Karena Hidup Adalah Untuk Siapa

Manusia itu punya terlalu banyak list kemauan yang seringkali tidak bisa dilakukan tanpa perhitungan matang. Ketika kita bisa saja mengambil semua yang disuka dan meninggalkan yang kita benci. Sangat mudah. Sangat sangat mudah, apalagi jika mikirnya nggak pakai otak.

Kadang saya mikir ngapain sih saya disini. Ngapain saya harus melakukan hal hal menjemukan sembari menonton drama yang bikin saya sesungguhnya menahan untuk tidak menguap ketika mereka harus memainkan peran caturnya dengan sangat ciamik. Rasa rasanya semangat saya luntur. Kemana saya yang dulu bersemangat, selo dan ‘hidup’.  Can I go back to years later where I can walk and jump as easy as I can. Sayangnya nggak bisa. Hidup adalah maju, move on dan nggak akan balik ke sedetik yang telah berlalu. Pilihannya cuma dua: adaptasi atau mati. Dan yeah, it shit tho. I wake up, go forth and back again then I wake up again. Baru juga sebentar, namun sudah sangat menjemukan.

Dan dua bulan lalu, ketika Pak Bambang Setyawan, bercerita bahwa beliau memutuskan untuk memindahtangankan usaha gemaknya kepada adiknya. “Saya sudah tidak bersemangat mengurus gemak gemak itu. Karena tidak ada yang saya perjuangkan lagi. Untuk apa diurus kalau yang diperjuangkan sudah tidak ada”. Oh shit, air mata saya yang mengintip malu malu sudah ingin berontak saja.

Tidak ada semangat. Ya, bukankah semangat adalah alasan mengapa kita mau beranjak dari ranjang. Alasan mengapa kita mau berjalan, mau berlari atau duduk kembali. Semangat hanya muncul dari sesuatu memberi nyala semangat itu sendiri. Dan semangat yang paling kuat nyalanya adalah keluarga.

Semua perkataan beliau hari itu membuat saya merenung sepanjang perjalanan ke Bandung. Pak Bambang dan Bu Bambang kehilangan satu satunya putra dalam kecelakaan tunggal setahun yang lalu. Dan kejadian itu benar benar menghancurkan perasaannya. Masih segar dalam ingatan saya bagaimana tak ada samasekali senyum di hari hari setelah Arma meninggal. Muram, sedih dan gelap. Hanya itu saja. Dan kami pun berbahagia kembali ketika seulas senyum merekah dari beliau berdua. Ya, berbulan bulan setelah meninggalnya putra mereka.

Mereka kehilangan semangat satu satunya, alasan terkuat mengapa mereka hidup. Bukankah semua orang tua hidup untuk anaknya? (Ya, selain alasan real bahwa kita hidup untuk akhirat). Dan mengapa saya sebegitu bodohnya melupakan bahwa saya masih punya keluarga. Dan saya lupa bahwa saya terlalu egois jika saya tidak memikirkan baik baik mengapa saya jadi begini. Sebenarnya belum terlambat untuk keluar dari zona ini. Ya, sangat bisa. Tapi sayangnya saya tidak bisa seenaknya sendiri seperti dulu. Terlalu banyak yang harus dipertimbangkan. Saya merasa sudah cukup besar sekarang. Im grown up. Sudah bukan anak anak. Artinya segala sesuatu, keputusan yang saya ambil walaupun cuma keputusan makan apa hari ini juga bukan keputusan yang nggak dipikirin sebelumnya. Im not in children zone anymore walaupun yah, saya masih anak anak.

Saya pun mempertimbangkan matang matang kenapa bertahan dan kenapa harus tidak bertahan. Dan dua duanya sulit. Rupanya terlalu banyak pertimbangan yang harus dilalui hanya untuk menemukan jawaban yes or no. Dan akhirnya saya putuskan untuk membuang rasa kacau ini. Saya putuskan untuk bertahan karena saya punya nyala yang masih sangat kuat: keluarga. Dan satu kalimat penyemangat saya hari ini: percayalah tidak ada satu daun pun yang jatuh ke bumi kecuali sudah ditulis sejak lauhil mahfudz. Semeleh saja, manut karo Gusti Allah.

Advertisements

Table Manner

Piknik ke Gede Via Jalur Gunung Putri

Ini pertama kalinya setelah dua tahun yang lalu saya mengunjungi gunung. Rindu dengan suasana tenang, hijaunya sejauh mata memandang dan kabut yang kadang turun memberikan nuansa mythical yang syahdu. Seperti halnya saya yang tinggal di daerah pegunungan, hijaunya alam adalah yang paling dirindukan. Yang kedua, interaksi dengan orang tanpa gangguan gadget yang bikin individual. Yang ketiga, pengalaman dalam setiap lika liku perjalanannya, karena selalu akan ada cerita cerita ajaib yang muncul dalam sebuah petualangan entah itu cerita manis, pahit atau asam pedas. So rich. Itulah mengapa ajakan dari seorang kawan saya iyakan (yang ternyata si Icol nggak jadi berangkat karena harus tugas dinas ke Kalimantan Tengah selama beberapa waktu).

Satu bulan sebelum pendakian, saya memaksa diri untuk setidaknya dalam minimal dua kali dalam satu minggu melakukan stretching dan jogging. Persiapan yang sangat jauh dari cukup. Barang barang pendakian juga saya pinjam sana sini. entah itu dari Mba Dien, Kang Hapid, Gembel. Pendakian kali ini saya tidak begitu sembrono. Saya menyiapkan segala sesuatu yang bisa saya usahakan agar saya tidak begitu bergantung pada tim dan saya tidak merepotkan mereka (ya meskipun pada akhirnya saya bikin kesalahan fatal lagi: nggak bawa baju ganti yang cukup).

Pukul 14.00 dengan menggunakan Argo Parahyangan, saya meluncur Jakarta, sebagai checkpoin tim yang akan melakukan pendakian ke Gunung Gede Pangrango. Pukul 17.30, saya sampai di Stasiun Jatinegara dan berpindah ke KRL menuju Stasiun Manggarai. Teman teman saya sudah menunggu di Stasiun Manggarai untuk bersama sama pergi menuju Stasiun Bogor. Nah lho.. ribet yak pindah berkali kali. Hehe

1. Calo

Bisa dibilang ini adalah pertama kalinya saya menghadapi calo di gunung dan sekaligus pendakian paling costly selama beberapa kali naik gunung. Emezing ya beberapa tahun lalu saya mendengar bahwa gunung yang paling mahal adalah Gede Pangrango, dan kali ini saya mengalami secara live.

Ada syarat yang harus dipenuhi pendaki sebelum bisa menapaki tanah Gede Pangrango yakni ijin pendakian (simaksi) dan surat kesehatan. Simaksi dengan registrasi online sebelumnya di website resmi Gede Pangrango (ini kerennya Gede Pangrango yang sudah menggunakan teknologi untuk mengontrol jumlah pendaki setiap harinya) kemudian bayar masing masing orang kurang lebih Rp. 34.000. Nah yang jadi masalah adalah surat kesehatan yang katanya harus didapatkan di Klinik Eddelweis. Yang menyebalkan adalah pendaki harus mendapatkan syarat tersebut sebelum hari H pendakian agar tidak antri sampai siang. Pengalaman pendaki lain, mereka antri dari pagi dan baru bisa nanjak siang. Kan sial banget. Kenapa dipersusah prosesnya. Mana Mba Nopek yang rumahnya di Depok harus menempuh jarak dan waktu yang lumayan hanya untuk lembaran lembaran surat yang proses mendapatkannya makan ati banget.

Akhirnya dengan bantuan seseorang yang mengaku bisa membantu, kami harus membayar mahal (waktu itu per orang bayar Rp. 50.000) agar proses bisa segera selesai dan nanjak tanpa antri. Indonesia banget ya. Semua dipersulit dan banyak orang memanfaatkan momen ini untuk mencari keuntungan. Dan dua minggu setelah pendakian kami, ternyata muncul surat edaran bahwa kini pendaki tak harus jauh jauh mencari surat kesehatan di Klinik Eddelweis. Pendaki bisa mencari surat kesehatan di klinik terdekat. Rasanya.. hmm.. Kzl deh. Tapi setidaknya berita ini melegakan karena akan mengurangi calo calo busuq yang mencari keuntungan dalam kesusahan orang lain.

Pemorotan kedua terjadi ketika kami kemalaman sampai di stasiun Bogor. Mas Andre yang memang orang sunda berusaha untuk menawar tarif angkot hijau yang berjejer di dekat pintu keluar stasiun. Dari beberapa penawaran, kebanyakan memberikan range harga minimal 300.000 rupiah. Wawwww. so mahal (tapi ya emang saat itu udah malam banget sih).

Oleh karena perut sudah kerucukan, kami pun meninggalkan sejenak kepenatan tawar menawar yang ruwet itu. Makanlah kami di salah satu nasi goreng di dekat stasiun yang rasanya (yuccksss membuat saya komat kamit saya nggak akan sakit perut dengan kondisi tubuh saya yang lagi drop). Usai makan, akhirnya kami mengiyakan tawaran terendah yang sempat di dealkan oleh teman teman saya yakni di harga: Rp. 270.000 dengan perjanjian bahwa kami akan diantarkan menuju basecamp.

Angkot melaju dengan kecepatan yang lumayan di antara jalanan yang bisa dibilang sepi untuk ukuran Jabodetabek di tengah . Dan yang bikin hati was was adalah saya lihat dengan mata kepala, si supir ini kriyip kriyip menyetir sambil mengantuk. Huuuwwwaaaa. Sungguh mengerikan. Hanya doa saja yang bisa terucap agar Tuhan memberi selamat. Saya teler selama kurang lebih satu jam perjalanan menuju basecamp Gunung Putri dan terbangun setelah supir menghentikan laju angkot yang kami tumpangi di sebuah pertigaan yang telah berjejer angkot angkot kuning. Si supir angkot menyuruh kami turun dan berganti angkot karena supir Bogor tidak bisa melanjutkan angkotnya di wilayah supir Pasar Cipanas. Fix. Kami kesal setengah mati. Ngajak ribut memang dengan orang orang yang tidak menjunjung tinggi nilai kejujuran seperti ini. Tau gitu pakai transportasi online saja yang harganya pasti (kemarin sih kita ngecek juga kurang lebih Rp.300.000 an karena butuh dua mobil yang bisa mengangkut orang sejumlah tujuh dan tujuh carrier yang lumayan makan space. Jadi satu mobil kira kira Rp. 140.000 an) dan nggak mblenjani janji. Saya dan teman teman mangkel banget karena menurut perjanjian si supir akan mengantar kami ke tempat tujuan akan tetapi dia melanggar janji yang ia buat setelah akad dengan pembeli. Dan dia nampaknya memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Si bapak ini nampaknya sadar bahwa perjalanannya “pasti” akan terhenti. Dan yu know lah pasti ada kongkalikong dengan angkot angkot yang menunggu di Pasar Cipanas. Maka ia mengiyakan untuk mengantar kami demi keuntungan “yang penting dapat uang”. Fix. Semoga berkah hidupnya, kang.

Pukul 02.30 kami sampai di basecamp Gunung Putri setelah perjalanan selama kurang lebih setengah jam setelah kami ditodong di Pasar Cipanas. Oh ya, tarif angkot yang kami naiki dari Pasar Cipanas tadi kurang lebih Rp. 15.000. Di basecamp sudah banyak pendaki pendaki lain yang baru tiba, udah mirip kumpulan karang taruna. Hehe.

Fyi, esoknya ketika saya menunggu antrian mandi di rumah warga, saya ngobrol dengan salah seorang pendaki lain yang mau nanjak. Ternyata dia dan timnya naik bis ke Cipanas hanya Rp. 25.000 rupiah saja (tanpa disertai drama tipu tipu macam kami). Haha. Benar benar pengalaman menarik. yang kami dapatkan semalam Kalau nggak gitu ya nggak ada ceritanya sih ya. Hehe.

Kami pun bergegas menaiki jalur nik menuju salah satu rumah penduduk yang menyewakan rumahnya sebagai barak transit para pendaki. Jadi, profesi penduduk sekitar basecamp selain menjadi petani sayuran ya jadi pemilik budget ho(s)tel sekaligus restoran bagi kami, para pendaki. Oh ya, sekaligus (calo). Yang terakhir ini saya tidak akan bercerita banyak karena memang tidak banyak yang saya ketahui tentang dunia calo percaloan (surat kesehatan atau simaksi) Gunung Gede Pangrango.

Pukul 08.30, usai mandi, sarapan dan packing, kami memulai perjalanan kami menyusuri pematang kebun warga menuju basecamp pendakian. Di titik inilah perjalanan kami baru saja di mulai. Petugas Jagawana melakukan pengecekan kondisi dan logistik para pendaki. Well, kemarin sih nggak disuruh bongkarin carrier satu persatu. Tapi hanya diminta mengeluarkan barang barang yang sekiranya berbahan kimia yang dapat mencemari kawasan hutan seperti: peralatan mandi. Bhaay pada pasta gigi saya tercintah. Dan untuk pendaki wanita yang baru haid, ternyata tidak dilarang untuk mendaki. Saya pikir nantinya akan diberi perlakuan khusus (baca: suruh pulang). Haha. Ternyata petugas cukup memberi wejangan bahwa wanita yang sedang haid tidak boleh melamun, tidak boleh buang sampah bekas haid sembarangan, tidak boleh ini tidak boleh itu. Wewww.. tau gitu pas pendakian Ungaran tahun 2015 harusnya saya tetap ikut ya. Tapi saya pikir hal seperti ini tidak berlaku di semua gunung. Pasti ada wilayah gunung tertentu yang tidak membolehkan perempuan haid untuk datang mendaki. Dan saya lega di Gede Pangrango, saya yang sedang haid dibolehkan untuk mendaki.

2. Hujan di tengah perjalanan

Perjalanan di awal didominasi oleh kebun para warga yang rata rata belum memasuki masa panen (bahkan ada yang masih masa pembenihan). Jadi kami masih melihat hamparan tanaman kehijauan yang sedang tumbuh tumbuhnya. Seger!. 200 m setelah pos basecamp, kita akan menemukan pos baru. Pos ini berbentuk sebuah rumah yang lebih tepatnya diperuntukkan untuk pos administrasi jagawana. Kemudian menemukan aliran air, dan akhirnya jalan setapak. Jalan setapak ini pun bisa dibilang masih jalan yang digunakan penduduk untuk naik ke kebun. Baru 150 m kemudian menemukan jalan berbatu di antara pepohonan tanda kita memasuki hutan kawasan Gede.

Di cuaca yang mendung mendung semriwing ini (kadang sesekali mentari masih menembus hutan meski kemudian mendung lagi), menapaki tanah yang padat dengan hiasan daun daun gugur jadi sangat mantap. Pohon pohon lembab dengan lumut lumut yang tumbuh suburnya. Adem di hati. Kontur tanah berupa lereng dengan kemiringan yang dibilang curam banget ya nggak, dibilang nggak curam ya kenyataannya ada beberapa part yang lumayan bikin ngos ngosan. Tapi overall, saya suka tracknya. Naik tapi mantap karena struktur tanah yang ditahan oleh akar akar pepohonan.

Setelah sampai di pos 3 (buntut lutung), saya memutuskan berhenti sebentar. Apalagi Hadi, Jo dan Mas Andre juga berhenti untuk makan di warung dekat pos 3. Saya pun menggunakan kesempatan itu untuk tidur sejenak :D. By the way, di setiap pos selalu ada warga desa setempat yang mengais rejeki dengan menjual gorengan, kopi dan nasi uduk. Jadi bagi para pendaki yang kehabisan logistik, tidak usah khawatir. Masih ada para warga yang siap menjadi pemadam kelaparan. Hehe.

 

Kami pun naik lagi menyusul Mas Adit, Mas Reza dan Mba Nopek yang sudah duluan 100 m di depan kami. Baru juga kami jalan 15 menit, kabut menyeruak diantara pepohonan. Lama lama ia turun jadi rintik rintik hujan yang lama kelamaan terus menjadi deras. Kami berhenti mencari tempat yang agak landai untuk berteduh sementara sembari memakai mantel. Kami melanjutkan perjalana dan berhentu lagi karena intensitas hujan sudah tidak bisa ditolerir. Tim mengeluarkan flysheet dan kami pun segera mendirikan barak sementara di tenga guyuran hujan yang derasnya konstan. Rasanya seperti mengulang kembali pendakian ke Gunung Merbabu beberapa tahun lalu dimana dalam keadaan nggak fit saya nekat ikut dan kehujanan. Tapi bedanya kali ini hujan tidak disertai dengan badai. Untuk mengusir dingin, kami mengeluarkan kompor dan segera memasak minuman hangat untuk diminum kami semua dan tak lupa berbagi juga dengan pendaki yang (nekat) naik ke pos selanjutnya.

Lama juga kami berteduh di sela hujan yang bikin tubuh menggigil. Pukul 17.00 kami memutuskan untuk turun ke pos 3 mengingat cuaca yang (lebih baik) untuk tidak dilawan. Ketika dimintai pendapat, saya bilang pada tim: jika memang pada masih ingin naik maka harus naik ke pos selanjutnya dan jangan turun kecuali memang untuk pulang. Tapi jika kita harus turun ke pos selanjutnya, jangan lanjutkan perjalanan naik. Saya sendiri tidak punya passion untuk mengejar sunrise esok hari di puncak. Saya hanya berkaca dari beberapa tahun lalu. Saat itu saya masih naif. Masih bisa bodoh, masih bisa nekat. Tapi saat ini saya sudah tidak punya energi untuk nyari mati di alam liar. Bukan karena takut mati, tapi karena takut nyusahin orang lain. Nggak lucu kan kalau saya sampai hipotermia dan teman teman saya ikut kebingungan padahal yang susah saya. Haha. Lagipula bukan sunrise atau sunset yang saya kejar. Saya mau naik ke Gede karena kangen dengan suasana gunung. Suasana alam dimana saya bisa istirahat sejenak dari banyak hal yang membingungkan. Cuma itu. Tidak lebih. Perkara perjalanan lancar dan bisa sampai puncak, itu bonus yang tidak wajib ain dikejar. More than that, ada satu hal yang wajib ain tidak bisa ditawar yang harus dikejar: selamet. Percuma rempong rempong tapi tidak selamat. Berangkat aman, selamat  dan pulang pun juga aman dan selamat.

Dan kami pun mencapai Pos 3 masih dengan keadaan hujan namun sudah lebih reda. Tiga tenda didirikan. Satu untuk saya dan Mba Nopek, dua untuk para lelaki. Dengan bodoh (lagi lagi) saya tidak membawa baju yang cukup kering. Untungnya jaket parasit saya kering. Saya pun masih menggunakan celana (yang untungnya berbahan parasit yang kering dalam hitungan dua jam) dan hanya mengganti dalaman dan jaket kering.

Magrib, kami mulai memasak makanan. Mas Reza, Mba Nopek dan Mas Andre membuat nasi liwet dan menggoreng ayam bumbu kuning yang sudah dibawa dari rumah. Hanya sampai pukul 22.00 malam kami ngobrol sana sini. Saatnya menarik selimut dan tidur hingga pagi. Saya pun bertukar sleeping bag dengan Mas Adit karena dia pikir selimut saya basah. Tidak basah, hanya lembab. Cuma ya saya kasihan aja karena sleeping bag saya emang tipis. ._. Eniwey makasih Mas Adit atas pinjaman sleeping bag yang bikin saya ngiler pengen beli sleeping bag yang proper.

Pagi menjelang dan kami menikmati pagi camping dengan makan dan menunggu mentari menembus pepohonan sembari mengamati aktivitas para pendaki yang udah mirip sama komplek satu RT. Hal menarik yang bisa saya temukan adalah mengamati Bapak Bapak yang dengan kreatifnya mencari pendapatan dengan mendirikan warung di hutan. Sebagai supplier makanan, ia tidak hanya berjuang menjaga dapur rumahnya tetap mengepul tetapi juga menjaga pendaki yang kehabisan makanan untuk tetap bertenaga. Kapan lagi makan gorengan hangat di gunung. Wkwkw. Saat itu, kebetulan salah satu anaknya yang masih SD (atau SMP) ya ikut membantu ayahnya melayani pelanggan. Ternyata si anak ini sudah biasa naik ke warung setiap liburan. Butuh kira kira waktu 3 jam dari bawah sampai ke warung. Dan itu nampak seperti perjalanan biasa untuknya. Uwawww. Apa kabar saya ya yang ngeluh mulu. ._.

Oh ya, kucing oranye kemarin hari ternyata juga berteduh di Pos 3. Si kucing ini nampak cantik dengan bulu oranye yang halus sehat. Entah kucing siapa ini yang ikut hingga ke atas. Apakah ia kucing desa setempat yang main naik aja ngikutin pendaki. Ataukah dia dibuang oleh pendaki lain yang emang niat bawa itu kucing. Sedihnya saya nggak bisa bawa pulang ke rumah karena perjalanan kereta tidak boleh membawa hewan. Hiks.

Sementara pendaki lain masih berjuang untuk naik ke pos selanjutnya, pukul 11 siang kami turun, pulang. Bagi saya, dalam sebuah pendakian selain camping time ada satu hal lain yang menyenangkan: turun gunung. Jalur yang mantap jadi pijakan dan tentu saja waktu tempuh yang dua kali lebih cepat dibandingkan saat kita naik. Melihat track kita turun rasa rasanya sungguh menakjubkan bahwa itulah jalur yang kita lewati kemarin. Tanjakan yang bikin hidup rasanya bebannya nambah jadi lima kali lipat. Dan rasanya begitulah perjuangan hidup. Naik turun sesuai tracknya. Ada kalanya harus berdarah darah, ngos ngosan berantem sama kenyataan yang tidak sesuai harapan. Namun Tuhan menciptakan track lurus dan turun biar kita bisa napas dikit dikit. Dan itulah keseimbangan hidup. Selalu butuh naikan, turunan dan lurus biar nggak oleng.

 

3. Perjalanan pulang yang mengesalkan

Sama seperti saat kita berangkat ke Gunung Putri, perjalanan pulang menuju Jakarta juga sebuah perjalanan yang sungguh bikin jengkel. Kami naik angkot warna kuning arah Pasar Cipanas. Kemudian menumpang bis busuq yang mahalnya (Rp. 25.000) menyamai bis AC yang kemarin dinaiki oleh Mba Nopek sewaktu dia mengambil simaksi. Kondisi bis pun parah sangattt. Bangku yang keras, coverseat bertuliskan nama bis yang sudah pasti nggak pernah dicuci, lantai yang penuh sampah plastik- kulit kacang serta puntung rokok dan yang paling lucknut adalah penumpang bis yang merokok sampai sampai saya bilang ke salah satu dari mereka bahwa saya punya alergi asap. Bis AC yang tidak ada penumpang merokok saja saya hampir dipastikan mual, pusing dan rasanya pengen muntah apalagi bis dengan kondisi seburuk ini. Saya tahan tahan untuk tidak muntah (karena posisi plastik saya ada di carrier yang diletakkan di bagasi) jadi ya saya nggak mau bikin penumpang lain jijik. Hehe. Tapi kesabaran kami benar benar diuji karena jalanan Bogor macet luar biasa di weekend yang mendung mendung manja ini. Satu satunya yang bisa menghibur penumpang teler hanyalah  memaksakan diri untuk tidur atau nonton pemandangan kanan kiri yang dipenuhi dengan kebun teh (yang mana sudah komersial dengan para muda mudi yang gandengan sana sini nyari foto selfi di tengah kebun teh). Dan we know what? bis baru sampai di Terminal Kampung Rambutan pukul 20.00. It means setengah hari perjalanan karena kami baru berangkat dari Pasar Cipanas kurang lebih pukul 15.00 an!. Jakarta dan sekitarnya memang khejhhaaammmmm. Bis berjalan layaknya siput dan kemacetan yang panjang sungguh menguras tenaga dan emosi. Rasa hati ingin menyumpah serapahi bis bis busuq di negeri ini yang sungguh sungguh membuat perjalanan tidak nyaman. Semoga akan ada kebijakan untuk transportasi umum di negeri ini, khususon bis dan angkot. Semoga akan ada Jonan Jonan baru yang mau merevitalisasi transportasi umum biar consumer oriented. Bukan lagi berdasar pada profit oriented yang asal ada penumpang asal dia bayar maka pemilik untung. Gimana mau narik penumpang kalau bikin eneg si customer. Prinsipnya, ada barang ada uang. Namanya orang jualan, kalau produknya bagus maka akan selalu dicari. Ya emang sih, penumpang butuh bis sebagai alat transportasi. Tapi kenyataannya sekarang persaingan tidak hanya pada hal konvensional macam bis umum. Saat ini yang online terus berkembang. Bukan tidak mungkin suatu saat bis umum yang dimiliki swasta ini akan mati karena nggak peka sama perkembangan jaman. Sama seperti perlahan matinya usaha angkot tetangga saya  yang pernah berjaya bertahun tahu lalu. Sekarang ia mulai bangkrut karena lebih banyak orang di daerah saya lebih memilih kredit motor dan munculnya ojek online yang lebih cepat, tepat dan efisien.

Masalah saya tidak selesai begitu saja di Kampung Rambutan. Saya harus pulang ke Bandung juga di malam itu, karena esok hari Senin saya sudah harus on site kerja lagi. Saya sudah ketinggalan kereta pukul 20.00, maka satu satunya kereta yang bisa saya naiki hanya kereta pada pukul 23.00. It means, masih lama banget dan entah dapat tiket atau tidak. Maka saya pun bergegas menuju Stasiun Gambir untuk pulang. Well badan saya remuk karena waktu tempuh saya berangkat dan pulang hampir sama lamanya. Berangkat dari Bandung hari jumat jam 14.00, baru sampai di Gunung Putri jam 02.30. Dan saya pulang dari Gunung Putri jam 14.00, sampai di Bandung jam 03.00. Emezink.

Finally get the ticket and Bandung Im soon to be on my dream. Dan sungguh perjalanan ini saya pulang dengan banyak cerita. Layaknya sebuah piring nasi dengan isiannya, lengkap. Manis asam pahit tawar pedes. Macem macem. Haha.

Dawet Hitam Asli Jembatan Butuh

Dawet ireng adalah minuman (atau makanan ya?) khasnya Purworejo. Itu tuh minuman manis yang berkuah santan dengan siraman gula merah yang manisnya bisa diatur sesuai kebutuhan. Ada yang suka manis banget, ada yang nggak pengen rasa manisnya terlalu nyethek, bisa di atur. Berbeda dengan cendol pada umumnya, dawet ayu memiliki isian cendol berwarna hitam. Kenapa bisa hitam? Pewarnaan hitam ini dahulu bisa dihasilkan dari batang padi (damen) yang dibakar kemudian abunya disaring dan dijadikan pewarna cendol.

Ketika saya menghadiri rewang pernikahan sahabat saya yang tinggal di daerah Mirit, Kebumen yang kebetulan berada di perbatasan Kebumen dan Purworejo, saya direkomendasikan untuk mencicipi Dawet Hitam Asli Jembatan Butuh. Eits.. jangan disingkat ya namanya. Sangat tidak direkomendasikan karea akan memiliki makna yang berbeda.

Untuk menuju Dawet Hitam Asli Jembatan Butuh, cukup menumpang minibus yang lalu lalang di jalan raya Purworejo-Kebumen. Kalau dari Stasiun Kutoarjo, kurang lebih 10-15 menit perjalanan saja, Tarif minibusnya juga nggak mahal mahal amat. Dengan hanya Rp.3000-Rp.5000 kita bisa sampai ke lokasi yang berada di kiri jalan persis sebelum Jembatan Butuh. Cukup katakan pada sopir/kernet minibus, dijamin mereka akan menurunkan anda tepat di depan Dawet Hitam Jembatan Butuh.

Sekilas saya pikir Dawet Hitam Jembatan Butuh akan berupa sebuah kedai makan berukuran tidak terlalu besar seperti rumah makan atau kafe. Namun seketika imajinasi saya buyar ketika saya celingak celinguk mencari dawet yang katanya femes ke segala penjuru Purworejo. Ternyata hanya sebentuk kecil bangunan yang serupa dengan poskamling dengan penjual pikulan yang sedang duduk melayani pembeli yang berjubel. Seketika saya baru percaya setelah saya tanya pada bapak juru parkir dan melihat sendiri plang sederhana yang mejeng di atas lapak poskamling itu.

Dahaga saya semakin menjadi jadi tatkala Pak Sugeng yang sudah sepuh ini mengambil sejumput dawet hitam, menyiram dengan kuah santan dingin dan menuangkan resep rahasia bernama juruh (kelapa merah yang dicairkan) ke atas adonan. Benar benar cocok untuk siang yang panas. Pantas usaha turun temurun ini  bertahan hingga hari ini dan mampu menarik pengunjung setia sebegitu ramainya. Dawetnya kenyal, santan dinginnya menyegarkan apalagi juruhnya juga terbuat dari kelapa merah asli. Harganya pun murah meriah, hanya Rp. 4000 saja (harga bulan Oktober 2017). Kualitas dijaga sejak usaha ini berdiri pada tahun 60 an, membuat pengunjung ingin lagi dan lagi datang kembali.

Perjalanan Menuju Hidup Sehat

Sudah sebulan saya mengalami perubahan. Well.. Nggak perubahan yang gimana gimana sih. Hanya saja entah mengapa semenjak tinggal di Bandung saya sering sakit. Bukan sakit yang sampe masuk RS. Cuma demam demam drop biasa. Tapi sumpah, its annoying. Sebulan lalu saya bahkan hampir pingsan gara gara lemes banget. Hari minggu ceria yang saya rencanakan bisa jingkrak jingrak nonton Sheila on Seven di Ancol, batal demi panasnya tubuh saya yang fluktuatif. Badan saya lemez total, kepala pening setengah mati, rasanya putar putar dan saya enggak doyan makan. Liat atau ngerasa bau makanan, kayak nggak ada nyawanya. Saya muntah dua kali dalam semalam. Bahkan malam berikutnya pun masih muntah. Nggak tanggung tanggung, sampe yang saya muntahin adalah cairan pahit. Perut saya sampe kosong sodara sodara. Hiks. Lingkaran di bawah kelopak mata jadi hitam nan cekung. Kalau mbak mbak kesehatan sih bilang kalau saya dehidrasi. Dan seketika dropnya tubuh saya menghilangkan plan saya selama weekend itu. Bahkan saya harus say bay terhadap ajakan Luqman dan Hida untuk nonton Payung Teduh di Ciwalk. Huwaaaaa..

Gegara sakit entah apa itu, saya sok sokan jadi dokter buat diri saya. Pasti ini gara gara unhealthy lyf selama bertahun tahun. Makan sembarangan, sambal kebanyakan, saos saosan, micin, minuman berkarbonasi dan aneka rupa makanan artifisial yang nggak banget buat tubuh. Selain itu saya udah jarang banget olahraga ditambah saya yang duduk mulu. Bikin bobot saya juga naik (well pembelaan yang sedikit meringankan adalah saya habis operasi geraham kemarin jadi butuh nutrisi lebih. Wkwkwk). Sungguh tidaa sehat sekalee.

Dan seketika saya mulai memantapkan diri untuk mengubah pola hidup. Yah.. Nggak bisa langsung kontan sih. Selaw bet sure aja. Yang saya lakukan pertama kali adalah mulai puasa lagi :D. Salah satu fungsi puasa adalah rehat untuk pencernaan. Maka saya pun memberikan hak pada perut saya sejenak dua kali dalam seminggu istirahat.

Kedua, mulai olahraga lagi. Kalau dulu sebulan sekali, sekarang saya mencoba (istiqomah) seminggu sekali. Jogging kek, streching kek. Pokoknya gerakkk!.

Ketiga mengatur pola makan. Saya mulai mengurangi cabai (saya termasuk mahluk yang freak sama cabai), mulai mengurangi makanan yang terlalu asam, mulai masak makanan rumahan lagi.

Cuma satu yang belum saya urusi: pola tidur dan penggunaan gadget. Saya tidur masih sembarangan jamnya. Sengantuknya. Dan seringkali jam 1 malam saya belum tidur. Esoknya mata berat banget dan badan pegel. Kapok? iya. Pagi itu aja. Dan malamnya tetep diulangi. Selain itu, yang sebenarnya membahayakan adalah penggunaan gadget. Bayangkan, yang bikin lama tidur sebenarnya hapean browsing ini itu dan chattingan di dalam gelapnya kamar. Kebayang dong gimana letihnya mata. Bisa bisa saya minus bahkan silindris. Duh.. ini nih yang harus saya kendalikan.

Yah.. namanya usaha. Enggak tahu kapan bisa mulai konstan. Tapi yang penting mulai berusaha. Dari sekarang! 😀

Setun a.k.a Stone Garden

Dalam suasana kemerdekaan, saya memilih untuk merayakannya bersama Santika dengan mengunjungi Stone Garden nun di ujung barat Bandung. Btw letaknya sih bukan lagi di Bandung tapi di Padalarang. Hehe. Uniknya, sefasih fasihnya turis melafalkan “Stone Garden” bak gaya bicara Cinta Laura, orang sana taunya juga Setun. Wakakak. Malah menurut saya, sebutan kearifan lokal warga sini yang menyebut ‘Setun’ lebih enak di kuping. Baiklah, mulai disini, kita akan menggunakan term Setun ya.

Perjalanan dimulai dengan membeli tiket ka lokal sebesar nol rupiah (horeeee dapat promo kereta. Kalau biasanya sih tiketnya seharga empat sampai lima ribu rupiah) dan menanti kereta lokal di stasiun Bandung di peron selatan. Tak lama kami menunggu, kereta berangkat pada pukul 08.45 setelah sebelumnya melakukan pengisian bahan bakar. Pukul 09.15 kereta sampailah di perhentian, Stasiun Padalarang. Oleh karena kami belum sarapan (karena terburu buru mau upacara hari 17 an), kami membeli lauk di sekitar stasiun dan sarapan sejenak. Baru pukul 09.45 kami lanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkot berwarna kuning arah Rajamandala. Untuk menemukan angkot berwarna kuning ini mudah saja. Cukup dengan berjalan kurang lebih 75 meter barat Stasiun Padalarang, akan terlihat kerumunan angkot yang sedang ngetem menunggu antrian jalan. Tarif angkotnya sih kalau sampai di jalan raya arah Setun kira kira lima ribu rupiah. Eh, tapi saya pernah beruntung mendapatkan angkot yang mau mengantar sampai ke Setun dengan membayar sepuluh ribu rupiah saja. Lumayan tuh nggak perlu jalan ngos ngosan sampai Setun.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam (karena saat itu nggak macet), kami sampailah ke Stone Garden. Nggak sampai tepat di area wisatanya sih. Di tepi jalan masuk arah Setun maksudnya. Hehe. Untuk bisa sampai ke Setun, kita harus jalan kurang lebih 1,5 kilometer. Lumayan, pemanasan sist. Haha. Oh ya, tiket masuk Setun kurang lebih lima ribu rupiah ditambah kalau (bawa kendaraan) ya parkir buat mobilnya juga nambah.

