Gambaran Umum Kesehatan Masyarakat Desa Batursari Pemalang, Jawa Tengah

Artikel ini merupakan sedikit gambaran mengenai penelitian yang telah dilakukan selama dua minggu di Desa Pulosari, Kecamatan Pemalang, Jawa Tengah sejak tanggal 15 Januari – 28 Januari 2014

abstrak  

Isu kesehatan merupakan hal krusial pada sebuah masyarakat. Kualitas kesehatan sebuah daerah dipengaruhi oleh banyak hal. Desa Batursari merupakan salah satu desa di pegunungan yang menarik untuk diteliti. Dengan populasi penduduk tinggi dan tingginya angka pernikahan dini di daerah ini, bisa diambil hipotesis bahwa permasalahan yang dialami oleh masyarakat daerah Batursari adalah masalah infeksi saluran pernapasan dan rendahnya angka kesehatan ibu dan anak. Data akan diambil dengan sistem wawancara dan sampling dari warga serta instansi kesehatan terkait. Setelah data terkumpul, maka bisa dianalisis dan diambil kesimpulan mengenai tingkat kesehatan warga desa. Dengan demikian bisa diambil langkah pencegahan dan perbaikan terhadap sanitasi dan kesehatan masyarakat.

Keyword : sanitasi, kesehatan, batursari, pemalang, ibu dan anak, tanaman obat

================================================================================1.      Pendahuluan

Penelitian ini dilakukan pada tanggal 14 Januari – 28 Januari 2014. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data mengenai tingkat kesadaran warga terhadap kesehatan dan aspek aspeknya di Desa Batursari, Kecamatan Pulosari Pemalang.

1.1.   Gambaran Masyarakat

Kecamatan Pulosari terdapat 12 desa dengan 45 dusun. Ada 702 rumah dengan sekitar 900 lebih KK. Jarak desa ke puncak Gunung Slamet lebih kurang 3 km sedangkan jarak desa ke pantai kurang lebih 50 km.

Mata pencaharian warga adalah bertani sayur sayuran seperti kubis, wortel, kol dll.. Hasil panen warga biasanya dijual untuk memenuhi pasar domestik Pemalang bahkan sampai keluar kota Pemalang seperti di Purbalingga dan Tegal.

IMG_6030

Mengangkut kubis dari kebun

Kebun bawang teropong (loncang)

Kebun bawang teropong (loncang)

Warga kesulitan untuk mendapatkan air bersih ketika kemarau tiba Untuk membeli air, mereka harus mengeluarkan uang sebesar 200.000 rupiah tiap tangki. Akan tetapi pada tahun 2014, akan ada proyek pengaliran air bersih dari lereng Gunung Slamet menuju rumah rumah warga yang dananya diambil dari APBD daerah Pemalang. Dengan begitu diharapkan warga tidak lagi kesulitan air saat kemarau dan bisa memenuhi kebutuhan konsumsi air lebih baik.

Sebagian besar warga belum berpendidikan tinggi. Warga desa yang berusia muda kebanyakan tidak sampai SMA, bahkan mereka rata rata hanya sampai SMP. Usai lulus mereka memilih untuk bekerja di Jakarta atau menikah. Sehingga angka menikah muda sangat tinggi. Rata rata memilih untuk bekerja di pabrik atau menjadi pembantu rumah tangga di Jakarta. Jakarta adalah kota tujuan utama hampir sebagian besar warga desa baik untuk mencari sumber penghasilan keluarga. Profesi yang digeluti warga ketika sampai di Jakarta antara lain menjadi tukang bakso, pedagang, pekerja bangunan dan pembantu rumah tangga.

2.      Isi

2.1 Kesehatan Ibu dan Anak

Salah indikator kesehatan warga adalah kesehatan ibu dan anak. Terdapat pusat pelatihan ibu hamil dan sebuah puskesmas pembantu yang terletak di dekat balai desa Batursari. Pelatihan sudah dilaksanakan sejak bulan November 2012. Pelatihan untuk ibu ibu hamil dilaksanakan setiap tanggal 20 tiap bulannya sedangkan pelatihan posyandu dilakukan setiap tanggal 8. Pelatihan ini adalah pelatihan berkesinambungan yang membahas hal hal seperti tanda bahaya ibu hamil, persiapan kelahiran, KB, periksa kehamilan rutin, perawatan bayi, ASI ekslusif, akta, perawatan payudara, tanda tanda ibu bersalin, makanan bergizi ibu hamil dsb. Tujuannya adalah ketika bayi mereka lahir, mereka bisa merawat bayi mereka dengan baik sehingga ibu dan bayi bisa terus hidup sehat.

