Baduy: Black and Blue

Advertisements

Kapan

Pertanyaan 5W1H alias apa kapan dimana siapa mengapa bagaimana adalah satu paket list yang dibenci orang. Apakah ini trend atau emang orang sebenarnya hal yang lumrah? Throwback beberapa tahun lalu, saya jadi teringat jika semua orang di sekitar saya merasa kesal dengan pertanyaan ini. Galau ditanyain kapan lulus TK, kapan kucingnya warnanya jadi belang, kapan buah mangga depan rumah pak gubernur berbuah, kapan kalio saya mateng kapan kapan kapan kapan ini kapan itu. Semua orang galau. Seolah jadi trend of the year yang jadi titik dimana orang jadi berani bersuara bahwa mereka sebenarnya memendam ketidaksukaan yang sama.

Kalau semua orang galau dengan pertanyaan kapan, bukan berarti saya nggak ikutan galau juga. Nggak. Situasional mah kalau itu. Sekali dua kali, merasa terganggu nggak masalah. Tapi nggak harus terus terusan. Saya belajar untuk meringankan hati dari seorang guru saya, Pak Edi.

Sedikit cerita tentang beliau ya. *ya ampun betapa kangennya saya. Alfatihah Pak, semoga bapak diberi panjang umur dan diberkahi hidupnya. Amin. Setiap kali saya merasa bermasalah dengan hidup saya, saya datang pada beliau setidaknya sekali dalam semester ketika saya masih sekolah. Tempat untuk sambat (berkeluh kesah) dan mencari penghiburan dan solusi. Saya jauh dari orang tua karena berbeda kota dan kepada beliaulah saya merasa harus bercerita meski memang yang saya ceritakan bukan curhat atau hal hal pribadi (malu dong mau cerita remeh temeh kayak siapa nama kucing piaraan saya atau saya belanja ciki apa aja kemarin di supermarket. Haha. Beliau kan bukan teman saya. Maka cara ceritanya juga bukan seperti kita bercerita ke teman sekosan). Saya selalu bertanya bagaimana cara melewati masa masa saya yang labil. Bagaimana saya seharusnya bertindak sesuai nalar karena resiko anak rantau untuk melenceng dari hidup sangat besar. Dan saya berterimakasih atas lima tahun saya yang luar biasa di kota Newyorkarta.

Pak Edi bukanlah sosok yang akan mengasihi dengan bicara lemah lembut. Tidak. Beliau akan menyudutkan saya, menanya nanyai saya hingga saya tidak bisa berpikir lagi. Menggiring saya menggunakan logika dan perasaan dengan seimbang. Sama seperti orang tua saya, beliau mengajarkan untuk berpikir ulang dan ulang. Memikirkan dan menimbang segala resiko yang bisa terjadi jika saya mengambil sebuah keputusan. Hingga saya bisa membisikkan ke diri saya “iya ya, kok saya nggak mikir sampai segitunya ya”, “kok saya begonya kebangetan ya”,”oh ternyata harusnya gitu ya alur berpikirnya”.

Beliau yang menyemangati saya melewati masa masa sulit, dengan hardikan hardikannya. Beliau tidak pernah membentak saya. Tidak pernah. Tapi cara bicara beliau yang to the poin dan menyudutkan memang tidak disukai teman teman saya. Terlalu kaku dan saklek. Begitu teman teman saya bilang. Padahal nggak juga. Beliau fleksibel kok, bahkan menurut saya, beliau visioner. Kalau saya dan teman teman saya melihat hanya untuk masa sekarang, Pak Edi berpikir jauh untuk jangka panjang. Ya wajar saja, saya dan teman teman saya kan belum pernah tua tapi beliau sudah pernah muda. Lebih banyak pengalaman dan jatuh bangun makanya lebih bisa mengambil keputusan. Sejak awal, karena beliau adalah pembimbing akademik saya, saya mengambil sikap yang berbeda. Saya tidak harus memusuhi beliau seperti hal nya teman teman saya yang banyak membicarakan beliau yang jelek jelek di belakang. Bukan berarti saya selalu baik, tidak. Tapi saya sudah sejak awal merasa harus menempatkan diri sebagai anak karena memang saya adalah anak didik beliau selama lima tahun. Saya takdzim pada beliau.

Yang membuat saya selalu bahagia adalah beliau selalu meluangkan waktu untuk saya. Satu dua jam memang. Tidak banyak. Tapi waktu yang selalu ada dan beliau yang rela meluangkan waktu di sela kesibukannya hanya untuk mendengarkan remeh temeh saya itulah yang membuat saya merasa dihargai. Saya merasa diterima. Saya merasa meskipun saya bukan anak kandung beliau, hanya anak bimbingan yang tiap semesternya tanda tangan di buku rapor saya, beliau hanya guru saya, tapi saya merasa lebih dari cukup. Ada perasaan hangat bahwa saya merasa terlindungi. He is also my father. Saya tahu kabarnya, beliau tahu kondisi saya.

Oke fine sudahi kenangan saya tentang beliau, nanti kita bahas lain waktu di postingan lain. Balik ke topik. Satu hal yang saya ingat betul adalah ketika saya merasa kecil hati merasa kebingungan mau dibawa kemana hidup saya. Saya ngeri membayangkan tanggung jawab saya seusai lulus yang entah bagaimana bentuknya karena merasa sebagai seorang anak yang dapat kesempatan luar biasa bisa bersekolah hingga tuntas, saya harus membayar hutang kewajiban saya sebagai bakti kepada agama, negara dan orang tua. Dan.. yeah.. lagi ngetrend orang galaw ditanya “kapan”. Kapan lulus kapan ujian kapan wisuda kapan kerja kapan nikah kapan punya anak kapan ini kapan itu kapan eta kapan ieu. Serba kapan. Korban mode kapan ini pun juga banyak. Banyak kakak angkatan saya yang mangkir dari sekolah, nggak melanjutkan tanggung jawab terakhirnya: bikin tugas akhir, kemudian muncul tiba tiba di akhir batas sebelum drop out. Mereka pergi dari lingkungan karena malas ditanyai kapan.  Dan saya pun bercerita juga pada ayah bimbingan saya ini. Pertama karena saya merasa beliau harus mengetahui kondisi saya, kedua saya butuh tempat bercerita, ketiga saya mau mendengar nasihat beliau. Saya butuh berpikir.

Apa jawabnya? Saya dimarahi. Haha. Ya begitulah cara beliau berkomunikasi. Saya tidak ditunjukkan cara cara manis atau cara cara halus bak peri baik hati yang memberi tahu, melindungi si Lala dalam sinetron Ibu Peri yang tayang ketika saya masih kecil (padahal saya hampir nggak pernah nonton juga karena dilarang nonton begituan waktu kecil). Oleh beliau, saya dimarahi layaknya orang tua ke anak (untungnya saya nggak pernah merasa sakit hati). Nasehat yang selalu bisa saya renungkan, saya resapi dan saya aplikasikan pada hidup saya. Dalam hati sih “duh salah nih saya cerita.. wasemik..kena omel lagi”. Tapi kemudian ketika saya pulang, senyum mengembang dari hati saya. Saya merasa recharged. Saya merenungkan perkataan beliau. Saya merasa tercerahkan, terlindungi, hidup kembali. Saya sudah tidak lagi menggambar bunga matahari atau bikin benang kusut di coret coretan saya. Saya menggambar emoji bahagia sebagai ungkapan hati yang riang gembira. Ibarat tadi langit mendung, kini langit saya sudah ada matahari betulan yang mulai bersinar. Pulangnya saya jadi bisa melihat gambaran strategi apa yang harus saya gunakan untuk menghadapi hidup saya ke depannya.

Intinya dari panjang lebarnya beliau memarahi saya, beliau bilang “kenapa kamu harus kebingungan dengan pertanyaan seperti itu. Kok harus dipikirkan. Kayak kamu nggak punya kerjaan lain aja. Kalau ditanya ya dijawab saja, nggak perlu bingung. Tidak ada pertanyaan yang tidak punya jawaban. Kamu selalu bisa menjawab pertanyaan pertanyaan itu. Kalau dijawab when ya sebutkan waktunya. What ya jawab apa adanya. Where ya katakan tempatnya. 5W1H kan. Gitu saja kok repot”. Dan saya tertawa kecil. Iya juga ya. Kenapa harus bingung dengan perkataan orang. Kenapa harus repot dengan apa yang orang tanya. Kalau orang tanya ya dijawab. Betul juga. Logika ya dijawab dengan logika. Nggak usah dimasukan dalam hati. Toh dunia nggak akan runtuh kalau kita jawabannya salah.

Sejak saat itu, saya selalu riang gembira menjawabi pertanyaan orang. Kapan lulus? Besok. Kapan ujian? Minggu depan. Kapan nikah? Jumat nanti. Sesimpel itu. Saya pun tidak harus melabeli orang dengan ungkapan “kamu menyebalkan” dengan lirikan kesal karena kamu dianggap kepo. Menurut saya, ya selama kita masih memegang ktp Indonesia, ya siap siaplah dengan hal hal seperti itu. Terkadang bukan karena mereka kepo. Tapi sekedar basa basi. Contohnya ketika kita lewat depan rumah tetangga. Cara menyapa orang Indonesia bukan “hello” “how are you” “hows lyf”. Tidak pernah ada. Penerjemahan kata hello hows lyf howdy, justru tidak bisa ditafsirkan apa adanya menjadi “halo, apa kabarmu”. Nggak ada orang menyapa kita “halo, selamat pagi, apa kabarmu?” kecuali di acara formal sebagai basa basi pembuka pidato atau seperti halnya basa enggres di negeri bersalju sana. Tapi justru menjadi multi fungsi “hai, mau kemana”. *saya ingat banget sama nasihat penerjemahan ini yang dulu dituturkan Pak Edi ketika saya masih junior student.

Mengapa sih orang harus tanya kenapa? Ngapain sih orang tanya tanya? Ngapain sih kok pengen tahu. Itu yang lazim. Bukan karena tetangga tetangga kita mau kepo (walaupun yah memang ada sebagian orang yang kepo hehe). Tapi sudah jadi adat kebiasaan menyapa pada orang kita. Orang Indonesia bertanya “mau kemana” sembari menyapu halaman, sembari mencuci baju, sembari belanja ikan teri. Orang bertanya sebagai tanda keramahan karena wes takon (sudah bertanya), wes ngaruhke (sudah menyapa).

Orang bertanya karena mereka butuh komunikasi. Emang bisa ya kita ngobrol sama orang tanpa 5W1H? Tanpa ada pertanyaan apa kapan dimana siapa mengapa bagaimana, pie carane kita bisa komunikasi? Pakai bahasa isyarat? Itupun pasti bahasa isyarat juga mengandung 5W1H. Jika ada pertanyaan berarti ada sesuatu untuk dibahas, dijawab atau diulas. Dan memang tipikal orang kita yang modelnya seperti itu. Kita bukan bangsa barat yang cuek bebek sama urusan orang lain yang “Your business is yours, never be mine”. Ya kalau memang tidak mau dibahas jangan kebanyakan nongkrong sama orang orang. Nggak perlu bermasyarakat. Itu sadisnya. Nah, inilah perlunya memilih teman yang baik. Minimal luweslah dalam berteman. Sing santai. Karena sejatinya pertemanan itu kayak mirroring. Kalau kita senyum ya kita disenyumin balik, kalau cemberut ya dicemberutin juga. Termasuk kapan. Kalau kita pernah tanya tanya ya pasti kita akan ditanya tanyai. Maka lila legawalah biar hati bisa menerima dengan ikhlas.