Well.. untuk gadis gadis di luar sana yang ingin tampil chic dengan outfit yang keren, jangan sampai salah alas kaki ya. Sungguh direkomendasikan untuk pakai alas kaki yang tahan batu dan dan debu. Kan sayang, flatshoes cantik cantik jebol di tengah jalan karena nggak kuat diseret pemiliknya melintasi jalan yang berbatu. Haha. Oh ya, jangan lupa kacamata hitam. Seriously, disini panas dan agak silau sih menurut saya. Nggak banyak tempat teduh (karena yang mengunjungi tempat ini juga banyak makanya tempat neduhnya jadi berkurang karena udah dipakai sama mereka).

Setun adalah gugusan bebatuan yang menjulang bak bukit di Padalarang. Di hamparan bebatuan ini kita bisa berwisata sekaligus belajar bahwa bumi itu bulat (sorry to the flat earthers). Kalau bumi datar, saya nggak kebayang nih gimana ada jaman glasial dan interglasial (bahasa gampangnya: jaman es dan antar es) yang menyebabkan adanya pergerakan bumi yang bikin daratan yang tadinya jadi rumahnya spengebob dan patrick jadi naik ke atas dan membentuk Gunung Kidul atau Gugusan Setun. Coba kalau bumi itu datar, kalau ada jaman es, terus suatu saat di jutaan tahun lalu esnya cair, tumpah ke angkasa dong. Duhhh deeek. Logika goblok ala saya sih. Jangan dipikirin kalau emang nggak setuju.

Well, lupakan soal teori bumi datar atau cekung cembung atau apalah. Bodo amat. Yang jadi muhasabah saya di Setun adalah, gimana dahsyatnya kekuatan Tuhan saat itu menciptakan es, mencairkannya, menenggelamkan yang muncul dan memunculkan yang tenggelam. Seorang Batman yang punya duit tumpeh tumpeh, bikin alat yang bisa menggeser bumi pun nggak akan sanggup buat melakukan hal tersebut. Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

Area Stone cukup bikin capek lho, btw. Haha. Jadi siapkan air minum yang buanyak juga cemilan. Tapi kalau nggak sempat bawa, tinggal turun ke area masuk tadi dimana berjajar penduduk setempat yang menjajakan kelapa muda beserta jajanan penggugah selera yang bisa dinikmati sambil lesehan. Yah, meskipun nggak bisa sekaligus nonton hamparan Setun. Saya pikir konsep ini bagus juga. Nggak bisa kebayang kalau warung2 didirikan di area Setun. Pertama, ngurangin area terbuka Setun. Kedua sampah!. Bayangin aja, sampah yang dihasilkan sama pengunjung yang minum kelapa dan buang sampah ciki, digeletakin sembarangan di area bebatuan. Kan jorok. Dan meletakkan area dagang di sebelah pintu masuk Setun adalah keputusan tepat.

Rupanya tidak hanya bebatuan saja yang menghuni Setun. Monyet monyet pun juga. Saya punya pengalaman yang nggak menyenangkan dengan monyet Setun. Mereka nakal banget dengan menyergap cepatnya mereka menyambar apa yang ada di tangan saya sampe saya teriak teriak diliatin orang. Mana waktu itu lagi agak rame. Duhhh dek. Malu nian. Haha. Untung ada ibu ibu setempat yang lagi beberes sampah dan rerumputan menyelamatkan saya. Huaaaaaa. Dan untungnya ketika saya dan Santika mengunjungi Setun kemarin tidak terjadi insiden perampokan oleh monyet monyet tidak tahu diuntung itu. Mungkin mereka lagi upacara bendera agustusan juga. Haha.

Dan.. perjalanan diakhiri dengan sholat ashar di dekat pintu masuk. Kami pun segera turun ke jalan raya untuk mencari angkot Rajamandala yang kembali ke Stasiun Padalarang. Sayang sih nggak mengunjungi Goa Pawon. Tapi kesorean sih. Haha. Well.. next saya akan ceritakan soal destinasi yang masih sepaket sama Goa Pawon. Selamat Hari Merdeka. Merdekaaa!!!

Sekelumit tentang Operasi Gigi Geraham Saya Kemarin

  1. Nun jauh sebelumnya (dua tahun lalu)

Ini adalah pengalaman pertama saya bedah. Yes.. operasi. Bukan jenis operasi besar sih, tapi cukup bikin deg degan karena saya takut dengan jarum suntik. Haha.

Well.. cerita dimulai sejak dua tahun lalu ketika saya mulai dengan rajin mendatangi dokter gigi akibat gigi saya bolong. Alasan awal kenapa saya tetiba rajin ke dokter gigi yakni, di suatu siang yang syahdu ada dua mbak mbak dari FKG (Fakultas Kedokteran Gigi) sebuah universitas tua mendatangi saya yang sedang leyeh leyeh menikmati sepoi angin siang siang di bangku hitam. Dia melihat gigi saya dan menawari untuk menambal gigi geraham saya yang terlihat oke padahal berpotensi bolong. Maka, saya pun mengiyakan tawaran mbak itu dan datang keesokan harinya ke FKG. Kedatangan saya ke FKG ternyata membuka permasalahan baru yakni: gigi saya impaksi!. Impaksi adalah gigi geraham belakang yang tumbuh tidak normal (dan sebagian besar akan menimbulkan masalah di kemudian hari). Geraham belakang miring dan harus dioperasi. Udah berasa ada petir nyamber nyamber di kepala saya, gaes. Haha.

Tapi karena dasarnya saya takut dengan prosedur operasi, saya tidak juga segera melakukan operasi. Sampai akhirnya beberapa minggu kemudian, tambalan mbaknya ini nggak beres dan saya harus ke sebuah klinik untuk mengurus gigi saya. Dan yu know.. yang saya nggak suka adalah si mbak koas yang dulu menawarkan prakteknya pada saya tidak mengecek mengontrol ataupun memberikan pertanggungjawaban soal bagaimana bagaimananya gigi saya waktu itu. Terima bongkar pasang tapi nggak terima kontrol. Duh.. sedih bangeeet kan. Doa saya semoga mbak yang menjadikan saya percobaan waktu itu bisa menjadi dokter gigi yang handal. Lhah.. temen saya, si Nower lebih parah lagi mbak koassnya. Belum juga dioperasi, mbaknya terlalu jujur “Mas, biasanya habis operasi nyeri hebat”. Wakakakak. Dokter macam apa itu, bukannya nenangin malah bikin nambah panik. Si Nower cuma bisa deg degan keringat dingin waktu itu dan kami yang mendengar ceritanya ngakak nggak berhenti henti. Yah.. semoga mbaknya FKG ini nggak ada bakat bikin orang mati berdiri sebelum dioperasi.

Dengan dokter yang merawat saya di klinik beliau menyarankan saya untuk melakukan pengangkatan gigi geraham belakang saya yang impaksi. Maka saya datang beberapa hari kemudian dengan membawa sebuah rontgen gigi geraham belakang saya yang miringnya emang parah banget. Setelah dengar penjelasan dari gambarnya, saya tambah parno waktu denger second opinion kalau gigi saya emang wajib ain tak bisa ditawar harus banget dibedah dan nggak ada cara lain untuk menyembuhkan selain operasi. Resiko jika gigi belakang saya tidak diambil, di usia tiga puluhan ke atas, saya akan mengalami migrain parah. Belum lagi ada masalah pada syaraf di kepala dan tengkuk serta leher. Dan masalah tidak berhenti disana saja. kalau ada bakteri jahat, salah salah dia akan nemplok ke saluran gigi dan turun.. turun.. turun terus menuju jantung. Taraaa.. saya bisa mati akibat bakteri yang nyasar ke jantung atau paru-paru. Hiiiii.. horrroorrr.

Apakah setelah mendengar cerita horror tapi nyata dari dokter gigi betulan di klinik tersebut saya jadi memiliki keberanian untuk operasi? Tidak sodara sodara. Tidak samasekali. Bahkan saya menyepelekan. Hehe. Ah.. masalahnya cuma urusan sisa makanan nyelip doang kan ya. Ah pake sikat gigi yang lembut juga pasti ilang. Kumur kumur juga selesai. Nggak bakal sakit deh. Dan bla bla bla

Sampai suatu ketika, saya merasakan nyeri yang teramat sangat di bagian geraham belakang. Satu hari sebelum saya dan Hida melakukan perjalanan ke Purwokerto untuk menengok Kasubret Stasiun Pekalongan, Arif Firmansyah, saya mulai sakit gigi. Dan siksaan terberat adalah ketika saya bangun pagi, nggak mandi dan langsung mengejar kereta Ciremai dari Stasiun Bandung menuju Pekalongan. Meskipun saya sudah minum obat pereda nyeri, syaraf gigi saya tetap tak mau diam. Satu satunya pereda nyeri justru ketika saya ngemut air putih (minum air putih dan menahan selama beberapa detik di mulut), baru syarafnya mau tenang. Tapi habis itu, saya tetap harus menelan air putih. Dan seketika air masuk ke kerongkongan, si saraf gigi mulai bergoyang lagi. Duhhhh sakitnya..

Jadi, lagu Megy Z yang sakit gigi lebih baik daripada sakit hati itu benar benar dusta sodara sodara!. Mana ada sakit gigi nggak sakit. Duhhhh sumpah siksaan. Makan nggak enak, tidur nggak nyenyak, bawaannya senggol bacok. Seringkali saya terbangun di tengah malam karena kesakitan. Iyuhhhhhh mendingan sakit hati akibat omongan orang (bukan sakit liver lho), cuma di perasaan tapi makan masih enak tidur masih nyenyak. Dan seketika saya mengatakan pada diri saya untuk say yes ke dokter bedah mulut. Pertahanan saya runtuh seketika. Tapi yang ajaib justru ketika selama perjalanan ke Pekalongan, saya buka buka pengalaman odontektomi, sakit di gigi saya ilang. Nah lho.. syaraf saya mulai anteng. Lega kalik ada kepastian mau dicabut. 😀

  1. Pra Odontektomi

Sepulangnya dari Pekalongan, saya mendatangi klinik Mediska yang di depan Mayasari dekat Stasiun Bandung. Saya memang sudah menegakkan niat untuk menandatangani surat tindakan odontektomi. Bagi yang belum tahu apa itu odontektomi, odontektomi ialah prosedur pengambilan gigi geraham belakang yang bermasalah. Well.. fyi, sampai saya masuk ke ruangan drg. Maya, saya masih berharap ada cara lain untuk menghilangkan rasa nyeri di gigi saya tanpa harus melakukan tindakan operasi. Oleh drg. Maya, ujung ujungnya yang dibahas adalah operasi gigi belakang lagi, gigi belakang lagi. Dan tidak ada cara lain agar saya bisa sembuh kecuali lewat operasi, sodara sodara. Haha. *dalam hati nyeseg banget sebenarnya. Kemudian seperti yang sudah diskenariokan oleh Sang Pencipta, saya mengiyakan untuk dirujuk ke RS. Pindad.

Well.. kenapa harus RS. Pindad Bandung? Saya tidak punya alasan lain. Haha. Satu satunya alasan adalah drg. Maya yang merujukkan saya kesana dan disanalah tempat yang menerima BPJS. Jadi, saya tidak akan berlagak sok sokan punya uang banyak hanya untuk memaksa pergi ke rumah sakit atau klinik mahal. Saya mah sadar diri nggak punya duit dan emang membutuhkan BPJS untuk mengkover pengeluaran operasi odontektomi saya yang disinyalir bisa habis lebih dari 4 juta untuk operasi bius total. Buat saya hayuk we mah, mau dimanapun asal ditangani oleh ahlinya biar saya cepet sembuh.

Sebelum saya bertemu dengan dokter bedah gigi saya di Pindad, saya melakukan rontgen panoramic, itutuh ngambil foto x-ray gigi. Berapa pengeluaran saya? entah. Saya tidak tahu karena sudah ditanggung oleh Perusahaan. *asiiiiiq.

Di hari selanjutnya, saya cek jadwal praktek dokter bedah mulut dan menemukan bahwa ada dokter gigi yang buka praktik pada hari rabu sore jam 4 (karena saya harus kerja dulu paginya) Maka dengan berbekal kopian KK, KTP, BPJS, foto rontgen gigi dan surat rujukan dokter Maya untuk pendaftaran operasi, saya siap menghadapi tantangan di depan *halah. Yu know.. udah datang jam 2 siang, ternyata saya urutan nomer 16 sodara sodara.

Setelah menunggu agak lama, karena antrinya juga lama, saya pun masuk ke ruang pemeriksaan. Oleh dr. Sulaeman saya diedukasi secara singkat padat dan jelas mengenai keadaan gigi saya yang wajib ain untuk diambil empat empatnya. *ingat put, wajib ain tanpa pengecualian. Dengan kondisi dua geraham molar miring dan dua normal. Dua atas harus tetap diambil karena ruang gerak untuk geraham atas sangat sempit. Toh lagipula kalau molar bawah diambil, kasihan banget pasangannya. Dia tidak lagi bisa menumpu karena geraham molar bawah dicabut mengakibatkan dia akan turun. Nah lho.. operasi lagi.. tadinya saya ditawarkan untuk operasi satu persatu (dua tahun lalu ketika masih di Yogya), tapi kali ini saya dengan amat sangat membesarkan hati, saya memilih untuk operasi bius total. Huwaaaaaa… betapa deg degannya saya bahkan sebelum saya operasi. Saya pun pulang dengan tidak percaya bahwa saya barusan menandatangani dokumen persetujuan operasi. *duh.. mabok apa sih saya.

Dan.. persiapan saya sebelum operasi yang dijalankan selasa depan antara lain: minum air putih yang banyak, kurangi stress dan main kesana kemari. Tawaran dolan kesana kemari, nongkrong sana sini saya iyakan karena saya tahu seminggu ke depan saya nggak akan bisa seenaknya santai santai ria macam sebelum saya operasi. Haha.

Satu hari sebelum operasi, saya mengambil foto rontgen paru paru yang akan digunakan sebagai referensi dokter sebelum menganestesi saya. Sakit? enggak tuh. Orang cuma buka baju, badan tegak nempel ke alat foto, tarik nafas, hembuskan terus udah deh. Foto jadi kurang lebih 30 menit kemudian.

Delapan jam sebelum saya operasi, saya melakukan pengambilan darah di lab. Darah saya di siku kiri kira kira satu ampul kecil suntikan. Kemudian saya disuruh membuka kerudung karena akan diambil sample darah di telinga bagian kiri. Saya sih nggak begitu paham kenapa darah di telinga kiri juga diambil. Mungkin karena dekat dengan geraham saya kalik ya.

  • Odontektomi

Fyi, bahkan sebelum saya odontektomi yang dijadwalkan akan dilaksanakan pada malam rabu, 18 Juli 2017, saya masih kerja sepagian lho. Nggak papa kok masih beraktifitas. Tapi saran saya, kurangi porsi aktifitasnya. Boleh, tapi jangan terlalu keras untuk persiapan fisik dan mental pra operasi.

Pukul 5 sore saya sampai di RS Pindad dan melakukan pendaftaran ulang pra operasi. Dan saya pun diantar ke ruang pra medikasi. Dan tara… sudah banyak orang berbaju hijau hijau bertudung biru muda mengobrol di ruang tersebut. Mereka adalah pasien yang juga dalam proses odontektomi. Saya memilih untuk menunggu di luar saja sembari menunggu solat magrib dan isya yang saya jama’.

Pukul 18.30 saya masuk ruangan dan tinggal beberapa orang lagi selain saya yang belum masuk ke ruang bedah. Setiap setengah jam, pak dokter datang dan memilih pasiennya (ternyata ada audisinya. Haha. Audisi ini dimaksudkan untuk memilih pasien dengan tingkat kesulitan terendah yang akan didahulukan. Untuk menghemat waktu dan tenaga ya.). Saya yang saya pikir akan dapat giliran terakhir karena saya masuk paling terakhir, ternyata saya dapat nomer tiga dari terakhir. Haha. Alhamdulilah.

Deg degan masih menghantui setiap langkah saya masuk ke ruangan yang agak luas dengan peralatan di sana sini dan sebuah dipan sempit bermandikan cahaya dari lampu bundar di atasnya. Monitor jantung terletak tegak di sebelah dipan tersebut. Dan.. tensi saya tetiba naik di angka 167 persis sebelum saya terlelap akibat perawat menyuntikkan obat bius di jarum infus tangan kiri saya. saya yang sempat lihat tensi saya segera menarik nafas dan alhamdulilah tensi saya turun ke 140 dan mungkin terus turun.. dan saya pun.. tepar.

  1. Pasca odontektomi

Saya bangun pada pukul 20.09, kurang lebih setengah jam setelah saya masuk ruang bedah pada pukul 19.32. Saya seketika shock dan kebingungan karena lampu operasi yang benderang itu telah sirna. Saya terbangun karena mulut saya penuh dengan tampon kapas dan air liur bercampur darah yang mengumpul di kerongkongan bikin saya tersedak. Terbatuk batuk sampe perawatnya ngeliatin saya. Sakit? Enggak sih. Kayaknya karena masih ada pengaruh obat bius. Sakit sih enggak. Tapi sewot karena dingin. Haha. Saya kezel karena saya nggak diselimutin. Itu ruang pasca medikasi dinginnya naudzubillah (atau saya yang emang lagi kedinginan?) haha. Fyi, pasca operasi saya bisa ngomong dengan lancar kok. Bahkan saya panggil perawat dan minta diselimutin. dr. Sulaeman yang kebetulan mampir ke ruangan itu dan menanyakan pasiennya satu persatu bertanya kepada saya: gimana, udah baikan?. Ya saya jawab lah: udah dok. Saya kedinginan. Haha.

Setengah jam di ruang pasca medikasi, saya dipindahkan ke ruang perawatan bersama beberapa pasien lainnya. Saya ambil ponsel dan telepon bulik saya yang sedang koas dan juga beberapa orang lain yang bisa saya ajak kontakan. Saya telepon bisa setengah jam lho. Hehe. Sekitar pukul 9 malam, saya baru bisa minum air dan makan es krim (setelah kentut dan dinyatakan boleh makan oleh perawat). Tak berselang lama, perawat menyuntikkan obat tester alergi ke kulit lengan bawah tangan sya. Wiiii rasanya.. senggol bacok bener sakitnya saking kecilnya jarum suntik. Dan entah karena efek obat apa gimana saya baru tidur pukul 12 malam.

Paginya, saya dikasih minum energen. Satu jam kemudian saya udah dikasih makan nasi dengan lauk daging tim dan sayur buncis. Wah.. perjuangan banget deh waktu makan seporsi nasi itu. huwaaaaa.. makannya harus pelan dan meyakinkan. Meyakinkan diri biar nggak kena luka. Haha. Btw, kenapa bisa lama banget makannya? Kalau saya makan lama karena disambi ngobrol sana sini, ini lama karena susah banget buka mulut. Geraham rasanya berat banget dan nyeri. Hehe. Tapi jangan bayangin sakit banget. Nggak sakit sih karena pengaruh obat masih ada, tapi bengkaknya itu lho yang bikin nggak bisa mangap. Oh ya, jangan lupa obatnya yang seabrek banyaknya itu diminum teratur.

Siang pukul 9, saya udah keluar dari ruang rawat, ngurus administrasi ini itu dan cao pesen grab buat pulang. Dan kemudian saya masih sempet berkereta lokal menuju Stasiun Bandung. Sampe kosan, saya nyuci baju seember, mandi dan kemudian teparr. Seriously nggak akan kenapa napa kok habis di odon.

Pasca Odontektomi

Bagaimana saya makan? Nggak ada perubahan pra maupun pasca odon. Makannya tetep nasi, cuma makannya lebih pelan dan nggak bisa panas, keras maupun pedas. Dan seketika buat saya, itu siksaan. Haha.  Cuma karena termotivasi biar luka saya cepet sembuh, saya banyak banyak makan. Bisa? sangat bisa. Tapi ya banget gitu. Harus hati hati. Dan bobot saya naik bangettttt. Haha. Yaudahlah, gendut biar, yang penting sehat. wkwkwkw.

Obat yang dikasih dokter sangat harus dihabiskan tanpa boleh terlewat sedikitpun. Btw saya pernah sekali kelewatan obat akibat obat saya ketinggalan di kosan Mba Nanda ketika saya berkunjung ke Jogja. Ampun dah. Tepok jidat. Habis itu besoknya ketika obat kiriman saya datang, saya berjanji dalam hati untuk tetap setia meminum obat itu hingga titik darah penghabisan karena saya nggak mau balik lagi ke ruang bedah *lap ingus.

Btw apakah saya lancar lancar saja paska operasi? Tidak sodara sodara. Di Rabu siang satu minggu setelah operasi yang dilaksanakan pada tanggal 18 Juli 2017 lalu, dimana mulut saya udah bisa mangap dengan merdekanya meski masih bengkak, saya panik karena pipi kiri bagian dalam saya terbuka!. Maksud saya jahitan saya yang terbuka. Hehe. Seketika itu saya pulang ke kosan, ambil semua berkas kemudian berlari menuju klinik Mediska Stasiun Timur Bandung. Dan kebetulan ibu dokter giginya sedang diklat, maka saya ditangani oleh perawat gigi. Beliau bilang bahwa jahitan saya kebuka dan kemungkinan besar harus melakukan pendarahan ulang. Apaaaah? Pendarahan ulang??? seketika saya lemes. Ya keles saya harus disuntik lagi terus dijahit lagi. Tidaaaaaaaak. Saya pun datang lagi minggu depan sesuai saran Pak Perawat.

Seninnya saya datang lagi, kali ini lengkap dengan ibu dokter. Saya pun lalu dicek kondisinya dan oleh bu drg. Maya, saya dirujuk ulang ke dokter bedah saya lagi. Dan prosedur bolak balik ke RS Pindad Bandung pun dimulai kembali.

Datang ke Pindad awal waktu sambil menyerahkan fc KK, KTP, surat rujukan dari klinik kemudian menunggu verifikasi data. Setelah itu, saya (lagi lagi) urutan ke enambelas. Setelah menunggu hingga pukul 15.45 (karena praktek dimulai pukul 15.00), akhirnya giliran saya dipanggil juga. Apa kata dokter Sulaeman? “Ah, tunggu aja dua bulan mba, nanti nutup sendiri”. Dan seketika rasanya saya mau teriak horeeeeeee *bahagianya saya nggak jadi operasi ulang. Huaaaa… alhamdulilah.

Get Lost in Surabaya

Saya sudah janji untuk menceritakan pengalaman saya nggembel di Surabaya. And.. this is it.

Di hari saya dengan bodohnya kelewatan stasiun pemberhentian saya yang seharusnya di Puwosari menjadi bablas sampai Madiun, saya mengontak salah satu sahabat saya, Santikul. Dia berencana untuk mengunjungi Surabaya, rumah Mba Tari, sahabat kami yang berasal dari kota berikon hiu dan buaya berkelahi. Maka, saya dengan sedikit pikir panjang, memutuskan untuk mengiyakan tawaran tersebut. Saya kontak mba tari dan taraaa.. akhirnya saya tergopoh gopoh dikerjar waktu untuk segera sampai ke stasiun madiun.

Di kereta pasundan yang berhenti di Stasiun Madiun, saya bertemu dengan sahabat saya Santikul dan Mba Tari serta ibunya. Perjalanan tiga jam terasa begitu panjang. Pukul 21.30 kami meninggalkan Stasiun Gubeng, menumpang taksi sampai ke rumah Mba Tari yang berjarak kurang lebih 30 menit di dekat Jembatan Suramadu. Sebelum kami sampai, kami sengaja untuk mampir ke samping Jembatan Suramadu. Jembatan yang mirip mirip sama jembatan Kalifornia di Amrik sono. Sayangnya penerangan yang warna warni sedang tidak dinyalakan. Tapi kami cukup puas setidaknya sempat melihat suramadu. Haha.

Maka, kami pun pulang karena capek luar biasa dan ngantuk yang tiada terkira. Tapi alih alih bisa tidur, saya sulit memejamkan mata. Bagaimana bisa saya tidur di tempat yang panasnya luar biasa, di Jogja saya bisa saja tidur tak berselimut bahkan pakai kaos tipis atau kaos dalam lah. Tapi di Surabaya.. waaaaaaaa…. keringat saya bercucuran banyaknya. Puanasss. Bukan cuma urusan letak kotanya yang di pesisir. Tapi tentang Surabaya yang sudah dipenuhi dengan tembok tembok tinggi industri yang juga ikut menyumbangkan suhu udara satu hingga dua derajat banyaknya. Cuaca terbaik di Surabaya saya rasa hanya ketika pagi hari. Haha. Cuaca hangat dan segar.

Hari kedua saya tiba di Surabaya diisi dengan rencana berputar putar keliling kota. Setelah galau mau kemana saking banyaknya destinasi kece yang bisa didatangi, kami memutuskan untuk menuju jembatan merah sebagai destinasi pertama. Dengan menggunakan becak (ini pertama kalinya saya pakai becak setelah saya mutung gara gara ditipu sama tukang becak stasiun purwosari). Bentor, becak yang tak lagi sederhana, membawa kami menyusuri arus ramai kendaraan jalanan Surabaya. Melewati pertokoan, makam Wage Rudolf, Kampung Pecinan dan kurang lebih 15 menit kemudian sampailah kami di Jembatan Merah. Sensasinya? Luarrr biasaaa. Becak yang sekecil itu ditumpangi oleh tiga orang yang badannya nggak lagi mini mini. Dan.. sumpah deg degan buk.. berasa kayak mau jatuh jatuh apalagi dengan kendaraan yang jauh dari standar aman serta nyaman. Jelas senam jantung sepanjang jalan. Tapi saya senang. Betul betul sebuah pengalaman luar biasa menyusuri Surabaya dengan becak yang waw emejing bikin panik. Becak memang raja jalanan di Surabaya.

Jembatan Merah, seperti namanya yang diabadikan dalam sebuah lagu perjuangan berjudul sama, masih berdiri kokoh diantara arus muara sungai Bengawan Solo yang serupa susu coklat tenang tapi menghanyutkan. Kami pun menyusuri gedung gedung peninggalan kolonial di kanan kiri daerah Jembatan Merah. Yang paling menarik untuk saya adalah bangunan di sebuah jalan, yang kondisinya sudah tidak terurus dengan tembok boncel sana sini, kaca pecah, kayu lapuk, sulur sulur tanaman terjuntai kemana mana. Benar benar mengingatkan saya pada pilem pilem Tim Burton yang bernuansa gothik. Ini adalah penjara yang sering saya baca pada artikel artikel sejarah perjuangan Indonesia pada jaman Belanda dan Jepang. Penjara ini adalah saksi bisu pada masa jaman penjajahan. Yang unik adalah di samping penjara ada bangunan yang difungsikan sebagai gudang retail barang kebutuhan sehari hari seperti sabun, pasta gigi dan sikat gigi. Nggak kebayang jika saya adalah pemilik atau pegawai yang harus mengontrol kondisi gudang. Saya pasti nggak berani sendirian dan nggak akan berani kerja selepas ashar. Horror.

Lepas Penjara Kalisosok, kami pun mengunjungi House of Sampoerna. Bangunan ini adalah bagian dari CSR perusahaan rokok yang pernah jaya dan pernah menjadi milik putra Indonesia sebelum sahamnya dilepas untuk Philip Morris yang orang bule itu. Guide dari House Sampoerna menjelaskan sejarah awal pendirian pabrik rokok yang pernah jaya di masanya. Berawal dari suami istri keturunan tionghoa, beliau yang pada awalnya berjualan barang sehari hari seperti beras, gula, dan aneka kebutuhan dapur di warung kecil di jaman kolonial. Pada akhirnya banting setir pada bisnis tembakau dan rokok kretek. Dengan perjuangan jatuh bangunnya, ia bisa mewariskan keahliannya pada anak cucu dan jadilah perusahaan sebesar itu masih jaya bahkan hingga sekarang. Ya, meskipun sudah bukan lagi kepemilikan orang Indonesia. Hal yang bisa dijadikan pelajaran adalah ketekunan memang segalanya. Bakat tidak akan menentukan apa apa kecuali benar benar dikelola dengan ketekunan dan kerja keras. Kita bisa saja tidak cerdas. Tapi kalau tekun, lain soal.

Sayang seribu sayang, kami bertiga tidak bisa naik ke bis tur Surabaya akibat kehabisan tiket. *sedih*.

Usai sembahyang dhuhur, kami melanjutkan perjalanan menuju Jembatan Merah (lagi). Yang asik adalah, lagi lagi kami berwisata arsitektural. Bangunan bangunan yang usianya ratusan tahun *yang horrornya banget*, berdiri di sepanjang bantaran kali Bengawan Solo. Meskipun hanya bisa dinikmati dengan visual, tapi benar benar sebuah perjalanan yang luar biasa yang mengingatkan kita bahwa nenek moyang pernah berjuang untuk kemerdekaan ini. Bangunan bangunan ini jadi saksi ada ribuan orang mati meninggalkan sejarah bahwa negeri ini pernah dikoyak dengan darah dan air mata. Maka, jangan sok pintar dengan mengatakan mengebom Indonesia adalah sebuah jihad. Kita punya seperempat kepala dengan isi yang berbeda beda. Keragaman di tengah pulau pulau yang berserakan yang ternyata bisa dijaga dengan indahnya. Ingatlah bahwa kita tidak ingin memulai perang saudara seperti halnya yang terjadi di Timur Tengah sana. Jika sebuah negara sudah berkonflik maka hancur sudah peradabannya.

 

Kekancan

Adalah sebuah hal yang alamiah terjadi dalam hidup kita jika ada yang senang dengan kita ataupun ada yang benci dengan kita. Bahkan itu adalah anugerah. Lho? Kok bisa?. Tentu saja. Mampu berperasaan adalah ciri ciri bahwa kita manusia normal yang memiliki emosi. Emosi dalam diri manusia adalah anugerah. Coba kalau kita suka pada semua hal, berarti kita nggak normal. Kalau kita benci pada semua hal, itu juga nggak normal. Kok lebay banget yak semua muanya dibenci. Haha. Kalau cuma ada satu hal di dunia ini, nggak akan seru hidup ini. Berarti semua telah mati. Manusia mati berarti otaknya udah nggak jalan, perasaannya apalagi. Maka bersyukurlah bahwa kita masih merasakan keseimbangan.

Gimana pandangan saya soal saya disukai atau tidak disukai? saya yang emang tipikal bodo amatan ini, tidak begitu peduli apakah saya disukai atau dibenci. Saya hidup dengan lenggang kangkung. Wajar wajar saja dalam hidup sehingga tidak begitu merasa harus ambil pusing jika ada yang membenci saya. Saya teringat dengan wejangan Pak Eddy dulu “Mbak, kamu tidak bisa menyenangkan semua orang. Maka, bersiaplah untuk belajar”. Dan saya pun bersiap siap untuk belajar bahwa hidup tidak bisa dipaksakan. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang dan kita tidak bisa memenuhi keinginan tiap orang untuk memenuhi standar mereka. Setiap orang adalah unik. Dan kita memang tidak harus menyukai atau membenci orang lain. Yang wajar saja.

Pertemanan terkadang entah kenapa memang melibatkan perasaan. Percaya atau tidak, itu berlaku juga pada saya. First impression terkadang saya bisa merasakan tipikal orang yang saya temui. Gini gini saya punya bakat juga jadi asesor. Haha. Cuma kurang belajarnya aja. First impression kadang membawa kita untuk merasakan apakah kita nyaman dengan orang yang kita temui atau tidak. Apakah kita akan yakin untuk berteman terus dengan mereka. Secara alamiah semua orang bisa mengenali siapa yang bisa jadi kawan atau lawan. Ya, walaupun tentu tidak seratus persen benar. Terkadang fakta bisa mengubah first impression tersebut. Sebagai contoh. Ada orang kalem yang kita temui di awal ternyata cuwawakan luar biasa ketika sudah lama mengenal. Ada orang yang nampak menyebalkan di awal tapi ternyata dia sangat baik hati. Maka solusinya, tetaplah berteman dengan wajar. Jangan terlalu bawa bawa perasaan alias suudhon berlebihan. Dan berilah jarak pada pertemanan agar kita tidak saling terluka. Mobil yang terlalu dekat bisa jadi akan bersenggolan. Tapi mobil yang terlalu jauh pun tidak baik. Seiring berjalannya waktu, maka kita bisa menentukan mana yang bisa jadi kawan mana yang bisa jadi lawan.

Tingkatan tertinggi dalam sebuah pertemanan adalah ketika kita bisa saling memberi manfaat dalam kebaikan dengan hati tulus. Semakin banyak dan semakin luas kita berteman maka kita akan sampai pada fase tak harus memiliki. Ingat ketika kita masih SD dan kita tidak suka ketika sahabat sebangku main dengan teman lain? Ya itulah pertemanan ala SD. Rasa memiliki yang masih besar dan ada kalanya kita tidak bisa berbagi. Pertemanan di SMP, kita mulai mengenal lingkaran yang lebih besar dengan permasalahan yang mulai kompleks. Pertemanan di SMA, kita diuji dengan banyak nilai dan norma yang apakah kita akan pertahankan atas nama persahabatan atau dilanggar atas nama persahabatan juga. Pertemanan ala kuliah, sudah tidak bisa mengenal lingkaran tetap karena dinamisnya kehidupan perkuliahan. Persahabatan tingkatan dewasa adalah ketika kita bisa memandang semua masalah dalam bingkai keseloan dan tahu mana menyelesaikan masalah dengan elegan. Dan siap untuk tersakiti. Jika dulu marah karena teman ‘direbut’ orang lain, maka sekarang tidak lagi karena sejatinya aku senang jika temanku lainnya mengenal temanku lainnya dan aku pun mengenal teman teman mereka juga. Karena disanalah aku bisa merasakan bagaimana bahagianya jika semua bisa berteman dengan baik. Silatuhami bro. Tapi, jika kamu masih bawa bawa perasaan, berarti dolanmu kurang adoh, jiwamu butuh asupan makanan jiwa yang bergizi.

Kita adalah mahluk hidup. Kita bernapas. kita memiliki otak yang hidup dan aktif. Kita memiliki jantung yang berdenyut. Kita merasakan sakit. Kita merasakan lapar. Kita merasakan sedih. Kita merasakan bahagia. Kita makan. Kita berlari. Kita berpikir. Kita tumbuh. Dan tak ada satupun dari kita yang abadi.

