP,  SMA atau teman teman saya yang lainnya. Saya hanya mengetahui kabar mereka melalui kabar dari teman lain atau jejaring sosial. Beberapa hari lalu saya bikin status di jejaring sosial yang intinya teman itu berpencar. Teman bisa lawan dan lawan jadi kawan.

“Tidak ada seorang pun yg konstan. Berpencar dan berubah. Teman bisa jadi lawan, lawan jadi kawan. Semua datang dan pergi”

Kenapa saya bikin status itu, tentu ada alasannya. Alasannya karena saya nostalgia dengan hidup saya.

Mereka sudah banyak yang jadi orang hebat. Ada yang jadi ketua ini itu, aktif di ini itu, masuk militer, punya usaha sendiri, pergi ke luar negeri, lulus dengan cepat, ikut konferensi internasional, jadi pembicara dan seabrek hal gila lainnya. Itu kabar baiknya. Apa yang saya rasakan? Weitsss.. temen temen saya sudah merintis jalan suksesnya masing masing. Jujur, saya merasa kecil banget karena saya belum apa apa. Justru dari itulah saya termotivasi untuk semakin berpikir ke depan lagi.

Tidak jarang juga saya temui kabar bahwa ada beberapa teman yang mengalami nasib kurang beruntung. Tidak tamat sekolah, susah mendapat pekerjaan, hamil (termasuk dihamili atau menghamili), kecanduan obat, broken home sampai meninggal dunia akibat kecelakaan.  Memang tidak banyak sih, tapi kabar buruk itu cukup mengagetkan juga. Ada beberapa anak baik baik yang sepertinya tidak akan neko neko ternyata malah jadi korban pergaulan. Ada yang emang dari dulunya anak badung, karena pengaruh pergaulan dan tekanan dalam dirinya, malah menyimpang dan akhirnya kecelakaan.

Di luar itu semua, saya lihat mereka sudah banyak berubah. Yang dulunya biasa biasa aja jadi cantik dan cakep luar biasa. Yang dulunya bukan apa apa sekarang jadi siapa. Saya merasa seperti berjalan dan berhenti di kerumunan. Sementara saya terdiam di tengah, kerumunan itu datang dan pergi berlalu. Kerumunan itu berubah ubah sementara saya hanya begini adanya. Saya bukan apa apa karena saya hanya orang biasa. Dan saya tidak ingin menjadi seseorang yang ingin terkenal. Saya adalah diri saya apa adanya. Biarlah orang tidak menyadari saya, tapi saya melakukan hal yang bermanfaat bagi orang lainnya

Temen temen saya yang dulunya terlihat lugu dan sederhana perlahan berubah menjadi bidadari. Cantik. Ada yang berjilbab sekarang, ada yang tambah seksi saja. Mereka sudah kenal make up. Pergi jalan jalan dengan bermake up dan baju baju stylish. Saya? gayanya masih begini begini saja. Bahkan ke mall, sementara teman teman saya berwedges dengan dandanan super cool anak nongkrong, saya berani memakai sendal jepit swalow, celana pendek dan kaos oblong yang kelunturan pemutih pakaian (pernah dengan PD nya, saya asal nitipin barang barang yang saya beli dari pasar seperti sayuran, buah, bumbu dan kendi ke mas satpam Amplas). Mungkin mereka mikir bahwa saya ndeso. Saya tidak peduli. Buat saya, kalau bukan occasion yang memerlukan sedikit sentuhan style, saya akan bersikap santai. Orang bakal mencemooh atau protes, sorry bro, we call this style. You know that I will not take it away. Cuek. Kamu bukan saya dan saya bukan kamu. Saya adalah saya, kamu adalah kamu. Saya tidak akan repot repot untuk menjadi dirimu. Karena saya tahu Tuhan menciptakan mahluknya dengan keunikan masing masing.

Kalau orang bilang saya ini tipe orang yang tidak akan menyentuh hal hal berkaitan dengan style dan make up, mereka salah. Saya sudah main salon salon an sejak saya kecil. Saya selalu memotong rambut adik saya dengan potongan keren yang setelah saya besar baru saya tahu itu adalah pixie cut. Saya suka membuka laman laman yang berkaitan dengan mode (bahkan saya punya impian bahwa suatu saat saya adalah the first row audience in the international runway). Saya pun sebenarnya juga tahu bagaimana harus bersikap dengan style saya tapi tidak menggunakan pengetahuan tersebut untuk diaplikasikan secara penuh. Sesekali sajalah, jangan sering sering. Saya sedikit paham mode, tapi saya tidak harus mengikuti mode yang sedang tren bukan?.