Ada teman saya posting yang intinya jangan mengomentari hidup orang lain, nggak usah banyak tanya kapan karena akan menyakitkan. Saya bengong juga baca postingannya. Saya jadi ingin membalikkan pertanyaan. Lha terus kenapa kamu harus posting kayak gitu? Kalau memang nggak ingin ditanyakan kenapa atau kapan ya jangan main medsos. Hehe. Dia sendiri anak milenial yang punya medsos ini itu. dia posting ini itu. Dia berteman dengan ini itu. Konsekuensi punya medsos adalah kita harus siap terbawa pada postingan ini itu dengan konten ini itu. Harus siap menerima perang syaraf secara halus lewat postingan. Harus siap makan ati liat konten menyebalkan yang seliweran. Harus siap ngepoin orang karena kita sendiri pada dasarnya adalah mahluk yang rasa ingin tahunya tinggi. Konsekuensi sebagai anak milenial yang suka pamer poto di medsos sebagai aktualisasi diri adalah pertanyaan dari orang orang. Jadi yang salah siapa? Yang posting apa yang komentar? Haha. Yang bikin berita atau netijen budiman? Haha. Dua duanya punya porsi salah dan porsi benar. Nggak akan ada asap kalau nggak ada api. Kalau medsos diciptakan putih bersih kayak kertas, ya nggak perlu ada interaksi. Justru medsos itu berwarna warni karena banyak pemikiran pemikiran di dalamnya yang dituangkan dalam caption poto atau cerita. Resiko? Tiga. Dikomentari, dipuji dan dihujat. Sudah suratan takdir itu mah. Kalau memang nggak mau ada komentar? Tinggal dilock aja komennya atau delete aja sekalian akunnya. Selesai urusan. Kalau kata Pak Edi gitu aja kok repot.

Sebagai kontradiksi dari postingan teman saya itu, saya jadi teringat dengan sebuah poster di instagram. Di postingan itu ingin mengingatkan bahwa jangan kebanyakan nanya dan dijawab dengan “alah gitu aja kok bingung bla bla bla”. Sedikit lucu juga ya isi postingannya. Dan.. suka tidak suka, memang harus kita akui bahwa kita termasuk ke dalam bangsa kepoh. Seringkali kita ingin tahu urusan orang lain. Kalau kita terganggu dengan pertanyaan ini itu orang lain, ada baiknya berkaca pada diri sendiri. Bukankah kita juga pernah melontarkan ini itu ke orang lain?. Ya suka nggak suka itu resikonya bermuamalah. Resiko hidup dengan orang lain. Resiko hidup di Indonesia. Kalau nggak suka? Apa mau disuruh pindah ke bulan atau ke antartika? Haha. Ya enggaklah. Nggak perlu harus ganti kewarganegaraan hanya karena tetangga tetangga kita anggap ngeselin. Nanti nggak ngerasain enaknya makan nasi magelangan ala burjo kalau kita pindah ke Argentina. Tiap hari makan roti, buat mahluk yang nggak makan nasi nggak kenyang ini, emang enak? :p

Setidaknya pertama, habiskan sakit hatinya. Kita layak punya me time untuk menenangkan diri, menikmati luka yang perlahan mengering dan kemudian membuka lembaran baru. Kedua, kalau memang terganggu, ingatkan lawan bicara kita bahwa kita tidak suka ditanya tanyai dengan hal hal yang membuat kita terganggu. Jangan sampai silaturahmi rusak gara gara lisan atau perbuatan yang tidak berkenan. Ketiga introspeksi diri dan belajarlah toleran, keempat kalau memang terganggu ya jauhi orang orang yang membuat kita letih. Kelima, kalau nggak sanggup punya medsos, udah tutup aja daripada makan ati. Simpel. Keenam, selolah dalam berteman dan jadilah teman yang baik. Di antara semua itu sebenarnya bermuara pada satu: adab (adab menghormati orang, adab berteman, adab bermasyarakat. Itulah kenapa knowledge before manner. Sepintar apapun kalau adabnya buruk ya IQ langsung terjun bebas). Pada akhirnya kita sendirilah yang akan menentukan bagaimana cara kita menanggulangi dan mereduksi tekanan. Kita adalah obat bagi diri kita sendiri. Sedih bahagia tertekan bebas adalah kita yang menentukan.

Dan.. saya sudah lama cuek bebek dengan pertanyaan pertanyaan yang menyudutkan. Jika ada pertanyaan apapun, saya akan usahakan untuk menjawab. Menjawab, boleh kan? Jawabannya nggak harus exact, right? Hehe. Yang penting tidak menyakiti orang dengan lisan kita. Selawlah menghadapi hidup. Kalau semua dipikir pakai perasaan 100% atau logika 100%, yang ada RS Jiwa Ghrasia yang ada di Pakem, Sleman itu akan penuh sampai sampai petugasnya harus bikin tenda buat menampung orang orang lalijiwo. Haha. Logika sama perasaan harus imbang. Pintar pintarlah menaik turunkan perasaan tanpa harus bikin diri sendiri makan ati. Pandai pandailah pakai logika biar perasaan nggak merana. The last, banyak banyak piknik untuk menyehatkan jiwa. Hehe.

Kalio

Keluarga saya sangat menyukai rendang. Tapi bukan rendang betulan, melainkan kalio. Kalio adalah setengah rendang, alias separuh jalan menuju racikan rendang betulan. Kami masih bisa merasakan kuah berlinang linang di atas nasi kami dengan daging yang sudah agak lunak. Kalau dibilang, kami hampir tidak pernah makan gulai karena terlalu kuning. Kami suka bikin yang warnanya orange atau kuning pekat. Kalau sekarang, saya malas disuruh menumnbuk bahan bahan pada ulekan batu. Pegel dan cukup memakan waktu. Sekarang, cukup potong potong bahan, masukkan blender, dalam hitungan menit semua halus dengan sempurna.

Bahan bahan:

Ketumbar

Merica

Bawang merah

Bawang putih

Cabai merah

Cabai domba

Jahe

Kunyit

Garam

Sereh

Minyak goreng secukupnya

Santan kental satu panci

Daging apapun yang penting halal

Kesemua bahan ditumbuk hingga halus. Masukkan bahan bahan tersebut ke dalam minyak panas. Tumis hingga harum. Masukkan sereh yang sudah digeprek. Aduk sebentar. Masukkan daging ke dalam wajan, aduk hingga merata. Tunggu sebentar, baru masukkan santan. Biarkan hingga berjam jam ke depan. Berapa jam? Minimal 4 jam!. Haha. Kalau laper ya makan yang lain dulu. Hehe. Kalau bisa sih masaknya di atas bara kayu. Ini yang sangat menguji kesabaran. Panasnya harus stabil, maka kita harus sering ngecek ngecek kayu bakarnya. Belum lagi asap dan api yang nggak nyala nyala sampe kita kehabisan napas niup niup. Tapi kalau udah jadi.. waaa.. nggak eneg. Kalio bisa buat lauk makan sampe 3-4 hari ke depan. Tergantung yang kita masak juga. Harus sering dipanasin biar nggak basi. Namanya juga santan santanan. Rawan banget basinnya.

Temen makan si kalio ini adalah kerupuk udang dan sambel asam manis. Ayah saya sering bikin.

Cabai merah

Ebi

Gula jawa

Gula pasir

Asam jawa

Caranya? Cabai ditumbuk sampai halus. Ebi boleh dihaluskan juga, boleh dibiarkan utuhan (kalau utuhan, jangan lupa digoreng dulu ya). Bawang merah di iris dan bawang putih ditumbuk bersamaan dengan cabai merah. Kemudian dimasak bersama dengan minyak panas. Masukkan semua bahan. Gula pasir sedikit aja masukkan sebagai pengganti micin. *kami nggak pernah masak pakai micin. Kemudian gula jawa sedikit aja masukkan sebagai penguat rasa biarkan sampai matang.

Kerupuk udangnya? Beli di pasar atau goreng sendiri.

Kalau sudah siap, makan pakai nasi panas panas atau ketupat atau bisa juga lontong.

Musium

Masuk museum mungkin bagi sebagian orang adalah hal menjemukan. Saya? Kadang iya. Haha. Harus jujur saya akui bahwa kadang museum itu menjemukan. Tapi disanalah cerminan kita. Cerminan masa yang lampau yang harusnya jadi pelajaran untuk masa mendatang. Karena itu saya masih datang untuk menyempatkan ke museum untuk: belajar. Belajar tidak harus di kelas kan? Maka saya pun belajar pada setiap perjalanan saya kemana kaki melangkah.

Buat saya, sejarah raja raja Nusantara adalah cerita yang tidak pernah membosankan. Cerita yang nyata adanya tapi jadi setengah tidak nyata karena dibumbui ya nggak sih masa gitu beneran nggak tuh dan aneka pertanyaan pertanyaan yang meragukan bahwa cerita cerita silat, legenda, putri putri dari khayangan itu itu benar adanya. Maka, pergilah ke museum agar kita tahu ada nggak bukti peninggalannya.

Salah satu kota yang termashur dengan peninggalan kekeratonanya yang sampai sekarang masih eksis adalah Keraton Solo. Turunlah dari stasiun solo balapan, pesan ojek, atau pakai taksi mintalah Pak pengemudi menhantarkan ke area keraton. Maka kita akan menemukan kita terjebak menyusuri bentek benteng keraton yang berbedak putih tebal meliuk liuk hingga ujungnya mengantarkan kita pada sebuah bangunan berwarna biru muda berornamen naturalis dengan sebuah menara bersembunyi di belakangnya. Menawan.

Untuk bisa masuk ke area itu, kita dianjurkan untuk memutar ke kiri (setelah Pusdikhub) kita akan menemukan sebuah loket yang dijaga dua orang wanita. Tiketnya murah, hanya sepuluh ribu rupiah. Diskon hanya berlaku ketika kita masuk secara rombongan.

Karena Tholabul Ilmi Tidaklah Mudah

Selamat Hari Pendidikan Nasional.

Saya baper ketika dikirimi sebuah skrinshut isinya Panca Prasetya, sebuah janji alumni. Saya teringat momen beberapa tahun lalu ketika air mata diam diam menggenang di pelupuk ketika menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia dan sekolah saya serta Panca Prasetya yang berisi janji alumni untuk selalu berbuat kebaikan dan mengamalkan ilmu pengetahuan.

Saya sudah selesai sekolah (ya, secara formal). Tapi tidak selesai untuk selalu belajar dari kehidupan. Betapa luasnya ilmu dan betapa sedikitnya yang sudah dipelajar. Bahwa kita adalah orang orang beruntung yang bisa mengecap ilmu pengetahuan barang sedikit. Saya teringat dengan anak anak di kampung nan pelosok yang harus berjuang mati matian dengan kendala transportasi, ketersediaan guru dan fasilitas di sekolah.

Hal Hal yang Terjadi Selama di Kendaraan Umum

Selalu ada cerita ketika kita menikmati perjalanan sebagai traveler yang menggunakan transportasi umum di suatu daerah.