Kita adalah mahluk Tuhan bernama manusia. Tak hanya diberikan panca indera yang terhubung secara fisik untuk berhubungan dengan Sang Pencipta dan alam semesta. Kita juga dianugerahi dengan hati dan pikiran.

Mengapa ada cinta dan benci? Karena itu adalah konsekuensi keseimbangan di muka bumi ini. Manusia tak bisa terus menerus merasakan cinta dan kiita tak bisa selamanya hidup dalam kubangan kebencian. Karena Tuhan sudah mengatur dunia yang sementara kita tempati ini berdasarkan teori keseimbangan. Ada dua hal bertolak belakang yang akan selalu dan terus menyertai hidup manusi dari mereka lahir hingga kembali lagi ke haribaaNya. Lahir-mati. Cinta-benci. Suka-tidak suka. Tidak puas-lila legawa. Sedih-senang. berlari-berjalan. Dan banyak hal lain yang diciptakan Tuhan agar dunia tetap pada porosnya.

Bayangkan jika hidup kita bahagia sepanjang masa tanpa ada jeda kesedihan walau sesaat. Pasti ramai orang akan bunuh diri karena bosan dengan hidupnya. Dan ingatlah bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan sifat pelupa dan cepat bosan. Bayangkan jika hidup kita sedih sepanjang waktu tanpa ada jeda kebahagiaan walau receh macam bahagia melihat orang lain tersenyum atau angin sepoi yang membelai kala panas datang menjerang.  Pasti ramai orang mati bunuh diri karena berputus asa menganggap Tuhan tak adil padanya. Maka kesedihan dan kebahagiaan adalah dua sisi mata uang. Tak akan pernah terpisahkan sampai kapanpun.

Soal pertemanan dan hubungan dengan manusia. Kita adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian lewat hubungan bernama pertemanan/kekeluargaan/urusan bisnis/urusan sosial. Dimana pertemanan adalah sebuah urusan yang membutuhkan skill seni tingkat tinggi untuk bertahan di dalamnya. Ada trik khusus yang secara alamiah dimiliki oleh setiap orang dalam menentukan dengan siapa mereka berteman. Sebagai contoh. Mengapa ada geng? Ya karena anak anak tersebut telah memilih lingkaran yang mereka rasa cocok untuk berteman. Mereka rasa cocok untuk mereka seriusi sebagai lingkaran acuan dalam hidup mereka. Dalam satu kelas, tidak akan pernah mungkin satu kelas itu akan pergi kemana mana bersama bak kumpulan burung merpati yang sedang terbang bersama sama. Dalam beberapa urusan kolektif seperti lomba voli atau tarik tambang atau lomba kebersihan kelas, mereka akan bekerja sama. Tapi dalam urusan sehari hari tidak akan pernah mungkin. Ketika si anak anak ke kantin, nongkrong di belakang sekolah, main ke mall, PS-an di warnet atau futsalan, tentu mereka punya lingkaran tersendiri. Paling tidak si A akan berteman dengan F, G, K. Kemudian si N adalah satu geng dengan T dan P. Si J adalah teman dari V, W, G, L, Z, M, H, dan B. Dimana mereka ini adalah teman satu kelas, terkadang bisa bekerja sama tapi terkadang bisa bentrok juga geng geng tersebut hanya karena hal sepele. Kelas bisa diartikan keluarga besar, satu RT, satu kelas ketika kita sekolah, satu kumpulan arisan dan aneka arti lingkaran pertemanan, Ya begitulah kenyataan dalam pertemanan.

Suka atau tidak suka, kita hidup dengan perasaan. Manusia diberi anugerah oleh Tuhan untuk merasakan hal hal yang bisa dirasakan tidak hanya dengan panca indera namun juga dengan hati. Kita tahu kapan merasakan sedih, senang, marah, kecewa, resah, gundah, berdebar debar, gamang dan aneka perasaan lain. Suka tidak suka juga terjadi dalam hal pertemanan. Ada kalanya kita tidak suka dengan seseorang karena alasan ini itu. Ada kalanya kita senang dengan sebuah hal karena ketidaksukaan ini itu. Jadi hiduplah dengan selaw. Lihatlah sesuatu dengan banyak perspektif, dan tetap kalem karena toh kita tidak akan bisa menyenangkan semua orang. Kembali ke hukum keseimbangan, dunia ini butuh rasa suka tidak suka biar hidup tidak oleng.

Salam kekancan.

Alun Alun Tour di Madiun

dfeIni pertama kalinya saya menjelajah Surabaya. Hal paling gobis –ini bahasanya Daisy, yang artinya guoblikkk ra uwis uwis, bodoh tak berkesudahan. Bagaimana tidak. Saya yang pulang dari Bandung dengan kereta Kahuripan tidak menyangka akan kelewatan arah. Sampai di Klaten, saya sempat terbangun namun tertidur kembali karena saya baru akan turun di stasiun berikutnya, Purwosari. “ah, baru sampai Klaten. Tidur lagi ah, bentar lagi bangun nyampe Purwosari”. Dan seketika saya bangun njenggirat sambil melongo ketika saya dengan kedua mata menyaksikan plang Solo Balapan terlewat di depan mata.

Oh shiiiiiitttttt. Saya menepuk jidat dengan sungguh sungguh. Menarik nafas panjang dan seketika menjatuhkan diri ke bangku yang saya duduki. Buoooodoooohhhhhhnya setengah mati. Kahuripan tidak akan berhenti sampai perhentian berikutnya yang masih jauh Setelah termenung meratapi kebodohan saya dan mulai bisa berpikir jernih, saya buka google map dan mulai mengecek rute perhentian kereta. Setelah menimbang nimbang di perhentian mana saya akan berhenti, saya memutuskan untuk lanjut ke Madiun. Kenapa Madiun? Padahal Kahuripan berhenti di beberapa stasiun setelah Solo Balapan. Saya bisa saja berhenti di Sragen, Walikukun atau Paron. Tapi masalahnya berhenti di pagi buta di stasiun kecil. Plis. What to do. Hiks. Mending langsung sekalian ke stasiun besar di Madiun sana.

Dan.. taraaaa.. sampailah saya di Madiun di hampir setengah enam pagi. Setelah sembahyang subuh, gosok gigi serta cuci muka saya yang kucel akibat tidur tidur ayam kaki pegel semalaman di kereta, saya keluar dan menunggu di lobi masuk kereta. Stasiun Madiun masih sepi orang waktu itu. Hanya ada satu dua warga yang menunggu kereta mereka. Saya pun membuka referensi tempat yang bisa dikunjungi di Madiun kemudian menghela nafas lega. Setidaknya Madiun punya alun-alun. Haha. Setahu saya Madiun emang nggak ada apa apa. Bukannya nggak ada apa apa. Tapi dengan kondisi musafir kesasar kayak saya, susah juga mau merencanakan perjalanan ke Trinil, air terjun atau monumen Kresek. Selalu ada hal indah saat susah. Bayangin. Jaman sekarang, saya nyasar tapi masih pegang hape. Masih bisa buka google, gmaps, bahkan chatting sama keluarga buat tanya referensi sana sini atau sharing betapa guobliknya saya pagi ini. Coba jaman dulu. Nyasar ya nyasar aja, nggak ada ampun. Pulang nggak akan tahu jam berapa tanpa bisa kontak ke keluarga.

Saya pun segera me list daftar kunjungan: Alun-Alun, masjid agung dan pasar. Haha. Sangat sangat normal.

Kenapa alun alun, masjid agung dan pasar?. Simpel. Tempat tempat itu masih bisa saya jangkau dengan berjalan kaki dan pusatnya masih di tengah kota. Jadi, tidak akan mengganggu mobilitas saya sekiranya saya akan bepergian menggunakan moda transportasi pulangnya. Saya tinggal memantau jalan lewat gmaps, belok sana belok sini dan.. taraaaa. Sampailah saya di Alun-Alun dengan jalanan yang seolah milik saya sendiri saking sepinya. Wakakak. Yaaa.. itung itung olahraga jiwa dan raga. Tamba mutung dan tamba kesel. Obat kezel dan obat capek.

Alun-Alun adalah simbol sejarah untuk sebuah kota, terutama kota dengan hegemoni kerajaan di Jawa ini. Madiun adalah salah satunya. Peletakan alun alun akan juga menyeret tempat tempat penting lainnya. Bahkan kalau tidak salah, di sebelah mana ada pusat pemerintahan, sebelah mana tempat ibadah, sebelah mana pasar, sebelah mana pusat keamanan. Dan alun alun di jaman dulu bisa disebut sebagai check poin bagi  sejuta umat penduduk wilayah tersebut. Orang jualan, di pinggir alun alun, raja mau ngasih pengumuman biasanya di alun alun, ada pertunjukan rakyat di alun alun, bahkan mau pacaran aja janjiannya di alun alun. *ning alun alun tak enteni. Terminal Stasiun tak ubengi- lagu Alun alun Nganjuk. Haha.

Alun Alun Madiun di hari Sabtu pagi menjadi titik ramai para warga yang ingin menikmati pagi segar bersama burung burung Merpati yang terbang ke tanah mematuki biji biji jagung sebaran anak anak yang ingin melihat kawanan mereka lebih dekat. Para tua dan muda asik bercengkerama setelah ngos ngosan jogging di lapangan Alun-Alun yang berpendopo kembar tersebut. Ada juga yang asik tetiduran di bangku taman dan sisanya berjualan aneka jenis makanan sarapan.

Pukul 7.30, saya berkesempatan untuk menonton pertunjukan drumband. Well.. bukan drumband sih. Tapi latihan drumband anak anak TK yang didampingi ibunya dimana para ibu tersebut bertindak sebagai cheerleader. Seru ih. Haha. Saya menonton kurang lebih satu jam. Betewe keren juga performa anak anak TK ini. Kayak nggak ada capeknya memainkan instrumen musik drumband. Apalagi disemangati ibu mereka sendiri yang make rumbai rumbai rafia warna merah putih dan kuning. Unyuuuu. Haha

Matahari semakin tinggi dan saya lapar. Setelah saya berkeliling alun alun, saya memutuskan untuk berhenti pada seorang ibu ibu penjual nasi kuning di trotoar yang sedang sibuk melayani pengunjung. Ibu itu mengatakan pada saya untuk membungkus makanan dalam stereofoam saja. Padahal saya pengen makan lesehan saja di dekat ibu itu berjualan. Alasan ibu itu menawari saya makan bungkus di stereofoam untuk menghindari kejaran satpol PP yang menegakkan aturan untuk tidak berjualan di atas pukul 9 sedangkan waktu itu sebenarnya belum menunjukkan pukul 9 pagi. Kemudian saya mengiyakan karena saya pikir kasihan juga ibunya pasti kedandapan jika Satpol PP datang. Ah.. sudahlah saya mengalah untuk makan di stereofoam dan mencari tempat lain untuk makan. Dan.. hingga pukul sepuluh kurang si ibu masih berjualan di sana. Oh damn. Kok agak kzl ya saya. Haha.

Dan saya mengabaikan kekesalan saya (lagi) dengan membaca buku pinjaman saya dari Santika. Lagi lagi.. alhamdulilah. Selalu ada hal indah di tengah susah. Haha. Setidaknya ada buku yang menyelamatkan saya dari mati gaya akibat hape sekarat tinggal 1 % dan nggak ada laptop yang bisa jadi pemandu gmaps. Haha, Sebuah buku biografi berbentuk novel menceritakan tentang riwayat KH. Hasyim Asyari, pendiri Pesantren Tebu Ireng yang juga seorang pendiri Nahdlatul Ulama, sebuah ormas keagamaan Islam terbesar di negeri ini. Buku itu cukup emejing so wow. Kehidupan seorang ulama yang ditempa ujian hidup namun tetap tawadlu dalam menjalani hidupnya.

Suasana Alun Alun terasa sangat syahdu dengan rindangnya pepohonan yang menaungi dari terik mentari Jumat yang panasnya membuat mahlukNya harus teringat pada neraka. Sungguh semakin syahdu dengan alunan murrotal Quran yang nampaknya dilagukan sendiri oleh warga sana di Masjid Agung Madiun, saya terlena oleh sepoi angin yang membelai dan lantunan ayat suci yang mengingatkan saya pada rumah.

Sudah kesekian kalinya pengamen menyanyi di depan saya dan saya jengah juga dengan pemandangan pengamen yang berkumpul di pojokan tapi tak menghiraukan undangan sembahyang jumuah di masjid yang hanya berjarak 50 m dari tempat mereka asik bercengkerama (mereka adalah orang yang sama yang sedang meminta minta di gerbang masjid persis ketika Jumatan selesai dan saya yang mau sholat dhuhur disana). Maka saya pun pergi dari bangku taman yang telah sepagian saya gunakan untuk kontemplasi. Dan.. kaki saya yang mulai lecet pun tersihir untuk masuk ke toko outdoor favorit saya untuk menemukan pasangan sandalnya. Tak berapa lama, uang yang sejatinya saya hemat hemat ternyata melayang juga untuk membeli sandal gunung. Padahal saya sudah bilang pada diri saya untuk berpuasa beli sandal gunung karena mutung sandal saya hilang di masjid dicuri orang. Eh.. ternyata saya buka puasa juga. Eheheh.

Setelah puas cuci mata di toko outdoor, saya pergi ke masjid untuk menunaikan solat dhuhur dan.. mandi. Hehe. Rasanya badan lengket seharian ingin menyentuh air biar seger. Yah.. meskipun saya pakai baju yang nggak dicuci beberapa hari, rasanya nikmat air siang siang sungguh harus disyukuri. Belum lagi, setelah sembayang saya ketiduran meskipun cuma setengah jam. Nikmatnya luar biasa. 😀

Senangnya setelah asharan, ada tausiyah pendek dari imam masjid dibawakan dalam bahasa setempat, bahasa Jawa. Sungguh dahaga agama sedikit terobati.

Usai saya keluar dari masjid, saya tersepona dengan stand buku yang digelar di depan alun alun. Tidak banyak memang. Hanya ratusan buku saja. Tapi sanggup membuat saya membelalakkan mata pengen bawa pulang buku bukunya. Akhirnya tak hanya sandal namun juga buku sebagai buah tangan. Haha.

Oleh karena saya lapar dan belum makan siang pula, maka saya mampir ke pecelan 88 di dekat alun alun setelah mbak mbak penjaga toko oleh oleh yang saya sambangi memberi tahu saya tentang warung tenar itu. duhhh deekkk.. warung 88 ternyata ada di perempatan selanjutnya. Kirain deket. Ya emang deket sih, tapi kalau jalan lumayan juga. Setelah masuk ke tempatnya emang benar sih ini tempat tenar. Lihat di dinding dindingnya, poto poto orang penting dipigura oleh pemiliknya. Selain untuk pengingat kenangan, tentu saja strategi promosi pada warga jika warung mereka laris sampai sampai orang penting kayak Dahlan Iskan dan aneka artis makan di kedai mereka. Rasanya? Mantap sih. Harganya juga murah. Saya yang hanya makan pecel tanpa isi (jerohan, babat, lidah dll) alias pecel polosan, hanya dikenai Rp. 7000. Paling paling kalau yang dengan isian harganya nggak akan jauh jauh dari 12 ribu-15 ribu an. Madiun emang top banget soal pepecelan.

Jpeg

Madiun, kota pecel

Akhirnya saya berjalan kembali ke stasiun dan menunggu kereta Pasundan datang mengangkut saya ke Surabaya. Well.. kenapa saya bisa ke Surabaya? Ada di postingan selanjutnya.

Menyerang Ibu

Mumpung bentar lagi mau Kartinian, saya pengen nulis tentang sosok wanita. Sosok Ibu. Tulisan saya kali ini memang tidak secara khusus mengulas tentang sosok seseorang atau tokoh. Tapi tentang perspektif dalam dunia wanita: Ibu.

Seperti yang kita lihat di berita berita akhir akhir ini, dimana banyak sekali anak menggugat ibunya hanya karena uang. Dengan dalih memperebutkan warisan, mereka tega menyeret ibu mereka ke meja hijau. Nggak tanggung tanggung lho nilai yang mereka tuduhkan pada ibunya. Milyaran coyyyy.. Dunia memang sudah kebalik.

Seorang ibu di Bandung digugat anak dan menantunya sebesar 1,8 milyar dimana nilai tersebut didapat dari fluktuasi invlasi dan lasi lasi lainnya atas pinjaman yang diajukan saudara lain si anak yang dipinjam lebih dari sepuluh tahun lalu. Puluhan tahun lalu sih emang cuma pinjam 20 juta. Tapi di tahun 2017 ini nilainya membengkak menjadi 1, 8 milyar. What so emejing. Bisa dinalar nggak? Enggak lah. Hya keleeeus sampe satu koma delapan milyar. Ulangi. Satu koma delapan milyar coyyy. Saya nggak bisa bayangin si Ibu yang udah tua renta ini bahkan sakit sakitan sampai membayar satu koma delapan milyar. Plis cuy.. itu uang hasil ngepet darimana cobak buat bayarin si anak (yang menurut pandangan saya udah tega menyakiri hati ibunya)? :’(.

Publik sebagian besar memang menyalahkan si anak dan menantu atas gugatan mereka yang.. emang kurang ajar beutsss (kalau menurut pikiran orang waras). Sebagai pemirsah telepisi dan netizen budiman, kita memang tidak tahu pasti duduk perkara dan cerita cerita yang terjadi sebenarnya kenapa bisa berujung hingga pengadilan. Tapi kalau melihat gimana sekilas ceritanya, bisa dibilang sebuah perbuatan durhaka bila kita bikin orang tua sedih apalagi sampe nyeret orang tua sampai pengadilan. Menusuk hati beudd. Semua agama mengajarkan kepatuhan kita pada mahluk bernama Ibu. Di agama saya, islam, Nabi Muhammad bahkan sangat menjunjung tinggi harkat wanita. Dibuktikan dengan sabdanya: hormatilah ibumu, ibumu, ibumu, baru ayahmu. Ibu disebut tiga kali lho. Spesial. Artinya ibulah yang wajib ain harus pake banget dihormati entah bagaimana caranya.

Akar masalahnya dimana? Uang. Materialisme. Hedonisme. Rasa tidak puas. Rasa ketidakadilan. Rasa ingin memiliki berlebih. Kalau bukan uang apalagi. Satu koma delapan lho. Entah masalahnya apa, apa kita rela mengorbankan pertalian darah dengan ibu dan saudara saudaranya hanya untuk uang segitu doang?. Mikir nggak tuh si anak dan mantu dengan apa si ibu bisa bayar tuntutan mereka. Jaman sekarang siapa sih yang punya duit cash satu koma delapan milyar kecuali kalau dia komisaris perusahaan. Sedangkan si Ibu ini adalah wong cilik yang udah bukan saatnya mikir duit tapi udah mikir mati atas usianya yang beranjak senja. Jika si anak anak ibu lainnya bantuin dengan cara nyari utangan, mereka mau nggadein apa? Tegakah jual semua aset sampai buat makan anak keponakannya susah? Mikir nggak sih kalau uang nggak bakal dibawa mati. Mikir nggak sih kalau uang itu cuma sebuah kertas yang nilainya cuma bisa buat beli sandang pangan papan sesaat tapi sampai kapanpun nggak akan bisa beli yang namanya keluarga.

Warisan satu sisi memang membantu anak cucu untuk hidup sekaligus something shit di sisi lain. Kok bisa jadi something shit? Ya karena jadi ajang perebutan bahkan pertumpahan darah jika semua pihak yang tidak bijak berserakah dengan harta warisan itu. Di titik terendah saya menyaksikan sendiri bagaimana warisan mengubah sistem dalam keluarga besar saya. Memporakporandakan segalanya hingga ke titik sehancur hancurnya. Membuat saya berpikir dua kali untuk mencintai hal material bernama uang. Masihkah kita bisa merasa uang adalah di atas segalanya ketika keluarga hancur? I swear it more than shittt. Puahittttnya kayak minum satu galon brotowali. Kayak orang yang udah nggak punya harga diri. Ketika semua diukur dengan uang, yang tertinggal hanya kebodohan. Ketika yang dipikir adalah kekenyangan perut sendiri, yang terjadi kemudian hanyalah dungu dan kemudian mati sia sia.

Jika memang masalah si anak dan mantu dengan saudara saudaranya yang melibatkan hutang piutang terjadi puluhan tahun lalu, apakah sekarang tidak bisa diselesaikan baik baik dengan tidak melukai perasaan ibundanya? Ini yang membuat saya tidak habis pikir. Memangnya dari lahir mana si anaknya ini turun ke dunia? Lahir dari batu macam Sun Go Kong? Tetiba lahir cenger ke dunia? Tidak ingatkah ia bahwa ibunya yang udah renta itu dulu yang mati matian ngasih makan dari belum bisa apa apa sampai dia jadi seorang wanita yang kuat. Tidak ingatkan ibunya juga yang banting tulang mengurusi segalanya agar ia tetap hidup.

Dan yang lucu adalah si anak berdalih ingin melindungi si ibu. Melindungi ya nggak gitu juga kalik.. Ya masak melindungi kok tega bener nyeret ke pengadilan. Melindungi kok tega bener memeras ibunya sampe sebesar itu nominal tuntutannya. Melindungi kok tega bener sampai menomorduakan tali persaudaraan dengan saudara saudara kandungnya. Melindungi kok tega bener ngasih solusi rumahnya dijual terus keuntungannya dibagi. Separoh dikasih ke ibunya, separoh dibagi buat ngelunasin hutang sejak dahulu kala itu. Nah lho.. dimana logikanya ketika ngasih separoh untuk ibunya. Orang itu masih rumah punya ibu dan ibunya aja belum mati lho. Kok bisa mutusi dewe kalau si ibu dapat bagian separoh. Dan kalau dirunut ke depan, sangat nggak bijak kalau dibagi macam itu. Uang separoh yang dikasih ke ibunya itu nggak akan bertahan selamanya. Percayalah uang itu nggak akan bertahan. Yang namanya uang di tangan, kebutuhan dan keinginan itu ada terus. Baru akan berhenti kalau uangnya habis. Entah itu nanti dirongrong orang, atau habis karena kebutuhan yang nggak ada habisnya. Kalau udah gitu ya tunggu aja kehancuran. Atau ketika uang si ibu ternyata masih hingga akhir hayatnya, uang ini tetap akan jatuh ke tangan anak anaknya. Endingnya? Bunuh bunuhan antar saudara buat memperebutkan uang yang nggak seberapa banyak.

Andai si anak dan mantunya ini merasakan pahitnya kehilangan “home”. Iya. Itu adalah rumah. Namun rumah bukan hanya sebuah tempat singgah. Ada banyak kenangan yang selamanya tidak bisa dihilangkan karena disanalah kita mengenal cinta dan kasih sayang keluarga. Disanalah kita pertama kali belajar mengenal lingkungan dan berusaha belajar kuat menghadapi hidup. Ketika ia hilang maka rasanya tercerabutlah segalanya. Ketika suatu saat saya melihat ibu saya bersengketa dengan saudaranya perihal warisan dan itu menyangkut rumah maka dunia saya ikut terguncang walaupun saat itu saya masih belum ngerti apa apa. Dan sekarang ketika saya sudah besar dan paham, dan ada berita seperti itu lagi, meskipun bukan saya yang mengalami. Tapi.. saya ikut bersedih. Melu perih.

Ibu dan Bapak saya tidak samasekali mau mempermasalahkan warisan. Bahkan mereka berdua bilang bahwa mereka tidak mewariskan pada kami harta karena mereka tidak punya harta samasekali. Mereka hanya bisa mewariskan doa dan ilmu. Dua hal tak kasat mata tapi bekal untuk selamanya. Saya tidak hidup dalam gelimang harta dan hanya mengandalkan ridha orang tua dan guru untuk hidup agar berkah.

Hal yang bisa dipetik dari masalah gugatan anak pada orang tua adalah entah apa masalah di belakangnya sebaiknya selesaikan secara kekeluargaan karena pada dasarnya ada ridha ibu dalam segala urusan kita. Jika ia tidak ridha maka sial menaungi sepanjang hayat. Ingatlah bahwa ridha Tuhanmu bergantung pada ridha orang tuamu.

Kasak Kusuk Kakus

Salah satu hal naluriah manusia adalah ekskresi. Buang air. Dan hal yang membedakan kita dari hewan adalah kita tidak akan seenak jidat buang air di sembarang tempat. Maka dibuatlah sebuah tempat bernama kakus alias kamar mandi alias jeding alias wc alias toilet alias jumbleng dan alias alias lain dengan nama yang berbeda di berbagai tempat. Desainnya pun macam macam. Ada yang hanya sebuah lubang yang digali dalam tanah di belakang rumah, ada yang menjadikan sungai sekitar rumahnya sebagai kakus abadi terpanjang di dunia,  ada yang bersekat bambu di atas kolam lele, ada yang bersekat papan, ada yang bertembok batu bata sampai yang bertatahkan pualam. Semua model, lengkap!. Dan sebagai orang Indonesia saya pernah merasakan semua. *kebanggaan sebagai orang Indonesia. Haha. Well.. oke. Saya bercanda.

Oleh saya yang ndeso ini, saya merasakan bahwa sebagai bangsa yang memegang teguh budaya yang masih tradisional, saya merasa buang hajat juga merupakan suatu hal yang berdasar pada budaya. Nggak percaya? Tuh.. googling di internet. Cari informasi mengenai culture shock yang dialami sebagian warga yang belum mengenal wc. Wc yang sebenarnya difungsikan sebagai tempat kakus menjadi kandang ayam. Haha. Unyuuu. Tapi jangan salahkan warga tersebut. Ya jelas jelas mereka nggak salah karena memang budaya mereka (mungkin) saja tidak mengenal adanya wc yang sudah susah susah dibuat oleh pemerintah pakai dana bantuan. Khuznudzon lah bahwa warga tersebut sebenarnya sudah mangkel tingkat dewa karena pemerintah cuma mbikinin tanpa ngasih tau cara makainya. Mungkin airnya nggak ngalir padahal dinding kamar mandinya udah dikeramik. Mungkin wc nya udah bisa dipakai tapi mampet dan yang punya ide bikin wc nggak ngasih tahu cara menanggulangi mampet sehingga meluber dan isinya kampul kampul sampe keluar bikin selera makan sirna seketika padahal perut juga lagi nggak bersahabat. Mungkin pipa airnya bocor dan airnya habis dan berbagai mungkin mungkin yang khuznudzon lainnya. Uhuk. Dan.. pada akhirnya warga kembali ke buang hajat sembarangan (terbukti dari plang plang jangan buang hajat sembarangan yang pernah saya temukan di desa yang memang susah air). Sebenarnya mereka buang hajat nggak bisa disebut sembarangan. Tapi karena tidak terpusat ya jadinya di kebon atau di tempat tempat lain yang bisa membaui orang lewat. Orang males lewat bukan karena hantu. Tapi karena bau. Tapi semenjak ada program kebersihan dicanangkan, nampaknya persoalan toilet di desa sudah dapat dipecahkan. Horeeeeeee.

Toilet  yang lazim digunakan oleh orang Indonesia jaman baheulak adalah jamban atau ke toilet terbesar di dunia yang multifungsi juga selain kakus juga sebagai tempat cuci, mandi dan kadang diambil airnya untuk minum (bahkan masih digunakan sampai jaman sekarang dimana nonton tipi bisa lewat hape). Nah lho.. haha. Mungkin baru jaman jaman Pak Harto (piye? Penak jamanku tha?) orang Indonesia diinvasi dengan toilet ala barat secara besar besaran. Tentu untuk menyiratkan bahwa Indonesia telah memasuki jaman: moden.

Dan nun di kota sana, saya hanya mengernyitkan dahi ketika melihat toilet (yang rata rata didesain ala ala Londo) basah oleh air dan jejak jejak sepatu menghiasi sana sini bagaikan lukisan cap tangan manusia purba di goa goa tua. Okelah saya nggak ikut mbersihin, harusnya sih nggak usah komen gini yak. weeiittzzz.. tapi saya yang (nampaknya) agak peduli ini kadang harus nyiram sisa sisa warga lho mbakyu.. kan jijay ugakkk *emot zebelll.

Tapi yang membuat saya kadang tertawa sinis adalah toilet model duduk bukanlah sesuatu yang Endonesa banget. Saya pikir dulunya orang membuat tolet duduk adalah karena kekinian. Model model baru gitu lah. Ternyata saya salah. Menurut penuturan salah satu profesor, toilet duduk adalah toilet yang memang didesain untuk bangsa barat sono karena mereka nggak bisa jongkok. Nah lho.. haha. Apa hanya karena si bule bule itu susah buat jongkok terus dipaksain juga buat warga endonesah yang sebenarnya budayanya lebih sering jongkok ya?. Padahal toilet jongkok lebih sehat daripada duduk. Itu kata para praktisi kesehatan sih *dan dalam salah satu riwayat, Nabi pun mengajarkan demikian (ingat salah satu sabda Nabi untuk hidup sehat: jangan kencing sambil berdiri. Selain air kencing nyiprat kemana mana, nggak sehat juga buat organ tubuh).

Yang lucu lagi adalah, lantai kamar mandi yang terbiasa untuk dibasahi. Budaya kita adalah menyiram kaki setelah masuk kakus. Membersihkan kaki gitu lah. Kalau nggak siram kaki rasanya nggak afdhol. Dan saya menemukan entah itu di stasiun, di tempat umum, bahkan pernah di tempat yang dianggap elit macam di mall atau hotel warga endonesah masih membasahi lantai kamar mandi padahal jelas jelas ada pengumuman larangan membasahi air di lantai. Haha. Ya walaupun ada petugas kebersihan kamar mandi yang senantiasa menjaga kebersihan toilet di tempat umum macam stasiun atau mall. Tapi ini soal mindset warga endonesah yang memang belum siap diajak kebarat baratan. Kalau begini siapa yang salah dong? Arsitek yang bikin desain awal kamar mandi? Pak tukang yang masang properti kamar mandi? Kontraktor yang ngerjain? Yang bayarin proyek? Apa orang endonesia yang emang punya kebiasaan cuci kaki dan cebok pakai air yang disiram dari depan? Gimance cyinnnn..

Saya sering sebel kalau pergi ke mall yang kamar mandinya sok kebarat baratan (sama mangkelnya dengan pergi ke toilet terminal yang juorokkkknya naudzubillah dan baunya pesingnya bikin muntah). Elegan memang dengan glasses door yang berat beud mau buka pintu aja, kaca super besar dengan wastafel yang keliatan belinya nggak cukup pakai receh limaratusan setoples. Terlihat cukup meyakinkan bahwa menit menit yang kita habiskan di dalam adalah bagai surga dunia di tengah serangan hedonisme mall yang menyerbu ibukota. Eh, pas mau bersih bersih, semprotan airnya ternyata yang di belakang. Itu tuh yang berada di sebelah dalam lubang toilet bukan semprotan yang berselang. Kan kampret yak. Banyak orang Indonesia yang masih merasa ‘jijik’ jika pembersihan tidak sempurna (pipis di toilet terminal yang stigmanya jorok aja masih mending karena biasanya disana airnya melimpah ruah dengan gayung dan ember yang menampung air dari pancuran).

Believe it or not, bukan saya doang yang ngerasa masih kotor kalau membersihkan nggak beres kayak gitu. *akuu kotoooooorr. Buat orang yang ngerti adab thaharah, kebayang gimana rempongnya kita membersihkan sisa kotoran tapi ngerasa masih kotor. Gimance ibadahnya cyinn? Rasa was was sangat besar. Dan.. ngeselinnya adalah karena tidak terbiasa dengan bersih bersih yang seperti itu, prosesnya jadi lama dan bikin kesel yang ngantri. Yang di dalam kamar mandi kesel betz, yang nungguin sampe harus gedor gedor pintu karena kebelet pipis juga. *mba.. jangan digedor pintunya. Pecah, ganti lho. Mahal. Haha. Mungkin akan ada satu dua orang yang nyinyir “ih, toilet flashbutton yang dibelakang tinggal muter pancur aja nggak bisa gunain”. Ya maap mba.. apalah uwe yang orang desa. Taunya jumbleng (wc) dan kalen (sungai). Dua duanya nggak butuh flashbutton dan nyiram airnya lebih bersih, sisanya buat pakan ikan yang hidup di dalamnya dan insyaAllah buat solat masih sah karena air najis nggak nyiprat kemana mana. Haha. Dulu sih saya diajarkan sama bu nyai kalau membersihkan itu dari depan ke belakang. Biar thaharahnya sempurna. Soalnya thaharah (bebersih) adalah kunci penting sahnya ibadah. Udah sekompleks itu aja. Wkwkwk.

Sedihnya, banyak warga yang tidak familiar dengan modernitas toilet. Jangan sampai susah susah bikin toilet eh malah jadi sarang ayam bertelur kayak yang terjadi di beberapa daerah. Kan ngakak. Jangan sampai udah ditulisin pake spidol segede gaban tentang larangan mencuci kaki tapi diabaikan setiap waktu cuma gara gara tidak memahami etnografi kebudayaan masyarakat setempat, kitanya jadi cultural lag. Haha.

Pertama, lihat dulu tradisi dan budaya dari daerah setempat. How did they manage their toilet(s) in the past? Lihat dulu gimana adab mereka kalau “ke belakang”. Baru dipikirkan bisa nggak memasukkan nilai modernisme ke dalam budaya. Mungkin saja bisa, malah harus karena mengikuti perubahan jaman juga. Tapi tentu tidak bisa sepenuhnya dan tidak bisa dalam waktu tiba tiba. Harus berproses, Mengadopsi budaya luar bukan berarti mencomot seluruh aspek kebarat baratannya. Contoh kecil, orang barat emang suka kamar mandi kering. Sedangkan kebalikannya kita yang punya budaya untuk cuci kaki (berdoalah sebelum kita tidur. Jangan lupa cuci kaki tanganmu.. itu tuh lagunya Tasya yang judulnya jangan takut gelap). Ya udah, bikinlah kamar mandi yang mengakomodasi pembersihan kaki dengan cara menyediakan ember dan gayung serta pancuran. Dasar lantainya juga jangan tegel yang granit cakep cakep itu soalnya lama keringnya dan kalau letheh (menggenang air) jorok beudd (yu know.. saya pernah hampir kepleset di lantai kamar mandi granit mewah hanya gegara warga nyiram pipis anaknya di lantai granit padahal toilet duduknya di atas. Hiks.). Harusnya batu batu kecil yang bisa jadi jalan serapan air biar ainya juga langsung menyerap tanah. Atau katakan lantai yang mudah dibersihkan deh. Kalau mau pakai granit, pastikan setelah dipel basah juga sekalian dipel kering . Tapi toilet duduk pada akhirnya juga harus disediakan untuk memudahkan para difable untuk ke belakang. O, ya ventilasi. Jangan sampai megap megap di dalam karena nggak bisa nafas karena nggak ada ventilasi. Saya pernah menemukan toilet yang rapat banget tutupannya. Wadaaawww panas beudd. Toilet duduk selain buat warga difable juga untuk mengakomodasi warga yang udah bisa dan terbiasa menggunakan toilet kebarat baratan. Biasanya orang orang kota yang terpelajar juga akan menggunakan toilet tersebut secara terpelajar. Lain soal kalau orang terpelajar itu ternyata juga cuci kaki di toilet kebarat baratan. *ngakak banget tapi ini fenomena. Wakakaka.