Saya punya alat kosmetik yang bisa dibilang sudah standar. Bahkan kalau cuma kuas aja, saya punya sederetan kuas aneka fungsi. Semua berasal dari satu produk kosmetik wanita yang saya percaya. Sebenarnya bukan itu yang membuat saya suka sama produk itu. Saya suka dengan eyeliner yang saya beli pertama kali waktu saya masih SMA. Dari situlah, saya mulai sedikit demi sedikit melengkapi produk kosmetik saya. Saya belajar make up sebenarnya jauh sebelum saya masuk ke tari saman. Baru waktu masuk tari saman, saya jadi sedikit lebih terlatih. Sayangnya saya tidak menggunakan make up dalam keseharian. Buat saya make up itu cukup tahu saja. Hanya dipakai pada acara yang membutuhkan dandanan. Saya tidak suka ribet. Pelembab dan lipbalm sudah cukup. Bibir saya sudah merah alami, untuk apa ditambahi pewarna lagi.

Berhenti dalam kerumunan, saya mengingat masa masa saya. Saya melihat sendiri dinamika yang ada di sekitar saya. Bagaimana rasanya bermusuhan dengan salah satu teman beda kelas hanya karena salah paham dan pengaruh buruk orang lain dan kemudian kembali berbaikan. Bagaimana menjadi teman dari salah seorang yang pada awalnya memandang rendah kita, bagaimana klik pada anak masa remaja pada akhirnya hancur juga, tentang teman teman sejati yang begitu baik dan peduli, bagaimana melihat temanmu sendiri bermusuhan dan terjebak diantara perang dingin berkepanjangan, bagaimana teman baik ternyata menjauh entah karena apa, bagaimana teman yang terlihat baik di depan ternyata menyimpan kebusukan. Bagaimana teman yang terlihat angkuh ternyata malah bisa kita rengkuh, bagaimana orang orang yang kita anggap lawan ternyata bisa berjalan berdampingan bersama kita, bagaimana orang orang yang dibully karena dianggap tidak memenuhi standar gaul sebuah kelompok, bagaimana seorang yang tadinya ceria berubah menyimpan senyumnya karena sedih semua berubah, bagaimana orang yang dianggap buruk memang hatinya buruk karena ia merusak, bagaimana orang yang dianggap buruk tapi ternyata hatinya sangat mulia dan kita baru menyadarinya setelah mengenalnya secara pribadi, bagaimana orang baik yang dianggap angin lalu dan sialnya kita menyakitinya, bagaimana seseorang yang begitu bencinya pada kita hingga kita membalasnya dengan cara yang salah yaitu dengan membencinya. Bagaimana kita tidak tahu terimakasih pada orang yang telah bersikap baik dengan kita, bagaimana kita ikut arus karena ingin diterima pada suatu masyarakat, bagaimana kita lelah dengan arus tersebut dan memutuskan untuk berhenti dan jadi diri sendiri, bagaimana kita yang terluka karena sikap orang lain dan ia tidak menyadarinya, tentang kita yang disakiti oleh ucapan yang disengaja maupun tidak. Bagaimana kita disingkirkan karena tidak bisa menerima pendapat kita, tentang harapan kembali yang sia sia karena setiapnya merasa sudah menemukan jalan masing masing, tentang menemukan sahabat sahabat lama dan berharap mereka masih apa adanya jiwa mereka yang tulus, tentang menemukan sahabat sahabat baru yang mampu memberikan pelukan di sela lelah berjalan. Tentang impian dan harapan yang dibisikkan orang orang tersayang untuk mengusir pahitnya hidup.

Ada sebagian yang masih angkuh, ada juga yang sekarang ramah. Ada orang orang yang dulunya termarjinalkan sekarang dipuja karena hebatnya. Ada yang dulu merasa hebat, sekarang terpuruk karena kesalahannya. Ada yang dulu tidak mengenal jadi saling mengenal karena dipertemukan. Semua hal berubah tanpa kita pernah menyadarinya. Entahlah, waktu memang mengubah segalanya.

Sekarang? Inilah saya. Saya masih saya apa adanya. Tidak neko neko, cuek setengah mati, selo dalam melangkah. Teman teman datang dan pergi. Mungkin mereka sudah berubah. Mereka jadi lebih sukses, mereka jadi cakep dan cantik, hebat. Saya? entahlah sudah berubah atau belum. Saya mau jadi diri saya sendiri saja yang masih apa adanya yang selalu berusaha untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik. Saya memang tidak cantik, tapi saya percaya saya cantik. Setiap perempuan adalah cantik. Sederhana saja, hati yang baik dan kerendahan hatilah yang membuat perempuan menjadi cantik. Mungkin saya tetap merasa sebagai seseorang yang berhenti untuk menatap kerumunan yang datang dan pergi, tapi saya tahu bahwa saya harus melangkahkan kaki untuk menjalani hidup saya sendiri. Memang mereka berubah, tapi saya tidak ingin berubah menjadi lebih jelek. Saya tidak ingin berubah menjadi orang lain. Saya adalah diri saya sendiri.

Untuk seseorang di sana yang mungkin pernah menganggap bahwa bertemu denganku adalah kutukan, jika kita diberikan kesempatan untuk bertemu lagi, akankah kita bisa berteman dengan baik?. Saya berharap kamu baik baik saja. Sampai jumpa suatu saat nanti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s