Kelas Ibu hamil

Kelas Ibu hamil

Rata rata usia ibu hamil yang mengikuti pelatihan paling muda sekitar usia 17 tahun dan paling tua berusia 32 tahun. Kehadiran setiap pelatihan berkisar 5 – 21 orang. Kesadaran untuk mengikuti kelas ibu hamil cukup tinggi. Mereka akan selalu datang kecuali jika cuaca buruk.

Imunisasi untuk ibu hamil mulai diberikan ketika janin berusia 4 bulan berupa vaksin tetanus dan cek golongan darah. Untuk kasus HIV TBC dan penyakit berat yang mengancam kesehatan ibu dan janin tidak ditemukan oleh petugas kesehatan terkait.

Sampai saat ini, masih ada orang tua yang meyusui bayinya hanya sekitar seminggu, selebihnya mereka akan langsung memberikan bayi mereka makanan seperti buah, nasi, sayur layaknya anak anak yang sudah besar. Hal ini merupakan hal yang salah karena bayi sangat membutuhkan ASI sebagai sumber makanan pokok bagi mereka. Warga memang dulunya memberi makan bayinya tidak lama setelah mereka lahir, dengan kata lain, mereka tidak memberi ASI secara berkesinambungan sampai usia bayi 6 bulan karena pola pikir orang tua jaman dulu yang masih kurang paham kesehatan bayi. Hanya baru baru ini saja mulai dicanangkan ASI Ekslusif  yang digaungkan oleh bidan desa dan gencarnya  iklan di masyarakat. Ibu dianjurkan untuk menyusui setidaknya enam bulan setelah bayi lahir dan tidak boleh memberikan makanan tambahan apapun selama program ASI ekslusif dijalankan. Pada akhirnya masyarakat sudah bisa memahami bahwa bayi berhak atas colostrum dan air ASI minimal hingga bayi berusia 6 bulan.

Walaupun begitu, pengaruh kakek dan nenek di keluarga masihlah tinggi. Masih ada ibu yang sudah ikut pelatihan ibu hamil yang mengetahui pentingnya ASI eksklusif enam bulan, tetap memberi makan bayi mereka karena si nenek yang menganjurkan. Alasannya, anak yang sudah lahir harusnya diberi makan, bukan hanya disusui saja. Padahal hal tersebut akan memicu penyakit pada bayi karena pencernaanya belum kuat untuk menerima dan mengolah makanan yang masuk ke dalam tubuh mereka. Untungnya, sudah tidak banyak kejadian seperti itu.

Angka sadar kesehatan ibu dan anak juga cukup tinggi. hal ini dibuktikan dengan rendahnya angka kematian ibu dan bayi di desa ini. Walaupun menikah muda adalah hal yang biasa, ibu hamil dan bayinya tetap sehat. Jika biasanya kehamilan muda sangat berbahaya karena rahim si ibu belum siap dan akan memicu kelahiran prematur, ibu disini dinyatakan aman dan sehat. Kelahiran bayi prematur bisa dikatakan hampir tidak ada. Ibu hamil akan memeriksakan diri mereka ke bidan desa dan akan mengimunisasi bayi mereka di posyandu atau ke bidan tersebut.

Walaupun angka sadar kesehatan ibu dan anak tinggi, pengaruh kakek dan nenek di keluarga sangatlah tinggi. sejak bertahun yang lalu, jika bayi sudah lahir, dan disusui, si nenek akan menganjurkan ibunya untuk memberi makan si bayi dengan alasan anak yang sudah lahir harusnya diberi makan, bukan hanya disusui saja. Padahal hal tersebut akan memicu penyakit pada bayi karena pencernaanya belum kuat untuk menerima dan mengolah makanan yang masuk ke dalam tubuh mereka. Sejak beberapa tahun ini, sudah mulai gencar digalakkan untuk ASI ekslusif pada bayi. Ibu dianjurkan untuk menyusui setidaknya enam bulan setelah bayi lahir dan tidak boleh memberikan makanan tambahan apapun selama ASI ekslusif dijalankan.

