Lukis, Tari dan Musik : Akhirnya Aku Menemukan Kalian

Setiap manusia dilahirkan dengan darah seni di dalamnya. Saya percaya itu. Tetapi yang saya tahu, seni itu karena bakat. Walaupun pada akhirnya, siapapun bisa asal dia mau berusaha.

1.       Gambar

Menggoreskan tinta atau karbon pensil ke bidang adalah salah satu passion saya. Saya suka mencoret coret. Skill saya? jangan ditanya. Masih jauh dari bisa. Saya adalah pemula yang bahagia dengan coretan coretan sketsa di kertas kertas yang saya punya. Terkadang bermain dengan warna juga membuat saya merasa gembira. Di Sekolah Menengah Atas, saya menyalurkan hobi menggambar saya dibimbing oleh seorang guru yang sangat sabar. Dari coret coret, saya beralih ke melukis di atas kain. Membatik namanya. Sebagai anak yang sedang tumbuh dan ingin menemukan dunianya, saya begitu bahagia bisa menemukan sedikit dunia yang saya suka. Bergelut dengan canting dan menggoreskan apa yang saya suka, itulah dunia saya. Corat coret di media apapun. Titik.

Saya juga belajar wayang. Semata Wayang, sekelompok teman teman yang mencintai budaya mengajak saya untuk bergabung di dalamnya. Saya menggambar karakter wayang kontemporer, mewarnai, memasang rangkanya. Kemudian ikut dalam latihan, memainkan karakter wayang yang ada. Wayang yang kami mainkan bukanlah wayang klasik yang memerlukan serangkaian ritual. Cukup wayang kontemporer yang mengambil cerita dari berbagai daerah, bergenre apapun.

Semata Wayang

Semata Wayang

Kini, menemukan sekelompok manusia bernama Kelompok Menggambar Minggu Sore yang mempunyai ketertarikan yang sama akhirnya membuat saya merasa tidak lagi sendirian. Tidak hanya belajar banyak dari mereka, saya akhirnya memahami bahwa seni tidak melulu apa yang terlihat warna warni seperti kita masih kecil. Bahkan goresan tak berbentuk pun bisa disebut seni. Anime dan manga yang dulunya dipuja, kini jadi seonggok mainstream yang monoton. Seni itu tak terbatas. Mereka mengajak saya bermain dengan imajinasi yang ditorehkan oleh seniman lain. Berjalan dari satu pameran ke pameran lain agar tahu bagaimana seorang seniman menciptakan rasa yang berbeda dari satu dengan lainnya. Seniman adalah koki bagi karyanya. Ketika saya ikut pameran dan karya kolaborasi bersama seorang sahabat harusnya dipamerkan pada hari itu, saya tidak bisa datang. Rasanya menyesal setengah mati. Meskipun alasan sebenarnya saya tidak bisa datang ke pameran saya adalah saya memang mempunyai urusan yang membutuhkan saya di dalamnya. Saya bersama salah seorang sahabat saya membangun impian. Kami ingin membuka galeri seni suatu saat nanti. Atau, at least bisa mengikutkan karya karya yang kami miliki ke dalam pameran pameran seni. Impian yang sederhana saja. Kami cinta dengan seni, dan akan terus mencintai seni, bahkan hingga kami tua nanti.

Cepot dalam Berbagai Sudut

Cepot dalam Berbagai Sudut

"Haji Zakaria". Karya Fitria N.S dan AD. Putri

“Haji Zakaria”. Karya Fitria N.S dan AD. Putri

2.       Tari

Musik dan tari benar benar bukan saya banget. Sejak kecil saya dianggap tidak berbakat dalam kesenian, entah itu apapun kecuali satu : menggambar. Saya tidak pernah mengikuti tari apapun atau musik apapun sejak saya kecil. Pertama kali saya menari adalah ketika duduk di bangku SMP. Pulang sekolah, saya menemui ibu dan berkata saya bingung memilih ekstrakulikuler. Oleh karena orang tua saya adalah orang yang lebih berpedoman pada hal yang akademis, orang tua saya menyarankan saya ikut karya ilmiah. Akan tetapi saya berontak, saya tidak ingin mengikuti kegiatan tersebut karena saya lebih tertarik dengan seni, walaupun sayangnya tidak ada ekstra menggambar di sekolah saya dulu. Pada akhirnya orang tua menyuruh saya mengikuti voli dan tari. Voli untuk membentuk jiwa maskulin, tari agar tetap feminin. Itu alasan orang tua saya.

