Berlarilah dan Syukuri Setiap Langkahmu

Semalam, saya pergi ke Pecinan bersama Fitri, Nur, Daya, Mas Ipul, Mas Reski dan Anung. Kami menonton festival Imlek di kampung Ketandan. Kalau boleh berkomentar, tidak ada yang menarik dari festival tersebut. Hanya ada iring iringan barongsai dari berbagai kelompok dan hanya ada stand stand makanan yang berjajar di sepanjang gang Ketandan. Tidak ada suasana pecinan sekuat yang saya rasakan di Salatiga atau di Semarang. Ya sudahlah, mau apalagi, memang ini bukan kota pecinan.

Ketika pulang, kami melewati daerah Beringharjo. Ada bapak berumur paruh baya duduk di atas kursi roda dengan bersusah payah melewati jalan. Ia sudah tidak mempunyai kaki lagi. Kemungkinan besar karena polio. Nur, membantu bapak tersebut dengan mendorongnya sampai ke titik parkir kami. Kemudian karena saya merasa kasihan dengan bapak tersebut karena harus menyeberang jalan, saya memutuskan untuk membantunya sampai ke titik nol sambil menunggu Ratna datang ke titik parkir. Titik nol sangat ramai. Kami berdua kebingungan harus melewati jalan mana untuk bisa menembus kerumunan. Beberapa orang bersedia membantu bapak itu menurunkan kursi roda dari trotoar. Namun sayang, jalanan yang terlalu padat tidak memungkinkan untuk terus menembus ke persimpangan. Bapak tersebut memutuskan untuk balik arah sekitar 250 meter sampai ke perempatan Gondomanan.

Saya hanya bisa mengantar sampai bangjo itu saja karena saya sudah ditunggu oleh seorang teman saya di titik kumpul. Kebetulan ada sebuah pos polisi disana. Saya agak kesulitan untuk mendorong kursi karena sempitnya jalan kecil di trotoar. Kalau boleh komen, Siapapun engkau Bapak Polisi yang ada di pos di malam itu, panjenengan geblek. Sudah tahu ada penduduk difable yang butuh bantuan, tapi anda berdiam saja di pos.  Memangnya kami ini cuma tontonan aja apa. Ah, sudahlah, lupakan.

Pulang dari mengantar, saya langkahkan kaki saya hingga langkah biasa berubah menjadi lari. Saya ambil langkah besar besar karena begitu tersentuhnya dengan apa yang saya alami. Sepanjang jalan saya syukuri tubuh saya yang masih lengkap dan sempurna ini. Tuhan begitu baik memberikan saya sepasang kaki yang membuat saya bisa melenggang bebas kemanapun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s