Oke. Sekarang cerita lain soal kamar mandi di kosan saya. Yu know.. saya pernah sampe cerewet banget nulisin kamar mandi kosan saya hanya karena jijik liat gayung diletakin di lantai kamar mandi yang kecipratan air pipis. Bunyinya begini “Mohon untuk meletakkan gayung di ember. Teh, kalau gayung diletakkan di lantai padahal lantainya kena najis maka solatnya bisa nggak sah” dan ternyata nggak mempan. *tepok jidat. Saya sampai harus pergi ke kamar ciwi ciwi tetangga saya untuk bilang bahwa jangan meletakkan gayung di lantai. Selain karena airnya bisa berhukum musta’mal alias meragukan, sayanya juga jijaaaaaayyyy. Jorok bolehlah tapi jangan dipiara juga keleuuus. Soalnya kamar mandi bukan cuma kita yang menggunakan tapi juga orang lain. Maka pastikan jangan meninggalkan sisa seperti bungkus sampo, sabun yang diletakkan di lantai bahkan sisa sisa perut kita yang nggak disiram. Hooooeeeekkkk..

Well.. persoalan thaharah janganlah dianggap remeh. Ini urusannya dengan ibadah. Tapi urusan ke belakang memang juga bersangkut paut dengan urusan budaya. Udah sekolah tinggi tinggi tapi acuh soal kebersihan yang urusannya sampai akhirat sana. Kan kasihan.

Pas Jaman Sekolah: Dilema Jurusan

Di sebuah sore, salah satu keponakan saya menanyakan tentang cerita saya dulu sekolah. Dia yang sudah duduk di bangku SMA galau memilih jurusan di sekolahnya. Duh.. jadi nostalgia nih. Well.. buat kamu kamu yang galau jurusan. Ini cerita Cicik dulu ketika masih sekolah.

Baiklah. Akan saya ceritakan. Untuk menjadi dokter, teknisi, guru, tentara atau cita cita normatif lainnya, maka kamu harus punya nilai bagus (ini adalah kebenaran pahit yang benar benar shit selain: kamu harus siap dengan biaya besar dan mungkin koneksi besar). Ya emang sih harus bagus. Karena sainganmu sebajeg kere (naudzubillah banyaknya) maka ya harus bagus nilainya. Apalagi saingan saingan orang orang yang masuk ke jurusan kedokteran adalah mereka anak anak dokter yang parlente, anak anak orang orang kaya yang buang buang uang dengan mudahnya. Maka, apalah saya yang dari keluarga yang biasa aja, harus berbagi uang juga buat sekolah sekolah adik adik saya. Jalan satu satunya hanyalah: punya otak brilan dengan nilai akademik kece badai. Apakah terjadi? Tentu tidak. Haha. Saya cerdas, tapi nilai pas pasan.

Tentang sekolah saya. Apakah sekolah saya elit? Bisa dibilang begitu. Isinya anak anak brilian dan tajir. Keluarga saya hanya mampu menyekolahkan saya di sekolah negeri yang setidaknya kalau nggak bisa bayar sekolah, bisa lah nunggak utangan dulu. Maka, saya pun hingga saya lulus kuliah saya selalu sekolah di negeri. Perkara kenapa saya bisa keterima di sekolah elit ya hanya satu: takdir. Bukan karena saya pintar bukan karena saya tajir. Tapi nampaknya Tuhan menggariskan saya lolos tes dan masuk ke sekolah elit. Simpel. Bukan untuk merendah. Banyak yang lebih pinter dari saya. Beneran. Ini soal garis takdir.

Part I Masa Basic School

Sekolah Dasar saya adalah sekolah dasar tua yang didirikan beberapa tahun setelah Indonesia Merdeka. Bahkan jika ibu saya pernah bercerita bahwa kakek saya pihak ibu dulu pernah bersekolah disana, ada kemungkinan sekolah dasar saya dulunya merupakan SR alias Sekolah Rakyat. Weeeww.. jadul euyyy.. apalagi daerah rumah kami memang dekat dengan perkebunan karet yang didirikan oleh Belanda. Dan keluarga saya adalah salah satu yang di jamannya dulu sudah merasakan mewahnya sekolah.

Sampai lulus dari SD, saya sampai bosan mengenyam singgasana peringkat dua abadi, dimana saingan saya hanya satu orang. Arif namanya (bahkan kami sampai lulus SMA, satu sekolah terus). Peringkat peringkat di bawah saya, tiga, empat dan seterusnya akan selalu berganti orang. Tapi saya dan Arif adalah peringkat satu dan dua abadi. Haha.

Lulus dari SD, saya dipaksa untuk masuk sekolah elit terfavorit di kota saya. Alasannya: pertama karena SMP tersebut adalah sekolah negeri. Kedua, orang tua saya menganut mahzab bahwa semakin tua dan elit (tingkatan prestasi) sekolahnya maka kualitas pendidikannya semakin baik. Dan sialnya saya lolos. Nah lho.. saya bilang sial? Karena sebenarnya saya tidak menikmati.

Sekolah menengah pertama saya berjalan tidak baik baik saja. Dengan nilai yang amburadul, saya bertahan. Sudah bisa bertahan di rimba yang isinya anak anak cemerlang buat saya sudah bagus. Saya tidak pernah mau mengejar peringkat. Lelah. Enam tahun di sekolah dasar, saya dipaksa untuk bisa dasar dasar mata pelajaran yang membuat saya sekecil itu sudah berpikir bahwa saya lelah. Untuk apa akademis dikejar? Biar jadi peringkat kelas? Dan saya sudah di peringkat dua abadi. Bosen dapat peringkat terus. Seolah sebenarnya yang bersaing hanya saya dan Arif, si peringkat satu. Dan kemudian saya mengalami sebuah jetlag dan cultural shock karena keanekaragaman pertemanan di SMP yang bikin saya kaget dan saya masih dipaksa untuk berprestasi.

Saya belajar untuk satu motivasi: biar nggak dimarahi. Itu saja. Dan. sejak kecil saya di’paksa’ untuk berprestasi. Dan saya pun jenuh? Buoseeenn. Saya lelah dimaki maki dengan dalih biar disiplin. Biar saya pinter. Ah.. alasan paling bego yang pernah saya dengar karena sebenarnya pribadi saya lembut dan resisten pada bentakan teriakan meskipun saya ribuan kali tak terhitung menghadapi saat saat keras. Maka itulah yang membuat saya pada akhirnya menjadi keras kepala. Saya mungkin kehilangan masa kecil saya untuk bermain dengan bebasnya. Dan balas dendamnya saya kehilangan waktu bermain saya ketika saya kecil, maka saya hobi plesiran sama teman teman. Tidak plesiran bepergian kemana. Tapi saya hampir selalu main ke rumah teman saya dengan dalih ngerjain tugas. Kadang beneran ngerjain tugas, kadang ya cuma main main.

Dan saya akan bilang iya. Apa yang ingin dikejar? Peringkat? Pride? Di satu titik saya bilang semua itu damn shit shooo shit. Saya lelah. Saya ingin mengalir saja. SMP saya waktu itu ada di jalan Kartini. Dan ada sebuah sekolah menengah atas yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari SMP saya. Dalam hati saya berjanji pada diri saya: saya nggak mau sekolah di jalan Kartini lagi. Sekolah ini membuat saya jenuh, apalagi tiga tahun disana adalah transformasi saya dari anak desa menjadi abege kosmopolitan yang gaholnya sama anak anak yang dari kecil bergaya hidup perkotaan. Saya nggak suka. Melelahkan. Ada banyak cerita disana yang buat saya nggak akan pernah mau saya ulangin lagi. Maka saya usaha mati matian biar diterima di sekolah di Jalan Kemiri. Bukan karena sekolah itu sekolah favorit. Tapi karena saya merasa di Kartini saya merasa terlalu terjerumus dalam banyak drama. *hedeh.. udah kayak sinetron aja yak. Tapi itulah jalan hidup, haha.

Sekolah menengah atas saya berjalan lebih tidak baik. Uancurnya minta ampun. Haha. Rangking saya sempat ambruk ke 30 dari 36 siswa. Saya: bodo amat. Saya lelah dimarah marahi dimana ada saat saat saya merasa down dan hanya saya sendiri yang menyemangati diri saya bahwa “saya nggak tolol. Saya bisa. Saya nggak seburuk itu. Kalian yang tolol karena tidak pernah mau mendengarkan saya. Kalian yang sok tahu karena merasa paling benar.” Saya tidak hidup untuk diforsir masalah nilai. Saya tipikal selaw banget haha hihi menikmati hidup. Bahagia dengan hal hal sepele. Saya tidak pernah menangis karena nilai nilai saya buruk. Tapi saya menangis karena saya dituntut untuk sesuatu yang mungkin saya tak ada hati. Tapi di SMA ini saya merasa lebih bahagia. Jetlag dan cultural shock saya sudah reda dan saya bisa beradaptasi di lingkungan orang orang elit yang buat saya membosankan.

Semester pertama dan kedua di tahun pertama adalah penentuan untuk penjurusan di kelas II. Nilai saya amburadul. Maka nilai saya, hanya kurang dari nol koma sekian sekian dari  standar masuk IPA. Jaman jaman feodal dulu sih masih menganggap IPA sebagai pilihan terbaik. Dalam hati saya marah. marah karena saya diharuskan wajib ain masuk IPA karena orang tua saya masih mendewakan jurusan IPA. Sejujurnya saya pernah mengumpat dalam hati “Ya kalik IPA yang terbaik. Kalau IPA adalah yang terbaik, kenapa orang tua saya masih gini gini aja. Plis, ini bukan tahun tujuh puluhan dimana sekali masuk IPA bisa jadi direktur perusahaan”.

Sejujurnya saya suka semua mata pelajaran. Tapi kemudian saya berubah membenci beberapa mata pelajaran bukan karena susahnya. Tapi karena saya akan selalu dimarahi jika saya tidak bisa mengerjakan. Bukannya saya tidak mau berusaha. Tapi tekanan itu yang membuat saya semakin membenci dan akhirnya semakin cuek. Believe or not, Ujian Nasional yang dianggap momok itu, saya nggak peduli. Kalau ada soal yang ngitungnya bikin senggol bacok, saya pun benar benar ngitung benik (kancing baju). Haha. Literally menghitung kancing baju seragam saya. Sumpah. Saking njlimetnya angka angka soal di kertas ujian, saya ogah mau ngitung. Bukan karena males, lebih karena nggak mau wasting time. :D. Kalau saya lagi mood sama huruf B ya saya pilih B. Kalau ternyata Al Ikhlas saya berhenti di huruf C ya saya pilih C. Seriously. Kalau teori ibu saya dulu, kerjakan soal yang susah baru yang mudah, buat saya itu damn wasting time. I dont like wasting time. Apa yang bisa dikerjain ya hajar aja. Soal susah ya udah skip aja. Jangan buang buang umurmu dengan mengerjakan soal yang dikerjain belum tentu setengah jam ketemu jawabannya. Mending kerjain soal yang mudah dulu baru sisakan soal yang susah. Di sisa waktu ujian, ya tinggal dikerjain aja yang susah. Jadi kalau nggak kerasa waktunya udah dikumpulin kita nggak akan kelabakan silang indah.

Tentang jurusan mana yang terbaik

Jika suatu saat anak anak saya menanyakan pada saya, ibunya, jurusan mana yang sebaiknya mereka pilih. Maka saya akan menyarankan mereka untuk juga mempertimbangkan semua hal termasuk hati mereka. Biar suara hati mereka juga ikut didengar. Tentang urusan rejeki, percayalah Tuhan tidak tidur. Kalau takut nggak bisa masuk IPA karena takut nggak dapat kerja, maka you cursed yourself. Kalau mikir jurusan IPS isinya anak anak nggak punya otak yang kerjaannya bikin onar, maka nampaknya kamu perlu piknik biar uteknya sehat. Kalau mikir jurusan bahasa cuma bisa jadi admin jaga konter hape yang dianggap pekerjaan nggak berkelas, kamu harus tau bahwa para diplomat di luar sana bertaruh untuk menyelamatkan negeri kita dari ancaman dengan cangkeman. Seriously, skill mahal yang nggak dimiliki semua orang.  Maka jika masih terbungkus stereotipe jurusan ini bagus, jurusan ini jelek, maka kamu tolol karena terlalu bergantung dengan hal yang materialistis. Kayak nggak percaya Tuhan aja. Bukan masalah jurusan apa yang kamu dapatkan. Tapi, tentang bisakah kamu bertahan di masyarakat PASCA NANTI KAMU LULUS. Intinya cuma itu.

Percayalah, saya ketemu dengan banyak orang yang latar belakang IPA toh mereka juga sama aja dengan jurusan lain jadi waitress di warung tegal bahkan tukang batu karena susahnya nyari kerja di jaman sekarang. Saya ketemu lulusan IPA dengan nilai nilai briliant, dan “cuma” jadi penjaga loket. Dan jurusan manajemen akuntansi yang notabene dikuasai oleh anak IPS pun juga jadi sasaran anak anak IPA. Coba tanya, ada berapa persen anak anak IPA ambil jurusan manajeman atau akuntansi di kuliahan?. Sakbajeg kere. Dan berapa anak Bahasa yang sukses? Sebelas dua belas sama anak IPA kok. Anak IPS yang pengangguran? Anak IPS yang kerjanya malakin orang? Ada. Sakbajeg kere juga. Lulusan IPA yang jadi bajingan? Banyak. Simpel. Dunia nggak bisa dipukul rata hanya karena stigma jurusan.

Believe me, jurusan apapun bukan penentu seratus persen keberhasilan hidupmu. Jurusanmu hanya salah satu faktor saja. Sisanya, mampu kah kamu bertahan dengan hal hal lain di kehidupanmu dan lain lain. Dan balik ke makna sebuah kata “sukses”. What is success? Emang sukses itu artinya apa? Emang kalau udah masuk jurusan yang dianggap berkelas, hidup kita sukses? Itu pertanyaan retorik, bung. Terlalu filsafatis.

Maka, bijaklah. Tanyakan dirimu apa yang kamu sukai. Hitung hitungan atau hapalan. Logika itu yang pertama karena tidak ada salah dan benar dalam memilih sebuah keputusan jurusan di SMA/SMK. Yang jelas bersikap bijaklah juga untuk menentukan arah setelah kamu sekolah. Apakah mau lanjut sekolah di perguruan tinggi, bekerja atau bahkan menikah. Tujuannya cuma tiga itu. oh, tambah satu lagi: pengangguran fulltime.

Jangan dijadikan beban soal jurusan apa yang kamu pilih. Jika kamu suka dan jurusan itu bisa membantu mewujudkan impianmu setelah kuliah (misal, masuk teknik otomotif di SMK biar bisa kerja di bidang permesinan dan transportasi, masuk IPA biar nanti kuliahnya bisa ambil teknik kimia atau kedokteran gigi, masuk IPS karena mau mendalami antropologi, atau masuk bahasa karena ingin lanjut kuliah bahasa prancis, atau bisa jadi masuk IPS biar pinter hitung hitungan kalau belanja rumah tangga, masuk bahasa biar bisa jadi pujangga, masuk IPA biar kalau pas PKK bisa menjelaskan fungsi tanaman obat keluarga buat ibu ibu yang datang arisan dan lain sebagainya). Yang jelas, pastikan alasanmu masuk ke jurusan itu. Kalau cuma urusan gengsi, mending kamu pulang tidur, Nak. Naik kelasnya setahun lagi aja. Tapi kalau kamu masuk jurusan karena kebutuhan (penjurusan studi lanjutan), maka pilihlah sesuai logika dan dukungan di masa depan. Tanyakan second, third, fourth bahkan lebih banyak lagi pendapat dari orang orang yang bisa dipercaya. Jika jawaban mereka bisa mengarahkan dirimu merancang masa depanmu, maka pakailah. Tapi jika balik lagi ke urusan gengsi, mending tinggalin dan carilah pendapat ahli lainnya. Jangan korbankan masa depan hanya untuk urusan gengsi semata. Udah bukan jamannya. Kita generasi milenial dan kerja kerasnya lebih ngeri.

Intisari kehidupan

Believe or not, saya sering merasa tolol karena dihantui pemikiran pemikiran di masa depan karena dari kecil orang tua saya selalu menekankan jika kamu tidak berlaku seperti ini maka yang terjadi seperti ini. Jika kamu tidak melakukan ini, maka kamu akan begini. Endingnya.. saya sering menangisi diri saya sendiri. Sendirian. Orang tua saya mana tau kalau saya stress. Taunya saya haha hihi senyam senyum baik baik saja. Padahal rasanya benar benar saya ingin merobek semua raport saya dan mungkin membakarnya. Tapi flashback ke tahun tahun belakang, saya memahami bahwa Ibu dan ayah saya hidup dengan keras. Mereka benar benar menyiapkan anak anaknya untuk masa yang lebih berat dibandingkan dengan jaman mereka. Bahkan mereka mengorbankan apapun asal kami anak anaknya bisa sekolah. Dan rasanya itu tidak sebanding dengan rasa marah saya. Lelah mereka lebih berdarah darah saya. Melihat itu semua, saya yang tadinya merasa marah jadi iba. Iba karena mereka sebegitu berjuangnya demi saya dan adik adik. Saya yang belum jadi apa apa udah banyak ngeluhnya. Saya yang diuji dengan hal remeh aja kok udah melempem duluan. Dan ada rasa sedih terbersit ketika saya tidak bisa mewujudkan apa yang mereka harapkan: masuk IPA.

Sampai saat ini kalau melihat rumah sakit, saya merasa sedih. Sedih karena saya tidak bisa mewujudkan impian ayah saya untuk jadi seorang dokter. Ya, dokter perempuan. Tidak ada yang salah dengan gender di keluarga kami. Tidak peduli laki laki atau perempuan, selama apa yang kamu lakukan bisa memberi manfaat bagi orang di sekitar dan lingkunganmu, maka jangan pikirkan tentang apa yang orang lain katakan. Rahmat Tuhan besar untuk orang yang berjuang di jalanNya. Maka meskipun perempuan tak berarti (perempuan) tak bisa apa apa.

Sejak saya kecil, ayah mengumpulkan sedikit demi sedikit alat alat kedokteran. Bahkan buku buku kedokteran yang tebelnya kayak bantal memang dipersiapkan untuk putra putrinya. Barangkali ada satu dari anak anaknya mewujudkan impiannya menjadi dokter. Tapi ayah saya tidak pernah sekalipun mendoktrin kami untuk jadi dokter. Terserah cita cita kalian. Tapi saya tahu, harapannya adalah ada anaknya yang menjadi dokter. Harapan pertama adalah saya. Tapi kemudian kandas. *backsound suara angin bertiup di gurun.

Tapi ada banyak hal yang bisa saya sarikan dari perjalanan hidup saya. Saya seorang leader dan terlahir memang jadi leader. Setidaknya ada satu masa di masa depan saya, saya adalah seorang pengambil keputusan. Maka saya memang harus ditempa sejak kecil untuk urusan tekanan. Ayah dan Ibu saya adalah orang yang sangat peduli dengan pendidikan. Pendidikan emang nggak akan menjamin kita sukses di masa depan. Seriously. *pertanyaan gobloknya adalah ngapain sekolah tinggi tinggi kalau jadi pengangguran. Nah, titik poinnya bukan karena sekolah tinggi sama aja nganggur. Bukan itu. titiknya adalah pendidikan adalah titik dimana kita belajar untuk berlatih menggunakan nalar dan kemampuan. Pendidikan itu bukan buat nyari kerja. Tapi sangu mati. Itulah yang didengung dengungkan ibu saya. Tiga hal yang dibawa mati salah satunya adalah ilmu. Maka ilmu bisa berasal darimana saja. Tak melulu dari pesantren, juga tak melulu dari sekolah yang merupakan hasil adaptasi kita dari bangsa barat. Dari banyak hal kita bisa belajar, bahkan pada rumput yang bergoyang.

Dan kemudian saya semangat lagi. Tidak lagi banyak mengeluh. Dan saya pun melukis senyum lebih banyak lagi. Janji pada diri saya bahwa suatu saat saya bisa membuat orang tua saya tersenyum karena saya bisa mandiri. Bapak, Ibu, terimakasih 🙂

Kalau Lagi Sakit

Weekend saya penuh dengan acara: leyeh leyeh lemes di kosan. Agenda luar kota yang sejatinya sudah saya rencanakan jauh jauh hari terpaksa batal karena malam sabtunya saya panas, badan gemreges dan pusing. Apalagi saya kehujanan dalam perjalanan pulang dari warung kelontong yang jaraknya satu kilometer dari kosan saya. Tidak hanya itu, saya pun diare. Dan diare saya berupa cairan berwarna kuning dan sedikit berbusa. Tidak sebau feses normal, tapi baunya cukup menandakan bahwa ada yang tidak beres pada tubuh saya. Pusing dan lemas tidak hanya berhenti satu dua hari. Tapi berhari hari. Nampaknya bukan lagi masalah pencernaan yang sepele. Tapi gejala tipes. Kapan sembuh? Hanya Tuhan yang tahu. Haha. Lengkap sudah. Maka saya memilih untuk menarik selimut hingga pagi, selama berhari hari.

Kalau sudah sakit begini, ya nikmati saja. Jalani. Haha. Dan.. inilah yang biasanya saya lakukan kalau lagi sakit.

  1. Sugesti tubuh agar tetap fit

Diare seperti ini bukan kali pertama buat saya. Dulu malah lebih parah lagi. Waktu itu saya ada ujian di Bandung dan dalam keadaan safar, saya menginap di kosan temen, mana tempat ujiannya lumayan jauh dan hasilnya saya paksakan agar tubuh fit. Lalu bagaimana respon tubuh? Ternyata cara ini ampuh juga. Layaknya dalam kondisi darurat perang, tubuh saya nampaknya bisa bertoleransi dengan keinginan pemiliknya yang ingin tetap fit. Dulu ketika saya hampir kena campak (atau gejala tipes ya?) di Bone Bolango, saya juga paksakan tubuh agar tetap fit. Yah, walaupun suhu tubuh saya panas pakai banget. Hanya saja waktu itu saya katakan pada diri saya sendiri: jangan sakit. Harus segera fit lagi. Disini nggak ada keluarga kamu. Mereka teman temanmu. Walaupun mereka sudah seperti keluarga, bukan berarti kamu harus merepotkan mereka. Pokoknya nggak boleh sakit selama di KKN. Harus tetap fit. Apalagi besok udah menjelang pulang. Jangan campak lagi ya. dan cara ini berhasil. Jelang satu hari, suhu tubuh saya menurun. Ya walaupun masih nggak begitu oke tingkat kesehatannya, tapi sugesti tersebut berhasil. Bahkan lusanya saya berenang di Bunaken. Yah.. walaupun agak pusing pusing dikit.

  1. Paksakan untuk makan

Meskipun nggak doyan makan, tubuhmu harus membangun jaringannya lagi agar segera pulih. Maka, mau nggak mau jangan turuti nafsu makanmu yang turun. Paksakan untuk makan meskipun sedikit biar ada asupan gizi  buat tubuh. Dan gara gara sakit, makan saya tambah nggak teratur. Kadang saya cuma mau makan satu kali sehari. Itupun cuma beberapa suap. Besoknya mulai baikan, bisa makan sampai setengah piring. Eh, besoknya drop lagi, nggak doyan makan. Liat makanan sedikit aja bawaannya kenyang banget, mual malah. Dan.. pastikan jangan menyiksa tubuh dengan makan yang belum diperbolehkan. Seperti contoh, saya yang pagi ini panasnya sudah agak turun hanya saja masih lemas namun saya paksakan diri untuk beraktivitas (maklum cyinn.. anak kosan. Apa apa diurus sendirian. Single pulak. Haha). Lapar? Tidak. Seriusan. Bahkan rasanya nggak pengen makan. Tapi lagi lagi saya rutuki diri saya untuk segera keluar dari kosan nyari makan. Maka, bakso jadi makanan saya pagi ini. Itupun makannya harus sabar banget. Emang kalau sakit gini makanan jadi agak hambar meskipun kita udah campur dengan macam macam bumbu. Dan.. sialnya saya memberi sambal kebanyakan. Walhasil, perut saya panas. dan diare saya nambah. Tak terhitung puluhan kali saya harus ke belakang. Duh Gusti..

  1. Minum banyak air putih

Dalam kondisi sakit, apalagi kalau diare, tubuh kehilangan banyak cairan. Maka, pastikan bahwa kita minum lebih banyak air dan cairan lain seperti oralit, pocari, air sirup dan lain lain. Jangan lupa didoakan dulu. Biar segera sembuh. Kalau kata ibu saya berilah mantra “tamba teka lara lunga”. Manjur? Pasti 😀

  1. Tidur cukup

Salah satu penyebab sakit adalah karena kita terlalu memaksa diri bekerja terlalu keras sehingga hak tubuh untuk rehat berkurang. Maka, sudah saatnya kita memenuhi hak tubuh untuk beristirahat. Dia bukan mesin yang bisa kita paksa untuk terus menerus bekerja. Ada saatnya ia istirahat untuk maintenance komponen komponennya sehingga bisa bekerja dengan lebih optimal. Pada kasus saya (dan banyak orang), tidur menjadi solusi paling tokcer kalau sedang sakit.

  1. Olahraga cukup

Masalah kita saat ini adalah: tidak getol olahraga dengan alasan malas atau sibuk. Setidaknya olahraga satu kali dalam seminggu biar otot ngga gampang cedera dan aliran darah lancar. Padahal saya juga udah olahraga lho. Ya, walaupun nggak teratur sih. Mungkin emang udah waktunya sakit kali ya. Hehe. *syukur aja.

  1. Obat: solusi terakhir

Saya termasuk orang yang anti obat meskipun ayah saya memberikan saya bertablet tablet aneka obat. Kalau sudah sakit, biasanya ibu saya bisa dengan mudahnya mendeteksi bahwa ada yang tidak beres dengan kesehatan saya ”pergi ke klinik dan minum obat”. Dan saya biasanya hanya iya iya saja padahal nggak pergi ke klinik juga. Hehe. Tapi ada kondisi dimana saya pada akhirnya menyerah dengan minum obat: kalau udah terlanjur parah. Wkwkk. Kalau pusingnya nggak ketulungan atau  panas tubuh nggak segera mereda, saya akan segera minum sebutir obat. Kemudian.. tidur. Atau waktu kasus saya kena biduran, di hari kedua yang saya kira rasa gatal itu akan hilang –ternyata malah nambah parah-, membuat saya pada akhirnya mau juga ke klinik dan minum obat. Hasilnya? CTM nya bikin teller :D. Haha. Kemudian saya tidur dan.. jadi agak baikan. Haha. Alhamdu..lillaaahh

  1. Jangan dicela, syukuri saja

Sakit, sehat, senang, sedih datangnya dari Yang Maha Kuasa. Maka, jangan sekali kali mencela sakitmu (doakan juga agar cepat sembuh). Justru sakit adalah pengurang dosa. Maka, ganti umpatan kita dengan syukur hamdalah karena bisa merasakan sakit. Kalau udah pernah ngerasa sakit berarti tahu syukur nikmat sehat. Syukur bahwa saya kena diare pas weekend. Untung saya kena diare bukan dalam perjalanan saya kerja, untung saya sakit tapi cucian udah pada kering. Untung saya sakit tapi warung yang jual makanan deket. :D.

  1. Telepon orang tercinta

Percaya nggak percaya, salah satu penyebab sakit adalah kangen, haha. Kalau sudah begini, saya akan segera menelepon rumah untuk sekedar menanyakan kabar. Berbicara dengan orang rumah meski sebentar cukup meringanan rasa kangen yang menyebabkan saya sedikit lebih cerah ceria dan kemudian sembuh seperti sediakala 😀

Dan.. rasanya sakit sendirian itu.. ehem banget. Maka, bersyukurlah diberi nikmat sehat.

Halo Halo Bandung

Semua orang berubah? Iya. Pasti. Semua orang berdinamika? Tentunya. Tidak ada yang tidak mengalami dinamika dalam hidupnya. Semua orang tidak mungkin menjalani hidup mereka dengan sama. Bahkan banyak dari kita yang berpindah kemana mana dan menjalani hidup yang berbeda setelah tinggal di tempat yang tak lagi sama. Lingkungan baru, norma baru, orang orang baru, butuh penyesuaian.

Bulan ini enam bulan saya tinggal di Bandung. Setengah tahun sejak saya meninggalkan Jogja, kota yang sudah lima tahun saya ditempa dan layaknya sebuah pohon yang menuju dewasa saya berkembang disana. Lima setengah tahun sejak saya meninggalkan Salatiga, kota dimana layaknya benih saya tumbuh hingga jadi tanaman muda yang siap untuk menerima cahaya mentari dan hujan.

Di awal awal saya tinggal di Bandung, dimana penuh dengan drama, saya belum bisa menerima sepenuh hati kenapa saya ada di Bandung. Dan ada kecenderungan “Tuhan.. kok Bandung sih.”, “kenapa disini?”. Dan saya merutuki diri saya sendiri, mencari banyak hal dari Bandung yang bisa dicacat kareana saya merasa nggak attach dengan Bandung. Nggak familiar dan nggak begitu suka. Akhirnya saya merasa kurang betah. Saya pun jadi lebih sering pulang ke rumah (jika dibandingkan dengan dulu ketika saya masih di Jogja) bahkan lebih menyukai jika saya dapat dinas luar Bandung selama beberapa hari. Dengan begitu, saya bisa keluar dari Bandung.

Tapi rasa rasanya saya merasa tertampar karena sebuah kota lain bernama: Jakarta. Jarak Bandung dan Jakarta hanya tiga jam dengan kereta. Selain untuk urusan pekerjaan, saya mengunjungi ibukota karena banyak kolega yang tinggal di Jakarta. Sebagian besar mereka adalah perantau dari daerah seperti saya. Mereka adalah anak anak rantau yang sekarang jadi anak ibukota. Mengunjungi ibukota pun bukan kali pertama buat saya. Di tahun tahun belakang, saya pernah kesana. Impresi saya pun ternyata tetap sama dari awal pertama: saya tak suka. Bahkan saya mulai berbalik mencintai Bandung dan semakin tak menyukai ibukota.

Ibukota negeri kita memang menawarkan banyak akses dan kemudahan. Mau cari ini itu ada. Semua barang hampir selalu berawal di Jakarta (selain Batam). Jadi, trend kekinian hampir selalu identik dengan kota metropolitan Jakarta. Jakarta juga yang menjanjikan nasib manis untuk para perantau yang mencari rupiah untuk keluarga (tidak munafik, kita bekerja juga karena kelangsungan keluarga). Maka, jutaa orang mengadu nasib di petak kecil Jakarta seolah uang dari ibukota adalah satu satunya solusi. Mereka rela tinggal di gubuk gubuk kecil berseng yang berkarat dengan sanitasi yang naudzublillah joroknya dan makan yang penting kenyang tanpa berpikir bahwa yang mereka makan adalah makanan yang tidak sehat. Yang terpikir oleh mereka hanyalah bagaimana bisa berjuang untuk hidup hari ini dan besok hari. Syukur syukur bisa mengirimi uang untuk keluarga di kampung. Sungguh penderitaan perjuangan untuk keluarga yang patut diapresiasi.

Tapi.. Jakarta jahat. Ia menikam dengan airnya yang tak manusiawi. Dengan udaranya yang bercampur dengan ujian Tuhan akibat ulah manusia bernama: polusi. Bagaimana bisa Tuhan menciptakan kekuatan untuk mahluk mahluknya untuk dapat betah tinggal disini. Udara panas karena dua hal; cuaca pesisir dan panas karena persaingan, dengan orang orang yang tak peduli dengan sampah yang berceceran, tak peduli dengan najis dan kotoran di dekatnya padahal ia harus bersujud menghadap Tuhannya dalam keadaan suci. Semua menghalalkan segala cara yang penting bisa hidup.

Dengan tuntutan hedonistik akibat hukum penawaran permintaan mahluk mahluknya. Ia menendang siapapun yang tak punya prinsip: ora obah ora mamah (Tidak berusaha maka tak bisa makan) tanpa ampun. Belum tentu juga orang lain akan membantu memberi makan. Mereka yang hidup di sekitarnya saja belum tentu punya makan. Maka, ia tak punya empati. Menjadi individual. Ia menghajar siapapun yang dianggap tak punya keahlian lebih dari lainnya. Leleh luweh liyane ora oleh, sing penting awak dewe kudu oleh (Tidak peduli jika orang lain tidak mendapatkan asalkan kita bisa dapat kesenangan). Ia memaksa untuk membeli dan terus membeli dengan alasan agar tak ketinggalan jaman. Dan kemudian yang tersisa adalah: kehampaan karena melupakan Tuhan. Kealpaan karena terlalu sibuk mengejar dunia.

Dan saya selalu termenung sedih. Duh Gusti.. Mengapa saya tak bersyukur. Mengapa saya masih mengeluhkan tentang saya yang sudah dapat tempat yang nyaman dan menyenangkan. Bandung sudah ditakdirkan untuk saya mulai belajar kerasnya pekerjaan. Jika saya dulu ternyata ditempatkan di Jakarta, mungkin sekarang setiap hari bahkan setiap menitnya bibir saya membuat dosa karena mengumpati nasib saya. Jika saya ditempatkan di Jakarta, mungkin saya tidak akan punya kesempatan untuk belajar bahasa dan budaya Sunda. Semakin saya belajar bahasa daerah, semakin saya merasa kecil karena ternyata Indonesia amat sangat kaya budaya. Jika saya ditempatkan di Jakarta, mungkin saya tidak akan mengalami plesiran plesiran saya ke tempat tempat catchy dengan makanannya yang beraneka rupa kekinian dimana semakin menguatkan saya suatu saat untuk belajar masak –semakin memberi semangat agar suatu saat saya bisa membuka usaha kuliner yang juga bisa menjadi ladang rezeki bagi orang yang membutuhkan lapangan pekerjaan-.