1. Nggak dapat kursi

Saya orang transportasi (sering wira wiri pakai sarana transportasi) tapi sering nggak dapat kursi. Haha. Kacau kan. Nggak dapat kursi di kereta, krl, bis udah biasa. Lebaran susah pulang karena tiket habis udah biasa. Di bis berdiri sampai tiga jam, pernah. Dan hal hal remeh lain yang juga dialami sama semua umat di bumi ini. Atau dapat tempat tapi berdesak desakan bersama ayam, sayur sayuran, beras dan aneka hasil bumi. Pernah suatu ketika saya harus pergi ke rumah nenek saya di nun jauh sana, satu satunya transportasi masal hanya sebuah mobil bak terbuka yang dimodifikasi dengan diberi penutup sehingga penumpangnya nggak kehujanan. Udah sopirnya asal masukin penumpang, belum barang barangnya yang kayak orang mau pindahan rumah, buanyaknya minta ampun. Saya harus nekuk kaki sampai dua jam. Kebayang capeknya.

2. Penumpang lain yang enggak care

Percayalah bahwa modernitas tidak hanya membawa dampak positif semata tapi juga semakin menumpulnya kepedulian. Saya pernah berdiri lama dan tidak ada penumpang yang ngasih tahu saya bahwa kursi di agak belakang saya ternyata sudah kosong lama. Dan naik turun penumpang di stasiun udah berpuluh puluh menit lalu sampai stasiun berikutnya. Rasanya? pengen nyumpah serapah. Capek banget mana pas itu saya sakit. Tapi ditahan tahan lah. Haha. Sabar.. sabar.. . Hal lain yang bikin gedeg adalah ketika ada seorang ibu hamil bawa anaknya naik kereta karena si anak yang tertua yang masih sekitar empat tahunan itu pengen merasakan naik kereta. Ada seorang anak muda headsetan, hapean dimana hapenya adalah iphone yang notabene hape kelas ekonomi mampu (sekere kerenya orang, kalau hapenya iphone pasti orang bakal mikir ini orang tajir meski entah kenyataannya seperti apa). Si gadis muda yang duduknya terdekat dengan posisi ibu hamil yang ngglesor di lantai kereta ini, saya panggil. Ia menengok dan saya harapkan ia bisa bertukar posisi dengan si ibu hamil. What I get? dia melengos dan kembali melanjutkan sibuk dengan hape mehongnya. Njirrrrr. Kamu sekolah tinggi tinggi tapi etika nggak punya. Saya jadi kasihan sama orang tuanya. Saya jadi semakin iba dengan si ibu ini. Ah, andaikan saya dapat tempat duduk pasti sudah saya kasih ke ibu itu. Ketika saya bercerita pada teman saya yang tinggal di Ibukota, ia berkomentar “itu Jogja lho ya, believe or not di Jakarta mah udah biasa kayak gitu”. Nah lho.. Dan itu jadi refleksi untuk saya sendiri. Jangan jangan saya juga sama seperti si gadis muda ini. Tidak peka. Ah, naudzubillah. Semoga saya masih punya rasa peka.

3. Mual karena ac dan pengharum ruangan

This almost happened all the time. Sekeren apa bisnya kalau ac, bau pengharum ruangan dan solar campur jadi satu duhhhh mendadak sekarat perut ini. Makanya saya usahakan tidak makan banyak kalau mau bepergian dengan bis. Tolak angin, kulit jeruk atau apapun yang bisa saya usahakan untuk menghalau mual selalu saya bawa. Kalau kepepetnya nggak dibawa ya mau tidak mau satu satunya yang bisa saya lakukan adalah menyugesti diri saya untuk “muntahnya nanti aja ya kalau udah turun dari bis, plis”. Ya mau gimana lagi. Mending dimuntahin biar lega sekalian. Tapi nanti kalau udah turun dari bis 😀

4. Nyender di bahu orang.

Yes and its true. It happened on me sometimes. Saking capeknya, kadang saya bisa asik ketiduran tanpa sadar kalau ternyata bahu saya nyender ke bahu orang. Siapapun yang ada di bangku sebelah saya. Kalau miring ke kiri kanannya kaca sih nyendernya ke kaca. Tapi kalau ternyata kanan kiri kita adalah bahu orang?. Haha. Suatu ketika saya pernah kena damprat seorang warga tetangga kakek saya karena saya tidur sambil nyender. Pas kebangun karena didorong, saya baru sadar semua orang menatap saya. Baru sadar setelah dimaki maki pakai bahasa setempat. Saya cuma paham tapi nggak bisa balas. Haha. “Dek, jangan mengantuk. Saya juga capek. Kalau kepalamu kemana mana saya juga nggak bisa duduk”. Nah lho, si embah embah ini marah. Saya cuma bisa cengengesan sambil minta maaf saking awkwardnya. Di lain kesempatan, saya nyender di bahu seorang mbak mbak kuliahan yang juga mau pulang ke kampungnya. Nampaknya si embak ini nggak tega membangunkan saya karena saya benar benar lelap. Fine. Thankyyou. Pernah juga nyender di mas mas. Tapi nggak lama kemudian kebangung karena kepala saya pegel. Haha. Kayaknya masnya nggak iklas. wkwkw.

5. Kelewatan tempat tujuan

Kelewatan tujuan adalah salah satu kebodohan yang pernah saya lakukan. How come? karena saya teler atau terlalu asik main hape atau baca buku. Pernah saya kelewatan tujuan sampai ke Madiun gara gara saya masih tidur di kereta. Sadarnya waktu plang Solo Balapan udah lewat di depan mata akhirnya saya bablasin sekalian sampai ke Madiun. Geblek kan. Haha. Pernah juga saya hampir kelewatan ke Semarang karena saya sibuk dengan hape ternyata Bawen udah kelewat. Haha. Untung belum terlalu parah. Juga saya jalan jauh sampe satu kilometer (satu km lumayan juga kalau jalan kaki) karena saya kelewatan baca peta di maps. Nggak sempat bilang ke pak kondektur dan taraaa.. udah bagus nggak kelewatan sampai ke Purwodadi. Haha.

6. Dapat temen ngobrol asik

Solo traveling memang menyenangkan. Tapi lebih menyenangkan jika ada companion selama perjalanan. Nggak ada teman buat nemenin traveling bukan masalah besar toh jaman naw sudah banyak solo traveler perempuan. Its okay to go alone. Hanya saja memang membosankan. Haha. Tapi selama kita mau usaha untuk be friendly, kita selalu akan dapat teman ngobrol asik selama perjalanan. Berawal dari basa basi remeh dan kemudian kalau teman seperjalanan kita asik ya bisa sampai mana mana topiknya. Bahkan bisa tukeran sosmed atau nomer telepon. Dan kadang malah masih ada hubungan jauh entah itu temennya si A, atau almamater dari sekolah yang sama atau dari daerah yang sama. Nggak krik krik lah selama perjalanan.

7. Ketinggalan barang barang penting

Saya paling nggak suka nenteng barang. Why? karena saya pelupa, teledor sekalian. Entah sudah berapa kali saya meninggalkan barang barang di kendaraan umum. Dari kacamata hitam yang saya letakkan di celah kursi kereta, buku, dan sebuah tas berisi jajanan lebaran yang saya mau cemal cemil perjalanan ke Purwokerto hilang seketika di halte bus akibat tak terbawa gara gara saya lupa. Fine. How I hate keteledoran saya.

8. Pengamen dan orang jualan sepanjang perjalanan

Poin ke delapan ini adalah usul dari salah satu reader blog saya. Haha. Well, bener juga ya. Kalau ikut kendaraan umum, pengamen dan pedagang asongan adalah bagian tak terpisahkan. Pengamen ada banyak jenis. Ada yang membawakan lagu lagu catchy pop masa kini, ada yang nyanyi seadaanya tapi maunya cuma duitnya. Tapi ada juga yang membawakan lagu dengan lirik mendalam, jadi nggak sayang ngasih duitnya. Ada juga  nyindir nyindir sampai maksa maksa. Belum lagi yang pedagang asongan. Sekalinya naik, udah satu kampung naik semua. Barang dagangannya serupa: mijon, pruti, akuwa, tahu lima ribu tiga, kacang goreng, kacang rebus, tisu, usus goreng. Udah itu biasanya mah. Ada yang menawarkan dagangannya dengan ramah, ada juga yang begajulan. Ah, sungguh meramaikan suasana bis. Haha.

Kalau di kereta, katanya para orang jaman dahulu sih, sempat juga masa masa jaya pengamen dan asongan jualan sepanjang perjalanan kereta. Jadi di kereta nggak ada namanya kelaparan karena sumber makanan tersedia dua puluh empat jam. Haha. Cuma sekarang restrukturisasi di kereta membuat para pengamen dan asongan tidak bisa mengais rejeki di atas kereta api atau di stasiun. Pastinya sebuah kerugian untuk mereka tapi namanya perubahan jaman, semua orang harus siap untuk adaptasi.

9. Gerombolan tukang berisik

Ada kalanya kita berharap bisa duduk melepas lelah di atas kendaraan habis seharian berjalan sembari menanti sampai ke kota tujuan. Bahkan pengennya tepar biar pas bangun, sampai, dalam keadaan seger. Tapi apa yang didapat? gerbong kereta atau bis dalam keadaan ramai karena ada sekumpulan anak muda, emak emak atau bapak bapak yang super cerewet entah ngobrol, nggosip atau main kartu. Ah, shit. Kezel emang. Apalagi kalau udah jam tidur. Rasa hati pengen tidur tapi cemberut daritadi nggak bisa tidur karena denger orang berisik sepanjang waktu. Yang bisa dilakukan: menegur. Kalau nggak berani? bilang ke kondekturnya bahwa kondisi gerbong yang berisik bikin kita terganggu. Pasti gerombolan itu akan kena teguran dan akhirnya mereka nyadar dan kita bisa tidur dengan nyenyak :D. Eits, nggak cuma tukang berisik, kadang kita juga nggak bisa tidur karena ada ‘orang berisik’ alias orang ngorok di kereta. Saya pernah sebelahan sama bapak bapak yang ngorok. Sumpah, nggak bisa tidur. Duhh. sedih banget. Mau dibangunin, kasihan takut ngganggu. Nggak dibangunin, kitanya yang capek nggak bisa tidur. Serba salah. Haha. Solusinya: Kalau memang ada tempat kosong di kendaraan tersebut, pindah dan boboklah dengan nyaman. Tapi kalau kereta penuh, mungkin bisa ingatkan (kalau berani dan tidak sungkan). Tapi kalau masih kuat, ya udah nikmati sepanjang jalan. Kalau kita kecapekan sendiri ya paling ketiduran sendiri 😀

10. Vandalisme dan asal buang sampah

Sebuah bus umum penuh dengan sampah dan coretan di kursinya rasanya sudah hal biasa di negeri ini. Atau angkot deh. Biasanya pelakunya adalah anak anak bau kencur yang belum ngerti kerasnya hidup. Coretannya biasanya ejek ejekan anak kelas lain atau ancaman pada geng lain. Bikin rusak pemandangan. Tapi melihat coretan coretan itu rasanya kita kembali ke masa ketika kita masih kecil. Ribut sama teman temen, main kesana kemari. Haha. Cuma ya nggak baiklah coret coret nggak mutu gitu. Akan lebih baik kalau transportasi di Indonesia dalam keadaan bersih. Bersih kan lebih enak dilihat.