Adanya IMD (Inisiasi Menyusu Dini) menjadi pengetahuan baru untuk ibu hamil di desa Batursari. Oleh karena kondisi bayi masih memerlukan ASI untuk pertumbuhannya, ibu yang baru melahirkan diharapkan untuk mendekap bayi langsung yang bertujuan untuk kontak kulit antara ibu dan bayi. Dari kontak tersebut diharapkan untuk memperkuat hubungan antara ibu dan anak. Ibu bayi sebaiknya menyusui minimal satu jam pertama setelah kelahiran bayi. IMD mempunyai banyak manfaat antara lain mengecilkan rahim, mengurangi resiko kangker rahim dan payudara dan mengurangi resiko pendarahan. Ibu bidan juga menganjurkan pada ibu ibu untuk tidak membasuh tangan bayi pasca persalinan dan membiarkan bayi mencari air susu ibunya karena tangan bayi mempunyai bau sama dengan colostrum Ibu.

Rata rata orang yang sedang hamil maupun menyusui di desa Batursari sudah tidak menggunakan ramuan tradisional. Mereka memilih menggunakan jamu yang dijual di apotik atau di toko toko karena lebih memilih kepraktisan. Hanya jamu kunyit asam saja yang karena mudah dibuat.

Warga Desa Batursari sudah sadar Keluarga Berencana. Mereka sudah bisa memahami batasan anak dalam satu keluarga. Bahkan warga Kacip rata rata hanya memiliki satu hingga dua anak saja, begitu pun Dusun Krajan dan warga dusun lainnya. Warga dusun Krajan rata rata memilih masektomi untuk KB sedangkan warga Kacip memilih untuk menggunakan vasektomi. Namun masih ada warga yang menggunakan pil, spiral, IUD, implant maupun suntik. Tergantung pilihan warga masing masing.

2.2 Pemanfaatan tanaman obat sebagai sarana penyembuhan alami

Dengan kontur pegunungan dan udara yang sejuk, Dusun Kacip memiliki keberagaman jenis tanaman yang tinggi. Rata rata didominasi oleh sayuran. Akan tetapi keberagaman tersebut tentunya juga memiliki tanaman yang berkhasiat sebagai penyembuhan. Sebagai salah satu kearifan lokal yang dimiliki oleh warga, warga masih menggunakan tanaman obat sebagai salah satu sarana pengobatan. Jika masih bisa diobati dengan ramuan alami, warga menggunakan ramuan alami. Seperti menggunakan getah pisang untuk mengeringkan luka. Tanaman tiba urip juga diyakini sebagai tanaman yang bisa mengusir panas dalam.

Berbagai tanaman yang bisa ditemukan di Batursari antara lain :

  1. Perut mual diobati dengan menggunakan daun dadap yang direbus dan diminumkan ke anak
  2. Panas dalam diobati menggunakan daun dlingo, bengle, bawang putih, jahe yang ditumbuk. Bahan bahan tersebut juga ditumbuk, dibalurkan ke dahi orang sakit panas atau pingsan
  3. Sakit batuk, menggunakan jeruk nipis yang diseduh dengan tambahan kecap.
  4. Kaki terkilir dan reumatik dibati dengan daun tiba urip yang ditumbuk.
  5. Infeksi diobati dengan daun jarem, kerumpang, selom, getah pisang dan daun bodhin
  6. Sakit magh diobati dengan parutan kunyit atau rebusan temu putih dalam kendhi tanah liat
  7. Daun jambu kluthuk untuk mengobati diare. Daun jambu ditumbuk, diperas kemudian diminumkan ke orang yang sakit diare
  8. Daun alpokat direbus untuk menuembuhkan penyakit darah tinggi
  9. Daun kemaduan teh / benalu teh untuk panas dalam
  10. Buah pace, daun tebu hitam untuk obat kencing manis
  11. Daun alang alang untuk sakit panas dalam
  12. Daun talas himat/talas wulung untuk penurunpanas dan obat batuk
  13. Sereh direbus sebagai obat batuk
  14. Sirih untuk jamu dan obat keputihan, serta tetes mata
  15. Kunyit untuk mengobati sakit perut. Kunyit diparut, diperas dan diminumkan sebagai anti mual
  16. Jahe untuk menghangatkan badan dan menurunkan demam
  17. Daun gintung untuk obat diare, cara pemakaiannya adalah dengan dikunyah langsung
  18. Talas hitam, diambil lendirnya untuk obat batuk
  19. Jika naik gunung slamet, warga menggunakan gula jawa dan kelapa muda sebagai penambah tenaga
  20. Daun pepaya dan daun katuk untuk lancar menyusui
  21. Teh untuk obat pelangsing. Cara membuat teh, setelah teh dipetik, dilayukan, digiling kemudian digoreng kering. Baru diseduh menggunakan air panas dan diminum sebagai minuman peluruh lemak di tubuh
  22. Daun senthong aka daun keladi tikus untuk obat batuk.
  23. Brajalintang untuk obat telat datang bulan
  24. Kamijaran untuk obat batuk’temu kuning untuk sakit perut
  25. Laos untuk mengobati penyakit kulit
  26. Rendheng untuk campuran kosmetik dan obat lainnya
  27. Ketumpang untuk mengobati koreng
  28. Lidah buaya untuk menyembuhkan luka
  29. Daun rajapulang, nama lain dari bandhotan untuk
  30. Pakis ukel untuk menyembukan penyakit mata
  31. Lempuyang kuning’temu kuning’
  32. Kumis kucing menyembuhkan kencing manis
  33. Simbukan untuk mengobati sakit perut
  34. Keji beling untuk mengobati diabetes
  35. Daun besaran untuk pengobatan diabetes
  36. Kamijarak, nama lain dari sereh untuk mengobati tenggorokan yang serak
  37. Temu kuning untuk mengurangi sakit pada perut anak
  38. Sariawan untuk mengobati sariawan
  39. Tebu leri untuk pegobatan diabetes
  40. Daun tuju untuk mengobati diabetes
  41. Pohon pringpetung untuk kencing batu
  42. Daun pacar untuk mendinginkan kulit yang tersengat panas matahari
  43. Adas untuk berbagai penyakit
  44. Tikel balung sebagai penyembuh patah tulang
  45. Pakis menir untuk obat ginjal