Mungkin saya tidak akan belajar bagaimana mengembangkan ide ide segar layaknya anak anak Bandung yang penuh dengan inovasi. Jika saya ditempatkan di Jakarta, mungkin saya yang tipikal emosional ini akan lebih uring uringan karena harus berangkat subuh pulang malam karena rutinitas yang membunuh. Ternyata tekanan kerja di tempat saya belum ada apa apanya daripada tekanan kerja yang pastinya lebih tinggi di ibukota. Rutinitas Bandung yang lebih selow membuat saya ternyata lebih nyaman dan tidak menjadikan uang sebagai Tuhan. Jika saya ditempatkan di Jakarta, mungkin fisik saya sudah drop karena makanannya tidak sesehat di Bandung. Jika saya ditempatkan di Jakarta, mungkin saya tidak akan belajar fashion (karena Bandung kota fashion). Jika saya tinggal di Jakarta, mungkin saya hanya akan tahu satu tempat gahol saja: mall, mall dan mall. Dan saya akan dibunuh bosan karena hedonistik yang ditawarkan oleh mall. Samasekali tidak ramah wong cilik dan membosankan. Padahal di Bandung saya bisa dapatkan banyak hal seperti di Salatiga dan Jogja. Kalau mau ke mall, ada banyak tempat, tapi kalau ingin merasakan indahnya pemandangan, Bandung masih menawarkan keasrian. Bandung masih berbaik hati dengan kederhanaan sunda rasa kosmopolitannya. Saya masih bisa nongkrong di mall tapi juga bisa menemukan interaksi tulus dari alam dan manusianya. Jika saya tinggal di Jakarta, mungkin saya akan merasa sepi dan berlagak ke-Jekarda Jekardaan seperti yang saya temui pada beberapa kolega saya yang dulu saya kenal sebagai bocah ndeso sama seperti saya juga. Mungkin saya akan kehilangan kesederhanaan ala ndeso yang saya punyai (karena saya anak desa. Saya tinggal di desa dan saya bangga jadi anak desa meskipun saya besar di perkotaan). Mungkin beberapa kolega saya yang datang dari luar kota akan bermuka sedih karena melihat saya yang kehilangan apa adanya saya. Dan banyak perbedaan lainnya.

Dan saya pun menerawang di bulan Agustus tahun lalu, saya termenung kepanasan di sela menanti bis transjakarta di sudut Harmoni yang selalu penuh pekerja. Muka muka masam, letih, sangat terlihat bahwa mereka ingin segera pulang dan setidaknya merasakan tamparan angin AC buat yang mampu beli AC, atau kipas angin buat masyarakat kelas menengah atau hanya angin cendela untuk mereka yang tak bisa membeli keduanya. Kemudian rutinitas mereka adalah istirahat di akhir pekan atau nongkrong seharian di weekend selepas bekerja. Balas dendam untuk kerja rodi selama hari kerja.

Rasa rasanya semua orang ingin bekerja kantoran. Lalu siapa yang menanam padi. Jika semua orang kerja di kantoran, siapa yang mengolah beras jadi nasi?. Orang bisa makan nasi, tapi tak akan mungkin akan kertas kantor. Mungkin tak ada yang peduli dengan musnahnya tangkiang tangkiang di pulau Jawa dimana tanahnya telah tumbuh beton, bukan lagi bulir bulir padi yang siap memenuhi bakul di meja makan. Dan rasa rasanya saya lebih rela untuk pulang ke desa, bertanam padi daripada harus mati mengais sebutir nasi di ibukota yang kejam. Serupiah dua rupiah yang didapatkan di ibukota belum tentu bisa membuat hati manusia bahagia. Dan saya lebih bahagia duduk di tangkiang sambil melihat tanaman padi menari nari ditiup angin sepoi sambil menikmati rantang rantang nasi yang dibawa dari rumah. Dan kenyataannya.. lahan di rumah pun hilang berganti dengan beton beton. Maka, sirna mimpi saya. Saya harus kembali pada kenyataan bahwa takdir saya adalah menjadi seorang pekerja yang bercita cita banyak. Dan mungkin Bandung bisa memberikan saya tempat untuk belajar menanam sayuran. Ya.. meski saya tidak bisa bertani sekarang, setidaknya saya menanam benih cita cita dan rajin memupuknya dengan semangan dan doa. Mungkin suatu saat akan ada sebuah ladang dimana tumbuh tanaman yang memberikan manfaat bagi orang yang memetiknya.

Saya bangun dari tidur saya yang tak nyenyak dan mulai menerima diri saya tinggal di Kota Kembang. Pada akhirnya saya menantang diri saya sendiri untuk bisa menerima dan berdamai dengan takdir serta Bandung. Fabayiiaaala irobbikuma tukadziban-maka, nikmat Tuhan manakah yang saya dustakan. Dan saya masihlah hamba yang tidak bersyukur. Yang hanya bisa merutuki diri saya sendiri atas takdir yang telah digariskan. Duh Gusti.. nyuwun pangapura.

Hai Bandung.. ini Cicik. Dan terimakasih sudah menerima saya. Saya sudah bisa berdamai dengan dirimu dan segala permasalahan dan kebaikanmu. Dan saya mulai menyamankan diri di tengah dingin dan asrimu yang mirip dengan Salatiga dan metropolismu yang masih mengingatkan saya pada Jogja. Tetaplah berdamai dan mari belajar serta bertumbuh bersama. Entah kapan saya akan berpisah denganmu, maka saya tak akan berhenti belajar dan belajar untuk tetap sederhana. : )

Blog Istiqomah

WordPress mengirimkan notifikasi ke laman saya “Selamat Ulang Tahun yang Ke Tiga Tahun”. Tidak terasa sudah Februari yang ketiga, saya ngeblog secara istiqomah. Haha.

Kenapa saya ngeblog?

Ada beberapa alasan kenapa saya hobi banget nyampah di blog saya sendiri. Pertama, tentang petualangan. Pada awalnya saya mendedikasikan blog ini untuk tempat nyampah saya kalo bepergian. Saya suka sekali menulis. Well.. menulis untuk diri saya. Menulis sampah maksudnya. Hehe. Saya terbiasa punya diary sejak kecil. Blog pun saya punya banyak, tapi semuanya wasalam. Tutup lapak semua. Haha. Dan baru tiga tahun lalu saya konsisten menggunakan laman ini untuk curhat menye menye soal hidup saya. Haha. Berawal dari petualangan saya selama setengah bulan tinggal di Desa Batursari, desa terakhir sebelum hutan taman nasional Gunung Slamet. Benar benar petualangan karena jauh dari rumah, berbaur dengan warga, merasakan bagaimana rasanya menjadi antropolog. Emejing menurut saya. Saya cuma ingin menceritakan pengalaman tersebut secara publik. Tidak seperti diary yang dibuat untuk dijadikan rahasia, maka blog adalah tempat untuk nyampah dan semua orang bebas melihat (kecuali kalau diprivat. hehe). Maka saya ingin petualangan saya ada yang membaca. Sekaligus ingin memberitahukan pada dunia bahwa ada satu desa di lereng gunung sana. Sebuah desa biasa yang belum tentu di google pun ada yang nulis. Saya ingin jika ada seorang anak desa itu yang suatu saat pergi ke kota dan browsing nama desanya, ada yang mengulas meskipun hanya sedikit. Mungkin ia berbahagia karena ada orang lain yang menceritakan tentang desanya. *terharu.

Kemudian karena inspirasi. Bu Muji, guru geografi saya waktu SMP “coba kalau nenek moyang kita mendokumentasikan perjalanan mereka ke Madagaskar. Mungkin kita sudah dianggap sebagai penemu Afrika.”. Pak Budi, guru geografi di SMA pun bilang hal dengan makna yang sama “seandainya kita adalah bangsa yang mengikat ilmu dengan menulis. Semua hal yang terdokumentasikan akan jadi saksi sejarah”. Maka, saya pun ingin menorehkan sejarah hidup saya sendiri. Menceritakan petualangan petualangan yang saya alami selama mengarungi dahsyatnya ombak kehidupan *duh deeekkk.

Orang ketiga adalah ayah dan ibu saya. Mereka adalah petualang muda ketika masih muda. Pergi kemana mana, banyak teman dan penjelajah. Saya pun ingin juga main kemanapun saya suka. Haha. Intinya seperti itu.

Lalu, para traveler yang membangkitkan semangat saya untuk bercita cita keliling nusantara dan dunia. Andrea Hirata ada di list pertama traveler favorit saya. Saya tidak pernah tahu sudah sampai mana dia berjalan jalan di muka bumi. Tapi buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi mengobarkan semangat saya sampai seribu persen. Perjalanan Andrea dan Arai di Eropa, dengan segala pahit manisnya merantau di negeri jauh dan perjalanan backpacker mereka yang juga ditempuh dengan susah payah hingga ke Afrika hanya untuk dua hal: makna hidup dan pencarian cinta. Ditulis dengan gaya sastra yang melayu banget lah, tapi menggetarkan semua pemimpi. Aku ingin bercita cita menjadi seorang petualang!. Saya mau jadi turis.

Juga Agustinus Wibowo.  Baik Andrea Hirata ataupun Agustinus Wibowo, keduanya saya pernah berjumpa. Bahkan dengan Agustinus Wibowo saya pernah berbincang (Kalau sama Andrea cuma liat doang karena semua warga merangsek nggak tertib. Hiks). Dan.. sumpah saya kehilangan kata kata. Nggak bisa ngomong apa apa. Ya ampun.. ini beneran aku ngobrol sama Gus Wen? Ya ampun.. mimpi apa aku.. Duh.. pengen banget tanya tanya tapi kenapa nggak bisa ngomong gini. Dan saya hanya bisa merutuki diri saya sendiri karena ketololan saya. Dan.. ah.. sudahlah.. demam. Hiks.

Baik Andrea maupun Gus Weng memiliki karakteristik tulisan yang berbeda. Kalau Andrea sastra dengan bahasa yang meliuk liuk dengan simbol tokoh dalam novel, Gus Weng bercerita seperti diary dalam kehidupan nyata. Lugas, tegas dan tokoh yang ada dalam bukunya adalah sudut pandang dia sendiri sebagai penulis. Dua duanya menceritakan Indonesia dengan caranya masing masing. Nasionalisme dan patriotisme dari perjalanan hidup yang mencerahkan bagi siapa yang membacanya. Bikin saya semakin cinta sama negeri saya.

Sebenarnya selain dua itu masih banyak penulis dan blogger lain yang menginspirasi saya. Entah itu blognya temen kayak punya Shabrina Hazimi, Mas Afrizal Lisdianta, Mas Anggara, Mas Sweta Kartika (dia bukan blogger sih. Tapi ilustrator), Mutiara, Fitria Aulia atau nemu blog profesional kayak punya mbak Grace, Mbak Windi, dan banyak yang lainnya.

Dan.. saya pun ketularan pengen jadi penulis. Haha. Sayangnya, lima tahun jadi anak sastra ternyata membuat saya semakin menyadari bahwa saya suka sastra tapi tidak mencintainya. Saya suka membaca buku tapi tidak benar benar ingin mendedikasikan hidup saya untuk itu. Puyang saya mendirikan sekolah dan ayah saya melahap habis semua buku buku di rumahnya. I did what my father did. Tapi cinta saya pada alam dan petualangan. Maka sama sepertinya, saya mencintai petualangan petualangan dalam hidup dan alam. Jadi anggaplah saya membuat blog karena saya ingin mengabadikan pelajaran yang saya dapatkan selama saya bepergian atau katakan mengkristalkan pemikiran pemikiran sampah saya sekaligus melestarikan ilmu sastra (walaupun jelas jelas tulisan saya nggak nyastra samasekali. Lebih ke tulisan awut awutan yang ala ala saya. Dan kalau ditanya style apa saya menulis, saya tidak bisa menjelaskan. Haha. Jangan tanya soal kaidah kaidah penulisan. Tulisan saya jelas masih banyak cacatnya dan saya masih berusaha selalu memperbaiki. Tapi diluar konteks gramatika, dan segala tetek bengek teknis, saya hanya menulis apa yang saya ingin tulis dan saya ingin cerita cerita saya jadi muhasabah untuk orang orang yang mampir untuk membaca.

Saya sudah bukan anak alay yang hobi nyampah di media sosial. Semua orang yang sudah berkepala dua pasti pernah mengalami masa alay di jamannya. Maka, saya pun mengakui kalau saya mantan anak alay. Salah satu ciri anak alay adalah hobi posting banyak hal nggak penting. Entah itu sekedar nyampah atau cari perhatian. Nah.. karena sudah bukan masanya lagi, maka saya mendedikasikan gemulai jari saya pada media sosial bernama blog, dimana blog itu adalah rumah bagi para pemiliknya. Mau nyampah kayak apapun, suka suka yang nulis dong. Mau sedefensif atau seinformatif apapun, setidaknya dia nyampah dengan bebasnya. Beda dengan facebook, twitter atau lainnya. Kita bikin status apa, yang kesindir siapa. Kita nulis buat siapa, yang ge-er siapa. Emang blog nggak ada potensi buat ngajakin berantem gitu kayak di fesbuk atau twitter?. Tentu saja ada. Tapi di blog, kita bisa lebih bebas buat mengungkapkan banyak hal. Salah satu faktor yang bikin orang merasa tersindir di fesbuk adalah kenyataan bahwa terkadang orang menulis dengan singkat. Sekalimat dua kalimat yang tidak dijabarkan, dengan konteks yang bikin blur. Maka, wasalam. Kita bikin status buat siapa yang kena siapa. Bikin tulisan untuk apa, yang berbunga bunga siapa. Cape deh. Toh, blog juga tidak seupdate media sosial. Jadi, orang tetap butuh waktu untuk membuka, mencari dan membaca hingga tuntas. Tidak seperti media sosial lain yang asal scrol, ribuan orang di jagad muncul semua beritanya.

Alasan yang agak ”berat”, saya masuk pada fase muhasabah. Ketika ketertutupan menjadi sebuah identitas, nampaknya hal itu tidak serta merta bikin keren. Terlalu tertutup pun tidak baik. Terlalu terbuka apalagi, tambah tidak baik. Haha. Maka, saya pun mencoba sedikit terbuka dengan menuangkan pemikiran pemikiran (apalagi ini tergolong kategori blog curhat. Haha). Membuka aib? Tidak juga. Kan tergantung sudut pandang orang yang membaca. Apalagi semua yang saya ceritakan disini kebanyakan adalah sudut pandang saya. Ini blog saya, ya suka suka saya mau diisi apa. Haha. Tapi bukan itu poinnya. Saya hanya ingin mendokumentasikan cerita dan pemikiran. Barangkali bisa menjadi muhasabah buat yang baca (kalau ada yang baca. Haha). Jika ada orang yang mungkin terinspirasi dan bisa mengambil pelajaran hidup saya, nampaknya saya pun sudah melakukan amalan baik. InsyaAllah berpahala.

Dokumentasi buat anak cucu. Ketika nanti anak anak saya sudah besar, dan jika mereka menemukan blog saya, akan jadi pelajaran juga buat mereka. Ibunya punya sebuah diary di dunia maya yang banyak memberi cerita. Oh, gini toh masa muda ibuk saya. Bla bla bla. Seneng aja jika mereka suatu saat menemukan. Juga, dokumentasi untuk siapapun yang pernah mampir di kehidupan saya. Jika mereka sudah beranjak menua, dan ingin bernostalgia pada masa lampau dan tetiba menemukan tulisan atau foto di blog saya. “Eh, ternyata aku pernah main kesana ya.”, “Ini kan temenku waktu jaman susah dulu”, “ya ampun, dulu ternyata kita segila itu ya. haha”, “ada fotokuuuu.. eh aku dulu culun beuuddd”, “apa kabar ya temen temenku dulu” dan banyak hal lain yang bisa diingat.

O, ya nemuin bahwa tulisan atau foto dalam blog kita digunakan oleh orang lain sebagai referensi itu sesuatu yang bikin terharu. *mewek bombay. Saya pernah memberikan referensi blog saya pada beberapa teman yang memang membutuhkan data saya sebagai salah satu bahan penelitian. Sungguh sebuah hal yang remeh. Dan belum tentu juga dia pakai data saya. Tapi tahu kalau mungkin data saya dibaca dan mungkin berguna dan bisa membantu, rasanya bahagia sekali bisa membantu walaupun cuma hal remeh. Saya pun pernah menemukan bahwa beberapa foto di blog saya dipakai orang lain sebagai sumber (dan dia menyertakan sumber pengambilan gambar). Dan.. senangnya. Ada orang yang menjadikan rumah kita sebagai referensi tapi tetap mematuhi kode etik jurnalisme. Bahwa kalau memang mensitasi harus menyebutkan sumber agar tidak dianggap plagiarisme.

Selama ini saya belum pernah memonetize blog saya. Dulu pernah pakai platform blog*spot yang sebenarnya lebih mudah dimonetize. Tapi saya menyerah karena belum istiqomah. Kemudian saya berpindah ke wordprezz yang menurut saya lebih simpel untuk saya yang gaptek. Dan.. kabar buruknya (atau saya yang emang belum tahu ilmunya) susah untuk dimonetize. Saya pun memang tidak mendedikasikan blog saya untuk dimonetize. Wong niatan awalnya adalah untuk nyampah. Haha. Jika syukur syukur suatu saat saya bisa dapat uang dari ngeblog, ya rejeki. Haha.

Dari semua blog yang saya punya, ini yang paling catchy namanya. Yang lain jangan tanya. Alay semua. haha. Perseagreen. Green artinya hijau. Dan hijau adalah warna surga (mengutip dari kata ibu saya). Sementara Persea adalah nama latin dari satu satunya pohon alpukat yang ditanam bapak dulu kala ketika saya masih sangat kecil. Ayah saya mengharamkan pohon itu untuk ditebang. Ya karena menyimpan kenangan (dan masih produktif berbuah juga). Makanya saya sayang sama pohon alpukat itu. Apalagi buahnya ranum kuning dibungkus kulit yang hijau segar. Tapi saya nggak suka ulat ulatnya yang suka hinggap dimana mana. Selain bikin gatel, bikin saya gampang kagetan. Eh, tahu tahu nongol di dekat sandal, di atas panci, di gagang pintu, bahkan di baju. Pernah juga di bantal dan akhirnya saya berteriak saking shocknya. Mungkin bagi sebagian orang lebai. Tapi saya beneran saya jadi gampang kaget gara gara ulat yang sering bikin saya kaget ketika saya kecil. Makanya saya nggak suka dengan ulat. Apalagi ulat alpukat. Dan inilah alasan kenapa sampai sekarang saya akan berteriak jika saya kaget. Haha. Tapi habis musim ulat kelar, kupu kupu gajah (attacus atlas) bermunculan dengan cantiknya. Sedikit selingan. Baiklah, kita kembali ke topik.

Pohon alpukat itu tidak hanya berbuah. Tapi juga sebagai penaung dan penjaga air. Daun daun dan rantingnya memberi keteduhan pada sebagian area rumah kami. Sekaligus ia menjadi penahan erosi dan menahan air di sumur samping rumah yang meskipun airnya keruh kalau musim hujan, setidaknya ia bisa memberi minum ternak ternak kami yang kehausan. Jadi.. buat saya alpukat itu adalah sesuatu yang bersejarah. Ditanam ketika saya masih kecil dan kehadirannya memberikan manfaat. Dan.. perseagreen ini saya harapkan untuk menjadi media bercerita dan memberi manfaat. Dan dari sanalah saya mencoba untuk istiqomah.

Menulis itu membuang emosi dan media memetakan masalah. Memang tidak serta merta menyelesaikan masalah. Tapi bisa menjelaskan kepada diri kita sendiri secara gamblang dimana posisi kita, apa detail masalahnya, kita harus apa, resiko dan keuntungan jika melakukan suatu alternatif penyelesaian, tentang apa yang bisa kita lakukan dan tidak bisa dilakukan dan banyak hal lainnya.

O, ya bonusnya dari menulis adalah bisa ngetik dengan sepuluh jari. Haha. Nggak penting banget. Tapi itulah kenyataannya. Jangan tanya darimana saya bisa ngetik dengan menggunakan hampir sepuluh jari, tanpa melihat keyboard pula. Ya, walaupun tetap sesekali bisa melihat keyboard, tapi kecepatan pengetikan saya diatas rata rata. Teringat dulu saya dipaksa ibu saya untuk menggunakan mesin tik yang buat ngetik aja ngabisin energi dua piring nasi. Belum lagi salah salah. Duh deeekkk.. nggak praktis. Dan.. kemudian saya ogah lagi belajar ngetik sepuluh jari. Orang jaman udah komputer, ya belaajr aja ngetik di komputer. Haha.

Fiuuuhh.. ternyata panjang juga saya cerita ya. semoga menginspirasi!. Keep write, keep inspire.

Mabok Darat

Ternyata sudah hampir enam tahun saya merasakan menyebalkannya mabok darat. Ya.. apalagi kalau bukan serangan mual dan terkadang pusing gara gara perjalanan menggunakan transportasi darat khususnya bis dan mobil. Sedih yak.. haha. Padahal dulu sampai saya SMA saya selalu baik baik saja kalau masuk mobil atau transportasi umum lainnya.

Hey.. kenapa enam tahun? Well.. ini dimulai ketika saya mulai pindah ke Jogja. Transportasi umum di Jogja sungguh parah. Angkot nggak ada, isuzu jarangnya minta ampun dan hanya ada bis transjogja yang luamanya minta ampun dan kondisi bis yang jauh dari oke (belum lagi sopirnya sering ugal ugalan). Yang parah adalah bau AC (atau apa ya istilahnya. Kondisi udara dalam mobil yang tercampur dengan dinginnya AC? Hah.. sudahlah. Intinya begitu) membuat saya harus menutup hidung saking tak tahannya. Pengen muntah. Itu aja.

Kalau dulu pas awal awal masih oke. Tidak terlalu bermasalah. Saya hanya mengalami mual satu dua kali. Selebihnya tubuh masih bisa menjaga kodisi dirinya. Dan.. mual saya berlanjut juga ketika saya naik mobil. Entah kenapa terkadang, bau ruangan dalam mobil juga mempengaruhi stabilitas dalam diri. Halah.. opotoh. Haha. Yang jelas, saya kadang tidak tahan juga dengan bau AC dalam mobil. AC, tambah pengharum ruangan yang memicu mual. Udah.. wasalam. Sepanjang jalan saya cuma bisa ‘bercadar’ dengan selendang kerudung saya. Terkadang saya bisa sedikit tahan, tapi lebih sering tidak. Hiks.

Well.. menurut pengalaman saya ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menanggulangi mabok darat.

Menutup hidung

Jangan cuma pakai tangan. Pegel cyin.. Setidaknya pakailah kain baik itu slayer, selendang atau apapun yang bisa menutup hidungmu. Kalau saya sih kadang juga menetesi slayer saya dengan baby perfume. Better cuy rasanya.. saya sering berkelakar dengan diri saya sendiri: rasanya seperti mencium bau surga *karena nama parfum bayi yang saya gunakan waktu itu Jo*hnson heaven. Haha

Matikan AC dan buka jendela mobil

Ini cara paling efektif. Namun, siap siap kalau temen temen semobil pada komplain. Haha. Maka, lebih baik jika kompromi dulu sama temen temen sebelum kita memutuskan untuk buka jendela dan mematikan AC. Tapi kalau di bis, dimana kacanya tidak bisa dibuka, setidaknya kita bisa mematikan AC yang ada di atas tempat duduk kita.

Mencium sari jeruk

Jangan heran jika saya bepergian, akan ada satu buah jeruk atau sekedar kulit jeruknya saja. saya suka aroma sitrus (jejerukan) kecuali parfum ruangan rasa jeruk. Weww.. I hate it much karena Trans Jogja banyak menggunakan aroma parfum jeruk yang kemudian bercampur dengan aroma AC dan aroma warga. Membuat saya tidak tahan berlama lama di dalam bus.

Aroma jeruk akan menguar dari kulitnya jika kita melukai kulit jeruk kemudian mengoleskannya di kulit. Walaupun tak begitu lama, tapi cara ini sedikit ampuh mengurangi rasa mual.

Minum tolak angin

Cara ini lumayan ampuh untuk mengusir mual sekaligus meredakan masuk angin. Bisa diminum langsung sesachet, bisa juga perlahan lahan. Saya sih lebih suka untuk menikmati perlahan lahan biar hangatnya tahan lebih lama di mulut.

Tidur

Tidur sedikit banyak membantu tubuh untuk melupakan hasrat ingin muntah. Tapi yang sedih adalah kalau pas kita kebangun dan perut ternyata nggak bisa diajak kompromi. Duh deeekk.. haha.

Ngobrol

Percayalah ngobrol tidak serta merta membuatmu melupakan keinginan muntah. Tapi ngobrol bisa sedikit melupakan keinginan tubuh buat memuntahkan isinya. Tapi ya kalau pas jeda ngobrol masih membaui AC dan ingin muntah, lebih baik bukalah sedikit jendela mobil atau bercadar lagi.

Muntahkan

Cara ini adalah cara terbaik dari semua saran yang ada. Haha. Nah lho.. punya beban di perut, terus dimuntahin. Gimana nggak lega dong perutnya. Kalau malu untuk muntah di bis (dan rasa mualnya bisa ditahan) maka muntahkan di luar ketika turun dari bis. Dulu nggak begitu sering muntah sih karena mualnya bisa ditanggulangi. Bahkan saya tidak muntah sama sekali kecuali jika memang cuaca tubuh saya memang sedang drop.

Tapi semenjak saya tinggal di Bandung dan pulang berkerta semalaman kemudian lanjut ngebis ke kota saya, ritual yang hampir sering saya lakukan setiap kali turun bis menuju Salatiga adalah: muntah. Terkadang saking parahnya, saya hanya memuntahkan cairan berwarna kuning yang rasanya pahit dari lambung. Saking kosongnya perut karena nggak makan. Ya gimana mau makan, di perut aja rasanya udah berjuta rasanya. Mana bisa kita ngasih makan perut waktu ada pergolakan kayak gitu. Haha. Bahkan pasca muntah pun saya tidak serta mau langsung menerima makanan. Tubuh butuh toleransi sebelum ada asupan makan lagi. Ini sih kalau saya. Hehe. Tapi biasanya saya akan segera minum air yang ada rasa rasanya. Ya mau gimana lagi, cairan lambungnya pahit. Air putih aja rasanya masih kurang. Setidaknya untuk membuat netral mulut sekaligus memberikan gula sementara pada tubuh. Biar jadi energi sebelum bisa dimasuki makanan. Baru setelah dijeda beberapa waktu, tubuh bisa kembali makan. Dan.. rasanya far better. Lega luar biasa.

Sampai sekarang saya belum menemukan cara terampuh untuk mengatasi rasa mual mabok darat secara tuntas. Ya paling paling cuma bisa menahan mabok darat dengan cara preventif di atas. Selebihnya, ah entah sampai kapan saya mau mabok darat. Haha. Positif thinking-nya sih, itung itung latihan sebelum saya mengalami morning sickness di awal kehamilan. Nanti.. kalau udah nikah. Haha.

Senangnya Didongengin

Jeng jeng jeng.. Part II. Kali ini saya mau mendongengkan kembali dongeng dongeng yang saya dapatkan selama jadi akamsi (anak kampung sini) Planjan. Dongeng tak cuma asal usul terjadinya sesuatu. Tapi dongeng mengajarkan kearifan lokal, penglipur lara, bahkan sejarah. Dan.. rasanya senang sekali mendengarkan para tetua desa ini bercerita. Bak kakek yang mendongengi cucu cucunya untuk pengantar tidur..  Ah.. senangnya..

Bapak Soegiyono, bapak kepala desa kami tersayang, menceritakan mengenai asal usul Desa Sumber dan berbagai dongeng lainnya. Dari bapak ini, kami mendapatkan banyak sekali berita mengenai cerita cerita di daerah pesisir selatan Yogyakarta.

Legenda Desa Planjan

Legenda Desa Planjan. Dahulu ada dua orang kakak beradil yang tinggal di dekat hutan Gebang di daerah ngresik. Adiknya meminta untuk pulang akan tetapi kakaknya masih ingin untuk memetik cabai yang dikiranya masih merah padahal cabai yang ia kira adalah badan macan yang loreng loreng. Kemudian si kakak dibawa lari oleh harimau tersebut. Adiknya pulang ke desa dan melapor pada warga setempat. si gadis bercerita bahwa ia tidak dimangsa akan tetapi ia hanya dituntun oleh seorang laki laki yang mengajak untuk bertandang ke rumahnya. Disana ia disuguhi makanan akan tetapi gadis itu tidak memakannya. Warga melakukan pengejaran hingga ke sebuah bekas pohon besar dan akhirnya menemukan gadis tersebut. Macan dikepung dan lari kencang hingga ke sebuah batu bernama batu lawang. Disana harimau terkepung. Cerita selanjutnya tidak dilanjutkan. Akan tetapi daerah dimana harimau lari dan akhirnya terkepung dinamakan playune macan yang kemudian disebut Plancan dan lama kelamaan menjadi Planjan.

Pantai Baron dan Brawijaya

Dahulu kala, ada seseorang mengukup (mengambil dengan menggunakan kedua tangan yang ditangkupkan) dan jadilah seorang bayi. Maka dari itu pantai dimana seseorang mengambil air dinamakan Pantai Kukup. Bayi tersebut bermain main di daerah Baron, maka namanya disebut dengan Baron Sekeder. Suatu hari, bayi menanyakan siapa ayah, ibu dan saudara saudaranya. Dalam bahasa Jawa, saudara berarti kadang. Dalam terminologi bahasa Jawa, kadang diberikan imbuhan -em sehingga menjadi Kemadang. Nama tersebut menjadi nama Desa terdekat dengan wilayah Pantai Baron.

Daerah pesisir selatan Jawa dipercaya menjadi salah satu tempat bersejarah bagi tokoh tokoh legenda pulau Jawa. Di zaman keruntuhan Majapahit, Brawijaya dan putranya berseteru terkait persoalan kepercayaan. Brawijaya tidak mau menjadi seorang Muslim sedangkan anaknya ingin mengislamkan ayahnya tersebut. Brawijaya berlari menghindari putranya sampai ke pegunungan di Klaten dan sampai ke pesisir selatan pulau Jawa. Ia sampai di daerah Desa Gebang, daerah Baron. Pada jaman itu sudah ada perayaan rakyat yang dinamakan Rasulan. Warga menanggap wayang yang dilakukan semalam suntuk. Ketika penonton sudah berkumpul banyak, sayang sekali dhalang yang seharusnya memimpin pertunjukan tidak muncul. Brawijaya akhirnya mau menggantikan dhalang yang tidak datang tersebut. Di tengah tengah pertunjukan, ia merasakan bahwa kendhangan dari gamelan terasa berbeda dari yang telah ia rasakan setengah pertunjukan sebelumnya. Brawijaya menengok ke belakang dan kagetlah ia mendapati putranya telah ada di belakangnya menjadi pengendhag. Kemudian Brawijaya menghilang tiba tiba. Ia pergi ke Mojojerit kemudian ke Pantai Ngobaran. Di pantai tersebut ia bertapa di sebuah petilasan dan melakukan Pati Obong. Permaisurinya juga melakukan pati obong. Sedangkan seroang selirnya yang bernama Dewi Puyangan berjalan menyusuri pantai. Bekas tapak kakinya menjadi kayu Lohdrini. Sampai sekarang warga masih percaya bahwa wanita tidak boleh melangkahi kayu Lohdrini.

Cuma sampai disitu saja cerita tentang Brawijaya. No. Bapak yang kira kira usianya mencapai delapan puluh tahun itu melanjutkan ceritanya.

Ratu Brawijaya menyamar menjadi lurah di Sawojajar. Ia sengaja melakukan kesalahan sehingga dihukum gantung. Akan tetapi hanya tertinggal iket kepalanya saja. Ia menghilang dan menjadi seorang kaya raya di Semarang. Ia dikenal sangat kaya namun pelit. Raden Patah menyamar menjadi seorang pengemis yang mencari rumput di sekitar tanah milik Ki Gede Semarang. Cerita ini lebih mirip dengan Ki Ageng Pandanaran yang pada akhirnya pergi mengembara bersama istrinya karena sadar dengan kesalahannya. Di tengah jalan, Ki Gede Semarang dirampok oleh bandit yang sebenarnya adalah Raden Patah. Ia mengatakan bahwa hartanya dibawa oleh istrinya yang ada di belakangnya. Akan tetapi bandit tersebut tetap bersikeras meminta harta dari Ki Gede Semarang. Karena kesal, Ki Gede Semarang mengutuk bandit tersebut menjadi kambing. *ceritanya emang nggak konsisten di satu alur. Tapi tetap menyenangkan kok.

Legenda Desa sumber

Tersebutlah suami istri yang ingin memberikan warisan untuk anak cucu mereka. Si laki laki bernama Kyai Dono dan yang perempuan bernama Nyai Dono. Kyai Dono berniat membuat sumur sedangkan Nyai Dono membuat Telaga Ngomang. Sumur dan Telaga Ngomang tersebut merupakan mata air yang tidak pernah kering. Akan tetapi pada jaman penjajahan Jepang, seseorang yang ingin memperbaiki sumur tersebut tidak sengaja memutus sebuah akar yang sebenarnya merupakan jalan air dari sumur tersebut. Tidak disangka, orang itu meninggal dan air tidak lagi mengalir di sumur. Kondisi sumur tersebut sekarang tidak lagi bisa digunakan karena sudah tertimbun oleh tanah akibat erosi di area sumur.

Telaga Ngomang yang ada sampai sekarang masih menampung cukup banyak air dan masih bisa dimanfaatkan oleh banyak warga untuk berbagai kepentingan seperti memancing, mengairi pertanian, mencuci dan sebagainya. Warga juga sudah membuat area Telaga Ngomang bebas dari erosi dengan cara membuat tembok untuk menahan agar tanah di sekeliling Telaga Ngomang tidak mudah erosi. Nampaknya keberadaan Telaga Ngomang ini selain memnuhi kebutuhan air bagi pertanian dan urusan rumah tangga, juga menjadikan lapangan pekerjaan bagi warga setempat. Beberapa warga membuka jasa warung makan yang melayani kebutuhan makan siang bagi warga yang memancing di Telaga Ngomang

Dukun beranak

Hari ini kami mengunjungi seorang dukun bayi bernama mbah noto yang tinggal di RT 3 Dusun Sumber. Beliau sudah menjadi dukun desa selama puluhan tahun. Akan tetapi semenjak tahun 2012, Pemerintah melarang adanya proses kelahiran oleh dukun beranak namun harus dirujuk langsung ke bidan atau puskesmas. Dukun beranak hanya akan membantu proses pasca persalinan seperti memandikan, memijat atau mengubur ari ari. Hal ini masih dilakukan oleh banyak warga desa Planjan. Mbah noto masih sering dimintai tolong untuk mengurus bayi.