Berapa banyak orang Indonesia yang sekolah sampai tingkat tinggi (minimal SMA lah). Berarti sudah nggak banyak yang buta aksara kan?. Tapi nggak banyak yang bisa baca bahwa sampah harus dibuang pada tempat sampah, bukan dibuang di lantai, di selempitan kursi atau di sembarang tempat. Kenyataannya? lantai bus penuh dengan plastik minuman, kulit kacang, puntung rokok dan aneka warna sampah lainnya. Ujung ujungnya kita yang manyun terus terusan menyalahkan pengelola bis yang terkesan tidak peduli dan akhirnya kita menyalahkan pemerintah ini itu. Padahal kita sendiri adalah pihak yang paling nggak care pada kebersihan. Well.. gimana mau bersih kalau kita tidak mulai jadi orang yang peduli kebersihan. Semoga saya bisa belajar.

Well.. segitu dulu ya mengenai apa yang saya rasakan selama menggunakan kendaraan umum. Saya punya harapan bisa melancong ke negeri lain dan merasakan jadi traveler di negara tersebut. Entah kapan :D.

Menyusuri Sungai Para Hyang

dip3 1682

Fortressnya Superman yang sudah ternaturalisasi di bumi

Bandung adalah perpaduan antara modernitas dan alam yang masih menjadi misteri. Sangat menyenangkan untuk nongkrong di sepanjang sudut kota yang penuh dengan romantisme ala anak gadis yang selalu berbenah: kadang menor kadang simpel dan mengikuti dinamisme jaman. Tapi Bandung juga masih mempertahankan keasrian alamnya (di sebagian tempat). Bandung sama macetnya dengan Jakarta, tapi karena letaknya di kayangan, emosi yang tadinya membara, seketika teredam oleh sejuknya hawa yang menyusup di sela dedaunan. Pun tak hanya tengah kota Bandung yang bisa ditelusuri. Bandung punya eksotisme di ujung ujung yang patut untuk dijelajahi: Danau (atau sungai) Heuleut, sebuah sungai nun di ujung Bandung Barat.

Sungai Heuleut (mulai sekarang, sungai saja ya karena memang sungai sih), adalah sebuah aliran air di hulu sungai Citarum. Letaknya pun nun jauh di dalam area perkebunan (atau hutan sih?) milik Perhutani. Kalau dari Stasiun Bandung, kita naik kereta lokal Bandung Raya yang tarifnya Rp. 5000. Kemudian mampir dulu makan di pasar Padalarang yang murah meriah (waktu itu sih saya makan bubur cuma Rp. 6000. Hehe. Dimana kalau saya beli di Bandung kota, harga bubur bisa Rp. 15.000). Habis makan, naik angkot arah Rajamandala kurang lebih Rp. 10.000. Turun di depan gerbang plang ke arah PLTA Saguling. Mulai dari Gerbang plang menuju PLTA Saguling itulah perjalanan bermula. Ada angkutan umumkah disana? ojek online? jawabannya t i d a k   a d a. Kita harus ikut ojek pangkalan atau pakai motor sendiri. Berapa tarifnya? Kurang lebih minimal Rp. 30.000 untuk 30-45 menit perjalanan. Bisa dimaklumi sih tarifnya segitu, soalnya jalannya jauh, kelak kelok dan cukup sepi juga.

Perjalanan tidak seketika berhenti saat kita memarkirkan motor. Perjalanan masih belum berakhir. Dari pos masuk Heuleut, kita masih harus berjalan kaki kurang lebih 45 menit bahkan lebih untuk mencapai sungai. Jalan setapak naik turun didominasi kanan kiri tanaman jagung, padi gogo (itutuh padi yang tahan cuaca dan tahan air minim), pohon milik perhutani dan menuju Heuleut, sudah tanaman tanaman aneka ragam di hutan. Seperempat perjalanan awal, jalanan masih agak datar, mulai separuh perjalanan, kita akan menuruni bukit. Turun ke Heuleutnya sih enak aja. Pulangnya… tadaaaaa.. lutut rasanya mau copot juga. Haha. Oh ya, sebaiknya pakai topi kalau cuaca sedang panas. Kalau letih, di separuh perjalanan ada warung kecil di kanan jalan, tempat warga sekitar mengais rejeki. Pengunjung bisa mampir disana untuk beli popmi atau air mineral

Menuju 200 meter menuju Sungai Heulet, di sebuah pertigaan tersembunyi air terjun kecil. Sayangnya saya lupa apa nama air terjunnya. Hehe. Air yang menyegarkan bisa jadi pembuka sebelum menceburkan diri ke air Heuleut yang sesungguhnya.

Kurang lebih 10 menit kemudian, kita akan sampai ke Sungai Heuleut. Jalanannya? jangan tanya. Sangat disarankan pakai alas kaki yang nyaman. Sangattt minimal, pakai sandal jepit karet swallow. Jangan centil pakai sepatu fantovel atau sepatu flatshoes. Niscaya sepatu sepatu kalian yang harganya selangit itu hanya akan tinggal kerangkanya. Kalau bisa sih pakai sepatu/sandal hiking atau sepatu sport.

Dan.. tibalah kita di sungai Heuleut yang airnya coklat agak jernih. Kalaulah kalian menemukan air Heuleut di gugel, percayalah sotosop adalah teknologi terciamik saat ini untuk menipu mata. Dan jangan salah, kedalaman air di Heulet bisa mencapai 8-12 meter di kolam paling atas. Kolam kedua, berkedalaman kurang lebih 2-3 meter. Kolam terakhir masih 1-2 meter. Disusul aliran terakhir, air mengalir melalui sela sela bebatuan sehingga masih aman untuk para orang tua yang membawa anak anaknya turun ke sungai. Menurut guide kami waktu itu, jam ramai orang ada di lepas dhuhur. Bisa dimaklumi karena jauhnya jarak membuat mereka baru bisa sampai di lokasi ketika matahari sudah terik. Belum jalan kaki menuju site yang bikin ngos ngosan kalau tidak biasa olahraga. Bahkan ada juga yang nekat turun ke Heuleut ketika matahari sudah mulai tergelincir. Ini sih nekat betul. Tapi biasanya nggak akan dibolehkan oleh pengelola. Daripada nyari mati. Iya kan?. Jalan setapak menuju Heuleut yang naik turun itu tidak ada penerangan samasekali, namanya juga hutan, selo bener orang mau ngasih lampu penerangan. Emangnya taman wisata. Takutnya kalau buat area mesum, lagipula area hutan kan berbahaya juga kalau sudah malam. Banyak binatang liar berkeliaran.

Saran: sewalah pelampung dari pengelola setempat. Harganya masih wajar kok, Rp. 15.000,-. Untuk keselamatan aja karena kedalaman Heuleut yang lumayan juga. Meskipun ada tim SAR setempat, tetap disarankan pakai pelampung untuk keamanan.

Oh ya ada cerita sedikit dari bapak pengelola setempat soal kejadian teledor beberapa tahun lalu yang mengakibatkan korban di Heueleut. Seperti halnya anak anak muda yang adrenalinnya masih kenceng kencengnya, ada sekumpulan anak masuk ke area Heuleut tanpa melewati pos masuk. Jadi, ceritanya mereka parkir kendaraan di pinggir jalan, kemudian masuk ilegal lewat hutan dengan cara mengikuti aliran sungai sampai ke kolam Heuleut. Nah, kebetulan hari sudah sore dan tidak ada satupun anak yang tahu bahwa kolam di Heuleut memiliki kedalaman yang lumayan. Semua orang mengabaikan prosedur keselamatan, main cebar cebur dan ada salah satu yang tenggelam. Teman temannya bergegas mencari bantuan dan mayat si anak baru bisa ketemu beberapa jam kemudian. Itupun evakuasinya juga pasti susah banget, harus lewat aliran sungai sampai ke jalan raya. Sangat merepotkan.

Dari cerita di atas, semua orang harusnya bisa mengambil pelajaran: hidup dan mati kita jangan merepotkan orang lain. Apa sih susahnya membayar sekian ribu rupiah untuk sekedar kulonuwun, ijin pada warga setempat, memberi tahu bahwa kita orang luar ingin main berkunjung ke tempat mereka. Apalagi ini posnya resmi milik Pokdarwis setempat. Selain memberi tahu bahwa kita adalah tamu, tentunya bisa membantu Pokdarwis setempat mengembangkan desa mereka dengan pariwisata. Ya darimana desa wisata bisa berkembang kalau bukan karena ada wisatawan dan pengelola wisata (pemerintah mah baru akan turun gunung kalau udah agak bagusan dikit). Jadi minta ijin bukan sekedar ngasih tau dan ngasih uang (yang biasanya nggak seberapa mahalnya), tapi kita juga membantu pengembangan perekonomian dan pariwisata lokal. Kita nggak cuma jago menghujat pemerintah dan nyinyir ini itu bahwa pemerintah nggak becus kan? Kita harusnya juga bisa urun rembug urun tindakan untuk memajukan negeri kita meskipun dengan hal yang paling sederhana sekalipun. Agak meleber ya bahasannya. Hehe. Tapi tetep masih nyambung kok.

Ok, balik lagi mengapa harus lewat pos resmi kalau kita pergi ke tempat wisata di sebuah daerah. Tentu saja karena kita bukan warga lokal setempat (kecuali kalau kita akamsi ‘anak kampung sini’ yang paham medan), kita sebagai tamu harus ijin. Ya kalik masuk rumah orang asal nyelonong aja. Di balik itu semua yang terpenting adalah ketika terjadi apa apa, warga setempat bisa sigap membantu dan menyelamatkan kita. Seperti halnya kasus si salah satu anak yang tenggelam di Heuleut, kan pada akhirnya teman temannya pergi ke atas dan mencari bantuan pada desa setempat. Nah lho, nggak pada tahu juga kan kalau ternyata sungainya dalam karena mereka mengabaikan faktor keselamatan. Mereka pikir bisa asal masuk rumah orang dan cebar cebur begitu aja. Toh pada akhirnya mereka juga merepotkan banyak orang. Udah merepotkan warga, juga merepotkan keluarga. Bisa dibayangkan bagaimana cemasnya orang tua dan saudara mereka mengetahui kabar musibah malamnya. Pulang menantikan anak untuk makan bersama, ternyata yang datang adalah mayatnya. Belum lagi teman temannya akan dihantui rasa bersalah seumur hidup. Diikuti dengan semua andai andai ‘andai kita kemarin nggak punya ide berenang, andai kita nggak punya pikiran sampai ke Heuleut, andai kita nggak asal nyebur, andai kita nggak ini andai kita nggak itu dan ribuan andai andai yang sudah jadi bubur. Kan ngeri juga. Maka, dimanapun kita berada usahakan hormati adat setempat. Dan yang terpenting adalah: doa. Meskipun ajal sudah ditentukan oleh Yang Kuasa, tapi doa adalah yang membuat kita selalu percaya akan selalu ada kesempatan kedua untuk hidup membahagiakan keluarga lebih lama.

Dua setengah jam di Heuleut, tak terasa letihnya. Kami pun bergegas untuk pulang. Jalan pulangnya… duhhh ampunnnn. Orang orang yang olahraganya nggak teratur kayak saya ini, habis waktu untuk dikit dikit berhenti di tengah jalan. Lega banget waktu udah sampai Pos, kira kira satu jam perjalanan. Setelah kami istirahat sebentar sholat ashar, kami turun menuju Rajamandala.

