Galau Masa Depan

Sedikit menggalau di pagi nan cerah ini, saya memutuskan untuk ngeblog lagi. Daripada saya menuliskan status nggak gitu jelas di jejaring sosial tersebut mendingan saya nulis panjang sekalian. Lebih worthed rasanya.

Sudah dua tahun ini saya tidur dan bangun dengan perasaan nggak jelas. Gimana nggak jelas, saya ini galau tiap hari. Beneran. Tiap hari. Dari bangun sampai dibawa tidur lagi. Di depan, saya kayaknya baik baik saja tapi tidak di dalam sini. Bingung mau dibawa kemana hidup saya. Kadang saya mikir ngapain sekolah nilai bagus bagus, keluar cepet cepet tapi ujung ujungnya kamu nggak ngerti harus kemana. Tapi nilai jeblok dengan waktu sekolah yang lama juga sama parahnya. Intinya saya itu tiap hari galau sama kelanjutan hidup saya sendiri.

Saya dulu waktu masih sekolah bukan termasuk anak yang aktif. Pinter banget juga nggak. Nilai nilai saya nggak bagus bagus banget. Ya lempeng lempeng aja sih. Nggak gitu suka ikut kegiatan apa gitu. Ikut sih ikut tapi ya sekedar yang wajib aja. Pramuka waktu SMP, seni lukis-batik sama film aja sih waktu SMA. Sekarang? Nggak gitu banyak juga tapi cukup memberikan saya pengalaman untuk menjajal bidang yang belum pernah saya tekuni sebelumnya kayak tari, main musik, seni rupa, keorganisasian dll. Capek? Iya. Tapi seneng seneng aja kok. Saya suka mencoba hal yang baru. Menjajal sejauh mana saya bisa bertahan dan menaklukan ketakutan dalam diri saya sendiri.

Kadang saya mikir juga, apakah yang saya lakukan selama ini tuh bakalan bantu saya di masa depan?. Nggak juga. Tapi ada kemungkinannya. Ingat apa yang kamu niati selama ini?. Saya ikut apapun, melakukan apapun, apapun yang saya ambil selama ini diniati dengan “Tuhan, saya niat untuk belajar”. Hanya itu. Karena saya tahu, semua tergantung dengan niat kita. Buat saya, belajar adalah awal dari segalanya. Jika niat untuk belajar adalah satu niat maka sesungguhya nggak hanya satu niat itu saja yang dicatat di amal kebaikan. Akan ada banyak hal ajaib yang mengikutinya. Pertama belajar itu dari dalam kandungan sampai kita di liang lahat, berarti wajib kan?. Terus di hadist juga dibilang bahwa jika kita belajar maka ikan ikan mendoakan kita. Saya nggak ngerti kenapa ikan disebutkan di hadist itu. Kenapa nggak beruang, gajah, jerapah, semut atau burung hantu sekalian. Entahlah. Tapi diluar itu sih saya seneng aja karena ikan kan di seluruh dunia banyak banget. Ada berapa milyar? Buanyak banget pastinya. Milyaran mahluk mendoakan saya. Subhanaallah banget. Kedua, belajar itu berarti banyak temen. Akan ada sekumpulan orang yang punya pemikiran yang sama dengan kita yang mau belajar dan diskusi bareng. Temenan itu menyenangkan. Ketiga, belajar itu membuka kesempatan yang lebih luas untuk hal hal luar biasa yang tidak pernah kamu temui. Sebagai contoh kayak gini, saya belajar gambar, ketemu temen sepemikiran, belajar skill baru, ditawari event, maju ke pameran. Gila. Keren banget rencana Tuhan itu. Waktu udah gede gini, saya baru menyadari kebenaran yang nenek saya bilang dulu. Beliau bilang mengenai hadist –saya lupa gimana- tapi intinya adalah silaturahmi itu melancarkan rejeki.

Tapi meskipun saya suka belajar, saya nggak cupu cupu juga. Saya masih keluyuran, main kesana kesini, sesekali bolos, kabur dan nggak terlalu fokus sama apa yang saya pelajari. Fokus itu emang utama tapi bukan segalanya. Kamu juga harus tahu lingkungan, informasi di dalamnya. Fokus terus, hidup nggak asik lah. Berasa kayak hidupmu datar banget, pelajaran mulu yang dikejar. Have dikit boleh dong. Saya masih ada waktu main kemana mana (bahkan kayaknya lebih banyak mainnya daripada belajarnya). Saya main sama siapa aja, nggak cewek nggak cowok. Saya berusaha memperbaiki hospitality saya. Intinya saya berusaha buat mengurangi kekakuan dan ketidak luwesan yang identik dengan saya selama ini.

