Klayar, Pesona Tersembunyi Pantai Pacitan

Sebuah perjalanan nekat dimulai dengan berkumpulnya bocah bocah nekat tiga hari sebelumnya. Di meja paling belakang, duduklah tiga anak yang sedang galau mau ngapain pada hari itu. Sebenarnya mau main ke museum dan bingung mau makan siang dimana. Sayangnya museum tutup pada hari senin. Saya sedikit bercanda pada seorang anak “dasar kamu ni, ke pantai nggak ngajak ngajak”. Disambut dengan tawa pada lawan bicara. Pada akhirnya percakapan diakhiri dengan : bagaimana kalau kita ke pantai?. Anak lain menanggapi “bagaimana jika Pacitan?”. Semua terdiam dan menatap pointer yang mengarahkan ke gambar pantai di Pacitan. Semua langsung bilang ”setuju!”. Dimulailah perjalanan nekat yang direncanakan H-3.

Semua berkumpul di tempat yang telah ditentukan setelah subuh. Hanya sedikit orang yang ikut, sekitar enam orang, karena lainya sedang sibuk dengan urusan masing masing. Perjalanan diawali dengan berdoa di pagi Isra Mi’raj di tahun 2013. Tentu saja, karena kita butuh Sang Pencipta menjaga kita. Ketika orang lain berlibur di rumah mereka masing masing, kami melakukan isra kami sendiri.

Wonosari, kemudian Pracimantoro, baru Pacitan. Perjalanan selama Wonosari, dianggap cukup mudah karena jalan sudah bagus. Kami saling menjaga satu sama lain. Siapapun yang berada depan harus sering melihat ke belakang untuk mengecek teman teman lain. Sampailah di Pracimantoro, sebuah wilayah bagian dari Wonogiri, jalan tidak terlalu bagus bahkan bisa dibilang berbahaya karena banyak lubang disana sini. Tapi itu belum apa apa dibandingkan dengan Pacitan. Jalanan hancur, terutama di dua desa terakhir sebelum pantai. Memang kami tidak mengikuti jalur yang sudah dibuat oleh pemerintah. Kami mencoba untuk memotong jalan. Hasilnya, jalan yang kami tempuh berbatu batu dan  sungguh perjalanan satu jam terakhir yang menyebalkan.

Di Wonosari, kami melihat deretan rumah rumah biasa yang sudah modern. Di Pracimantoro, kami melihat jalan yang sungguh tidak layak untuk dilalui. Di Pacitan kami melihat banyak rumah limasan dan terkadang joglo masih berdiri kokoh. Tak jarang kami temui plang bertuliskan dilarang membuang kotoran di sembarang tempat yang mengindikasikan bahwa sanitasi warga belumlah baik. Pacitan memang dikenal sebagai tempat yang susah air. Warga masih kesulitan untuk mendapatkan air bersih karena sumber air yang letaknya sangat jauh. Selama perjalanan di dua desa terakhir, banyak ditemui pagar dari tumpukan batu karang yang dipecah kecil kecil. Galangan kebun yang dibuat warga juga dibuat dari pecahan karang tersebut. Sangat artistik!. Perjalanan panjang sejak pukul 6 pagi terasa sangat lama. Baru ketika pantai sudah terlihat, rasa lelah yang ada terbayar sudah.

Deburan ombak Klayar

Deburan ombak Klayar

Ombak berdebur, sungguh mengerikan namun cantik luar biasa. Langit memang mendung, tapi sempurna dipadukan dengan ombak dan karang di bawahnya. Penataan pantai Klayar sebagai tempat wisata bisa dibilang masih kurang. Pedagang memang sudah ada namun kurang optimal.  Tapi menurut saya, hal tersebut sudah cukup. Jangan lagi merusak pantai dengan mendirikan terlalu banyak bangunan. Sudah cukup, biarkan alami saja. Berjalan ke barat, kami menemuka susunan batuan dan geyser yang bersembunyi di belakangnya. Naluri penjelajah seketika berdenting, saya dan beberapa teman ingin menghampiri geyser tersebut tapi terlanjur diperingatkan warga, kami tidak jadi pergi. Warga melarang karena khawatir dengan keselamatan kami. Ombak besar dan batuan yang licin tentu akan memakan korban. Geyser  cantik tersebut hanya bisa dinikmati dan didengar suaranya dari kejauhan.