Oh ya, kami sempat turun sebentar ke PLTA Saguling. Ada jalan kecil menuju samping PLTA untuk melihat Sanghyang Tikoro, aliran sungai yang menuju goa antah berantah. Dinamakan Tikoro karena mulut goa yang mirip kerongkongan. Jadi bisa dibilang aliran airnya masuk ke kerongkongan raksasa. Sampai sekarang belum ada yang tahu kemana arahnya aliran air Tikoro. Sangat jauh berbeda dengan aliran air di Heuleut, aliran Tikoro sangat deras dan cukup berbahaya. Lagipula nggak ada yang selo banget mau main air di Tikoro. Liatnya aja udah ngeri. Haha.

Well, jalanan menuju Rajamandala masih sama sepinya dengan tadi pagi ketika kami naik ke Heuleut. Dan saya udah tepar. Pengen cepet sampai kasur.

Sekolah Permen Warna Warni

Dunia ini penuh dengan warna warni. Anak anaklah yang mewarnai dunia. Masa kecil yang bebas berteman dengan siapapun tapi juga diwarnai dengan perbedaan yang terkadang rasial. Kita terbiasa dengan kehidupan yang monoton, terbiasa dengan keseragaman sehingga gumunan dengan hal hal yang baru. Besarnya, kita jadi suka menyalah nyalahkan hal hal yang kita anggap berbeda seolah hanya kita yang benar dan yang lain salah.

SMK Bhakti Karya Parigi hadir dengan perspektif baru. Sekolah ini memang tidak punya banyak murid seperti layaknya sekolah pada umumnya yang sampai ratusan orang. Tapi sekolah ini punya apa yang belum tentu dimiliki sekolah biasa: keragaman dari Sabang sampai Merauke. Ya, murid di sekolah ini berasal dari seluruh Indonesia. Tidak banyak memang. Satu kelas hanya diisi kurang lebih 15 sampai 20 orang. Bahkan ada kelas yang tingkat okupansinya tidak mencapai 20 orang. Luar biasanya, biaya pendidikan sampai biaya transportasi dari daerah mereka menuju sekolah ini ditanggung full.

dip3 953

Pada awalnya, sekolah ini adalah sekolah yang didirikan di atas gedung kopra desa setempat. Pada perkembangannya murid yang tadinya cukup banyak hanya tersisa segelintir saja. Keadaan ini tentu membuat para warga desa prihatin. Berawal dari inisiatif komunitas Sabalad, sebuah komunitas baca di desa Sukacinta, mereka mulai menyemai kembali benih berdirinya sekolah ini. Murid murid yang tadinya tidak terakomodir kebutuhan belajarnya, kini sudah bisa bersuka cita dengan hadirnya SMK Bakti Karya Parigi.

Jurusan yang ada di sekolah ini menitikberatkan pada perkembangan multimedia dan teknik komputer jaringan. Dengan keterbatasan alat dan keadaan, mereka terus bersemangat untuk selalu belajar. Anak anak terbiasa melek teknologi dan mampu menghasilkan karya karya yang tidak kalah dengan sekolah elit yang mampu menyediakan fasilitas lengkap. Selain kelas multimedia, sekolah ini memiliki kelas multikultural dimana siswanya yang beragam akan membentuk pola pikir menghargai keberagaman yang akan mengikis sekat sekat intoleransi yang selama ini membayangi mereka. Kelas Profesi, sebuah kelas sharing session bersama teman teman dari luar mengenai kegiatan yang digeluti entah komunitas atau pekerjaan sehingga siswa bisa tahu mengenai dunia yang akan mereka hadapi selepas sekolah. Kelas ini sebagai ajang tukar disiplin ilmu sehingga pemikiran anak anak menjadi lebih luas.

Saya sempat mengisi pada salah satu sesi sharing di kelas mereka. Sungguh, anak anak ini sangat antusias mendengar pengalaman yang kami sampaikan. Tidak jarang mereka bertanya sehingga interaksi di kelas menjadi hidup. Rasa ingin tahu mereka terhadap dunia luar begitu tinggi. Bahkan mereka berinisiatif sendiri mencari bahan materi sehingga menambah ilmu yang mereka miliki. Yang menyenangkan adalah siswa tidak dipaksa mengikuti metode formal. Mereka dibebaskan untuk memilih sendiri cara belajar yang mereka inginkan sehingga tidak jarang mereka belajar sendiri di perpus, diskusi dan mengeksplorasi apa yang ada di alam.

Mengapa anak SMA? menurut cerita dari Kak Ai, salah satu inisiator sekolah ini, mengapa anak SMA kenapa tidak anak anak SD yang bisa dibentuk dari awal. Anak anak SMA sudah punya gambaran utuh tentang masa depan mereka dan cara pandang untuk melihat sebuah masalah secara lebih obyektif. Kalau anak SD, si orang tua masih sayang sayangnya deket sama anak. Anak SMP, masih belum bisa masuk kategori. Anak usia SMA dianggap masa paling pas untuk membentuk karakter anak dekat dengan keragaman. Anak anak SMA yang masih unyu unyu ini akan berpisah ketika liburan tiba atau ketika lulus. Dan mereka akan pulang kembali ke daerah masing masing untuk menularkan perspektif baru mereka tentang toleransi di tengah tengah masyarakat daerahnya masing masing. Seorang murid yang berasal dari Papua bercerita bahwa ia ingin pulang ke desanya sebagai salah satu orang yang berusaha menghentikan tradisi pertikaian suku di kampungnya. Ia menyadari bahwa tidak semua hal bisa diselesaikan dengan kekerasan. Ia ingin menjadi seorang agent of peace untuk desanya. Inilah tujuan mengapa mulai tahun 2016 sekolah ini didirikan. Untuk menebarkan virus perdamaian yang dibawa oleh agent of change, mereka para anak muda murid SMK Bakti Karya Parigi, yang datang berbondong bondong dari daerah masing masing. Semuanya berkumpul di Parigi, sebuah daerah nun dekat Pantai Pangandaran, kawah candradimuka para pejuang toleransi masa depan. Semua anak disemai bakatnya untuk menjadi seorang leader masa depan yang bisa membawa desa mereka ke arah yang lebih baik.

Siapapun bisa main ke sekolah ini. Kalau dari Stasiun Banjar, naik bis bertarif 25.000-35.000 rupiah menuju Parigi selama kurang lebih 3-4 jam. Kemudian menggunakan motor untuk sampai ke Desa Sukacinta (atau Cintakarya, ya? Haha) selama kurang lebih 30 menit.

Jam pelajaran dimulai dengan tegur sapa bercerita dari setiap guru atau murid bergantian setiap paginya.

fvfsds

Mereka tinggal di asrama terpisah yang terletak tidak jauh dari sekolah. Aktifitas selama 24 jam terpantau oleh guru dan wali yang sama sama tinggal tidak jauh dari asrama mereka. Tidak ada pungutan sedikitpun dibebankan pada siswa siswi. Bahkan tidak jarang pengelola yayasan harus berhutang sana sini untuk menutup biaya operasional sekolah yang tinggi. Mulai uang tiket si anak dari daerah menuju Parigi, seragam, SPP,  perlengkapan sekolah, biaya makan sehari hari kecuali uang jajan mereka ditanggung oleh pihak yayasan. Sekolah ini bertahan dengan bantuan para donatur Bakti Karya Fellow dan Bakti Karya Life juga dari kitabisa.com serta donasi dari berbagai pihak yang setiap bulannya menyisihkan sebagian rejekinya untuk kelangsungan pendidikan anak anak ini. Itupun tidak bisa serta merta menutupi tingginya biaya hidup anak anak. Seringkali donasi tidak seluruhnya bisa terkumpul dan itupun masih banyak donatur yang tidak mengirimkan tepat waktu. Tergerak ingin membantu? Please check https://www.sbk.sch.id.

dip3 1001

Penyemangat

dip3 1004

Kata kata mutiara

fggagadfd

KedungOmbo: Piknik Yuk!

Sedari kecil, hobi ayah saya: dolan, keluyuran dan mancing. Saya tahu betul mengapa ayah saya hobi dolan. Lingkungan tempat beliau kecil tinggal adalah lingkungan hijau pegunungan yang masih asri. Ke sawah, main di ladang, berburu rusa, mancing di kolam. Yes, its a nature. Human nature livin in nature. Hingga punya istri dan tinggal di Jawa pun, hobi ayah saya tidak berubah samasekali. Apalagi soal memancing. Beliau selo selo saja menempuh perjalan puluhan kilo ke kabupaten sebelah untuk menghabiskan waktu berjam jam mancing. Tak jarang nginep sambil digigitin nyamuk rawa yang jumbo jumbo itu. Berangkat sabtu sore, sampai rumah minggu petang dengan ikan ikan segar khas rawa.

dip3 422

Salah satu tempat dimana ayah saya mancing adalah Waduk Kedung Ombo. Kedung sendiri artinya cekungan berisi air, sedangkan Ombo artinya luas. Jadi Kedung Ombo ini adalah danau yang luas. Begitu kira kira. Danau (lebih tepatnya sih waduk) ini tentu saja tidak terjadi secara tiba tiba. Waduk ini dibuat pada jaman orde baru dengan mengorbankan beberapa wilayah desa yang ditenggelamkan aliran air sungai Bengawan Solo. Kalau dari arah Purwodadi, kira kira 30-40 menit perjalanan. Paling asik, kurang lebih 10 menit menuju kanan kiri hamparan perkebunan Perhutani entah itu kayu jati atau kayu putih. Ademmm. Sayangnya (hampir) tidak ada transportasi umum yang mengarah ke waduk. Bagaimana bisa kesana? Motor dan mobil pribadi. Tidak lain tidak bukan. Rata rata yang berkunjung ke waduk memang para pemancing dan piknikers yang membawa serta seluruh silsilah keluarganya. Hehe. Sayang sekali daerah jalanan menuju Kedung Ombo tidak banyak penerangan. Sungguh sungguh rawan kejahatan dan tindak asusila. Jadi, bagi para pengunjung yang mau pulang, jangan kemalaman ya.

Waduk Kedung Ombo ini bisa dibilang cukup instagramable. Ada spot yang dicurigai gambar default home windows XP jangan jangan diambil dari tempat ini. Haha. Sebenarnya yang saya maksud dengan default Windows XP itu adalah tanggul pembuangan aliran air Kedung Ombo yang ditumbuhi rerumputan hijau ciamik. Sayang sekali (bahkan syukurnya) tempat ini dikelilingi oleh pagar yang cukup tinggi untuk dilompati. Waktu itu saya, Liana dan saudaranya sampai di Kedung Ombo pukul 10.30. Well dalam cuaca jam 10 pagi yang panasnya kayak jam 12 itu banyak berkeliaran kimcil kimcil setempat parkir motor sambil berduan bahkan bergerombol. Selo bener :D. Bayangkan jika kimcil kimcil ini (bahkan saya) lompat pagar dan menginjak injak rumput cantik itu dan viral kayak kejadian rusaknya hamparan bunga lili di Gunung Kidul gara gara pengunjung bego dan alay beberapa tahun lalu? Pasti sangat disayangkan.

dip3 309

Sampai di gerbang waduk, banyak mobil yang parkir justru di depan gerbang. Sayang sekali kami tidak bisa masuk ke area wisata waduk. Ternyata renovasi area sekitar waduk masih berlangsung dan pedagang yang tadinya ada di sekitar waduk dipindahkan ke area sementara. Suasana ‘pasar’ cukup riuh dengan ajakan penjual agar pembeli mampir ke lapak mereka. Total pedagang saat itu mungkin kurang lebih 30-40 pedagang. Produk? Rata rata sama. Bakaran ikan yang ditusuk dengan bambu, es degan, minuman dingin, lesehan nasi ikan bakar lengkap yang dijual dengan harga Rp. 15.000-20.000 rupiah. Tidak hanya di makan di tekape, saya lihat banyak juga warga yang membawa pulang oleh oleh ikan bakar ini ke rumah. Bertusuk tusuk bambu berisi ikan siap untuk disantap bersama keluarga.