Oleh karena perkembangan jaman, warga sudah tidak lagi menggunakan ritual ritual khusus seperti yang dilakukan orang pada jaman dahulu seperti mitoni, dan lain lain. Akan tetapi masih ada satu dua orang yang melakukan ritus tertentu seperti penguburan ari ari setelah bayi lahir. Pada prosesi penguburan ari ari, ari ari yang sudah dicuci bersih dimasukkan ke dalam belanga kecil yang disertai dengan berbagai benda. Di desa ini, biasanya warga meletakkan uang recehan sebagai symbol kemakmuran si anak kelak dan buku serta pensil agar si anak bisa menjadi anak yang cerdas.

Penggunaan dina bengle juga sudah jarang dilaksanakan. Saya membandingkan penggunaan dina bengle disini dan di daerah rumah saya. Jika di daerah rumah saya, orang tua biasanya menggunakan kunyit, temu putih yang dirangkai dengan benang kemudian digelangkan pada bayi, orang tua di daerah ini menggunakan tulang ikan laut yang disebut balung butanaga. Kepercayaan dengan penggunaan benda yang berbeda ini dilakukan untuk melindungi bayi dari hal hal yang tidak diinginkan serta penangkal kekuatan jahat.

Karawitan

Kami bertiga berjalan jalan ke Desa Planjan. Disana kami bertemu dengan Mbah Harso yang merupakan dhalang di daerah Planjan. Beliau adalah salah satu punggawa dalam pelestarian kebudayaan jawa. Bersama sama warga desa lainnya, beliau masih sering melakukan latihan karawitan di Desa Planjan. Rata rata pemain gamelan berusia lanjut. Tidak banyak warga yang masih muda mau merawat kebudayaan ini karena mereka lebih menyukai kebudayaan modern. Latihan gamelan dibagi menjadi dua, untuk wanita dan laki laki. Latihan untuk wanita dilaksanakan pada hari kamis sore sedangkan untuk laki laki setiap malam Minggu atau malam Senin setiap minggunya dimulai pada pukul 9 malam.

Mbah Harso bercerita bahwa setiap melakukan pertunjukan wayang, selalu diadakan pemberian sesajian di area pertunjukan. Sesajian itu antara lain nasi uduk, ingkung, jajanan pasar, buah dan kancing (uang receh), sisir serta cermin. Berbagai sesajian itu diberikan untuk penghormatan pada mahluk mahluk yang tak kasat mata yang diyakini sama sama hidup di sekitar kita. Dalam pewayangan ada tokoh yang selalu ditutup dengan kain mori dan biasanya tokoh tersebut adalah Arjuna. Tujuan dari penutupan dengan menggunakan kain mori adalah untuk menghormati tokoh tersebut karena dalam proses pembuatan wayang adakalanya menggunakan ritual tertentu yang mengundang mahluk halus untuk mengisi wayang tersebut.

Sebagai rumah tempat tinggal wayang, pemilik wayang untuk memberi makan dan meruwat di hari hari tertentu. Untuk merawat gamelan juga diberikan sesajikan. Sesajian tersebut diberikan setiap selapanan menurut waktu pertama kali membeli. Terdapat hari hari tertentu yang dimaksudkan untuk memberi sesaji yaitu hari Jumat legi dan Jumat kliwon yakni dengan memberikan kemenyan di dekat gong. Akan tetapi tidak semua jenis gamelan diberikan perlakuan yang spesial. Ada gamelan jenis tertentu, biasanya dibuat dari perunggu murni dan yang usianya sudah tua akan diberikan sesajian khusus di hari hari tertentu. Masih menurut penuturan Mbah Harso, pada jaman dahulu dalam pembuatan gamelan, wayang ataupun gending, si pembuat akan melakukan pati geni dan melakukan ritual untuk membuat apa yang mereka buat memiliki kualitas tinggi.

Labuhan

Di daerah Baron terdapat tradisi labuhan, yaitu ritual memberikan sesaji pada penguasa Laut Selatan sebagai simbol menghargai dunia lain yang hidup sejajar dengan hidup manusia.

Labuhan terdiri dari dua jenis. Ada labuhan satu sura dan labuhan umum. Labuhan satu sura dilaksanakan pada awal bulan Muharam, sehingga mengikuti sistem penanggalan Jawa dan bukan penanggalan Gregorian (masehi). Biasanya untuk melaksanakan labuhan, warga akan mempersiapkan berbagai macam sesajen berupa ingkung, nasi uduk, jajan pasar, sisir, cermin, kancing dan satu ekor kerbau yang pada akhirnya akan disembelih dan kepalanya akan dilarung dengan menggunakan perahu di tengah laut selatan. Sedangkan labuhan umum adalah labuhan yang bisa dilaksanakan sewaktu waktu oleh warga, disebut juga Nyadran. Biasanya sebelum diadakan Rasulan/Sangan (bersih desa), warga akan melakukan labuhan. Meskipun mereka biasanya sudah memiliki waktu biasa untuk melakukan labuhan yakni untuk Desa Minggu Pahing  dan Senen Pon.

Dalam melaksanakan labuhan, tetua desa akan memilih waktu jauh jauh hari sebelum bulan Muharam datang. Mereka akan menggunakan penanggalan jawa yang dipadukan dengan wuku. Jika tidak dipilih wuku yang baik wuku dan gumreg agar kegiatan berjalan lancar. Hal itu dilakukan untuk memenghindari hal hal yang tidak baik jika tidak memilih hari baik tersebut. Rasulan hanya dilaksanakan satu kali selama satu tahun dan biasanya harinya berbeda beda untuk setiap desa. Planjan menggunakan hari Minggu Pahing. Alangsari juga Minggu Pahing. Sumber, Tritis, Ngepoh, Jambu, Karang dan Sengerang melakukan bersih desa pada senin kliwon.

Selama melakukan ritual, mereka akan menggunakan pakaian mataraman. Upacara yang dilaksanakan adalah mempersiapkan nasi uduk dan ingkung ayam dan sesaji antara lain tumpeng dirangkai dengan pisang raja, jajanan pasar didoakan oleh tetua desa dan dimakan bersama sama. Ada sebuah pohon besar di sudut desa dan diberikan sesajian oleh para warga. Orang yang memiliki keinginan yang terkabul biasanya akan memberikan sesajinya di tempat tersebut.

Pohon besar itu diberikan sekotak kayu yang terdapat bokor yang terbuat dari daun pohon kelapa dan diisi dengan segala sesuatu yang telah dipersiapkan pada saat upacara rasulan. Tak hanya pohon besar dan sudut desa. Sumur dan telaga pun tak luput dari sesajen. Tujuan dari ritual ini adalah untuk memanjatkan rasa syukur terhadap Pencipta atas kehidupan yang telah dilalui selama satu tahun.

Selain adanya sesajian dan makan bersama, warga juga membuat gunungan yang berbentuk rumah, hewan, dan bermacam macam bentuk lainnya terserah oleh warga yang membuat. Hiburan yang diberikan antara lain kesenian jathilan, doger (warok ponorogo), reog klasik, drumband, karawitan, campursari, wayangan yang dilaksanakan pada malam selasa.

Oh ya, selain labuhan, ada juga gumregan dan sedekah sasi. Gumregan adalah kegiatan untuk mensyukuri karena sudah memiliki ternak. Sesajen yang diberikan adalah jadah, dengan kacang panjang, bumbu dapur, gembili, uwi, ketela, kimpul, pulo dengan gula jawa dan ketupat. Ternak ternak itu diberi sesajen. Yah, walaupun pada akhirnya yang makan sajennya itu ya masyarakat sendiri. Sedekah Sasi dilakukan untuk menghormati ‘bulan’ yang dilakukan dengan sesajian berbeda di setiap bulannya. Setiap bulan sura diberikan sesajian seperti jenang grawul, rempah, nasi dengan lauk diatasnya. Kalau Ruwahan, masyarakat memberikan ambengan. Nasi dimasukan piring, diatasnya ada lauknya. Kalau Besaran, semua orang membuat tumpengan. Beraneka ragam.

Dongeng lainnya

Pucung berasal dari kata pepucuking peperangan karena pada jaman dahulu daerah tersebut dijadikan arena perang. Sedangkan Kemadang berarti ujung pangkal peperangan. Kanigoro berasal dari legenda bahwa Makam Kedungmiri adalah makam dari Brawijaya atau Eyang Ontrokusuma yang sebenarnya tidak mati akan tetapi hanya meninggalkan iket dan tongkatnya saja di tempat tersebut. *walaupun saya agak gagal paham dengan makna kata Kanigoro, cerita ini buat saya menarik. Warga setempat masih menghormati leluhur leluhur mereka yang menjadi pendiri desa atau yang menjadikan asal usul desa tersebut. Ternyata hormat pada orang tua adalah ajaran yang long lasting.

Dahulu kala ada anak bernama Jaka Umbaran yang akhirnya dari namanya tersebut nama Baron bermula (sudah saya paparkan di awal postingan ini). Ketika ia besar, ia pergi gua Tritis kemudian menuju daerah Bamban dan Singkil yang berarti hatinya sedang sedih. Maka, kedua desa itu dinamakan Desa Bamban dan Desa Singkil. Kemudian ia berjalan ke Pule Bener yang berarti sudah simpul pikirannya bahwa ia kana mencari Dewi Lembayung. Ia pergi ke daerah Giring untuk bertemu dengan sang dewi akan tapi ia keduluan oleh adiknya, Ki Pemanahan. Kisah ini sedikit dibelokkan untuk faktor kesopanan. Jaka Umbaran mencari krambil gagak untuk meminum airnya akan tetapi air kelapa sudah terlebih dahulu diminum oleh Pemanahan. Oleh karena ia kesal, ia pergi ke Kali Gowang untuk mendinginkan hati. Gowang sendiri bermakna pikiran yang kecewa. Sebenarnya yang terjadi adalah Ki Pemanahan sudah terlanjur bersetubuh dengan Dewi Lembayung. Degan bermakna adeg adegan, berhubungan seksual dengan cara berdiri. Hal ini sebenarnya menyiratkan adanya perebutan kekuasaan untuk menurunkan keturunan raja raja Jawa yang diakhiri dengan Ki Pemanahan yang akan menurunkan raja raja Jawa. Agar tidak terlalu vulgar, orang Jawa membelokkan cerita tersebut menjadi sebuah kisah lain yang jauh kesan saru.

Kali gowang sendiri ada di daerah Alas Sumurup yang berarti air yang menghilang ke bumi. Akan tetapi Kali Gowang akan muncul kembali di Pantai Baron. Di Pantai Baron terdapat dua buah sungai, di sisi timur terdapat hilir sungai Oyo sedangkan di sebelah barat terdapat Sungai Giring atau biasa disebut Sungai Gowang. Diceritakan bahwa ada dua nabi yakni Nabi Nuh dan Nabi Siti Jenar (mungkin diksi yang tepat adalah wali. Tapi Mbah Sugiyono menyebutnya nabi. Ya, namanya orang jaman dulu) yang berdebat mengenai hilir dari Kali Oyo. Salah satu orang merasa sungai Oyo harusnya berakhir di daerah  Mancingan. Salah satu orang mengambil merang (batang padi yang menguning) dan kemudian merang tersebut diterbangkan oleh angin. Mereka pun berjalan sampai di pantai selatan dan menemukan bahwa merang tersebut ada di Pantai Baron padahal tadinya mereka mengira di daerah Mancingan.

Misteri Gunung Merapi

Pada jaman dahulu terdapat delapan mpu yang mampu menghasilkan keris keris terbaik pada jamannya. Mereka tinggal di tengah tengah Pulau Jawa. Suatu hari diadalan gotong royong gugur gunung (istilah setempat untuk gotong royong). Akan tetapi ada satu Mpu yang tidak mau melakukan gugur gunung bersama sama lainnya. Gunung api Jamur Dipa kemudian ditumbukkan ke rumah perapian mpu mpu tersebut. Itulah legenda mengapa gunung merapi selalu menghembuskan asap, karena dulunya, gunung tersebut berada di atas rumah perapian pembuat senjata. Gunung yang ada di belakang Merapi, Merbabu juga memiliki legendanya sendiri. Merbabu merupakan anak dari gunung Merapi dimana Punakawan tinggal. *tapi di legenda di daerah Merbabu (saya tinggal di daerah Merbabu), Gunung Merbabu itu Kakaknya si Merapi. Nah, di tengah tengah Merbabu dan Merapi terdapat Gunung Bibi. Gunung Merapi tidak akan pernah ‘melangkahi’ bibinya untuk menyakiti kakaknya. Itulah mengapa asap, abu atau awan vulkanik Merapi tidak akan pernah ‘menyakiti’ Merbabu. Apakah karena legenda itu? Uhm.. who knows. Wallahualam. Yang jelas Tuhan sudah menciptakan mekanisme alam jauh sebelum bumi ini tercipta bukan?

Legenda Baruklinting

Selain cerita terbaru mengenai legenda Gunung Merapi, saya pun menemukan ada cerita lain tentang Baruklinting (legenda ular naga pembuat danau di daerah saya di Tuntang). Pada suatu hari, Syekh Mangkuribi (kalau di tempat saya namanya Baruklinting) mencari ayahnya. Akan tetapi ketika sudah bertemu, ayahnya mengajukan sebuah syarat. Ia hanya akan mengakui bahwa Mangkuribi adalah putranya jika anak tersebut berhasil melingkari gunung merapi tanpa terputus. Hanya kurang satu jengkal lagi ketika ia mampu menutup seluruh gunung dengan tubuhnya, ia tidak kekurangan akal. Ia julurkan lidahnya hingga menyentuk ekor. Ketika hal itu terjadi, lidahnya dipotong oleh ayahnya. Kepala naga tersebut menjadi hulu sungai Bengawan Solo, badan naga menjadi kali Opak dan ekornya menjadi sungai sungai kecil yang mengalir di bawah gunung tersebut.

Kalau di cerita daerah saya sih, lidah yang dipotong sama ayahnya jadi tombak naga yang sakti dan tubuh si naga membatu dan ditumbuhi pepohonan. Sampai suatu ketika warga desa yang paceklik tidak sengaja melukai ‘tubuh’ si naga dan mereka pun memotong motong daging yang awalnya mereka pikir hanya kayu biasa. Sampai akhirnya mereka berpesta dan tidak memedulikan satu anak kudisan yang minta makan. Akhirnya si anak mengadakan sayembara mencabut lidi yang ditancapkan di alun alun desa. Tak ada satupun orang di desa yang bisa mencabut lidi itu. Dan si anak mencabut lidi, munculah mata air dan hujan deras yang kemudian membanjiri seluruh desa yang kemudian dinamakan Rawa Pening (Danau Pening). (kemungkinan desa yang tenggelam itu dulunya dinamakan Desa Pening). Hanya satu orang yang selamat pada peristiwa tersebut. Orang itu adalah seorang nenek tua yang berbaik hati memberi makan si anak. Nenek itu diperingatkan untuk menaiki alu penumbuk padinya dan menggunakan centong nasi sebagai dayung jika hujan lebat turun.

waaaaa… panjang juga ternyata dongengnya. Haha. Mungkin kalau didongengkan sebelum tidur, bisa sampai pagi saya dengernya. Tapi dongeng dongeng yang nampaknya nggak masuk akal yang bikin “apa iya sih kayak gitu? itu nyata? ah nggak mungkin”, adalah hal yang menyenangkan untuk didengar dan direnungkan. Renungkan bahwa nenek moyang kita adalah pencerita yang luar biasa. Kalau kita cuma mikirin hal hal real di depan mata, dengan kesibukan duniawi yang bikin pikiran remuk, tanpa ada hiburan kayak dongeng, nggak kebayang gimana ancurnya. Hal pantasi (istilah nenek saya. Haha) seperti itu adalah penyegar jiwa, penghilang kepenatan. Dan.. saya bahagia jadi anak Indonesia. 😀

Planjan, Desa dekat Pantai Baron

Yogyakarta emang nggak ada matinya. Saya yang ‘cuma’ lima tahun tinggal disana berasa nggak bisa move on dari tempat itu. Well.. selama kurun waktu itu sih saya lebih banyak tinggal di tengah kota Yogyakarta. Akan tetapi bukan berarti saya nggak pernah main main ke daerah Yogya lainnya. Ke Sleman? Sering. Kulonprogo, dua tahun terakhir saya sering banget kesana. Gunung Kidul? Jangan Tanya berapa kali banyaknya. Bahkan saya pernah juga jadi akamsi Gunung Kidul walaupun sebentar.

Well.. inilah cerita saya tentang Gunung Kidul di bulan Januari dua tahun lalu ketika saya tinggal di Gunung Kidul.

Hari pertama : 12 januari 2015

Hari saya diawali dengan bangun dan persiapan packing pada pukul 04.00 pagi. Pukul 07.00 kami harus segera berangkat ke Bulaksumur untuk mendapatkan pengarahan terkait dengan penelitian tahun ini. Sayang sekali pengarahan baru dimulai pukul 07.30. Saya yang belum mengumpulkan abstrak tidak mendapatkan desa yang akan dijadikan objek penelitian.

Tepat pukul 09.00 kami berangkat menuju Gunung Kidul. Kami menuju balai Desa Saptosari untuk bertemu dengan perangkat kecamatan setempat. Hujan turun dengan sangat deras. Kami harus menunggu hingga bakda dhuhur sebelum kami berpisah menuju desa masing masing. Saya akhirnya mendapat tempat di Desa Planjan, sama seperti yang Mamad bilang beberapa hari yang lalu. Saya mendapatkan roommate: Lakhsmi dan Devi. Mereka berdua adalah mahasiswa Antropologi UGM angkatan tahun 2013 dan 2014.

Agenda pertama kami adalah ramah tamah dengan bapak Soegiyono, kepala dukuh Sumbersari, Planjan. Rupanya beliau sudah sering menerima anak anak penelitian yang melakukan Kuliah Kerja Nyata di desa ini. Pak Soegiyono dan istrinya hanya tinggal berdua. Mereka memiliki seorang putri yang telah memberikan mereka dua orang cucu yang sekarang tinggal bersebelahan dengan rumah mereka.

Malam harinya kami dikenalkan dengan ibu ibu perwakilan enam RT di Desa sumbersari yang akan melaksanakan posyandu di desa pada tanggal 15 Januari 2015. Kami mengenalkan diri sebagai anak anak yang akan melaksanakan penelitian dan bukan akan melakukan KKN (Kuliah Kerja Nyata) seperti yang sebelum sebelumnya. Penelitian dan KKN jelaslah berbeda.

Potensi mebel Kanigoro

Bicara soal kondisi desa, Desa Planjan tergolong desa asri yang penuh dengan potensi pertanian serta perkayuan. Dimana mana kebun dan pohon jati. Gimana nggak ijo semua di mata. Haha. Benar benar pelarian yang oke dari penatnya ibukota Yogyakarta. *duh deeekkk.

Pertanian warga berupa jagung dan palawija lain menambah penghasilan warga yang emang nggak seberapa tapi bisa menghidupi. Nah lho.. *maka nikmat Tuhan manakah yang kamiu dustakan (QS. Arrahman). Tak hanya ladang palawija, sebagian warga menanami ladang mereka dengan kayu keras untuk bahan mebel. Pohon yang ngehits antara lain pohon akasia dan pohon jati. Kayu pohon akasia dan kayu pohon jati merupakan kayu dari jenis tanaman keras yang dengan mudah ditemui di pesisir selatan Gunung Kidul ini. Kedua tamanan tersebut adalah tanaman yang diusahakan oleh warga. Mereka rata rata akan menjual tanaman tersebut setelah berusia diatas lima tahun. Para pekerja mebel tersebut tidak hanya mendapatkan bahan baku dari desa setempat. Akan tetapi juga mendapatkan bahan baku dari desa desa di sekitar mereka seperti Desa Kemadang dan desa di seputaran Gunung Kidul.

Menurut penuturan warga setempat, kayu akasia disukai warga karena tahan dengan rayap dan kualitasnya hampir setara dengan kayu jati. Kayu jati masih dipilih warga sebagai komoditas utama permebelan akan tetapi bagi warga yang hanya memiliki sejumlah uang dibawah kemampuannya untuk membeli mebel jati, mereka akan memilih mebel kayu akasia.

Pencatatan kependudukan di desa ini pun sudah oke. Kantor Balai Desa Planjan, Saptosari Yogyakarta memiliki data kependudukan disana cukup lengkap. Bahkan pemerintah desa memiliki dokumen yang berbentuk softfile. Hal ini membuktikan bahwa struktur data di tingkat pedesaan bahkan sudah lebih baik tahap demi tahap.

Walaupun udah jadi akamsi Planjan, jangan lupa jalan jalan ke desa sebelah ya. Kami menjelajahi desa tetangga menuju Desa Ngresik. Setelah Desa Sumber, terdapat Desa Ngresik dan berbatasan dengan Desa Klepu yang merupakan bagian dari Kecamatan Kanigoro. Selain itu,  ternyata jalan di depan rumah yang kami tempati adalah jalan menuju pantai Ngobaran, Ngrenehan dan Nguyahan. *waaaa… pantai pantai pantai. Haha.

Pantai Baron yang jauhnya ‘cuma’ 2,4 km

Rutinitas saya tiap pagi tentu bangun pagi, mandi kemudian beribadah. Setelah makan pagi dan membuat kopi, saya mengobrol dengan ibu pemilik rumah. Rupanya ada tamu yang datang. Mereka adalah TIfa, firda dan Diah yang tinggal di desa Planjan. Mereka mampir dan ingin mengajak kami pergi ke pantai.

Pukul 10.30 kami baru beranjak dari rumah dan menempuh perjalanan dengan jalan kaki. Sampai di pertigaan desa, ada plang yang menunjukkan bahwa Pantai Baron tinggal 2,4 km lagi. Kami bersorak girang, 2,4 km tidaklah mungkin terlalu jauh. Kami menyusuri jalan sambil sesekali selfie.

Di tiga perempat perjalanan, kami akhirnya menemukan bis mini yang akan membawa kami sampai ke Baron. Dengan ongkos 2000 rupiah, kami sampai tidak sampai 7 menit. Dalam hati, saya bahagia. Untung nggak jadi jalan. Jauh juga ternyata. 2,4 kilometer dalam plang ternyata dusta. Hiks.

Oleh karena waktu sudah menunjukkan waktu untuk beribadah, kami melakukan sholat berjamaah terlebih dahulu sebelum main ke pantai. Tidak berapa lama, kami melanjutkan perjalanan untuk menikmati pasir Baron yang berwarna coklat, berbeda dari pantai yang biasanya saya temui yang berwarna putih atau hitam. Kondisi Pantai Baron cukup memprihatinkan. Sampahnya berserakan dimana mana dan tidak ada seseorang pun yang peduli untuk mengurus. Jaring jaring nelayan betebaran dimana dan bau amis hasil laut menyengat menusuk hidung. Akan tetapi, pengunjung tetap bisa berjalan menikmati pantai yang sepoi dengan angin berhembus lembut.

Pantai Baron merupakan wilayah pantai di Yogyakarta yang terdapat pertemuan antara muara sungai dengan laut lepas atau lazim disebut tempuran. Ombak setinggi 4 meter bergolak dengan kencang. Arus air dari sungai juga cukup kuat sehingga tidak banyak nelayan yang berani melaut di hari itu. hanya ada satu dua nelayan yang pulang dari mencari ikan di Samudra Hindia.

Kami juga mampir ke rumah Ibu Suginem, seorang ibu tua yang pendengarannya sudah tidak lagi sesehat dulu. Kegiatan beliau sepanjang hari hanya duduk di bale bale depan rumahnya. Beliau sebenarnya memiliki banyak sekali dongeng yang berkaitan dengan Desa Planjan dan sekitarnya akan tetapi sudah tidak lagi bisa bercerita karena pendengarannya lemah.

Menurut penuturan putrinya Bu Suginem, ibunya pernah menceritakan mengenai ramalan bahwa Pantai Baron akan menjadi sebuah pantai yang ramai. Jika Pantai Baron sudah ramai maka sudah tidak akan bisa ditemui orang lagi di jalan. Beliau memahami maksudnya sebagai sudah tidak ada orang yang berjalan kaki menempuh perjalanan untuk sampai ke Pantai Baron. Tentunya kecuali orang orang yang mencari pethetan (rerumputan) untuk ternaknya. And well.. its true. Mobil dan motor bersliweran di aspal yang sudah mulus. Tak ada lagi warga atau akamsi yang selo banget mau jalan kaki sampai pantai. *jauhnya boookk..

Kesulitan transportasi yang memadai merupakan salah satu masalah utama di desa ini. Bayangkan, kami harus menunggu lama untuk mendapatkan angkutan. Bis mini yang parkir di bawah pohon kami pikir bisa membawa kami sampai ke Desa Sumber dan Planjan. Sopir bis mengatakan bahwa mereka adalah bis charteran dari rombongan ibu ibu PKK yang melakukan piknik ke baron. Tidak putus asa, kamipun bertanya pada warga yang nongkrong di depan pos retribusi, akan tetapi mereka tidak menawarkan solusi yang baik untuk kami. Kami sepakat untuk menunggu di bawah pohon sambil berusaha cermat menyetop pick up yang tadi sempat kami lihat. Ada pick up yang datang akan tetapi mereka tidak bisa mengangkut kami. Baru 15 menit kemudian, ada satu buah pick up berwarna putih yang datang dan kami meminta kepada bapak pemiliknya untuk mengantar kami hingga ke rumah. Jadilah kami perempuan berenam menempuh perjalanan dengan menggunakan pick up untuk sampai ke rumah. Rasanya? Seru!.

Well.. segini dulu ya cerita soal Planjan.. sambung pagi part II

Menua

Berapa usiamu? 15? 18? Menjelang dua lima? Empat puluh delapan? Tujuh puluh dua?. Tiap orang akan memberikan jawaban yang berbeda. Ini tentang mesin waktu. Mungkin kita sekarang sedang menatap ponsel masing masing dan bertukar kabar dan nostalgia tentang masa sekolah menengah dulu yang tak ada habisnya. Atau sedang membicarakan anak anak kita yang sebentar lagi mau masuk sekolah dasar. Atau tentang dimarahi bos karena ada pekerjaan yang terlewatkan. Atau rencana jalan jalan bersama teman teman di akhir pekan. Ya.. di masa masa muda kita.

Tapi merenunglah. Waktu akan segera berlalu. Kita akan semakin menua. Diiringi waktu, kita akan segera mencapai masanya. Ada sebagian dari kita yang mungkin akan ikut anak cucu, hidup bersama salah satu anak anak kita dan menua di ranjang. Atau di rumah sakit. Tapi sebagian, akan tinggal di rumah jompo bersama dengan teman teman sebaya selama bertahun tahun sebelum ajal memanggil.

Pertama kalinya pergi ke panti jompo membuat saya merasa sangat senang. Dan bayangan saya tentang panti jompo ternyata tidak jauh berbeda dari kenyataannya. Selama ini saya hanya sering mengunjungi panti asuhan. Tempat dimana masa awal manusia tumbuh. Tapi tidak pernah sekalipun mengunjungi tempat dimana masa senja manusia tinggal.

Sama halnya dengan panti asuhan yang penuh dengan anak anak kecil yang beranjak tumbuh, panti jompo juga riuh. Riuh dengan para manusia yang beranjak senja. Banyak dari mereka yang sudah rapuh karena dimakan usia. Sebagian bejalan tertatih tatih, sebagian bahkan tidak bisa duduh selonjor karena asam urat yang mereka derita. Perasaan mereka pun juga sudah rapuh. maka, jika anak muda yang masih gampang diprovokasi emosinya, mereka pun juga rapuh. Ada anak kuliahan yang kemarin sedang mengadakan praktik kerja lapangan di panti jompo tersebut. Sayangnya si gadis ini kurang bisa memiih kata yang pas untuk diucapkan pada nenek nenek yang mereka urusi di hari itu. Salah satu nenek tersinggung dan si anak gadis itu pun dibentaknya. Kemarahannya pun belum juga mereda. Bahkan bermenit menit kemudian ia pun masih menceritakan pada sekitarnya sebagai bentuk luapan emosi.

Nenek nenek ini tinggal di kamar masing masing. Kamar kecil namun nyaman. Sahabat saya menceritakan mengapa neneknya mau tinggal di panti jompo padahal keluarganya masih lengkap. Neneknya benci bosan. Itu saja.

Hidup di usia senja, dengan harapan hidup yang entah sampai kapan lagi. Tinggal di rumah dikelilingi keluarga, anak dan cucu tentu sangat menyenangkan. Tapi hari berubah kelabu ketika anak anaknya keluar rumah untuk bekerja dan bersekolah. Hari mendadak sepi dan tak indah lagi. Maka, ia pun dengan keinginananya sendiri, memilih bertemu dengan teman teman sebayanya dan tidak ingin merepotkan anak cucunya. Jadilah ia tinggal di panti jompo bertahun tahun. Tentu pada awalnya keluarganya tidak mau melepas si nenek yang tinggal di panti jompo. Tapi, kebahagiaan neneknya lebih penting. Maka ia direlakan untuk lepas dari rumah.

Dikunjungi sanak keluarga adalah kebahagiaan kedua setelah hilangnya rasa sepi. Untuk mereka yang keluarganya masih peduli, tentunya hari sangat membahagiaan ketika ada waktu barang sejam dua jam dikunjungi ke panti. Nenek dari teman saya tersebut tersenyum bahagia sambil mengumumkan pada teman temannya bahwa cucunya datang menjenguknya. “Ini cucu saya”.

Seorang nenek mengajak saya mengobrol. Panjang lebar dia bercerita tentang masa mudanya, tentang penjajah Belanda, kemerdekaan Indonesia, tentang keadaan kota Bandung, tentang daerah daerah yang pernah ia kunjungi. Dulu ketika jaman Belanda, ia masih tinggal di Magelang. Bersama keluarganya ia hidup dan di masa tua tinggalah ia seorang karena ia tak menikah selama hidupnya entah karena apa. Anak cucu dari keluarganya juga sudah terpencar kemana mana. Tak lagi ada yang peduli tentang dirinya. Lama sudah ia menanti seseorang mengunjunginya. Dengan excitednya, ia bercerita. Sumringah karena merasa ikut dikunjungi. Bahkan ia menggenggam tangan saya dan mewanti wanti agar saya sering sering menjenguk.

Perasaan sepi masih terasa menggelayut. Mungkin itu yang dirasakan mereka yang menanti penghabisan. Mereka yang menanti satu dua orang keluarga atau teman mengunjungi, mengusir rasa sepi. Mengusir perasaan tak dipedulikan yang tak berkesudahan.

Sambil berjalan, saya merenungi apa yang saya lakukan hari ini. Tak pernah kita tahu sampai di usia berapa kita akan hidup. Maka jika kita sampai pada usia menua kita masih diberi usia, syukuri dan tetaplah menebar kebaikan pada orang lain. Sayangi orang lain. Tetaplah jaga silaturahmi.

Ciwidey

And.. here we go for our second day. Saya baru tidur habis subuh dan bangun ketika Santika membangunkan saya karena harus mandi. Hari ini agenda kami adalah jeng jeng menuju Ciwidey, sebuah danau kawah nun di selatan kota bandung.

Kami berangkat dari stasiun bandung pukul 09.30, setelah sebelumnya bertemu dengan Stella yang menunggu kami di stasiun bandung. Butuh waktu kurang lebih dua jam setengah untuk mencapai daerah pegunungan Ciwidey. Berawal dari saya yang nggak bisa baca peta, kami akhirnya sampai juga di Ciwidey.

Kebun sayur, strawberry dan rumah rumah warga berjajar di sepanjang jalan. Ya, macam di Dieng atau Kopeng gitu sih. Cuma satu: macetnyaaaa. Hiks.

Saya masih tak percaya jika tarif parkir mobil di Ciwidey mencapai seratus lima puluh ribu rupiah. Whaattt deee… bahkan saking nggak percayanya saya potret informasinya dan saya cek di internet. Saya pun tidak berhenti tertegun. Ternyata emang beneran seratus lima puluh ribu rupiah. Hiks. Mahal euuyy.. tapi sudahlah. Itung itung membantu pariwisata negeri sendiri. Kapan kita mau majuin pariwisata sendiri kalau apa apa masih gretongan. Toh, kita juga nggak bisa bikin jalan aspal di Ciwidey. Anggap aja uang yang kita keluarkan adalah uang patungan bersama warga negara indonesia yang baik lainnya untuk membantu pemerintah memelihara sarana dan prasarana pariwisata. Ikut memajukan negeri sendiri bro.. *belajar jadi warga negara yang baik

Eh, usut punya usut, jalur yang kami lewati menuju parkiran atas kawah ternyata panjang juga. Mungkin ada kurang lebih dua sampai tiga kilometer dengan jalan satu satunya selebar dua mobil dengan aspal kualitas yang sedang kanan kiri hutan. Satu satunya pemandangan yang bikin mata sepet waktu kita naik mobil menuju ke atas adalah: sebuah mobil mewah berjenis Alphard berwarna hitam buang sampah sembarangan sampai tiga kali. Terlihat dua balita melongok dari jendela kaca sebelah kiri dan ada tangan si ibu war wer war wer asal buang sampah sembarangan baik dari plastik bungkus makanan sampai tisu mungkin bekas pembuangan kotoran si bayi. Hiiii.. jijikk. Ternyata status kekayan seseorang tidak menandakan bahwa si orang kaya bisa berlaku berkelas. Ya kalik punya mobil sekelas alphard masih buang sampah sembarangan. Emang situ bayar parkir berapa? Satu juta limaratus sampai berani buang sampah dari mobil. Ternyata orang kaya bisa berlaku kayak orang kere juga.

Disambut dengan angin dan hujan lima menit sekali, sumpah dingin banget. Bahkan saya pun bisa sok sokan bicara dengan mulut beruap macam pilem pilem Korea. Haha saking dinginnya. Bagi pengunjung yang tidak membawa payung, bisa menyewa payung dengan harga kurang lebih sepuluh ribu rupiah sekali pinjam. Kami bersembahyang dhuur sebelum turun ke kawah. Dinding dan lantai mushola bahkan sampai dingin seperti es saking ditempa caca hujan dan angin serta suhu gunung yang turun drastis.

Kami pun turun ke kawah. Jalan setapak lengkap dengan tangga tangga yang sudah bagus, menjadi jalan penghubung antara bagian atas dan bibir kawah. Air kawah yang berwarna tosca dengan bibir kawah yang kekuningan menjadi pemandangan yang dominan. Baunya kawah juga menyengat. Jadi, untuk pengunjung jangan lupa untuk membawa slayer atau penutup hidung. Dan.. jangan sekali kali berenang. Dengan warnanya yang cantik itu, kawah putih bukan ditujukan untuk berenang. Anak kecil aja tau kalau itu bukan buat berenang. Bahaya, atuh neng!