Saya jadi inget sama salah seorang temen saya yang sekarang sedang belajar di sebuah tempat. Dia akademis banget. oke, to the point aja, dia tipe nerdy. Saya pernah bilang ke dia, hidup itu santai aja, kalem, jangan dibawa tegang. dia mana mau melakukan hal hal gila seperti yang saya lakukan. Oke, soal saya kabur dan bolos jangan ditiru. Itu nggak baik. Ya mau gimana lagi, namanya orang bosen, kadang boleh dong nyleneh dikit. Saya tipe yang apa adanya dan seenaknya sendiri. kalau saya bosen di kelas, ya udah pergi ke luar nyari udara segar. Saya nggak mau terlalu fokus. Tiap orang punya batasnya masing masing. kalau saya nggak suka ya nggak usah diambil. Pilih yang lain. Simpel. Pernah dia bilang “kamu ngambil kelas lain? gila kamu, berani banget ”. Well, gini bro, ini bukan masalah berani atau nggak. Kalau saya nggak suka, ya nggak akan saya ambil. Kenapa harus terkungkung dengan kebosanan. Sedangkan dia sendiri lebih suka bergelut dengan jalur lempengnya. Ngambil kelas lain itu repot, sumpah. Kamu bisa jadi nggak kenal sama orang orang di dalamnya, belum lagi birokrasi dan sistem di dalamnya. Repot ngurusnya. belum apa yang kamu pelajari di dalamnya, bisa jadi nggak sesuai dengan yang kamu harapkan. Tapi disini letak serunya. Kamu ditantang buat menyelesaikan halang rintang yang ada di depan kamu. Bisa nggaknya, nggak akan kejawab kalau kamu nggak mencoba.

Dengan kegiatan yang saya lakukan dan ke-friendly-an saya, mungkin bisa dibilang saya sedikitnya sudah membangun jejaring dengan –baru sedikit orang- di sekitar saya. jejaring itu penting. Tapi kadang saya mikir, apakah ada impactnya untuk saya kelak?. Belum tentu akan membantu banyak di kemudian nanti. Tapi yang saya harapkan adalah impact yang baik. Amin. Sekali lagi, silaturahmi itu membuka jalan rejeki.

Saya ini role model. Panutan buat adik adik saya. kalau dibilang saya udah menjadi kakak yang baik, mungkin belum. Karena saya masih egois dan intinya belum bisa jadi kakak yang baik lah. Tapi setidaknya saya sudah sedikit menjadi role model yang baik karena saya serius dengan apa yang saya lakukan. Saya berada di track yang benar, dalam artian saya nggak macem macem di depan adik adik saya. Saya mau mereka melihat sisi positif yang saya lakukan karena lagi lagi, adik itu meniru kakaknya. Kalau saya berlaku tidak karuan maka mereka juga akan terjerumus ke hal yang jelek (dear adik adikku tersayang, jangan tiru kelakuan kakakmu yang buruk. Tiru yang baiknya saja). Makanya saya berusaha banget jadi anak baik baik. Nggak macem macem, tapi nggak cupu juga kalik.

Kembali ke galaunya saya, saya jadi mikir lagi. Saya sebenarnya belajar itu buat apa? Saya mau jadi apa?. Saya suka pendidikan (ini darah yang mengalir dalam keluarga saya). Kesehatan (Sial. Saya tiap lihat rumah sakit, jadi ngerasa bersalah sama Bapak karena nggak bisa jadi dokter. Waktu lihat bencana, saya pengen jadi salah satu yang ngerawat pasien. Pas kemarin penelitian di Pemalang, saya pengen jadi petugas penyuluh kesehatan. Haha. Hidup kadang aneh memang). Pariwisata (Saya suka udara bebas. Saya suka bepergian ke tempat yang baru, saya menyukai alam). Tanaman (Saya suka bunga dan pepohonan. Saya bahkan udah mikir jadi turis yang jadi florist dan punya nursery luas. Haha. Amin) Belum banyak yang saya lakukan untuk mencapai impian saya yang belum saya list apa saja.

Ayah dari salah seorang teman saya pernah bilang ”untuk hidup”, ketika putrinya menanyakan untuk apa ia belajar. Beliau benar. Tapi saya rasa saya punya jawaban sendiri. Saya belajar untuk hidup di dunia dan akhirat. Galau saya mungkin belum akan berakhir sampai saya menemukan sendiri masa depan saya, tapi setidaknya saya tahu Tuhan akan membantu saya menemukan masa depan saya, untuk hidup di dunia dan akhirat. : ).

P.S : gila, saya curhat panjang lebar banget yak -.-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s