Sedikit kecewa karena tidak bisa masuk ke arena waduk, kami balik kanan mau pulang. Namun secara tidak sengaja kami melihat plang iklan warung makan apung Waduk Kedung Ombo yang berjarak ‘hanya’ satu kilometer arah utara pasar ikan. Kalau kata temen saya yang native sana, daya tariknya nggak jauh beda dengan area waduk yang direnovasi. Lesehan tempat makan sambil menikmati hembusan angin waduk sembari makan ikan bakar. Well.. cucok untuk piknik keluarga. Terbukti banyak banget rombongan yang bawa anak cucu lesehan di atas tikar sambil minum es kelapa muda.

Untuk kalian kalian yang ingin main air. Bukan literally main air ya sebenarnya. Ada larangan untuk berenang karena berbahaya. Bahkan menurut cerita warga setempat, masih ada buaya (mungkin bukan buaya ya tapi biawak) yang berkeliaran di sekitar danau. Temennya kakaknya Liana sampai harus pindah tempat prewedding gara gara informasi ini. Hihihi. Memang terkesan menakut nakuti tapi lebih baik dengarkan penduduk sekitar karena mereka lah yang lebih tahu.

Saya sebenernya kepikiran juga buat mancing kayak bapak saya. Tapi apa daya saya lebih pengen muter muter danau pakai perahu warga. Hihihi. Di area Waduk Kedung Ombo, kita bisa menikmati angin danau dari atas perahu. Dua sampai tiga buah perahu sepanjang kurang lebih tujuh meter sandar di pinggiran danau. Pengelola kapal baru akan berlayar ketika perahu penuh. Ya, tentu saja ada banyak warga yang turut serta, ibu ibu anak anak, bapak, anak muda pacaran. Campur aduk. Tarifnya? Anak anak Rp. 5000, dewasa Rp. 10.000. Para penumpang laki laki biasanya diminta bantuan untuk mendorong kapal agar apung dan bisa segera layar. Kurang lebih tiga puluh menit kami berputar putar di area Kedung Ombo. Terlihat hamparan pepohonan baik pohon pohon pinus milik Perhutani maupun pisang milik warga yang memanfaatkan lahan sekitar waduk.

Anyway Kedung Ombo adalah salah satu part terbaik dari Kabupaten Grobogan. Semoga suatu saat nanti bisa berkembang lebih hits lagi (selama tidak merusak alam dan masyarakatnya).

Rezeki di Bledug Kuwu

Ya ampunnn betapa malaznya saya sekarang. Mau menulis saja susahnya minta ampun. Sekalinya mau nulis, kena writers block. Ada yang mengalami hal yang sama gaes? :D. 

Well, jangan remehkan kota kecil di sebelah tenggara Semarang. Kota yang terkenal dengan hutan hutan jati yang berkualitas ini juga punya wisata alam yang emezink. Sudah pernah dengar Bledug Kuwu?. Mungkin sebagian masih asing dan sebagian sudah pernah dengar bahkan pernah berkunjung. Kalau lumpur lapindo? Pernah dengar? Pernah kan? Pernah? Ya kan? Kan?. Haha. Well ada korelasi antara lumpur lapindo dan bledug kuwu yang saya bilang tadi. Korelasinya dimana? Secara material, keduanya bisa dibilang setengah mirip. Baik bledug kuwu maupun lumpur lapindo materialnya berupa luapan lumpur yang keluar dari dalam bumi. Eitsss. Ada perbedaan besar di antara keduanya. Kalau lumpur lapindo terjadi karena ada kesalahan teknis dalan proses pengeboran (yang katanya di dalamnya ada minyak) tapi kalau bledug kuwu, murni terjadi secara alami sejak ribuan tahun lalu.

Bahkan hingga saat ini uniknya, Bledug Kuwu masih mblekutuk-mblekutuk alias meledak ledak, hampir setiap menitnya dengan kisaran tinggi 0,5-5m. Ledakan alamiah ini sudah terjadi sejak jaman baheulak. Begitu kata Pak Bayu, guide yang memandu saya mencari jalan yang padat menuju sumber letusan terbesar di area Kuwu. Secara ilmiah, letusan lumpur ini terjadi karena ada dapur magma aktif yang kekuatannya tidak begitu besar terletak di bawah lapisan kerak lumpur. Lumpur dari Bledug Kuwu mengandung beberapa senyawa seperti garam, belerang.

Lumpur lumpur yang meledak dan meluber itu kemudian dimanfaatkan warga untuk komoditas dagang dan wisata. Masyarakat mengelola Bledug Kuwu sebagai daya tarik wisata Purwodadi. Tumbuhlah berbagai usaha sampingan seperti pengusahaan garam, lumpur untuk masker, warung warung mi ayam di sepanjang jalan masuk Bledug Kuwu, parkiran, cinderamata bahkan guiding.

Oke. Lets talk about usaha usaha sampingan sebagai dampak berkahnya ladang lumpur ciptaan Tuhan ini.

1. Guiding

Guiding tentunya menjadi salah satu urusan penting di dunia pariwisata. Di tempat wisata manapun, keberadaan guide mutlak diperlukan untuk membantu masyarakat mengenal lebih jauh potensi wisata tersebut.

Masyarakat Indonesia yang lekat dengan budaya budaya tradisional setempat. Ditambah dengan adanya objek ‘ajaib’ yang pada awalnya tidak bisa ditelaah nalar, maka orang pun mencoba untuk mencari jawaban atas pertanyaan mereka. Maka lahirlah legenda, mitos, dongeng yang diceritakan turun temurun. Guide adalah perantara dan penjaga dongeng dongeng setempat bisa tersampaikan ke warga yang berkunjung.

dip3 120

Ada beberapa versi mengenai legenda Bledug Kuwu. Lagi lagi menurut penuturan warga setempat, Bledug Kuwu adalah lokasi pertempuran Ajisaka dan Raja Dasamuka. Ajisaka yang berusaha………………………..

Tak hanya guide, Kuwu pun punya Juru Kuncinya sendiri. Juru Kunci yang dipercaya untuk dapat menjaga tempat ini dan menjauhkan orang orang dari perbuatan yang bisa merusak. Nah, sayangnya pak juru kunci juga tidak setiap hari ada di area kuwu. Maka, yang bisa menjelaskan sejarah dan asal muasal tempat ini berdasarkan legenda adalah pak guide setempat, salah satunya Pak Bayu yang juga merangkap sebagai petugas penjaga di area ini. Beliau membantu orang orang agar tidak salah melangkah menuju area yang aman untuk menonton letupan letupan lumpur dalam jarak yang aman.

Menurut penuturan Pak Bayu ini, lumpurnya bukannya panas tapi dingin. Letupan terbesar kurang lebih 5 meter tingginya. Itupun tergantung pada intensitas curah hujan dan ombak laut selatan (saya juga bingung ketika saya dengar cerita ini. Bukannya Laut Utara ya? Wkwkw). Letupan semakin membesar jika curah hujan tinggi dan lautan dalam keadaan pasang.

2. Usaha Tambang Garam

Sebagai lumpur yang ajaibnya bisa disaring kandungan garamnya, saya cukup takjub bahwa si lumpur ini pernah menghidupi puluhan penambang garam pada masanya. Kini, hanya ada satu orang penambang yang kekeuh bertahan. Sayang seribu sayang saya tidak bertemu dengan Ibu Jiyem (atau siapa ya namanya. Duhh maafkan saya yang ingatannya setajam ingatan ikan ini).

Menurut penuturan guide saya waktu itu, proses pembuatan garam kuwu hanya bisa berlangsung pada musim kemarau karena butuh cahaya matahari kekuatan penuh untuk menghasilkan kristal kristal garam dari sulingan lumpur. Dan.. Saya juga baru tahu bahkan tidak semua orang bisa menjajaki lumpur yang bikin tenggelam sandal itu. Si ibu penambang garam harus merangkak agar tidak jatuh ke dalan kubangan lumpur. (Sepatu saya sudah amat sangat cukup kotor karena lumpur yang bikin timbul tenggelam itu).

Dengar dengar Belanda sudah menggunakan garam dari Kuwu untuk memasok kebutuhan garam pada jaman penjajahan kolonial. Berarti waktu itu Kuwu sebagai sentra pergaraman

3. Suvenir khas Kuwu

Ada setidaknya tiga jenis souvenir hits yang dijajakan warga setempat di Kuwu: Garam Kuwu, Lumpur Kecantikan dan Buku Legenda. Garam yang ditambang di musim kemarau, disimpan sebagian untuk persediaan barang yang dijual di musim penghujan. Garam garam ini dikemas dalan plastik ukuran sperempat atau setengah kilogram. Lumpur kecantikan dalam botol bekas air mineral ukuran 500-1600 ml diambil dari tempat tertentu di kubangan lumpur Kuwu. Konon baik untuk kulit karena kandungan belerang dan mineral lainnya. Dan satu lagi, buku legenda yang menceritakan asal usul Bledug Kuwu, sangat cocok sebagai pengantar tidur anak anak.

dip3 217

Oh ya, kalau mampir ke Kuwu jangan lupa dibeli suvenirnya. Tidak mahal. Hanya Rp. 5000-20.000 saja. Bantu petani lokal dan warga setempat agar terus bisa berkarya dan memajukan sektor pariwisata setempat.

4. Usaha Warung Spesialis Mi Ayam

Kanan kiri sepanjang jalur Bledug Kuwu penuh dengan warung mi ayam. Ada yang tutup, tapi sebagian masih buka meskipun pengunjung Bledug Kuwu fluktuatif. Toh rejeki nggak akan kemana. Rasa? Boleh dicoba!.

Sayangnya fasilitas di Kuwu kurang oke. Gardu pandangnya penuh hasil karya vandal yang numpang eksis dengan mencoret coret tembok sekenanya. Ada beberapa gardu kecil tempat istirahat pengunjung tapi kondisinya sudah sangat tidak terawat. Jalan aman menuju lokasi nonton letupan juga seadanya saja. Hanya berupa anyaman bambu yang sudah menceng rusak. Kamar mandi, mushola, tempat jualan dalam keadaan memprihatinkan. Lengkap sudah. Andai saja tempat ini betul betul digarap sebagai salahsatu destinasi utama Purwodadi. Bukan hal mustahil bukan? Karena fenomena alam ini tidak ada duanya di Indonesia bahkan di dunia. Sangat potensial tapi belum tergarap sempurna.