DSCN0082

Acara bermain main di ombak harus diakhiri ketika hujan besar datang. Pukul 11. 15 kami memutuskan untuk pergi mencari masjid, selain untuk berlindung juga untuk menunaikan ibadah. Kami menemukan sebuah masjid yang ada di tengah pemukiman warga. Seorang wanita tua menawarkan kepada kami mampir ke rumah beliau akan tetapi kami belum mengiyakan karena kami masih malas bergerak dari masjid tersebut. Baru pukul setengah tiga, saya dan Nur memutuskan untuk berkunjung ke rumah beliau. Si Ibu dan suaminya adalah warga asli daerah tersebut. Mereka sudah tua dan tak lagi tinggal dengan putra putrinya. Baru pertama kali bertemu, kami sudah dianggap keluarga sendiri oleh mereka berdua. Disuguhi kue kering, air bahkan makanan yang mereka buat. Hanya nasi dan lauk tahu tempe, sedikit suwiran ayam dan sambal. Sambalnya, saya yang bikin lho. Tadinya saya menumbuk cabai dan bawang putih tapi mood saya mendadak anjlok ketika si mbah putri menuangkan banyal penyedap rasa pada sambal yang akan saya buat. Oke, karena bukan di rumah sendiri, saya tidak boleh komplain. Lakukan saja dan hormati pemilik rumah. Anyway, suguhan sederhana namun enak luar biasa.

Mereka bahkan meminta kami untuk menginap karena kasihan dengan anak anak dari jauh yang datang dan kehujanan. Terlalu berbahaya jika meneruskan perjalanan. Begitu mereka bilang. Saya sendiri tidak masalah jika harus menginap, begitu juga dengan laki laki. Tapi mungkin tidak bagi kedua teman perempuan saya lain. Kami putuskan untuk tidak menginap dengan alasan kami mempunyai urusan lain di keesokan hari.

Keduanya sangat senang bercerita. Saya mendapatkan beberapa cerita mengenai cerita rakyat daerah tersebut yang sebagian bisa saya capture melalui video. Cerita yang kami dapat salah satunya mengenai mitos Ratu Selatan seperti halnya di daerah pantai selatan lainnya. Nyi Roro Kidul juga menjadi salah satu tokoh yang terkenal di daerah ini. Beberapa tahun yang lalu ada pengantin yang baru saja menikah sekitar satu bulan, tenggelam. Ada juga anak bayi yang tenggelam terseret ombak ketika bermain main di pantai. Banyak orang tenggelam dan dianggap menjadi tumbal untuk kerajaan pantai selatan. Kakek juga bercerita bahwa untuk mendapatkan ikan, masyarakat menggunakan bulu ayam sebagai umpan ikan. Menarik, karena berhubungan dengan mitos setempat.

Baru pada pukul setengah lima sore, kami pamit dan meneruskan perjalanan. Kami memutuskan untuk melewati jalan normal, bukan jalan ketika kami berangkat. Jalanan naik turun tapi sudah beraspal bagus, di kanan kiri hutan. Angin menerpa ditengah hujan yang tak kunjung henti. Saya terpaksa tidak memakai jaket karena kemeja saya sudah digunakan untuk melindungi kamera saya dari hujan (saya tidak membawa pakaian lain). Kedinginan karena pakaian basah dan mengantuk sih sebenarnya tapi yang saya pikirkan pada saat itu hanyalah semoga kami sampai selamat di tempat tujuan. Hutan, kebun, persawahan tanpa penerangan sungguh mengerikan. Seperti awal berangkat, kami saling menjaga satu sama lain. Kami tidak ingin terjadi apa apa selama perjalanan.

Pukul 21.00, sampailah kami di kota. Fieuuuh.. akhirnya sampai. Kami memutuskan untuk mengisi perut yang sudah keroncongan. Karena tidak ada opsi lain, kami berteduh di sebuah burjo di jalan Kaliurang. Makan malam sambil bercerita mengenai perjalanan barusan. Sumpah, saya sudah seperti orang mabuk. Sudah tidak lagi fokus dan ingin segera terlelap.  Perjalanan ditutup pukul 11.35 dan kami kembali ke rumah kami masing masing.

Esoknya, saya bangun dan menemukan diri saya terlambat masuk ke ruangan. Tidak sempat mandi dan hanya sempat menggosok gigi sambil cuci muka, saya bergegas mengambil baju yang saya pakai kemarin dan segera berangkat. Whatever, yang penting  berangkat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s