Ada dua jenis teh yang dihasilkan oleh penduduk yaitu teh jawa dan teh cong (teh yang ditanam di perkebunan). Dari tumbuhan teh tersebut, benalu yang tumbuh bisa diambil manfaatnya. Warga menggunakan tanaman benalu teh menjadi salah satu obat untuk penurun demam. Sayangnya tidak banyak tanaman teh tumbuh di daerah ini karena warga lebih memilih untuk menanam sayuran padahal harga jual teh lebih mahal dibandingkan dengan sayuran. Namun setiap rumah pasti menanam teh meskipun satu atau pohon. Dari pohon tersebut bisa diambil daunnya untuk dikonsumsi sendiri. Benalu teh yang tumbuh pada tanaman teh akan diambil untuk dijadikan obat.

Lahan lahan kosong yang ditanami tanaman ekaliptus juga memberi banyak manfaat kepada warga. Pohon yang masih sejenis dengan tanaman kayu putih ini pemanfatannya masih sebatas diambil kayunya untuk bahan bangunan. Daun dari tanaman ini juga bisa disuling dan diambil minyaknya untuk tujuan pengobatan semisal sakit perut. Akan tetapi sampai saat ini belum ada pengembangan lebih lanjut mengenai pemanfaatan daun ekaliptus karena belum ada koordinasi yang baik dari pemerintah dengan warga.

Anakan tanaman Ekaliptus

Anakan tanaman Ekaliptus

Sejak bulan November 2013, PKK Desa Batursari mempunyai program kebun gizi PKK yang terletak di dekat rumah Bapak Lurah. Kebun ini berisi berbagai macam tanaman antara lain tanaman obat yang diselingi dengan kubis dan beberapa tanaman lainnya (sistem tumpangsari).

2.3 Sanitasi dan penyakit .

Penyakit yang umum diderita oleh warga adalah penyakit hipertensi sedangkan anak anak pada umumnya mengalami Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Keluhan ISPA antara lain mengeluh panas, batuk dan pilek sedangkan warga yang menderita rematik mengeluh pusing dan tengkuk berat. Hipertensi disebabkan oleh tingginya konsumsi garam di desa ini. Garam dapur yang dimiliki warga umumnya mencair dan kehilangan rasa asin di dalamnya. Pada akhirnya warga akan terus menerus membubuhkan garam pada masakan yang mereka konsumsi. Penambahan tersebut memicu tingginya kadar garam dalam tubuh yang mengakibatkan hipertensi. Belum lagi kesukaan warga pada ikan pindang yang merupakan salah satu ikan yang mengandung kadar garam tinggi. Infeksi saluran pernapasan akut yang diderita oleh anak anak disebabkan oleh tingginya kadar uap air dalam udara dan suhu dingin.

Sanitasi warga bisa dibilang cukup baik. Sudah banyak yang menggunakan kamar mandi walaupun beberapa masih menggunakan jumbleng (wc tradisional) karena masih terbawa dengan adat kebiasaan yang lalu. Kebiasaan inilah yang memicu wabah tipes.