Oh ya lupa. Jalan menuju Bledug Kuwu sudah cukup mulus. Bagi yang menggunakan kendaraan pribadi bisa tinggal ikuti jalan raya Purwodadi-Kuwu. Tapi yang ingin menggunakan transportasi umum, selalu ada bus umum menuju Kuwu. Bagi yang ingin menggunakan kereta api dari Semarang, bisa menggunakan Kereta Api kedungsapur, turun di Stasiun Ngrombo, pindah angkot arah terminal kemudian bis ke arah Kuwu. Kalau kereta api dari Solo pakai KA Kalijaga turun stasiun Kradenan, naik bis dari arah depan stasiun Kradenan. Jarak Stasiun Kradenan menuju Kuwu kurang lebih 30 menit. Cukup asik karena kita akan menemukan interaksi warga lokal yang mau ke pasar, anak anak sekolah yang mau berangkat atau pulang, juga warga setempat yang mau mengunjungi Kuwu.

Tiket masuk Kuwu kurang lebih Rp.3000. Jangan lupa berbaik hatilah dengan memberikan tips seikhlasnya pada guide setempat dan sekedar beli oleh oleh khas entah itu garam atau lumpur yang katanya baik untuk kecantikan.

Hai hai.. Sudah 2018 ternyata sodara sodara :D. Salah satu keinginan saya untuk diwujudkan tahun ini adalah mulai bikin diary dapur saya tertata. Itung itung bisa ngisi buat laman kuliner di blog campur aduk ini. Haha

Nah, di tahun 2018 ini saya akan bercerita tentang makanan sederhana dari apa yang tersisa di dapur saya. Ada apa di dapur? Sungguh kebetulan hanya ada telur, garam, minyak dan kentang. Nah lho. Mau bikin apa?

Telur yang tinggal satu butir itu saya dadar dengan taburan bawang putih seperempat siung tambah merica beberapa butir dengan taburan sejumput garam biar ada rasanya. Goreng hingga matang. Maka sayapun sudah memenuhi protein saya pada hari itu. Karbohidratnya? tentu saja kentang sebutir yang saya potong memanjang kemudian di rebus kurang lebih 15-20 menit. Sejatinya tadi mau saya goreng lagi biar berasa french fries. Tapi, sudahlah, mood saya sedang ingin rebus rebusan. Maka, hanya setengah jam saja, makan siang saya siap.

Well.. kentang rebus telur goreng cukup untuk makan siang saya di awal tahun 2018 ini 😀

Hangout ke Chinatown Bandung

Kalau orang lain pergi malam mingguan, saya dan beberapa teman saya malah malam seninan. Itung itung menghabiskan malam sebelum esok paginya dihajar pekerjaan seabreg. Layaknya sebuah kota multietnis, kami ingin mengunjungi salah satu destinasi wisata Bandung yang lagi ngehits: Chinatown Bandung.

Chinatown Bandung yang baru diresmikan bulan Agustus 2017 oleh walikota Kang Emil terletak di daerah Kebonjati. Itu tuh, deketan sama Cibadak dan Andir. Pokoknya kalau sudah sampai daerah Kebonjati, tanya aja sama warga sana dimanakah Chinatown berada. Pasti ketemu!. 😀

Angkutan apa yang bisa membawa kita sampai ke Chinatown? Tenang. Banyak pilihan. Angkot ada. Motoran, oke. Mau transportasi online, bisa. Semua kendaraan bisa sampai ke Chinatown yang letaknya masih dibilang masih di area jantung kota Bandung.

Waktu terbaik yang disarankan untuk mengunjungi Chinatown adalah mulai sore hari. Bukanya sih emang dari siang sampai jam 10 malam. Tapi waktu hangout terbaik adalah mulai sore hari. Pemandangan chinatown dengan penerangan yang lumayan bagus untuk poto poto dan warna warni mural, interior serta deretan lampion yang berwarna warni. Benar benar fotogenik. Oh ya, untuk bisa masuk ke area Chinatown, pengunjung dikenakan Rp. 10.000 selama weekday dan Rp. 20.000 untuk weekend.

Sebenarnya bisa dibilang Chinatown ini adalah tempat wisata yang sejatinya adalah tempat makan yang disulap jadi ciamik. Cocok untuk tipikal warga Bandung yang memang hobi nongksi dan makan makan di luar. Ada banyak orang yang menghabiskan waktu mereka bersama keluarga dengan hangout di Chinatown.

Well, ada banyak booth makanan dan minuman di dalam Chinatown. Mau nasi nasian, mi mian, es jus, sate, pempek, bakso, dan aneka jajanan lainnya. Harga? Uhm.. untuk sebuah tempat wisata kekinian bisa dibilang harganya termasuk di atas rata rata. Hehe. Kisaran harga 6 ribuan sampai di atas 50ribuan (bayangkan kalian membawa satu keluarga untuk makan disini). Tapi sekali kali nggak papalah ya makan disana. Makan di tempat yang instagramable ditemani life myuzik dari band lokal setempat.

Setelah kami merasa cukup waktu untuk nongkrong, kami segera memesan transportasi online untuk pulang. Kebetulan kami mendapatkan driver yang cukup menyenangkan untuk diajak ngobrol. Usut punya usut, ternyata dari cerita si mas driver, Chinatown yang beralamat di Jalan Kelenteng No 41 yang tadi kami kunjungi adalah bagian dari area bekas rumah duka Yayasan Permaba (Perhimpunan Masyarakat Bandung). Waaaaaa.. nggak nyangka. Tempat yang tadinya dianggap menyeramkan, sekarang jadi sebuah tempat nongkrong kekinian dengan aneka warna warni menghiasi. Jauh beda dengan kesan rumah duka yang cenderung suram dan gelap. Tapi entah apapun itu cerita di baliknya, saya merasa siapapun yang memiliki ide untuk membuat Chinatown sudah lumayan berhasil menghilangkan image seram bangunan rumah duka.

Well.. Saya selalu terkagum kagum dengan cara orang Bandung menambah nilai dari sebuah hal menjadi lebih bernilai. Konsep rumah makan tentunya bukan ide yang luar biasa. Tapi bagaimana mengubah konsep berjualan makanan tidak hanya jadi sebuah warung makan biasa. Namun jualan yang menjual nilai lain seperti halnya Farmhouse, Floating Market, Chinatown dan berbagai tempat wisata keluarga yang kekinian lainnya di Bandung. Bisa dibilang pengunjung harus merogoh kocek yang agak dalam ketika mengunjungi tempat tempat tersebut. Tapi yang membuat mereka rela adalah konsep up to date dengan jaman serta cara mereka mengemas ide jualan mereka menjadi packaging yang menarik masa untuk datang dan selalu datang ke Bandung. Pengelola tempat wisata kekinian Bandung paham betul selera pasar. Lebih tepatnya selera generasi muda yang selalu ingin terlihat uptodate dengan tempat tempat yang baru dan berbeda. Mereka akan selalu merasa wajib memperbarui konten media sosial mereka dengan pamer poto poto di tempat yang hits. Dan itulah  yang dimanfaatkan oleh pengelola tempat kekinian. And.. welcome to Bandung. A place where innovation is emerged.

 

Karena Hidup Adalah Untuk Siapa

Manusia itu punya terlalu banyak list kemauan yang seringkali tidak bisa dilakukan tanpa perhitungan matang. Ketika kita bisa saja mengambil semua yang disuka dan meninggalkan yang kita benci. Sangat mudah. Sangat sangat mudah, apalagi jika mikirnya nggak pakai otak.

Kadang saya mikir ngapain sih saya disini. Ngapain saya harus melakukan hal hal menjemukan sembari menonton drama yang bikin saya sesungguhnya menahan untuk tidak menguap ketika mereka harus memainkan peran caturnya dengan sangat ciamik. Rasa rasanya semangat saya luntur. Kemana saya yang dulu bersemangat, selo dan ‘hidup’.  Can I go back to years later where I live as selaw as I can. Sayangnya nggak bisa. Hidup adalah maju, move on dan nggak akan balik ke sedetik yang telah berlalu. Pilihannya cuma dua: adaptasi atau mati. Dan yeah, it shit tho. I wake up, go forth and back again then I wake up again. Baru juga sebentar, namun sudah sangat menjemukan.

Dan dua bulan lalu, ketika Pak Bambang Setyawan, bercerita bahwa beliau memutuskan untuk memindahtangankan usaha gemaknya kepada adiknya. “Saya sudah tidak bersemangat mengurus gemak gemak itu. Karena tidak ada yang saya perjuangkan lagi. Untuk apa diurus kalau yang diperjuangkan sudah tidak ada”. Oh shit, air mata saya yang mengintip malu malu sudah ingin berontak saja.

Tidak ada semangat. Ya, bukankah semangat adalah alasan mengapa kita mau beranjak dari ranjang. Alasan mengapa kita mau berjalan, mau berlari atau duduk kembali. Semangat hanya muncul dari sesuatu memberi nyala semangat itu sendiri. Dan semangat yang paling kuat nyalanya adalah keluarga.

Semua perkataan beliau hari itu membuat saya merenung sepanjang perjalanan ke Bandung. Pak Bambang dan Bu Bambang kehilangan satu satunya putra dalam kecelakaan tunggal setahun yang lalu. Dan kejadian itu benar benar menghancurkan perasaannya. Masih segar dalam ingatan saya bagaimana tak ada samasekali senyum di hari hari setelah Arma meninggal. Muram, sedih dan gelap. Hanya itu saja. Dan kami pun berbahagia kembali ketika seulas senyum merekah dari beliau berdua. Ya, berbulan bulan setelah meninggalnya putra mereka.

Mereka kehilangan semangat satu satunya, alasan terkuat mengapa mereka hidup. Bukankah semua orang tua hidup untuk anaknya? (Ya, selain alasan real bahwa kita hidup untuk akhirat). Dan mengapa saya sebegitu bodohnya melupakan bahwa saya masih punya keluarga. Dan saya lupa bahwa saya terlalu egois jika saya tidak memikirkan baik baik mengapa saya jadi begini. Sebenarnya belum terlambat untuk keluar dari zona ini. Ya, sangat bisa. Tapi sayangnya saya tidak bisa seenaknya sendiri seperti dulu. Terlalu banyak yang harus dipertimbangkan. Saya merasa sudah cukup besar sekarang. Im grown up. Sudah bukan anak anak. Artinya segala sesuatu, keputusan yang saya ambil walaupun cuma keputusan makan apa hari ini juga bukan keputusan yang nggak dipikirin sebelumnya. Im not in children zone anymore walaupun yah, saya masih anak anak.

Saya pun mempertimbangkan matang matang kenapa bertahan dan kenapa harus tidak bertahan. Dan dua duanya sulit. Rupanya terlalu banyak pertimbangan yang harus dilalui hanya untuk menemukan jawaban yes or no. Dan akhirnya saya putuskan untuk membuang rasa kacau ini. Saya putuskan untuk bertahan karena saya punya nyala yang masih sangat kuat: keluarga. Dan satu kalimat penyemangat saya hari ini: percayalah tidak ada satu daun pun yang jatuh ke bumi kecuali sudah ditulis sejak lauhil mahfudz. Semeleh saja, manut karo Gusti Allah.

Table Manner

Menonton film film barat yang memuat adegan makan makan di restoran atau pesta ball, seketika terlintas di benak saya: ribet!. Dan saya pun membuktikan keribetan itu dengan mengikuti table manner di salah satu hotel top di kota Bandung.

Saya dan peserta lainnya duduk melingkar di meja bulat yang telah disediakan. Di depan kami sudah ada beraneka sendok garpu, piring kecil, serbet yang dibentuk mirip topi, gelas piala dan bunga sebagai pemanis meja. Baru saja melihat yang tersedia di meja saya sudah mabuk kepayang kebingungan. Hehe. Maklum, biasa makan di warung.

