Pasar

Pagi ini saya melihat sebuah postingan entah dari siapa nangkring di home jejaring sosial saya. ada seorang nenek tua yang tertunduk di tengah panas di dekat jembatan –entah di kota mana- yang sedang menjajakan sayuran. Dibawahnya ada tulisan yang intinya “lebih baik membeli sayuran ibu ini dibandingkan dengan pergi ke supermarket atau mall untuk membantunya terus bertahan hidup”. Jauh sebelum siapapun pembuat postingan tersebut berkoar koar mengenai ekonomi kerakyatan, saya tidak bisa lepas dari pasar tradisional. Ah, saya jadi ingat karya musik gamelan kontemporer karya Mas Nanang Karbito yang dimainkan beberapa bulan lalu di parade tahun baru 2014. Karya tersebut berjudul Peken (pasar) yang terinspirasi dari riuh dan hidupnya suasana pasar tradisional. Sungguh pasar adalah denyut nadi dari rakyat yang menginspirasi.

Saya menyukai pasar tradisional. Sangat. Nenek saya dulunya adalah pedagang di pasar Blauran, Salatiga. Saya pernah sesekali membantunya berjualan ketika saya dulu masih unyu. Becek, kumuh, panas, lembab, berisik, mungkin itulah yang tergambar dari deskripsi sebuah pasar tradisional. Jangan bedakan dengan supermarket, mall atau indomaret yang terang benderang, dingin AC dan bersih. Berkaos, celana pendek, dan hanya berbekal uang seadanya, saya melangkahkan kaki ke pasar.

Ada hal yang tidak akan saya temui ketika saya masuk ke pasar modern. Humanitas. Saya tidak akan melihat ramahnya ibu ibu tua penjual sayuran atau bumbu pawon. Saya juga tidak akan melihat interaksi penjual dan pembeli layaknya manusia dengan manusia. Di pasar modern hanya ada tiga hal yang bisa dilakukan. Datang, ambil, bayar. Pembeli tidak akan repot repot ngobrol panjang lebar dengan kasir dengan antrian yang sebegitu mengularnya. Di pasar tradisional, masih ada humanitas yang tersisa. Bagaimana kerasnya hidup, keluh kesah pedagang yang tetap ceria meskipun banyak masalah di belakangnya, itulah yang bisa kita temui.

Saya tidak pernah menyukai membeli sayur di pasar modern. Terkadang saya bingung dengan embel embel organik di atasnya yang bisa melambungkan harga sayur sedemikian mahalnya dari sayur biasa. saya pernah menemukan pedagang biasa yang menggunakan pupuk dari kotoran unggas untuk menyuburkan tanamannya. Sayuran tersebut dijual standar saja, tidak terlalu mahal. Tidak semua pedagang di pasar tradisional menggunakan pupuk buatan untuk tanamannya. Kadang saya sering kesal sendiri jika melihat label harga bawang merah dan bumbu lainnya di rak supermarket. Satu plastik kecil bawang merah dengan isi yang tidak seberapa banyak bisa dijual seharga seperempat kilogram membeli benda yang sama di pasar tradisional. Belum lagi kapulaga, merica, jintan dan barang lainnya. di pasar biasa saya bisa membeli seplastik bermacam macam bumbu dengan harga yang lebih miring. Apakah sudah pasti barang barang tersebut organik? Bisa saja mereka beli dari pasar biasa dan dikemas ulang.

Sering saya pulang dari pasar dengan perenungan panjang. Menemukan orang orang yang begitu hebatnya bertahan dari gerusan jaman. Seorang penjual buku tua favorit saya masih sering menawarkan dagangannya ketika saya datang. “Intisarinya di sebelah sana mbak”. Begitu beliau berkata. Sering saya keluar masuk pasar hanya untuk membeli sekilo bawang, cabai dan sayuran di daerah Blauran. Tidak jarang saya mendengar pedagang disana curhat mengenai harga tomat yang sedang tinggi karena curah hujan tinggi sehingga mengakibatkan gagalnya panen atau bahkan curhatan mengenai keluarganya yang sedang sakit atau putra putranya yang mungkin sedang merantau dan belum pulang. Ada juga kakek kakek tua yang berjualan nisan ketika lebaran menjelang. Ia mengharap sedikit uang dari penjualan nisan untuk uang lebaran cucu cucunya. Bisa jadi uang itu pula yang menyambung hidupnya dan keluarganya.

Malu Malu

Malu Malu

Los besi

Los besi

Pernak pernik kuningan Beringharjo

Pernak pernik kuningan Beringharjo

Los pakaian Beringharjo

Los pakaian Beringharjo

IMG_0114

Berjubel di Beringharjo

Menata dagangan

Menata dagangan

Mencari rejeki sampai tua

Mencari rejeki sampai tua

Pulang dari pasar, saya sangat suka melewati deretan los bunga. Warna warni bunga benar benar memukau saya. Krisan, anyelir, aster, balon, sedap malam, gladiol dan bermacam bunga lainnya. Ada kenangan masa sekolah yang saya bawa kesana. Suatu hari saya menemani teman saya, Ardha untuk membeli bunga anyelir sebagai tanda permintaan maaf untuk ibunya. Ia merasa bersalah karena berkelahi dengan ibunya beberapa hari sebelumnya.

Buket bunga aneka rupa

Buket bunga aneka rupa

Lebih sering membeli barang di pasar tradisional, bukan berarti saya anti dengan pasar modern. Saya sekali dua kali masih pergi ke Galleria, Amplaz, Ramayana, CL (Ciputra Mall) dan beberapa pusat perbelanjaan modern lainnya. Ada barang barang yang hanya bisa ditemukan di tempat modern nan mahal tersebut. Saya hampir tidak pernah membeli barang di sana tetapi saya yang tertarik dengan dunia fashion akan menyempatkan diri melongok ke baju dan sepatu untuk melihat desain yang ada. Beli?. Belum tentu. Saya bukan shopaholic. Uang saya terbatas untuk hidup. Harus pandai menentukan skala prioritas.

Kadang saya takut jika suatu saat sudah tidak ada lagi yang namanya pasar tradisional atau warung kecil. Mengapa begitu?. Coba lihat perkembangan Indomaret di luar sana. Tidak jarang saya menemukan Indomaret yang letaknya dekat dengan pasar. Saya takut jika suatu saat warung warung kecil akan tutup dan mati perlahan karena orang lebih suka pergi ke warung modern yang dianggap lebih praktis dan prestis. Mungkin suatu saat nanti saya tidak akan lagi menemukan permen yang bisa dijual eceran dan harus membeli sekantong penuh permen satu rasa karena  warung modern hanya akan menjual permen sekantong penuh, bukan eceran. Tidak akan lagi ada kerupuk, permen karet, pelembungan, mainan mainan dan jajanan yang bisa dibeli eceran. Sedih.

Buat saya daripada membeli di supermarket –jika tidak dalam keadaan terpaksa-, saya lebih baik membuang uang saya untuk membeli di pasar tradisional. Ada orang orang kecil di sana yang lebih membutuhkan bantuan kita untuk membeli produk mereka. sekali lagi, humanitas lah yang membuat hidup jangan terus menerus mendongak ke atas. Lihatlah kebawah juga karena hidup tidak melulu soal gengsi dan hedon belaka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s