Di sekitar Ciwidey terdapat pohon pohon cantigi yang berjajar. Saya tidak tahu apakah pohon pohon cantigi ini sengaja ditanam atau memang tumbuhan yang secara alami menghiasai kawah putih. Dan.. daunnya yang masih muda cukup segar untuk dimakan.

Keindahan alam Ciwidey pun memberikan rejeki bagi para warga sekitar yang mengadu nasib sebagai penjual belerang, souvenir, jasa peminjaman payung sampai penjual gelembung udara. Kami pun bermain main dengan gelembung udara yang dihasilkan dari alat peniup gelembung udara yang dimasukkan ke dalam cairan sabun. Masa kecil kurang bahagia? Nggak juga.. hanya mengulang saja. haha.

Tak sampai satu jam kami berkunjung ke Ciwidey. Kami pun turun ke Bandung karena beberapa dari kami harus mengejar waktu mereka pulang ke daerah masing masing. Hanya saya, Stella, Ghozi dan Restu yang berdomisili di Bandung. Jadi kami pun tidak punya masalah dengan waktu. Santika harus mengejar kereta pada pukul 20.00. Dengan traffic Bandung yang menyebalkan di weekend, maka kami tidak boleh menyepelekan waktu. Helmi serta Mba Tari harus pulang ke Jakarta. Tau sendiri kan traffic Jakarta segitu menyebalkannya. Maka mereka pun harus segera pulang.

Dan.. damn so much.. mobil harus berhenti beberapa menit sekali karena antrian yang mengular. Ya ampuuuunn.. sekalian deh wisata kemacetan. Haha. Oleh karena energi sudah habis, maka kami berhenti di sebuah warung makan di kiri jalan entah apa namanya warung makan itu. Dan.. taraaa.. saya beli nasi ati dan sayur nangka seharga tiga puluh lima ribu rupiah. Mahal beud. Haha. Tapi saya tidak terlalu bermasalah karena rasanya pun sepadan dengan harganya. Ya itung itung bantu perekonomian warga setempat. insyaAllah bermanfaat dan barokah. Seperti tipikal makanan sunda, kami disediakan lalapan. Dan.. I swear eat lalapan much. Haha. Saya suka lalapan.

Pulangnya, jangan tanya. Macetnya naudzubillah. Bahkan sampai kota Bandung pun, macet tak juga berhenti karena arus balik. Banyak juga wisatawan lain yang ingin pulang. Maka, kemacetan pun tak tertahankan.

Akhirnya, kami sampai di stasiun Bandung pukul 18.00, tepat maghrib. Saya dan Santika langsung menuju kosan untuk berganti kostum kemudian berpamitan pada teman teman yang masih stay di parkiran stasiun bandung untuk menunaikan ibadah maghrib. Dan.. liburan telah usai. Kami pun kembali ke rutinitas masing masing. Haha.

*Sesungguhnya yang paling mahal itu waktu. Ia dengan mudahnya terbuang dan tak akan kembali.

 

Floating Market dan Farmhouse

Apa yang terbaik dari sebuah weekend di perantauan? Kunjungan dari kawan kawan. Yeah.. thats it. Teman teman saya mengunjungi saya di Bandung. Ada yang jauh jauh dari Kediri dan Jakarta. Saya menjemput Santika di depan Stasiun Bandung tengah malam dan kemudian hari dimulai dengan bertemu Helmi, Mba Tari dan Ghozi di depan tiang bendera ITB.

Tujuan pertama kali ini adalah mengunjungi lembang yang ngehits dengan Floating Marketnya dan Farmhouse. Ghozi yang emang udah dari sononya akamsi Bandung menjadi guide kami hingga ke Floating Market. Kecenya, perjalanan lewat jalur alternatif bisa memotong setengah dari standar biasa masuk ke Lembang (Seminggu sebelumnya saya mengunjungi Lembang dan makan waktu satu hingga dua jam sampai ke lembangnya. Itu pun baru sampai Pasar Lembangnya doang. Macetnya Bandung ketika weekend nggak banget deh. Haha).

Tiket Floating Market Bandung kurang lebih Rp 20.000, yang bisa ditukarkan dengan segelas kecil kopi, milo atau sejenisnya di depan pintu masuk atau di bagian dalam area Floating Market. Itu belum sama parkir kendaraan lho. (Parkir mobil Rp. 10.000). Maka masuklah kami ke area Floating Market. Saya awalnya menyangka Floating Market adalah danau atau sungai yang dibendung untuk dijadikan pasar terapung mirip mirip di Kalimantan. Eh.. ekspektasi saya terlalu liar. Ternyata area ini adalah danau yang tidak seberapa luas yang disulap sedemikian rupa sehingga mirip taman bermain dengan aneka rupa wahana. Emang ada wahana apa aja? Sebenarnya intinya adalah tempat nongkrong dan makan juga foto (tempatnya instagramable gitu sih).

Kami menyusuri danau dan menemukan guesthouse kecil yang sudah dipesan beberapa korporasi yang nampaknya akan menyelenggarakan gathering di lokasi ini. Maju lagi, ada jalan setapak dari beton juga dari bambu bambu yang menghubungkan pengunjung dengan rumah rumah apung (jadi inget program salah satu cagub jekarda 2017 ini haha) berarsitektur jejepangan lengkap dengan studio foto dan rumah kostum yang menyewakan hanbok serta kimono. Maka, meluncurlah kami di antara gadis gadis muda yang ingin bergaya ala ala negeri sakura sana. Bambunya sendiri cukup stabil. Jadi jangan khawatir jika ingin lewat. Nggak begitu goyang kok. Cuma ya tetap hati hati jangan sampai pecicilan. Kita jatuh ke air sih nggak papa. Nggak bakal mati. Tapi kalau jatuh ke air se-hape dan kamera kita ya wasalam. Hehe. Selamat tinggal foto foto instagramable kalian.

 

Maju terus, kami menemukan angsa angsa yang sedang berenang dengan anggunnya di air kolam yang tenang. Danau ini juga menyajikan pemandangan ikan ikan mas yang segede lengan bikin ngiler para pemancing. Sayangnya pengunjung tidak diperbolehkan untuk memancing di kolam ini. Haha. Ngasih makan ikan oke aja, mancing ikannya tuh yang dilarang.

Apa yang menarik dari Floating Market? Tempat makannya. Ada yang terapung apung di atas air lho. Makan sambil sedikit goyang goyang macam di kapal. Terus bayarnya juga bukan pakai uang, tapi pakai koin Floating Market. Jadi berasa kayak di negeri antah berantah. Haha. Ada banyak pilihan makanan dijajakan di Floating Market. Ada yang berjajar makan pedagang kaki lima tapi jualannya di perahu kecil, atau kalau mau yang suasana kafe, kita bisa berjalan di seberang danau. Kenyang deh.

Tak cuma wahana piknik, Floating Market memiliki taman yang berisi tumbuhan dan hewan. Kelinci dengan kandang dan rong rongannya mereka. Ada juga aneka tanaman yang ditata dengan ciamik. Ini sih maklum aja. Lembang soalnya. Hehe. Ada juga replika kereta api. Jalan dikit, nemu pinggiran danau lagi. Saya sebenarnya ingin mendayung perahu sampai ke ujung danau. Tapi karena teman teman saya ingin segera pindah maka saya harus melupakan keinginan tersebut, hehe.

Lanjut part II.

Famhouse

Yang terbang dari farmhouse adalah sebuah peternakan kekinian. Nyatanya? Ya emang benar kekinian. Intinya adalah tempat makan dengan aksesori hewan dan kebun bunga. Udah gitu. Yang paling asik adalah susu yang kita dapat setelah menukarkan kupon masuk. Suer, susunya banyak banget. Seneng deh. Haha

Udah dapat susu, maka masuklah kita ke interior dalam si Farmhouse ini. Air terjun kecil mengalir bergemericik seolah olah kita ada di hutan. Nah lho.. haha. Kalau ambil jalan ke kanan maka kita akan bertemu dengan taman bunga yang tertata rapi dengan bagian bagian kebun binatangnya masing masing. Yang paling unyu adalah segerombol biri biri asli impor mungkin dari Aussie atau Selandia baru, dimana mereka akan jadi sedikit beringas kalau liat pengunjung ngasih makanan. Si biri biri ini diberikan semacam popok khusus biar kotorannya nggak kemana mana. Sungguh manajemen kebersihan yang oke punya. Lucunya, ada domba yang keluar area dan mengejar anak kecil. Si anak ini sampai ketakutan. Hehe. Tak hanya biri biri, ada berbagai macam hewan piaraan lainnya. Kelinci kelinci berbulu unyu unyu, ada iguana, sugar glider (pose tidur mereka sungguh menggelikan) dan masih banyak lainnya.

 

Di area peternakan hewan ini, ada juga penyewaan kostum indian. Maka jika kami tadi serasa plesiran ke Jepang dan Korea ketika berkunjung ke Floating Market, sekarang kami bepergian ke Amerika. Ngeliatin ciwi ciwi dan cowok pakai kostum indian dengan tongkat mereka.

Dekat dengan area peternakan, ada sebuah kafe yang menyajikan makanan untuk pengunjung yang mungkin ingin merasakan suasana makan di Farmhouse. Belakang kafe ada taman bunga, dimana lagi lagi kami menemukan segerombolan ibu ibu berbusana ala ala noni belanda yang mau memerah susu. Haha. Kalau tadi ke Amrik, sekarang berasa kayak di Belanda.

Maka, dimanakah kita bisa menemukan penyewaan kostum tadi? Cukup kembali ke air terjun di awal tadi dan ambillah jalan ke kiri. Kita akan menemukan rumah rumah ala ala Eropa yang menjual berbagai keperluan mulai dari asesoris, jus, kopi, toko roti dan juga termasuk tempat penyewaan kostum. Kostumnya nampaknya sih banyak. Tapi, yang ngantri juga seabrek cuy. Jadi siap siap aja buat nunggu sekian menit. Syukur syukur sih nggak perlu nunggu sampe ber-jam jam. Haha.

Oke, selain kompleks pertokoan tadi, area ini tak hanya menyajikan tempat jualan. Berjalan sedikit ke arah kiri, maka ita akan menemukan kompleks the hobbit. Itu tuh rumahnya si hobbit kalau di film Lord of the Ring.

Puas menjelajahi Farmhouse, kami kembali ke jantung kota Bandung. Jalan macet tiap weekend adalah momok bagi seluruh warga. Maka, kami pun baru sampai di Bandung ketika magrib. Dan semua orang menahan buang air. Duh.. sungguh kemacetan yang menyiksa.

Setelah kami selesai solat magrib, kami pun bepergian menuju Braga Culinary Night. Stall stall kuliner berjajar di sisi sungai Cikapundung berjubel manusia manusia yang bermalam mingguan sambil nyari makan. Braga juga dipenuhi dengan para anak muda kreatif yang mencari uang dengan bermain peran sebagai nenek lampir, putri kerajaan, robot robotan dan aneka macam lainnya. Mereka menarik bayaran kira kira lima ribuan tiap kali diajak berfoto.

Ada hal lucu ketika kami makan malam di Braga. Ghozi mengira Mba Tari sakit magh padahal lagi hari pertama menstruasi. Ghozi mampir di warung kecil untuk membeli obat magh dan air putih. Maka jadilah semua orang meledak ketawa. Ghozi cuma bisa bengang bengong bingung. Huahahahaha. Maka kami menutup hari dengan tidur nyenyak.

Stigma Fashion dan Religi

Ajining raga ing busana. Begitu sih kata pepatah nenek moyang saya yang orang Jawa. Harga diri terletak dari apa yang kita kenakan. Kalau kamu berpakaian layaknya raja, orang akan berpikir bahwa kamu raja walaupun mungkin hanya sandiwara di aas panggung. ”Sing dadi raja ne kui tanggaku”. Yang berperan jadi raja, adalah tetangga saya. Ada seorang wania berpakaian kakhi, mungkin orang akan memanggilnya bu guru karena stigma guru adalah ibu ibu atau bapak bapak yang memakai pakaian resmi terkadang baik, khaki atau biru tua. Jika ada seseorang memakai jas, mungkin orang pikir dia adalah seorang pebisnis (atau mempelai lelaki? wakakak). Jika ada seorang memakai pakaian abu abu dengan emblem disana sini dan memakai semprita,  tangannya melambai kesana sini di jalan, bisa saja dia adalah seorang polisi. Jika ada seseorang dengan caping di atasnya, mungkin dia seorang petani atau pendekar yang sedang mengembara? Haha. *Efek nonton film persilatan indonesia jaman dulu. wkwkwk). Jika ada seorang berkebaya dan jarit serta menggendong botol botol jamu, orang akan berpikir bahwa dia adalah tukang jamu.

Mengapa orang sedemikian mudahnya menebak kepribadian seseorang dari cara berpakaian? Ya simpel saja. Jelas karena pakaian menunjukkan identitas kita dan cara kita ‘menunjukkan’ kepada khalayak tentang siapa kita. Bukankah manusia selalu haus akan pengakuan?. Orang berpakaian karena ingin menunjukkan status mereka sebagai mahluk Tuhan yang berakal. Menunjukkan bahwa mereka sudah beralih dari jaman nggak pake baju alias manusia purba ke jaman peradaban alias jaman udah kenal baju. Intinya yang mendasar adalah biar nggak dibandingin sama hewan. Hewan aja pakai kostum. Masa manusia nggak? Haha.

Ah, jangan melulu menuduh orang lain lewat penampilan deh. Yakinkah kita sebagai manusia awam bakal nggak mikir aneh aneh kalau ada orang yang pakai pakaian tidak sewajarnya? Lalu, kenapa dong ada istilah cabe-cabean yang orang selalu bilang bahwa mereka identik dengan dandanan norak warna warni ngejreng, pakaian minim, hape di tangan dan motor?. (bahkan sampai ada lagunya juga lho. Alaay.. anak layangaaan.. nongkrong pinggir jalan sama teman teman.. ). Kenapa ada stigma bahwa perempuan berjilbab itu dianggap solihah? Kenapa ada stigma orang bertato dianggap sebagai berandalan atau penjara? Ya karena kita manusia yang penuh prasangka. Bukankah kita diciptakan dengan penuh prasangka?. Yakin deh nggak ada satu orang pun di dunia ini yang nggak berprasangka.

Oke, agak melenceng dikit dari bahasan fashion tapi tetap ada benang merahnya. Mari kita berbicara tentang negeri ini dahulu. Tiga bulan ini dunia Indonesia, baik dunia perbahasaan, pervideoan, agama maupun poliik sedang guncang guncangnya. Terorisme yang nampaknya sedang mencoba tren baru: menjadikan wanita sebagai pengantin. Bukan pengantin manten lho, tapi pengantin yang dikorbankan demi surga. *saya kok jadi keinget upacara pengorbanan gadis sebagai persembahan kepada dewa di suku Astec atau Maya. Waaaa.. surga darimana nih? Banyak orang masih bertanya tanya darimana surga yang mereka pikirkan berasal.

Balik ke stigma fashion, tentang bagaimana orang berprasangka pada orang lain lewat apa yang bisa dipandang mata. Pengantin itu tadi adalah seorang ukhti-ukhti yang bergamis warna gelap monotone, berkerudung gelap, lebar. Tiga hal ini sering dikait kaitkan orang bahwa siapapun perempuan yang memakai pakaian dengan tiga ciri khas tadi dianggap sebagai penganut Islam fanatik bahkan seorang teroris. Padahal belum tentu. Nggak juga tuh. Kan fashion sekarang juga lama lama bergerak menuju syar i.

Kenapa orang terutama Indonesia suka bergunjing (selain nggunjingin mbak mbak rok mini) ketika ada orang pakai pakaian hitam hitam dan bercadar. Ya karena kita lihat dan dengar berita. Ketika media media memperlihakan sosok tersangka yang ternyata memakai koko, berpeci, dikabarkan taat pada agama, sholat lima waktu nggak putus dan berbagai atribut serta ritual keagamaan lainnya. Kemudian kalau perempuan selalu pakaian hitam, berkerudung lebar, kadang bercadar. Sebagian orang Indonesia yang ke-Islamannya -masih dianggap taraf biasa bagi sebagian lainnya- kemudian patah hati. Mereka pun melongo. Ooooh.. ternyata citra Islam itu digambarkan sebegitunya yah. Kerudung gede, item, bercadar, seringkali mereka teroris. Dan begitulah pemikiran bergulir. Maka tetangga kanan kiri sudah mulai lirak lirik curiga pada kita kita yang memakai fashion seperti itu. Anggapan fanatis mulai diarahkan pada kita kita yang memilih model fashion syari macam itu.

Kemudian fashion berubah. Seperi roda, fashion berputar dengan cepatnya. Kemarin seleranya pakaian ketat menutup badan, besoknya lagi baju anak SMA yang dikeluarkan, besoknya lagi jeans gombrong. Ganti musim, ganti lagi stylenya. Liat Jokowi pakai jaket bomber, semua orang nyari jaket bomber. Besoknya, liat instagramnya Dian Pelangi, eh pengen jadi hijaber dan seabrek style lainnya. adalah kerudung bergo polosan yang cuma menutup leher. Kemudian paris yang semakin hari semakin tipis saja kualiasnya, kemudian kerudung panjang panjang mirip selendang, kemudian muncul wanita wanita melek fashion yang mulai mengampanyekan pakaian syar’i yang seperti tuntunan Nabi. Fine.. benar atau salah, kembali pada diri masing masing.

Ada banyak pendapat tentang bagaimana seharusnya wanita berpakaian. Menurut pandangan agama Islam, yang dianjurkan adalah pakaian yang menutup aurat. Aurat itu dari mana? Kalau menurut pandangan agama Islam sih, seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan serta tidak menyerupai laki laki. Tapi yang namanya manusia, Tuhan sudah memberi anugerah bahwa kita diciptakan dengan akal dan perasaan masing masing. Ada manusia yang menafsirkan harus menutup rapat rapat sampai mata kaki. Ada yang menutup semuanya meski kain terlihat berlenggak lenggok dengan manisnya di atas kulit dengan dalil: yang penting ketutup. Ada yang memaknai bahwa menutup diri bukan berarti harus ketinggalan fashion.  Ada yang merasa bahwa pakai celana masih dibolehkan yang penting nutupin aurat. Asal nutup doang. Ada yang merasa dia adalah tipe girly yang suka dengan warna warni, maka dari atas sampe bawah ngejreng sana sini. Ada yang merasa karena kelas sosialnya tinggi maka selera fashionnya haruslah mencitrakan pakaian yang menutup ubuh dengan aksesori disana sini. Ada yang karakternya polos, maka ia memakai yang itu itu saja. Ada yang dari atas sampai bawah memakai serampangan. Ada yang memaknai bahwa syar’i adalah menutup seluruh tubuh sampe yang terlihat cuma segaris mata. Buanyakkk buanget versinya di masyarakat.

Mana yang benar? Nggak usah nyari salah dan benar. Kembalilah bertanya pada diri kita masing masing, apakah dengan yang kita kenakan, Tuhan sudah ridha? Karena Tuhan nanti nggak akan cuma nanyain tentang mana yang ditutup mana yang enggak. Tapi juga tentang dari mana kita mengusahakan pakaian kia. Apakah dari nyolong, hasil kerja keras tiga bulan bahkan dibela belain puasa, hasil ngutil di pasar, pemberian kolega lama atau darimana, pakaian yang dibeli biar dibilang trendi, biar bisa nyombong sana sini, biar bisa dianggap naik kelas nan kekinian, biar jadi pembuktian ke orang orang yang dulu pernah menghina kita, blus jutaan biar bisa dipamerin di medsos dan sejuta hal di baliknya. Jadi.. berhenti berdebat dan jadi fashion police orang lain. Jangan merasa paling benar. Mulailah menanyakan pada diri masing masing. Seorang pelacur berpakaian mini belum tentu lebih hina daripada kita yang pakaiannya biasa saja. Introspeksi diri sendiri aja.

Baiklah, fashion dan religi. Tidak ada ukuran yang mutlak dalam berfashion berkorelasi dengan kepercayaan kita. Udah sejauh apa kita menerima agama (apakah diajarkan oleh orang tua, terpaksa, ikut ikutan, agama katepe, agnostik, atheis, ataukah memang sudah terpatri dalam hati) tidak ada sangkut pautnya dengan mode baju apa yang kita kenakan. Toh yang paling paham bagaimana kita hanya kita sendiri dan Tuhan. Seperti kata Agustinus Wibowo dalam bukunya yang berjudul Selimut Debu ”Agama itu bukan di baju. Agama itu ada di dalam hati. Inti agama adalah kemanusiaan.”.

Jihad Pakai Cara Goblok

Ketika kedamaian disalahartikan sebagai menjadikan dunia ini milik satu umat saja, tidakkah mereka paham bahwa bukan mereka saja yang hidup di bumi. Tidakkah mereka membaca sejarah bahwa ada banyak umat yang mendiami dunia ini. Islam, Kristian, Yahudi, Hindu, Budha, Konghucu, Kaharingan dan berbagai agama lainnya. Jika berbeda, apakah mereka ciptaan Tuhan yang berbeda? Jika mereka dirasa ciptaan Tuhan yang berbeda, maka memangnya sudah sejauh mana kamu mengenal Tuhanmu dan Tuhan mereka?. Ah, sungguh 2016 membuat saya berpikir berulang ulang tentang jihad.

Konsep jihad, suriah, bom bunuh diri, pengantin (orang yang rela bunuh diri mengatasnamakan agama) seolah olah menjadi legitimasi bahwa kita sudah menyerahkan hidup kita pada akhirat. Jihad pasti masuk surga, dan banyak yang berpikir bahwa jihad hampir selalu membunuh orang kafir. Lalu, siapakah orang kafir? Maka orang berpikir bahwa agama yang paling benar adalah agama Islam dimana para ekstrimis menganggap orang yang bukan Islam pastilah selalu kafir. Maka menurut mereka, hukum membunuh orang kafir adalah halal. Oh, plis. Apakah guru agama mereka nggak pernah mendongengi bahwa Nabi pun pernah berhutang pada seorang yahudi? Apa guru ngaji mereka nggak pernah kasih tahu bahwa Nabi Muhammad tidak membunuh non Islam dengan pengecualian?. Bukankah ada orang orang non yang dilindungi? Kalau semua orang non islam dibunuh di masa Nabi Muhammad SAW, yakin deh nggak ada satu orang pun yang beragama non islam hari ini. Emang udah seislam apa sih mereka yang seenaknya bilang jihad adalah membunuh kafir? Sudah seislam apa diri kita mengkafir kafirkan orang lain?.

Oh plis, tidakkah mereka berpikir panjang bahwa ketika mereka meledakkan diri, ada anak cucu yang berhenti untuk mereka beri makan. Kalau bapak atau ibunya jadi pengantin, siapa yang kasih nafkah buat anaknya dirumah?. Emangnya anaknya nggak butuh makan nggak butuh sekolah nggak butuh apa apa buat nyambung hidup?. Emang bisa anaknya bertahan hidup hanya dari cinta bapak atau ibunya yang udah mati yang belum tentu juga rohnya tenang di alam baka? Plis.. apa nggak nyusahin yang masih hidup sih. Gimana beratnya keluarga yang hidup dengan stigma teroris, stigma pemecah belah umat, stigma orang yang maunya masuk surga sendirian seolah olah apa yang udah dilakukan itu heroik.

Suatu ketika, saya bertandang ke rumah sahabat yang terletak di kaki bukit. Seperti biasa, kami masak untuk makan siang. Kebetulan minyak goreng habis dan satu satunya warung yang buka hanya dibelakang rumah kami. Saya cukup terkejut ketika teman saya ini bercerita bahwa suami si ibu yang berjualan kelontong di rumahnya diangkap densus 88 minggu lalu karena dugaan terorisme. Si ibu ini memiliki anak anak yang masih kecil, bahkan ada satu yang masih bayi. Seketika saya merenung. Pasti sangat berat untuk jadi seorang ibu yang ditinggal suaminya. Meskipun alasannya membawa bawa urusan agama, tapi tetap saja, dari sisi kemanusiaan tidak membanggakan sama sekali. Haruskah untuk urusan jihad, anak istri jadi korban? Bagaimana perasaan anak anaknya ketika bermain dan ada anak lain menanyakan atau bahkan mengolok olok dirinya sebagai putra seorang teroris. Pasti pukulan yang sangat berat untuk psikologi si anak. Dicurigai sana sini, dianggap bisa merakit senjata bahkan bom. Endingnya? Mungkin saja bisa krisis identitas.

O, ya saya membaca berita di koran online bahwa ada satu pengantin perempuan yang ditangkap dan syukurnya sebelum meledakkan diri di objek vital negara. Syukurlah dia ditangkap. Kalau mau berpikir panjang, apa yang ia lakukan sudah dianggap sebagai perbuatan makar. Melawan negara. Padahal bukannya membela tanah air adalah kewajiban seorang muslim?. Tidak ingatkah sejarah Islam bisa masuk ke Indonesia dengan damai dan islam juga yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia?. Lalu dimana rasa menghargai terhadap para pahlawan kita?. Memangnya kalau udah ngebom, jadi pengantin, kamu mati syahid? Udah pernah ketemu malaikat apa kok bisa bisanya menghukumi mati syahid.

Plis mas.. mbak.. jika ada yang terbunuh dalam ledakan yang kalian sebabkan, bukannya kalian ya yang jadi pembunuh. Nggak jadi mati syahid maah jadi pembunuh. Malu atuh.. Belum lagi, dari sisi sejarah, jika dia merusak sebuah bangunan monumental satu saja, maka mungkin tidak ada lagi cerita untuk anak cucu kita. Nggak ada lagi cerita di RPUL atau kamus kamus backpacker bahwa Indonesia pernah punya satu tempat bersejarah dimana Pak Karno dan Presiden Presiden Indonesia lainnya tinggal selama mereka memimpin. Jadi teringat dengan ISIS di Timur Tengah sana yang menghancurkan berbagai macam bangunan sampai ke manusia manusia yang tinggal di dalamnya. Bukankah mereka adalah orang (yang mengaku Islam) tapi tak berilmu. Mereka mengulang sejarah bangsa bar bar yang memundurkan peradaban seribu tahun lebih lambat karena membakar perpustakaan besar di Irak sana ribuan tahun lalu. Satu saja sejarah kecil, mengapa disepelekan. Satu sejarah kecil berisi ilmu pengetahuan. Jangan sampai anak cucu kritis identitas karena goblok. Jangan sampai anak cucu goblok karena kesalahan kita yang ikut ikutan goblok nggak berpikir panjang atas sebuah keputusan.

Kalau ada doktrin yang menyebukan bahwa “Jika belum bisa ke Suriah, maka lakukan amaliyah di negerimu”. Sik sik.. yang perang kan Suriah. Terus kenapa yang diajak amaliyah (bom) yang kena orang negeri sendiri. Kan nggak banget. Salah sasaran broh. Haha. Yaudah.. kalau mau ke Suriah ya ke Suriah aja. Jangan ajak ajak orang buat ngebom hotel, istana negara, gereja, wihara dan lain sebagainya. Yang ada di tempat tempat itu kan juga belum tentu pernah menyakiti yang ngebom kan. Gimana dong kalau ada seorang ayah yang ada di tempat kejadian, dia nggak salah apa apa, dia lagi mencari uang buat pengobatan anaknya yang sakit lalu terbunuh hanya karena perbuatan sok heroik orang yang mengatasnamakan agama. Gimana kalau terorisnya yang ada di posisi bapak itu? apa nggak kemepyar atinya mikirin anaknya yang sakit keras. Duh deeeek.. Atau emang para pengantin itu yang baca doktrinnya nggak tuntas. Mungkin yang dimaksud dengan amaliyah di negeri kita sendiri itu adalah mengaji, berbakti pada orang tua, cinta tanah air, memajukan pariwisata kecamatan yang kita tinggali, rukun dengan penganut agama lain. Gitu kali ya.. saya sih nangkepnya gitu.

Mari kita pakai cara goblok untuk jihad, bahkan lebih goblok dari bikin bom ricecooker atau bom buku. Kenapa kok bisa goblok? Ya karena bisa dilakukan setiap waktu dan nggak pakai biaya dan nggak perlu pemikiran panjang. Maka cara goblok apakah itu: berbuat baiklah pada sesama. Cukup itu.

Bukankah Islam itu rahmatan lil alamin? Bukan agama penebar kebencian kan? Maka jagalah dengan elegan. Kalau kita masih kecil, ya cukup patuhi orang tua. Besar dikit, udah baligh ya jaga diri. Jaga malu dan kemaluan. Tholabul ilmi, kerja nyari nafkah buat keluarga. Biar keluarganya nggak ada yang jadi peminta minta. Udah nikah, ya sayangi istri dan anak. Pelihara mereka dari berbuat menyimpang dari ajaran agama (termasuk membunuh orang lain). Ngajak orang beribadah ke masjid, baca Quran tiap hari, ngasih sedekah makan minimal sebungkus sama orang yang membutuhkan. Orang tua, memberi nasihat yang baik ke yang muda, memelihara amalan yang baik menunggu mati. Simpel broh.. udah gitu doang. Bukannya intinya jihad itu adalah berjuang di jalan Allah? yaudah.. berbuat baik pada orang tua, sedekah, ngaji, menebar senyum dan ketenteraman pada sekitar juga termasuk jihad bukan? Sesimpel itu ternyata. Subhanallah..  amaliyah jihad segampang itu. Nggak usah pakai mikir. Kalau ibu saya bilang ”Jangan nyubit orang kalau nggak mau dicubit. Semua aka nada balasannya”. Maka, sejahat apa kita sama orang (mau itu dialibikan pada jihad sekalipun), yakinlah akan ada balasannya. Hmm.mau jihad aja kan nggak perlu jadi jahad.

Jihad cara goblok aja deh. Hidup terlalu indah untuk disia siakan. Mari memperbaiki umat, bukan malah menghancurkannya. Kita hidup berdampingan dengan umat lain. Apa yang menjadi keyakinan kita atas Tuhan kita biarlah hidup di hati kita dan diamalkan untuk akhirat yang kita yakini. Tak perlu memaksakan apa yang jadi kepercayaan kita.

*Sudah seislam apa kita mengkafir kafirkan orang lain?. Sudah seislam apa kita menyakiti orang lain? Sudah seislam apa kita menghukumi diri sebagai penentu hidup mati seseorang di dunia ini?

Dilema Karir atau Di Rumah Aja

Tidak dapat dipungkiri, pembicaraan soal pernikahan pasti jadi salah satu topik hot di semua lingkaran. Mau ngobrol sama geng disini, obrolannya satu dua pasti mengarah ke nikah. Pindah ke komunitas lain, eh,  nikah juga yang dibahas, pindah ke lainnya lagi, eh.. nggak berubah juga. Haha. Ya mau gimana lagi. Nampaknya semua orang ingin segera ke pelaminan. Duh deek.. Sore ini saya mengobrol dengan salah satu teman yang baper banget sama mantannya. Orang tuanya ingin dia nikah sama mantannya, sedangkan dianya masih belum bisa berdamai dengan perasaan dan masih ingin mengejar sekolah. Mana yang baik? Semuanya baik. Tidak bisa disamaratakan. Bergantung dari sudut pandang.

Di jaman kekinian ini, pesan pesan keagamaan bisa dengan mudahnya didapat dan disebarkan ke semua lini. Ya memang sih, mengingatkan lebih baik daripada tidak mengingatkan. Wakakak.. nah lho.. gimana maksudnya tuh. Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah artikel yang membahas tentang bagaimana sebaiknya sikap perempuan apakah fokus pada keluarga atau fokus pada karir. Setelah saya baca, artikel itu memuat sudut pandang bahwa wanita sebaiknya di rumah saja. Yang bertanggung jawab untuk bekerja adalah laki laki. True. Saya pun juga mendukung isu tersebut. Nabi Muhammad SAW pun saya pikir sangat memuliakan wanita maka beliau menganjurkan wania untuk jaga rumah saja. Untuk menjaga harkat dan martabat si wanita. Untuk menjaga wanita dari marabahaya. Ya, tentu saya amat sangat setuju.

Artikel tersebut cukup jadi perbincangan antara saya dan beberapa teman. Saya pun yakin haqqul yakin seyakin yakinnya bahwa perempuan memang ditakdirkan mengurus rumah seisinya, bagai ibu peri yang menciptakan atmosfer nyaman untuk keluarganya sekaligus manager segala urusan sebagai pelaksana dari tuan pemimpin alias suaminya. Meskipun artikel tersebut saya anggap berat sebelah, saya tetap gamang. Saya galau tentang posisi saya sebagai seorang perempuan yang nantinya akan ada masa dimana seorang laki laki (semoga dia adalah sosok yang soleh dan bertanggungjawab pada keluarga) meminang dan melingkarkan cincin di jari manis saya. Apakah saya harus di rumah saja atau saya boleh bekerja. Apakah jika saya cukup di rumah dan semuanya terbebankan pada pundak laki laki saya saja. Apakah jika saya bekerja, itu artinya saya menyalahi kodrat. Dan ratusan pertanyaan lain yang berkecamuk. Pada artikel tersebut menekankan bahwa tugas wanita adalah di rumah. Nggak perlu ngapa ngapain karena semua haruslah laki laki yang menanggung. Ini persoalan harga diri dan tanggungjawab yang memang sudah dibebankan Tuhan pada seorang laki laki: menjaga keluarganya dan memberikan nafkah lahir batin. Seolah olah wanita wanita yang sudah bekerja telah melakukan sebuah kenistaan (sekarang lagi hits pake kata penistaan). Seolah olah nanti jika menikah dan saya bekerja, maka saya melakukan pembangkangan. Dan solusinya adalah keluar dari pekerjaan kemudian total berkeluarga. Saya menghela nafas. Jadi.. apakah bekerja itu sebuah dosa?. Bagaimana dengan kenyataan di lapangan bahwa ada ribuan bahkan jutaan kepala keluarga perempuan karena berbagai macam alasan yang bukan lagi sekedar perbedaan tugas gender. Tapi sebuah keharusan pemenuhan kebutuhan hidup demi taraf kemaslahatan keluarga karena sebuah alasan picisan namun relistis: karena anak kita nggak bisa makan cinta. Bisanya makan nasi. Alasan lain: karena ttidak semua laki laki sebaik pangeran dari negeri dongeng yang bisa membahagiakan putri pilihannya hidup bahagia selama lamanya.

Saya renungi cukup lama artikel tersebut. Kemudian membayangkan ibu dan kembali melihat seperti apa keluarga saya. Saya berasal dari keluarga yang tidak mempermasalahkan gender untuk melakukan hal yang sama kecuali dalam keburukan. Laki laki tentu bekerja. Pasti. Perempuan? Apakah dibolehkan bekerja? Kenapa tidak. Kami menganut paham bahwa sekecil apapun yang kia lakukan tak peduli apakah kita laki laki atau perempuan selama membawa kebaikan dan sesuai pada temptanya dan diniatkan untuk ibadah maka akan bernilai pahala untuk akhirat. Begitulah konsensus dalam keluarga saya.