Tari Jawa adalah tari pertama saya. Saya kesulitan setengah mati hanya sekedar untuk mengikuti gerakan gerakan tari srimpi dan golek yang dilakukan oleh ibu guru. Saya minder melihat teman teman yang sudah lincah, luwes dan hapal gerakan. Skill mereka lebih baik daripada saya karena mereka sudah dilatih sejak mereka kecil dengan mengikuti sanggar sanggar tari. Gerakan yang luwes tidak pernah saya dapatkan meskipun saya sudah berusaha  keras dan rajin datang. Saya hanya bertahan selama satu semester, kemudian saya menyerah karena merasa tidak sanggup lagi menahan bosan belajar tari Jawa.

Ketika SMA, saya tidak mengikuti kegiatan tari walaupun sekolah saya mempunyai kegiatan tersebut. Saya mengagumi penari dan cara mereka berdandan, namun tidak ingin mencoba lagi dunia tari. Buat saya, its over. Saya tidak punya hati disana.

Merantau ke kota lain, belum juga membuka pikiran saya untuk tertarik belajar kesenian selain menggambar. Baru di tahun kedua, saya mulai tertarik dengan tari. Bukan tari Jawa yang saya pelajari kali ini, tetapi sebuah tari dari Aceh bernama Saman. Gerakan yang kaku dan rancak membuat saya betah berlatih hampir satu tahun lebih. Gerakan tari tentu saja membutuhkan keluwesan penarinya, tapi menurut saya ini lebih baik daripada saya belajar tarian Jawa ketika saya masih di sekolah menengah. Saya masih kaku dan tidak luwes, tapi setidaknya masih bisa ditolerir. Saya ikut bukan karena saya ingin menjadi performer. Tetapi lebih karena saya mau. Kali ini saya mau belajar dari hati, bukan karena suruhan orang tua. Saman menjadi cinta pertama saya pada dunia tari. Tari yang tidak akan saya lepas begitu saja seperti saat saya belajar tari Jawa. Saya tidak peduli mau nampil di acara acara atau tidak. Yang saya tahu, saya akan berusaha untuk menaklukan rasa takut dalam diri saya.

Latihan hari demi hari saya lalui. Dua kali seminggu di plaza menjadi titik start usaha. Gerakan gerakan yang menurut saya sulit, saya lakukan berulang ulang. Bahkan seringkali barisan yang ada harus mengulang berkali kali hanya karena kesalahan saya yang memang sangat sulit untuk menghapal gerakan. Dimarahi, dibalas dengan muka kecut sudah biasa bagi saya. Bahkan sebenarnya saya merasa bersalah pada senior dan junior karena hanya saya yang tidak bisa melakukan gerakan dengan baik sementara orang lain sudah sangat lancar. Dalam hati saya hanya bisa berucap “Saya niat menari adalah untuk belajar. Sesulit apapun saya akan berusaha”. Apa yang saya niatkan berbuah manis. Pada akhirnya saya bisa mengatasi kesulitan pada diri saya sendiri. Saya bisa menarikan sebuah tarian dengan fasih dan lancar.

3.       Musik

Masa kecil saya diwarnai dengan musik anak anak. Tidak seperti jaman sekarang dimana anak anak lebih dikenalkan kepada musik dewasa yang isinya tentang cinta. Musik tradisional saya dapatkan dari pertunjukan reog dan wayangan yang saya lihat di desa sebelah. Paling paling saya belajar recorder soprano (seruling).

Lepas dari SMP, ketika saya sudah diterima di SMA, saya move on ke musik. Aih, salah seorang sahabat saya mengajak untuk mengikuti kegiatan gamelan. Sial, saya hanya bertahan selama dua bulan saja karena saya tidak bisa membaca not dengan baik serta mengaplikasikannya di instrumen yang saya pegang.