Kebiasaan buang sampah sembarangan masih sering dijumpai. Warga masih sering buang sampah di sembarang tempat. Di beberapa jembatan, masih ditemui onggokan sampah hasil buangan orang yang tidak peka kebersihan. Pada saat kerja bakti pun, masih ada sampah bekas plastik minuman yang berserakan tidak karuan tidak diberesi oleh warga.

Warga daerah Batursari sering bepergian ke Pasar Moga untuk membeli bahan kebutuhan pokok. Salah satu oleh oleh yang dijual di daerah Moga adalah manisan yang terbuat dari buah pepaya. Manisan yang diletakkan secara terbuka tersebut mengindikasikan bahwa kebersihan tidak terlalu diperhatikan. Akan tetapi hewan yang terlihat seperti lalat (ternyata adalah lebah) yang mengkerubuti manisan menjadi tolok ukur bahwa gula yang digunakan untuk mengawetkan manisan adalah gula murni karena lebah hanya akan mendekati gula atau madu alami bukan pemanis buatan. Sedangkan dari warna manisan yang terlihat mencolok, bisa dipastikan bahwa pembuat manisan menggunakan pewarna berdosis tinggi karena pekatnya warna manisan. Seharusnya manisan tersebut ditutup dengan plastik agar tidak terkena debu dari jalanan.

Rata rata makanan yang dijual di area sekolah dasar dan madrasah di Batusari adalah aneka makanan ringan yang mengandung MSG tinggi. Kandungan yang terdapat pada aneka makanan tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai makanan sehat karena kandungan monosodium glutamat yang cukup tinggi. Jika dikonsumsi terus menerus akan mempengaruhi daya pikir anak tersebut.

Membeli makanan di kantin

Membeli makanan di kantin

Warga Batursari sudah sadar untuk melakukan donor darah yang dilakukan setiap tiga bulan sekali sehingga angka kebutuhan darah di masyarakat bisa dipenuhi dengan mudah.

3.      Kesimpulan

Berdasarkan data yang telah diambil, bisa ditarik kesimpulan bahwa kesehatan di Desa Batursari sudah cukup baik. Masyarakat sudah mengenal pentingnya kebersihan dan sanitasi. Tidak ada warga yang buang hajat sembarangan karena di masing masing rumah sudah terdapat jamban sehat. Akan tetapi warga perlu lebih peka untuk tidak membiarkan sampah bercecer di sembarang tempat. Pola kebersihan harus dimulai dari membuang sampah pada tempatnya.

Angka kesehatan ibu dan anak juga sudah cukup baik. Ibu hamil, meskipun usianya masih sangat muda memahami pentingnya kelas ibu hamil dan menjaga janinnya agar tetap sehat dengan rutin melakukan pemeriksaan. Angka kematian ibu hamil bisa dibilang sangat rendah walaupun mereka rata rata menikah di usia sangat muda.

Pentingnya bantuan tenaga medis seperti bidan, mantri dan dokter sudah dipahami betul oleh warga sehingga jika mereka mengeluh sakit, mereka akan langsung menemui tenaga medis terdekat. Penyakit yang umum diderita oleh warga adalah hipertensi sedangkan anak anak umumnya menderita penyakit infeksi saluran pernapasan. Warga sudah tidak lagi pergi berobat ke dukun karena lebih memercayai pengobatan modern.

Dengan potensi hutan dan wilayah pedesaan yang masih alami, seharusnya masih banyak ditemui tanaman obat yang bisa dimanfaatkan sebagai penyembuh alami. Akan tetapi warga tidak begitu paham mengenai khasiat dari berbagai daun, akar maupun buah yang ada di sekitar desa tersebut. Hanya sedikit masyarakat yang tahu dan orang orang tertentu saja. Generasi yang lebih muda rata rata sudah tidak mengetahui manfaat dari ramuan tradisional yang terbuat dari tanaman obat. Mereka juga tidak lagi mengkonsumsi jamu jamuan karena sudah beralih ke obat yang diberikan oleh pemerintah melalui puskesmas maupun rumah sakit. Hal tersebut dirasa lebih praktis dibandingkan dengan kerepotan dalam membuat ramuan dari tanaman obat. Namun pengenalan varietas tanaman herbal dan khasiatnya sangat penting untuk warga. Tenaga medis yang berkompeten sebaiknya juga memberikan pelatihan mengenai cara penanggulangan penyakit melalui tanaman herbal agar warga bisa mengolah sendiri tanaman obat yang mereka punya dirumah sehingga mereka bisa lebih mandiri dalam pengobatan penyakit.

Advertisements

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s