Di jaman -kakek saya pihak ibu- masih muda, dimana teman teman sebayanya menikah di usia belasan ahun, kakek saya menikah di usia dua puluh lima. Kaa ibu saya, nenek berselisih hanya dua tahun dari kakek. Di jaman segitu lho.. dimana perempuan yang baru punya pikiran dan kesempatan nikah di usia dua puluhan ke atas bisa dianggap perawan tua. Bahkan konon, kakek saya yang akhirnya dicarikan istri oleh mendiang buyut saking ‘tua’nya. Mendiang buyut merasa prihatin terhadap kakek yang di usia seperempat abad –sementara teman teman sebayanya sudah punya satu dua lima anak- ia masih juga jomblo (kakek saya orang yang idealis dan cukup keras kepala). Kakek nenek saya punya anak delapan, dimana empa diantaranya saja yang masih hidup. Empat lainnya meninggal ketika masih kecil.

Ibu saya menikah di kisaran dua tiga-dua empatan. Bapak dan ibu juga sebaya umurnya. Hanya selisih setahun. Mereka memiliki tiga orang anak, termasuk saya. Keluarga saya bukanlah tipikal keluarga yang senang dengan perjodohan. Masing masing dari anggoa keluarga memilih sendiri siapa pendamping hidup mereka. Termasuk ibu saya yang pada akhirnya berjodoh dengan bapak. Selama cocok dengan agama, pribadi dan keluarga, why not. Hanya satu dua orang saja yang mengalami perjodohan. Itupun setelah keluarga lainnya prihatin karena kekeraskepalaan mereka yang senang menjomblo.

Nenek saya bahkan membanting ulang ke pasar setiap hari sejak ia masih sangat belia. Ketika sudah menikah, bahkan ia melebarkan bisnisnya meski hanya kecil kecilan. Tapi apa yang beliau lakukan sangat membantu keluarga tetap hidup di masa sulit. Di tengah tengah pernikahan mereka, kakek saya jauh stroke dan berbagai masalah penyakit mendera. Otomatis keuangan keluarga memburuk karena kakek harus dirawat. Dan itu tidak hanya butuh cinta. Butuh uang juga. Tidak menafikkan cinta, tidak. Api untuk beli obat , kan tidak mungkin cuma pakai cinta. Paling cuma disenyum sinisin sama dokernya dan dipersilakan keluar. Di masa sulit itu juga, ibu dan saudara saudaranya bisa bersekolah. Ya, karena kerjasama kakek dan nenek. Nenek tahu kewajiban menafkahi adalah laki laki. Tapi, ia pun tak hanya tinggal diam ketika suaminya sakit keras dan putra putrinya jusru tidak bisa makan. Sungguh juara. See.. toh pada akhirnya perempuan pun juga membantu menyeimbangkan keluarga. Ibarat kapal, jika ada masalah pada nahkoda dan kapal, asistennya harus siap untuk membackingi.

Suatu ketika sepupu saya mencerahami saya tentang afdholnya doa. Selain itu juga menekankan bahwa kita perlu berdoa kepada Allah agar semakin dilancarkan rejekinya. Di salah satu kalimatnya, ia berkata bahwa perempuan bukan tempatnya untuk bekerja. Perempuan adalah mengurus keluarga dan yang harus beranggungjawab terhadap nafkah adalah suami. True again. I swear her lines are true. Sedetik kemudian saya menghela nafas. Plis, semua tidak hanya kelar hanya dengan menengadahkan tangan ke langit. Semua butuh ikhiar. Realistis saja. Beras nggak akan sera merta tercurah dari langit sedetik setelah kita berdoa. Buuh ikhtiar dan waktu. Entah itu dari kerja beneran atau justru dimudahkan dapat utangan.  Kondisi dari keluarga itu adalah si suami bukan orang yang bertanggungjawab penuh. Seringkali ia hanya di rumah dan hanya bekerja sekiranya pekerjaan itu cocok untuknya padahal ia adalah orang yang sehat. Ia memiliki beberapa orang anak. Kondisi rumahnya berantakan. Makan tak teratur, uang kurang, padahal anak anak tersebut masih kecil dan butuh sekolah. Ya, walaupun sekolah jaman sekarang gratis, tapi seragam, buku kan juga diurus sendiri. Anak gadisnya pertama bekerja setelah sekolah menengah atasnya usai untuk membantu perekonomian keluarganya yang morat marit. Kalau memang tugas wanita di rumah, ya kenapa harus kerja. Kalau tugas laki laki sebagai kepala rumah tangga adalah mencari nafkah, maka harusnya sepupu saya ini tidak harus memina pada ibunya ketika beras tak lagi ada di rumah. Harusnya sih suaminya yang kerjakeras dong, nggak perlu sampe anak perempuannya ikut turun tangan. Logikanya begitu.

Yang tragis adalah si anak gadisnya menikah terlalu awal sebelum ia sendiri bisa setidaknya membantu mewujudkan cita cita. Ya, menikah adalah anugerah. Tapi kondisinya, si anak ini belum siap untuk mahligainya. Dan sepupu saya ini melepas begitu saja tanpa perundingan dari keluarga besar. Salah satu alasannya juga tentang uang. Ini yang kemudian menyulut kemarahan beberapa orang dari kami. Pernikahan tersebut dianggap sebagai sebuah penghinaan terhadap harga diri keluarga. Ya, memang ada masalah cukup rumit yang melatarbelakangi pernikahan si anak tersebut.

Di kemudian hari, sepupu saya berkomenar tenang sepupu saya lainnya yang menurut dia seharusnya tidak perlu bekerja karena suaminya sudah bekerja. Saya hanya menghela nafas sambil mendengarkan percakapan ibu ibu di ruang dapur itu. Terlalu banyak orang dan saya merasa tidak perlu berkomentar. Padahal kalau dilogika, saya pun mengenal betul sepupu saya yang lain tersebut. Ia bekerja karena ia sadar, ia ingin melakukan kebaikan untuk saudara saudaranya yang lain tanpa ingin membebani suaminya. Suaminya menanggung banyak kepala di rumahnya. Dua orang dua yang sudah udzur dan mulai pikun, sementara karena ia harus bekerja maka adiknya lah yang terpaksa harus berhenti dari pekerjaan mengalah untuk menunggui kedua orang tuanya yang sudah udzur. Oleh karena suami sepupu saya ini orang yang baik, maka ia tidak hanya bekerja untuk dirinya saja. Ia paham bahwa keluarga adiknya butuh makan. Maka ia memberi makan keluarga adiknya pula. Tidak hanya itu, sepupu saya ini juga menyekolahkan putri sepupu saya yang lainnya di pondok. Ia menyekolahkan beberapa bahkan. Betapa mulia. Dan istrinya pun tidak inggal diam. Ia tahu suaminya menanggung banyak orang, maka ia tidak ingin suaminya lebih terbebani. Dan dia bukan orang yang suka tinggal di rumah, menyapu, memasak kemudian melamun seharian menunggu suami pulang. Ia ingin tenaganya berguna setidaknya menghalau galau dan menghasilkan uang agar ia bisa membantu lebih banyak orang lagi. Bahkan, dengan tangan dinginnya pun keponakan keponakannya seperti kami pun bisa ikut merasakan nikmatnya tholabul ilmi.

Pada galaunya saya, saya pun butuh second third bahkan banyak pendapat dari lingkungan saya. Saya bertanya kepada beberapa orang laki laki tentang pandangan mereka terhadap perempuan yang bekerja. Sebagian menganggap positif, sebagian menganggap negatif. Sebagian merasa perempuan memang lebih baik di rumah. Sebagian ingin wanita bekerja di rumah entah sambilan apapun itu. Sebagian tidak ingin harga dirinya dilampaui perempuan entah itu dalam masalah karir, gaji maupun waktu. Sebagian merasa tidak masalah jika perempuan bisa membanu perekonomian keluarga. Sebagian senang jika perempuan bisa mengoptimalkan waku mereka secara produktif tanpa meninggalkan kewajiban mereka sebagai ibu rumah tangga. Beragam pendapat yang ternyata berkorelasi pada pembicaraan saya dengan orang tua. Benar apa ibu saya bilang. Pernikahan itu tentang komunikasi. Bekerja atau di rumah saja, dua duanya tak perlu bawa bawa mahzab dosa dosaan. Realistis saja dan kebijaksanaan kedua belah pihak jadi kunci langgengnya hubungan rumah tangga.

Kembali ke posingan yang jadi perbincangan cukup hangat di salah sau grup wasap. Ada satu dua orang yang begitu membanggakan dirinya bisa di rumah saja. beberapa berkomentar cukup miring terhadap komenta tersebut. Di kegalauan saya, saya merasa tidak cukup untuk berdebat dengan para ibu ibu rempong tersebut. Bukan level saya karena saya masih anak anak. Saya hanya melihat masalah ini sebagai perbedaan sudut pandang dimana tidak ada yang benar dan tidak ada satu pun yang salah.

Saya menelepon rumah. Dan entah kenapa bahasa ibu saya tiba-tiba mengarah pada perekonomian dan pandangan terhadap keluarga. Kalau dijadikan skripsi, mungkin bunyinya: Pandangan Subjekifias Poliik Perekonomian Keluarga Dalam Era Globalisasi. Sudi Wania Karir-Rumahan dalam Berbagai Aspek). Wahaha. Judul yang nggak kongkrit tapi bisa lah sediki nyerempet nyerempet. Ibu saya sudah memikirkan saya dan jodoh duh.. betewe apakah yang jadi jodoh saya di masa depan udah pernah mampir ke blog saya ini belum ya? wkwkwkwk. Ibu saya berwejang. “Perekonomian memegang delapan puluh persen kehidupan rumah tangga, Nak.”. Ibu saya benar. Hidup bukan cuma soal cinta. Emang kamu bisa ngasih makan anak kamu yang ngerengek rengek minta susu cuma dengan cinta?. Bisa suami kamu ngasih makan kamu pake cinta seiap harinya? Kenyang apa makan pakai cinta?. Tholabul ilmi itu sampai mai. Bisa apa kamu belajar cuma pakai cinta? Ke sekolah seragaman pakai cinta? Of course no honey.. hidup bukan melulu tentang cinta. Cinta itu pening. Tapi kiaa juga butuh sarana buat ibadah. Kamu nggak bisa beli beras pakai cinta. Kamu nggak bisa beli rukuh pakai cinta. Gimana kalau bikin sendiri? Bisa aja sih. Tapi kainnya kan juga beli. Beli pake apa? Cinta? Haha. Ngaco.

Tak selamanya sebuah pernikahan ada pada jalan datar. Semakin anak tumbuh, maka ia butuh materi sangat banyak. Mondokin anak sebagai contoh. Kan dia juga butuh sarung, butuh beli ember, gayung, butuh uang jajan juga. Ada kalanya suami sakit, nggak kerja. Setidaknya ada perempuan yang menyokong kehidupannya. Keuntungan dari perempuan yang bekerja adalah, ia bisa menabung dan membantu suaminya memperbesar bisnisnya. Tapi, harus didasari dengan agama yang kokoh. Ketika si perempuan paham posisinya sebagai istri, maka ia tidak akan sewenang wenang dengan suaminya. Kasusnya adalah salah satu sepupu saya yang lain. Oleh karena ekonomi keluarga mereka memburuk, si istri memutuskan untuk bekerja di Korea. Gajinya menggiurkan tentu saja. Tapi kemudian prahara datang. Oleh karena salah gahol dan si istri yang tak menyadari posisinya sebagai ibu dan istri yang harusnya taat. Ia berlaku dholim. Ia kirimkan uang hanya untuk sekolah si anak tertua. Sedangkan dua anaknya yang lain ia bebankan penuh pada suaminya. Pilih kasih dan tidak menghormati suaminya. Kemudian ia mengeluh bahwa ia telah bekerja keras sedangkan suaminya hanya ongkang ongkang saja di rumah. Dan sialnya, ia curhat pada teman laki lakinya di Korea sana. Padahal, kenyataanya, suaminya di rumah kebingungan setengah mati bagaimana mengaur waktunya untuk bekerja dan mengurus ketiga buah hatinya. Ketika lebaran, ia pulang, ia bertingkah seolah-olah berkat usahanya sajalah ia bisa menghidupi suami dan anak anaknya. Suaminya berbesar hati untuk tidak menampakkan kesedihannya di muka umum. Sungguh isri tidak tahu ditunung. Besar adzab untuk perempuan seperi itu.

Lima tahun awal bisa jadi sata termanis dalam kehidupan rumah tangga. Tapi pahami, kamu akan punya anak anak yang tumbuh bear. Untuk melihat mereka tumbuh, butuh kasih sayang diantara suami istri. Jangan sampai hanya karena mtaeri, ekonomi, ada pertengkaran yang berujung perceraian. Jangan sampai kamu merasa superior diatas suami. Jangan sampai suamimu merasa terhina karena kamu lebih daripada dia. Sebenarnya bukan masalah jika penghasilan perempuan lebih banyak daripada laki laki, selama ada komunikasi dan pengertian diantara keduanya. Dan.. bentengnya adalah agama. Iya, agama. Didesain untuk membentengi manusia dari hal hal merusak. Sangat lebih baik jika istri bisa membantu suaminya untuk membangun bisnisnya. Kalau kata Pak Kyai dalam suatu pengajian, perjuangan Nabi Muhammad dulu di awal awal masa berat juga karena ada sosok hebat di belakang Nabi. Ya, Khadijah. Beliau yang menyokong lahir batin. Pengusaha wanita yang rela mengusahakan dan menyerahkan segalanya untuk suaminya tercinta berjuang di jalanNya.   Jadi.. sama sama membangun dapur dari sangat enol. Usaha bareng bareng. Apa nggak manis uh. Makanya walaupun Nabi punya delapan istri lain, Khadijah adalah yang paling nggak bisa bikin Nabi move on. Co cwiiit.

Kembali ke kegalauan saya: mana yang lebih baik antara di rumah saja mengabdi pada keluarga atau bekerja. Ternyata tidak ada jawaban mutlak. Dua duanya sama sama benar. Tidak ada yang salah. Yang salah adalah ketika masing masing pihak berpikir sempit nan picik serta menyalahgunakan wewenang yang sudah dipercayakan. Kebenarannya juga bersifa relatif. Setiap orang dilahirkan dan berasal dari keluarga yang memiliki tata krama yang berbeda pula. Maka, dimanapun, tetap beradaptasi, hargai siapapun dan bersikaplah realistis. Saya putuskan tak lagi galau dan kembali ke mahzab : semua hal sekecil apapun yang dilakukan di dunia ini, entah laki laki atau perempuan, selama memberi manfaat dan dilakukan dengan niat ibadah maka akan bernilai pahala di akhirat. Maka, tak peduli kamu laki laki atau perempuan, tak ada yang salah dengan bekerja karena bekerja itu juga memberi nafkah pada keluarga. Tak ada yang salah dengan perempuan yang bekerja. Yang salah adalah ketika tidak dikomunikasikan dan tidak diusahakan untuk saling pengertian antara keduanya. Intinya: komunikasi.

*Catatan: Di tahun tahun krusial dimana banyak pertanyaan tentang : kapan nikah? Kapan sah?, saya masih lenggang kangkung. Selo aja mah. * Hi, Mas Jodoh.. kapan kamu dateng #ehh.. wkwkwk. Hal ini disebabkan oleh background keluarga saya yang tidak begitu mempermasalahkan apalagi mengejar anak anaknya agar cepat segera menikah. “Selo saja. Jodoh sudah diatur. Tinggal ikhtiarnya saja. ” Haha. Peluk erat buat bapak ibuk saya.

Ulang Tahun

Jika ada beberapa hari yang tidak saya sukai, salah satunya adalah hari ulang tahun. Ada beberapa teman yang berulang tahun beberapa hari lagi di awal bulan November yang akan menjelang. Rasa rasanya berat untuk hanya sekedar mengucapkan selamat ulang tahun. Bukan karena tidak ingin, tapi karena ulang tahun seharusnya adalah momen pengingat umur yang menyedihkan.

Banyak orang merayakan ulang tahun, dengan bahagia. Iya dengan bahagia, seolah olah kita akan hidup selamanya. Bahagia. Ucapan, mungkin kue dengan lilin dan terkadang kado. Tapi mereka lupa. Di hari itu juga ketetapan bahwa umur telah satu tahun berkurang mungkin tak mereka sadari. Larut dalam bahagianya bertambah umur. Ya, bertambah umur. Sesuatu yang naif sedangkan hal yang sebenarnya terjadi adalah urusan kita di dunia ini tidak pernah tahu sampai kapan berakhir. Di sisi lain, entah berapa amal yang kita kumpulkan. Apakah diterima atau justru gugur karena satu saja maksiat yang kita lakukan sehingga sia sia segunung amal yang sudah dikumpulkan.

Saya tidak pernah merayakan ulang tahun sejak saya masih kecil. Tidak pernah ada kata perayaan ulang tahun dalam agenda keluarga besar kami. Bahkan kami lebih sering merayakan kematian dan kelahiran daripada mengulang tahun. Tiap kali ada anggota keluarga baru yang lahir ke dunia ataupun ritual mitung dina, matangpuluh, nyatus atau nyewu kematian salah seorang keluarga besar, kami mengadakan pengajian dan syukuran yang dihadiri tetua dan keluarga besar atau yang berkepentingan. Tapi mengulang tahun? Tidak ada dalam kamus kami. Yang tua tidak pernah memberi hadiah ke yang muda dan sebaliknya. Suatu ketika ibu saya pernah bilang bahwa ulang tahun bukan sebuah hal yang pantas untuk dirayakan. Waktu itu saya hanya merajuk karena layaknya anak anak kecil, kami suka dengan kue, lilin, balon dan suasana meriah teman teman yang datang menikmati suasana kebahagiaan anak anak yang berulang tahun. Jadilah saya hanya mojok gigit jari ketika merengek ingin ulang tahun saya dirayakan usai saya menghadiri pesta ulang tahun teman satu kelas di kelas TK. Iri rasanya melihat ada satu hari spesial dalam hidup dimana banyak orang datang bersukacita.

Ketika saya masih kecil, saya merayakan sendiri ulang tahun saya dan adik adik saya secara pribadi. Kami membuat agar agar dan terkadang kue sederhana dari telur tepung dan susu yang ditim sedemikian rupa (waktu itu kami sudah begitu kreatifnya ternyata, haha). Menyalakan lilin kemudian berdoa dan mengucapkan selamat. Perayaan yang hanya dihadiri kami bertiga. Sederhana dan penuh kenangan. Setiap tahun saya masih memberi mereka kado kecil hingga saat ini.

Lambat laun, saya merasa bahwa ulang tahun hanyalah seremonial urakan. Gadis gadis kota yang juga masih satu angkatan dengan saya merayakan ulang tahunnya secara sedikit waw. Sweet seventeen mereka bilang. Sebuah budaya ala barat sana yang diadopsi untuk meninggalkan kesan masa remajanya yang akan segera berakhir. Pesta, makan besar, kemudian pulang dengan sukacita. Tapi hambar. Karena isinya hanya pertaruhan gengsi semata. Umur kita tak akan terhenti hanya pada tujuh belas tahun, nak. Atau justru tujuh belas tahun lagi sisanya, tak ada yang tahu. Tak ada siapapun di dunia ini yang tahu.

Setiap tahunnya tiap kali ulang tahun, teman teman saya masih mengucapkan dan terkadang kado. Entah itu lewat cara yang biasa sampai dikerjain habis habisan saya pernah mengalami. Dari cuma disalamin sampai pada akting berhari hari sebelumnya dan menutup dengan manisnya. Dari yang cuma dikirimin pesan sampai dikonfrontir habis habisan dua orang lainnya dimana dengan kurang ajarnya teman teman saya mengkonfrontir tanpa paham bagaimana tersinggungnya saya waktu itu (Waktu itu memang sempat menimbulkan masalah. Plis, hati hati dalam bercanda. Jangan mengkonfrontir orang orang yang harusnya tidak berkepentingan. Ketika sudah melewati batas teritori orang lain dan membuat saya tidak enak hati pada mereka, saya sungguh merasa bersalah padahal itu bukan salah saya samasekali). Beberapa lainnya memberikan saya surprise yang sangat manis. Tetiba seorang gadis datang dari tangga dan memberi saya kue. Lengkap dengan lilin yang menyala dengan indahnya. Nah lho.. bahkan saya aja sampai lupa kalau ulang tahun itu hari penting. Ada juga yang tetiba memberikan bungkusan manis isinya doa dan selembar kain (doa biar saya segera pakai kerudung. Dek jaman semono. haha). Dan berbagai macam perlakuan lainnya. Tidak hanya saya yang mengalami perlakuan aneh aneh menjelang hari ulang tahun. Saya pun juga berkomplot dengan teman teman lainnya mengadakan aneh-aneh ketika ada salah satu dari kami  berulang tahun. Untuk dikenang nanti kelak kita tua, begitu mereka bilang.

Tapi saya tidak bahagia. Lambat laun saya merasa bahwa ulang tahun bukan lagi soal menunggu ucapan atau kado. Ulang tahun itu momen menunggu mati. Ya. Mati. Dimana satu satunya hal yang pasti di dunia ini adalah kematian. Flashback ke jaman jaman terdahulu, saya membenarkan perkataan ibu. “Tidak perlu merayakan. Doamulah yang lebih penting dari segalanya. Cukup dengan panjang umur barokah”. Perkataan ibu saya ternyata betul seratus persen. Tidak penting seberapa perlakuan,  kado, kue yang didapat. Tapi, ini tentang permintaanmu kepada Penciptamu. Kado terbesar yang harusnya diminta justru panjang umur bermanfaat dan dimatikan dalam keadaan khusnul khotimah. Itulah kado terbesar yang harusnya diminta karena kita tidak akan pernah tahu sebanyak apa amal yang bisa menemani kita hidup di alam selanjutnya.

Maka, setiap kali ada teman yang berulang tahun (bahkan ketika saya sendiri berulang tahun), rasa rasanya enggan untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Rasa sedih menyergap. Tidak pernah tahu sampai umur berapa saya masih bisa dipertemukan orang orang hebat seperti mereka. Apakah saya dahulu yang mendahului atau mereka dulu atau justru bisa reuni sampai nanti menua. Rasa rasanya ingin sekali mengucapkan dalam diam tanpa harus mengucapkan selamat seperti biasanya. Tapi ternyata sangat sulit. Saya sudah terlalu terbiasa untuk mengucapkan. Maka, sampai sekarang saya masih mengucapkan. Ya, disertai dengan kado doa dalam hati saya untuk mereka. Kado yang mungkin tak berwujud tapi semoga benar benar akan dihadiahkan dari Sang Pencipta untuk mereka. Ah.. saya tidak suka dengan ulang tahun. Sama seperti wisuda, ulang tahun adalah hari sedih. Hate that. Much.

Balada Ospek

Hampir semua orang yang akan memasuki jenjang menjadi anak baru di sebuah sekolah entah itu SMP atau SMA pasti pernah mengalami masa perpeloncoan. Masa dimana katanya sih dibentuk mentalnya (errr what they say.. melalui bentakan, hardikan, cibiran dan kekuasaan senior ke junior).

Di masa SMP, namanya bukan MPO tapi MOS (Masa Orientasi Sekolah) dimana anak anak masih belum mengalami masa menegangkan. Baru ketika di SMA, saya mengalami yang namanya kegiatan tersebut. Marsinal Pra OsmA namanya. Entah siapa yang mencetuskan kegiatan bodoh tapi menarik ini di sekolah saya dulu. Jika Masa Orientasi Sekolah hanya sekedar perkenalan pada kegiatan sekolah dan seluk beluknya yang dibawakan dengan membosankan.. ups.. surhat hehe. Kalau Marsinal Pra Osma dibawakan dengan panas dingin. Dimana anak anak akan merasakan detak jantungnya berubah naik turun selama kurang lebih setengah bulan. Satu kelas dituntut untuk bisa bekerja sama mebangun chemistry mereka masing masing dan menyelesaikan semua tugas yang diberikan senior. Saya masih SMP ketika saya terkikik kikik melihat So Jek (sepupu saya) memakai topi soblog (kerucut pembentuk nasi tumpeng) dan memakai tas karung kecampang yang disablon bersimbol kelasnya. Tapi satu tahun kemudian saatnya saya yang diketawakan karena saatnya saya yang merasakan kegiatan tersebut.

Satu kelas berunding untuk mendapatkan topi kerucut tumpeng dan menghiasnya sesuai dengan filosofi wayang. Belum lagi dengan mencari kandi (karung gandum) yang akan digunakan untuk membuat tas bersablon logo kelas kami. Sungguh suasana waktu itu bisa menyatukan kami. Tiap anak  jadi mengenal satu sama lain, saya bahkan menemukan teman yang cair banget. Kegiatan ini sekaligus juga membuat kami jadi deket dengan beberapa kakak angkatan seperti Mas Taqun, Mbak Nitra, Mas Syifa dan Mbak Fitra.

Satu momen yang paling saya benci adalah ketika sekelompok anak masuk ke dalam ruangan dan membentak satu kelas. Saya nggak takut dimarahi. Udah biasa banget saya kena omel di rumah. Yang saya benci adalah ketika seseorang tanpa sebab masuk dengan suara tinggi dan tiba tiba membentak. Saya mudah kaget dan sangat tidak suka ketika ada kekagetan menggebrak suasana yang sebenarnya masih anteng dan manis. Saya sebenarnya tidak tahu mengapa sesi ini dibuat dan dengan tujuan apa. Buat mendidik orang buat gila hormat, perhaps?. Emosi juga kan ketika saya masih tenang terus ada orang yang bentak bentak. Heeeee… emang saya salah apa. Plis, emang kalian mau tanggung jawab kalau ada yang sakit jantung habis itu?.

Tiap siang, sehabis kelas kami bersiap siap untuk MPO. Kami makan siang, ibadah dan menggunakan atribut MPO. O, ya jangan sampai terlupa tugas yang harus dikumpulkan ke kakak pendamping. Sesudah materi, pukul 3 sore kami dikumpulkan di lapangan dan harus berbaris menyembah sambil ngempong (menggigit dot bayi) dan mendapat tugas dari para senior yang sudah leyeh leyeh di singgasananya masing masing. Kalau udah gede kayak gini, setelah saya pikir pikir ternyata cara feodal masih sangat digunakan. Penggunaan kampong seolah olah menyimbolkan bahwa anak anak junior adalah bayi bayi yang harusnya menghormati senior senior yang seolah olah udah paling hebat aja ngasih tugasnya. Itu masih SMA lho, masih precil precil yang labil. Mereka taunya cuma berangkat sekolah, belajar, bolos kadang kadang, minta uang saku orang tua, main kesana kemari dan menikmati masa bermainnya. Mereka belum ngerti gimana beratnya hidup sebenarnya. Dimana mereka suatu saat akan dituntut buat menghidupi orang lain.

Saya dapat tugas banyak banget waktu itu. Tugasnya katanya sih buat lucu lucuan dan biar menunjukkan usaha serta kerja keras anak baru. Oh plis, saya dikirim ke sekolah biar dididik jadi orang yang bener. Ini malah tugasnya nggak mendidik dan sedeng (gila) bener. Beberapa saja yang saya masih inget. “Dek, kamu cari semut seksi, sekarang!” damn. Semut seksi itu apa coba? Semut semok? Semut seksi kebersihan? Semut yang suka nongkrong di seksi ruang piket guru? Aaaaa.. saya pusing. Akhirnya dengan bego, saya ngambil satu semut dan menghadap senior saya lagi. Saya jelaskan bahwa semut yang saya temukan adalah semut seksi dengan berbagai alasan. Akhirnya setelah debat yang menjemukan dia menyerah juga dan memberi saya tanda tangan.

Lagi, saya disuruh berlagak kayak reality show Termehek-Mehek dimana saya harus nyari satu orang lewat sebuah kode. Sok main detektif-detektifan gitu. Saya nyari kemana mana disasarin orang mulu. Mulai dari ngomongnya nggak tahu, pura pura nggak tahu dan kitanya cuma disemangatin doang, sampe suruh ngerjain tugas dulu sebelum dikasih tahu siapa orang dengan kode tersebut. iyuh.. sial banget yak hidup saya. Akhirnya berkat bantuan salah satu kakak senior yang caem dan baik hati, saya berhasil menemukan orang dengan kode sialan yang dikasih ke saya tadi. Ternyata orang itu adalah orang yang berdiri di sebelah kakak yang ngasih saya tugas. Iiiiiihhhhhhh. Esmosi. Jadi.. kenapa birokrasi di Indonesia begitu ribet dan muter muter adalah berawal dari kayak gini. Semua orang merasa harus dipentingkan dan lebih suka liat orang nyasar daripada liat mereka segera menemukan apa yang harus dikerjakan. Ya.. ya.. ya.. potret bangsa ini mulai dari hal hal kecil kecil.

Kemudian, hari terakhir MPO, saya adalah salah salah satu anak yang tidak bisa mendapatkan tanda tangan yang cukup. Salah satu senior menyuruh saya bergaya layaknya Dian Sastro di video klipnya Melangkah punya Peterpan. Waaaaa… mana saya nggak apal lagunya. Saya dan beberapa anak lainnya ngawur aja sok sokan melangkah lompat sana sini berasa Dian Sastro sambil nggumam nggak jelas disertai dengan bentakan senior yang memekakkan telinga diiringi dari tatapan iba sebagian teman teman dan cekikikan dari sebagian lainnya. Tapi tidak berapa lama kemudian kami terhenti karena panitia mengumumkan kami harus beribadah magrib. Ciyeeeee rundownnya kacau. Saya waktu itu sih cuma cengengesan aja.

Malam puncaknya nih yang antiklimaks banget. Sialan. Videonya manis. Dengan semua teriakan dan bentakan, mereka membalik keadaan. Mereka minta maaf pada semua kesalahan. Nyebahi memang. Tapi endingnya.. awwwwww manis.

Kadang saya berpikir bahwa di masa sekolah, anak anak sudah diajarkan untuk ndangak (menengadah). Yang senior (merasa harus) dihormati dan yang junior (merasa terpaksa) harus nunduk nunduk di hadapan kakak angkatan mereka. Yang tua masih berasa sok sokan bossy, yang muda diajarkan untuk ngekor aja sama seniornya. Ya pantesan aja masih ada kasus mati pas ospek, tawuran, kekerasan terhadap junior dan serangkaian urusan urusan nggak karuan lainnya. Dan imbasnya ketika kita semua sudah dewasa dan mulai untuk ‘jadi orang’ yang memegang urusan hidup negara ini, kita akan melakukan semuanya seolah olah kita orang penting yang harus dihormati. Semua orang yang kita rasa dibawah kita, harus menghormat dan mengikuti kita tanpa ba bi bu. Birokrasi yang panjang, ruwet dan menjemukan.

Padahal harusnya yang tua merangkul yang muda biar yang muda pun bisa tumbuh dengan baik. Dan.. yang muda harus bisa menempatkan diri. Hormatilah yang tua sesuai tata krama ketimuran. Toh, sopan santun dan tata krama adalah dua hal yang nggak akan mati walaupun jaman udah semakin modern aja. Kalau gitu kan tanpa harus ada perpeloncoan dan mempermalukan orang lain, yang muda akan dengan sendirinya menghormati yang tua.

Dan sekolah pun menjadi media untuk menyalurkan sikap sok sokan bossy ini melalui ospek. Padahal tanpa kamu menjadi sok bossy pun kamu bisa dihargai orang lain. Ya, anggaplah ospek ini sebagai ajang gila hormat. Menurut saya, kalau memang kita masih menghargai unggah ungguh, bukankah kalau ingin dihargai maka kita harus menghargai orang lain. Bukan begitu? Taruhlah kita lagi ngaca di cermin. Bayangan kita akan mengikuti apapun yang kita lakukan bukan? Kita ketawa bayangan ikut ketawa, kita senyum bayangan pun bakal senyum. Kita cemberut bayangan ikut cemberut. Kita kacak pinggang maka bayangan bakal kacak pinggang. Kita nonjok cermin, tentu bayangan nggak akan balik nonjok kita (horror jugak kalau ada bayangan bisa nonjok orangnya sendiri). Tapi yang kita dapat adalah tangan yang luka akibat pecahan kaca cermin yang kita tonjok. Maka analoginya, kalau kita berbuat baik maka lingkungan juga akan baik pada kita tanpa kita harus ngoyo nyari hormat sana sini. Kalau kita punya niat jahat, yaudah semua juga ada balasannya. Orang sekitar pun nggak akan ada yang baik sama kita. Simpel. Teori cermin.

Perpeloncoan mungkin dianggap sebagian orang tidak fair. Saya pun juga merasa seperti itu. Saya berdiri di pihak yang merasa ospek itu nggak penting. Ha mbok wis.. daripada ospek tapi hasilnya nggak karuan, sekalian aja pelatihan militer kerjasama dengan polisi atau TNI. Kalau pelatihan militer (dan yang nglatih beneran orang militer) itu nggak mungkin ada yang mati. Ya kalik mereka mau menyamakan ritme kerasnya latihan mereka dengan anak anak precil precil yang uang saku aja masih minta orang tua. Lewat pelatihan militer, kita berasa punya “musuh” dari luar maka secara otomatis kita bakal bikin defense mechanism secara kebersamaan. Tapi kalau ospek? Lawannya kan kakak angkatan sendiri. Duh deeeek.. buat alay labil yang masih pakai emosi bakalan jadi ajang balas dendam tuh. Tapi kabar baiknya sih ospek di kebanyakan sekolah makin kesini makin mengurangi intensitas kerasnya. Apalagi ditambah dengan pak menteri yang menganjurkan agar ospek baik dari jenjang SMP sampai kuliah nggak boleh ada perpeloncoan. Good. Memang harus ada generasi yang memutus sistem perpeloncoan ospek. No matter what. Kita sekolah biar bisa bangun bangsa ini lewat kreatifitas dan sinergi antar anak bangsa. Bukan perpecahan lewat dendam yang diturunkan antar generasi.

Tapi jika saya dulu tidak mendapatkan pengalaman ini, saya tentu tidak akan punya cerita. Yah, baik buruknya disikapi saja sebagai bagian dari pengalaman hidup. Selama tidak sampai melakukan kekerasan yang membahayakan atau katakanlah sampai meninggal akibat jantungan atau dianiaya seperti pada salah satu institusi di Jawa Barat yang katanya (sih) bagus dan lulusannya jadi idaman mertua feodal jaman dulu, saya rasa masih nggak papa. Akhir kata, hargai orang lain maka kamu akan dihormati. Bangsa ini butuh sinergi.