Baru ketika saya di rantau, melihat sebuah pertunjukan yang dimainkan oleh beberapa orang yang saya kenal, saya tertarik lagi untuk bermain gamelan. Baru tiga tahun kemudian saya bisa mendapatkan kesempatan untuk bermain instrumen gamelan. Awalnya karena saya pikir kelompok musikal ini adalah berbasis terbuka, saya merasa semua orang bisa masuk ke dalamnya. Akan tetapi tidak pada kenyataannya. Semua orang tidak bisa masuk begitu saja. Ada serangkaian proses yang menentukan seseorang diterima atau tidaknya. Saya kaget ketika ada beberapa orang dinyatakan tidak diterima. Di suatu malam saya mendapatkan pesan bahwa saya diterima menjadi anggota. Kemudian malam berikutnya, kami pergi bersama sama untuk menghadiri open house keanggotaan gamelan tersebut. Selama berbulan bulan berlatih, saya benar benar serius bermain gamelan. Oke, skill saya tidak terlalu baik. Bisa dibilang saya bermain dengan kacau karena saya buta nada. Saya tidak bisa cepat mengenali nada dan memainkannya. Tapi satu hal, I take this  seriously. Diberikan kesempatan untuk bisa belajar instrumen dari ahlinya, menurut saya adalah sebuah kesempatan yang sangat luar biasa. Berapa banyak anak yang diberikan kesempatan sehebat ini? Tidak banyak. Dan saya menghargai kesempatan ini. Saya tidak akan melewatkan kesempatan karena saya menghargai kesempatan berharga yang sudah Tuhanberikan. Meskipun saya tidak bisa, saya akan berusaha bagaimanapun caranya.

Pesta cicitcuit 'Parade Gamelan 2014'

Pesta cicitcuit ‘Parade Gamelan 2014’

Jujur, saya juga tidak ada tujuan apapun selain belajar. Gamelan, musik, instrumen, bukanlah sesuatu yang mudah dipelajari untuk saya. Saya merasa buta nada dan tidak bisa memainkan musik atau menyanyi. Saya tidak mengharapkan bisa lolos agar bisa tampil di pertunjukan pertunjukan. Benar benar murni untuk belajar, karena lagi lagi saya jatuh cinta pada instrumen ini. Saya merasa sebagai bagian dari orang Jawa dan merasa wajib untuk melestarikan budaya Jawa. Bahasa asing  yang saya pelajari sejak saya kecil malah membuat saya semakin kecil karena tidak mengetahui secara dalam mengenai budaya negeri sendiri.

Pada akhirnya, saya menemukan bahwa meskipun saya tidak berbakat, saya tahu saya bisa mengatasi kesulitan yang ada pada diri saya sendiri. Mungkin orang hanya mengira saya selama ini baik baik saja selama latihan. Tidak ada yang tahu bahwa saya jatuh bangun berusaha dalam keterbatasan saya sendiri. Mungkin ada beberapa yang mengira saya selalu bisa mendapatkan apapun. Tidak. Saya berusaha keras untuk mendapatkan apa yang saya inginkan. Jauh dalam hati saya, saya merasa kecil karena banyak di sekitar saya mempunyai skill yang sangat lebih baik dibandingkan dengan diri saya. Sebenarnya saya sedih, sering membuat orang lain mungkin merasa kesal karena saya tidak segera bisa menghapal gerakan, irama maupun teknik lainnya. Hanya terimakasih yang bisa saya berikan kepada semua orang yang telah bersedia menjadi guru saya. Maafkan saya karena saya bukanlah murid yang baik. Saya hanya manusia biasa yang mempunyai keterbatasan. Terimakasih sudah begitu tulusnya memberikan ilmu yang kalian punya.

Seni lukis yang sejak kecil sudah Tuhan beri pada saya, meskipun tidak sejago orang lain, saya berusaha untuk mempertahankannya. Seni lukis, kau cinta pertama yang mengalir dalam darahku sedari awal. Bahkan saya sudah menemukan orang orang yang akan saling membantu untuk mewujudkan dunia kami. Seni tari, tak peduli orang berkata apa, saya sudah berusaha sekuat hati mengatasi kesulitan yang saya alami sedari awal. Saman, kau cinta pertamaku. Seni musik, gamelan, saya rela datang di tiap latihan karena saya jatuh cinta pada iramamu. Saya hidup dan tumbuh dalam coretan coretan kehidupan yang sudah Tuhan berikan. Tuhan cinta keindahan, maka Tuhan menciptakan seni dan saya ada di dalamnya. Hidup tanpa seni di dalamnya, garing banget, sumpah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s