Luka Karena Kata

Mulutmu harimaumu. Itu pepatah Indonesia yang pernah saya dengar di mata pelajaran bahasa Indonesia. Sungguh menunjukkan bahwa apa yang kita katakan mempunyai kekuatan. Apapun itu, kata bisa memberi dampak kepada orang lain, bahkan menjadi bumerang bagi diri kita sendiri. Juga, lidah tidak bertulang. Apakah selama ini kita sudah berkata yang baik? Ataukah justru hampir semua yang kita katakan justru mampu menghunjam orang lain?.

Banyak anak di luar sana yang berkata seenak mereka sendiri. Suatu ketika ada orang yang bisa berkata lembut dan santun pada orang lain ada juga yang dengan mudahnya menjelekkan, menghina atau misuhi. Siang ini saya seharunya punya janji ke orang lain. Saya tidak bisa marah pada orang itu. Emosi emosi ngakak, semacam itulah. Entah bagaimana definisi yang benar. Dia menanggapi jika saya terus terusan marah marah. Dia bilang dia terluka hatinya karena ucapan saya. Saya pun juga tahu bahwa sebenarnya ada sebagian hatinya yang juga bermaksud bercanda. Tapi inilah titik poin yang sesungguhnya. Saya menyadari bahwa saya mungkin telah berlaku tidak baik melalui kata kata saya. Kemudian saya meminta maaf secara langsung melalui pesan –karena kami memang sedari tadi saling berkirim pesan-.

Pendidikan yang dimulai dari keluarga adalah pendidikan yang amat sangat penting. Jika orang tua sudah sering berkelahi dan mengeluarkan kata kata kasar maka sudah dipastikan si anak akan meniru. Jangan lupakan bahwa anak adalah peniru terbaik. Mungkin keluarga sudah mendidik anak dengan menggunakan kata yang baik, tapi anak berubah karena faktor lingkungan. Inilah yang harus diluruskan. Untuk mencegah anak bersikap kurang ajar, maka orang tua harus memberi pengarahan mengenai tata bermasyarakat dengan orang lain. Tidak lebih karena manusia adalah mahluk sosial yang tidak akan pernah berdiri dan hidup sendiri.

Kemudian saya juga mendengar bahwa ada seorang senior di sebuah perkumpulan yang marah marah pada juniornya dengan mengatakan ‘anjing loe loe pada’. Orang tersebut marah karena menganggap tidak konsisten sebab angkatan baru semakin sedikit dan terkesan tidak serius belajar. Oke, siapa yang tidak berpendidikan sekarang. Saya penasaran bagaimana latar belakang keluarga si orang tersebut. Apakah dari keluarga broken home, orang tua yang kawin cerai, pernah mendapat kekerasan atau seperti apa. Yang jelas saya akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak meniru perbuatan buruk orang tersebut. Saya harus memanusiakan manusia.

Kasus lain adalah ada seorang teman saya dulu ketika masih sekolah menengah mengata ngatai saya ‘asu’ yang berarti anjing di dalam bahasa Jawa. Saya memang tidak mendengarnya secara langsung, saya mendengarnya melalui salah seorang teman saya yang lainnya. Mungkin tidak bisa dipercaya secara langsung, tetapi saya menarik pelajaran penting.

Tidak peduli siapapun yang mengatakan, jika ia sudah menggunakan kata anjing untuk memaki orang lain, ia benar benar melukai harga diri orang lain dan keluarga orang lain tersebut. Sebagai contoh kasus senior yang dengan seenak udel bilang anjing pada juniornya, sudah sehebat apa ia sampai ia memaki juniornya dengan kata anjing. Apakah sehari harinya ia menghidupi, menafkahi, memberi makan, menyekolahkan, mendidik si juniornya?. Apakah setiap kesalahan harus diasumsikan bahwa si anak itu bagaikan anjing?. Jika si anak dianggap anjing, maka siapa orang tuanya? Anjing juga?. Itulah yang mungkin tidak dipikirkan oleh orang orang tersebut. Mereka terlalu sibuk dengan perasaan sok keren karena sudah mengumpat dan memaki sepanjang hari. Lupakah mereka bahwa orang lain punya perasaan. Yang mungkin akan terluka setelah mereka dengan mudahnya melampiaskan kekesalan mereka.

Intinya hati hati dalam bercanda. Kadang kata anjing diucapkan sambil bercanda. Jika itu bisa dikurangi akan lebih baik. Jangan main main dengan candaan. Kata yang dianggap candaan kadang bisa juga melukai pendengarnya. Apakah kita mau menambahi dosa kita dengan sakitnya perasaan orang lain?

Ada seorang teman saya yang selama bertahun tahun tidak terlalu diperhatikan oleh lingkungan sekitarnya karena ia kurang bisa menjaga sikap. Ia berbicara menyakitkan hati dan tidak bisa menjaga mulutnya. Oleh karena ia tidak punya sahabat yang bisa mengerti dia, ia menggunakan jejaring sosial yang sedang hit hitnya pada jaman itu yaitu facebook dan twitter. Ia mencurahkan segala perasaannya dalam dunia maya. Pernah suatu ketika seorang teman merasa tersinggung dengan apa yang ia tulis, dengan apa yang ia curahkan. Hasilnya mereka berkelahi dan saling diam selama beberapa bulan. Sungguh situasi yang menyebalkan ketika harus terjebak dalam dua dunia yang sedang berperang dingin.

Kasus yang paling parah adalah jika orang yang merasa terluka menggunakan ilmu hitam untuk membalas perlakuan orang yang pernah menyakitinya. Suatu ketika saya menjadi saksi bahwa kekuatan hitam benar benar bisa menghancurkan kehidupan seseorang. Di sebuah tempat terdapat sekumpulan orang yang bertemu. Salah seorang diantaranya bukanlah orang yang mampu memendam perasaannya. Apa yang ia rasakan akan ia utarakan. Bahkan pernah kata kata kasar ia lontarkan. Diantara teman temannya ada yang merasa tersinggung dengan apa yang ia ucapkan. Selang beberapa waktu, orang yang berbicara terlalu blak blakan tersebut menderita sakit dan sering mengalami kesurupan. Sudah banyak tempat pengobatan didatangi untuk menyembuhkan. Jin yang masuk pun bermacam macam. Ada yang datang untuk memperlihatkan diri sampai ingin membunuhnya pelan pelan. Pada akhirnya memang jin jin yang masuk bisa dikeluarkan. Tapi apa yang sudah terjadi menjadi pelajaran berharga bahwa sifat yang terlalu terbuka bisa menjadi bencana. Namun menjadi orang yang terlalu tertutup juga sama mengerikannya. Jadilah orang yang sedang sedang saja.

Mungkin ada orang yang sensitif, jika mendengar kata yang mungkin tidak pantas dia dengar, maka ia menjadi sedemikian tersinggungnya. Ada juga yang masih menahan marah, ada yang langsung menyerang balik bahkan sampai berkelahi dan bermusuhan selama waktu yang lama. Sekali lagi, hati hati, apa yang kamu katakan mungkin menyakiti orang lain padahal kamu sendiri tidak menyadarinya. Memang baik benar ketika Rasul bersabda bahwa lebih baik diam. Saya menyadari betul arti dari diam yang dimaksud. Diam adalah tidak banyak berkata yang tidak penting karena belum tentu perkataanmu tidak melukai orang lain. Tahan marahmu, jangan memaki. Hati hati karena mulutmu adalah harimaumu yang mungkin akan menerkammu sendiri. Ingat, lidah itu tidak bertulang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s