Seorang pemandu acara kami saat itu adalah seorang bapak bapak yang nampak sudah (dan memang) lama berkecimpung dalam bidang kuliner di aneka hotel seantero negeri. Lewat slide di depan, kami mulai mengenal sejarah table manner ala barat yang ternyata dimulai bukan dari Amerika atau Italia seperti yang saya pikirkan, tapi dari Prancis. Ketika itu Raja dan Ratu Perancis memang suka menjamu para tamu dalam sebuah jamuan makan yang super lama. Bahkan untuk menyendok sup atau menghabiskan roti saja harus menunggu raja selesai (Nah lho.. apa kabar saya yang makannya lambat lambat nian). Cara makan juga diatur serapi rapinya. Duduk tegak, siku tidak boleh menempel pada meja. Sendok yang menghampiri mulut, bukan mulut menghampiri sendok alias makan sambil bungkuk bungkuk. Cara mengelap tumpahan sup, cara membersihkan gigi pakai toohpaste dan aneka cara terpelajar lainnya.

1. Hidangan Pembuka (Smoked Beef Salad Served with Crispy Lettuce)

adiwijayadipa1 1390-min

Sayur lotek ala londo

Ohmaygad.. susah banget ejaannya. Intinya sedikit filet daging sapi diantara beberapa lembar daun selada keriting.

Sebelumnya saya sempat makan roti yang mirip Roti O yang dijual di stasiun tapi lebih lembut. Cara makannya pun lumayan ribet. Ups. terpelajar. Sobek sedikit roti O nya, buka mentega dan oleskan menggunakan pisau roti. Yu kno, ternyata pisau roti fungsinya bukan untuk memotong rotiO yang terletak di depan meja saya ini sodara sodara. Dan saya baru tahu itu. Hehe.

Ternyata kalau roti saya habis, pelayan akan terus memberikan roti itu ke meja saya. Duh.. untung roti saya sisa. Tapi sebagai seorang yang selalu menghabiskan makanan (karena diajarkan untuk tidak boleh membuang makanan kecuali dalam kondisi tertentu) apapun di piring saya, saya cukup kaget ketika roti saya diambil kembali karena ada pergantian makanan.

Kemudian beberapa lembar kubis dengan taburan potongan paprika, mustar dan sedikit potongan daging terhidang di depan saya. Seketika saya mengangkat tangan ketika Pak Pemandu selesai menjelaskan tata cara makan. Saya hanya menanyakan apakah ada aturan melarang makan dengan tangan kanan. Well.. pertanyaan sepele dan (mungkin) terdengar aneh karena kenyataannya table manner menggunakan tangan kanan untuk pisau dan tangan kiri untuk garpu. Dan saya pun mengakui, makan pakai tangan kiri itu sulit. Pertama karena saya tidak terbiasa pakai kiri karena saya bukan kidal. Kedua, sedari kecil saya diajarkan untuk makan dengan tangan kanan. Ketiga, saya tidak peduli dengan keharusan menggunakan tangan kiri untuk garpu. Misal dilarang pun, saya akan mengiris iris sayur saya dan kemudian memutar garpu pada sayur kemudian menyuapkan salad itu ke dalam mulut. Nyammm. Selesai urusan. Dan ternyata jawaban Pak Pemandu membuat hati saya gembira. Meskipun aturan table manner tetap menggunakan tangan kiri untuk garpu, di jaman sekarang aturan sedikit bisa dimodifikasi. Tentu saja boleh menggunakan tangan kanan. :D. Akhirnyaaa.

2. Hidangan Mau Menuju Makanan Utama (Soup Mushroom Chicken Cream with Garlic Bread)

adiwijayadipa1 1397-min

Sup krim jamur dengan roti baguette yang renyah

Ya ampun.. orang Prancis emang aneh aneh ya makanannya. Mau kenyang aja makanannya aneka rupa. Pelayan menyajikan kepada kami sup krim jamur kental dengan potongan roti bagguete (itutuh.. roti guling yang mirip kayak stik kasti. Agak keras karena memang untuk dimasukkan ke sayur) yang krispi krispi yummyyy.

Cara makannya pun diatur. Roti dipotek dengan jari, dimasukkan ke dalam krim dan dimakan. Rasanya? Wenaaaa. Bagguet panggangnya asin asin krispi, berlumur sup krim jamur. Tak terlupakan. Haha. Well.. baru juga makan sup, saya udah kenyang.

3. Makanan Utama (Double Zone Beef Tenderloin with Ratatouille, Mashed Potato Cream, Mushroom Cream Sauce and Own Juice)

adiwijayadipa1 1401-min

burger daging dengan kentang yang bikin perut kenyang meski begah

Huuuwwwaaaaa…. Namanya ribet panjang kayak jalan raya. Intinya sih daging panggang sama kentang disiram bumbu. Udin gitu aja biar mudah dipahami.

Terhidang di meja saya daging yang susunannya mengingatkan saya pada hamburger McD. Dua susun daging, diselipi kentang diantaranya kemudian disiram bumbu yang juicy yang menurut saya rasanya memang rasa Barat.  Enak sih. Tapi bikin perut saya kepenuhan. Haha. Seketika saya merindukan rendang bikinan uda Padang sebelah kantor. Haha. Maafkan saya yang perutnya, perut orang timur.

4. Hidangan Penutup (Red Velvet Layer Cake with Cream Cheese Frosting)

adiwijayadipa1 1411-min

Kue red velvet yang yummmyyy

Hidangan penutup ini menurut saya waw. Kuenya lembut dan enaaaa. Entah bagaimana cara membuat kue ini. Kalau saja hari ini cuma acara makan kue dan minum teh ala ala Inggris saya akan menghabiskan berpotong potong kue :D.

Dan itulah cerita saya menghadiri sekolah table manner. Biar agak terpelajar sih katanya. (Plis, setiap kebudayaan punya standar terpelajarnya sendiri sendiri. Saya terbiasa menggunakan standar terpelajar ala ketimuran. Tidak ada salahnya belajar standar keterpelajaran lain, dalam hal ini saya belajar standar ala Barat. Menarik memang. Tapi apadaya tiap hari saya makannya ala timur. Pake tangan bahkan sesekali di atas daun. Tapi setidaknya pengetahuan saya bertambah. Ya, minimal bisa membedakan lah kalau dari aneka gelas yang dipajang di bar, kegunaannya berbeda beda. Minimal itu. Minimal.

Rafting di Garut

Mendengar kata rafting selalu mengingatkan masa kecil saya main ban di sungai tengah sawah. Kecipak suara air, floating di atasnya dan ceburan ceburan anak anak dari ujung beton menuju aliran di bawahnya. Sangat- sangat childhood.

Masih di daerah Garut, saya mendapat kesempatan untuk menikmati aliran Sungai Cimanuk yang membelah kota Garut dan belajar tentang sejarah kota yang bertetangga dengan Tasikmalaya ini.

Beberapa waktu yang lalu, kota Garut diterjang banjir hingga menyapu sebagian kota. Puluhan tewas terseret arus, ratusan luka luka dan rumah rumah hancur lebur bersama banjir. Kontur sungai pun berubah struktur. Tentu saja bencana ini bukan tanpa sebab. Pembalakan liar di hulu sungai membuat tanah tak mampu lagi membendung tetesan air yang semakin lama kekuatannya mengumpul sanggup menghancurkan sebuah kota yang mana penduduknya masih larut dalam lelap. Seketika kota luluh lantak dan sibuk menyelamatkan penduduknya.  Teguran dari Tuhan atas keserakahan.

Bencana memang tak kenal waktu. Bencana selalu memberi rasa sedih. Tapi Tuhan Maha Mengasihi. Ia beri manusia akal agar mencari makna di balik bencana. Ia berikan manusia kemampuan akal agar bermuhasabah, introspeksi kemudian berinovasi agat bisa bangkit kembali.

Warga yang memiliki pandangan bahwa sungai adalah berkah (meski airnya coklat susu milo tapi nggak bisa diminum), berkumpul dan memikirkan ide untuk memanfaatkan arus sungai agar bisa menghasilkan pendapatan bagi warga sekitar. Maka dibuatlah wisata arung sungai.

dipa 5 4731

Persiapan mengarungi kehidupan sungai

Wisatawan berjumlah lima orang dan seorang instruktur dalam satu perahu karet mengarungi arus sungai yang waktu itu debitnya kecil. Tentu saja arung sungai adalah pengalaman yang menarik bagi orang orang yang belum pernah berarung sungai sebelumnya. Instruktur saya waktu itu, Mas Finsa (dan lucunya beliau sendiri menyebutkan namanya dengan ‘Pinsa’. Sangat sangat sundawi :D) melatih kami mendayung maju, dayung mundur, menghindari batu dan beberapa teknik ringan berarungjeram. Kami mulai menyusuri arus sungai dengan pemandangan alam Gunung Guntur, Papandayan, hamparan rumah penduduk dan anak anak yang melambaikan tangan ke kami. Menarik.

Pengunjung tidak hanya akan merasakan jadi pendayung kecil kecilan tapi juga mendengar local wisdom daerah setempat. Kalau saya nggak ikut arung sungai, saya nggak akan tahu bahwa nama Garut diambil dari kata ‘terluka’. Kalau bahasa Jawanya sih kebarut. Konon dulu ketika Belanda masih duduk manis di Indonesia, mereka menebangi pohon pohon di sekitar sungai yang ternyata berduri. Kaki kaki mereka terluka kena garut tanaman tanaman itu. Itu sedikit intermezzo dari pemandu kami

Perahu karet kami terus melaju. Di salah satu bagian sungai, kami berhenti. Konon katanya ada sepasang pengantin yang bunuh diri dengan cara loncat dari tebing setinggi 5 m. Mereka berdua hanyut dan daerah itu dinamakan leuwi penganten. Kemudian Mas Finsa kembali mendorong dayung maju menuju arus.

Oh ya, perjalanan kami tak cuma mengarungi tenangnya leuwi yang ada di sepanjang sungai. Tapi juga menghadapi riam yang meski kecil tapi asik juga. Merunduk melewati reruntuhan beton yang entah mengapa bisa melintang di sungai itu. Juga menghindari bebatuan besar di sisi sungai. Sejak air warna coklat dengan butiran pasir pasir kali bahan bangunan sampai air kali yang tenang menghanyutkan tapi bau penuh limbah dan sampah yang sesekali lewat di samping kami.

Tingginya banjir yang menerjang Garut tahun lalu buat saya sudah cukup menggambatkan ngerinya bencana malam itu. Jarak jembatan ke permukaan air surut yang bisa diperkirakan di atas 5 meter. Bahkan air menerjang menimbulkan banjir hingga melebihi tingginya jembatan. Jelas wasalam untuk pemukiman liar warga yang ada di bantaran sungai. Sedihnya sebagian dari mereka adalah pendatang yang tidak terdaftar pada catatan kependudukan setempat.

Masih dekat dengan jembatan, kami melihat sebuah mall yang konon terdapat ruang bawah tanah tinggalan Belanda yang bisa tembus ke sisi sungai yang lain karena ada terowongannya. Sayang belum ada penggalian lebih lanjut untuk membuktikan kebenaran desas desus tersebut.

Ada bagian yang tidak saya sukai dari part perjalanan arung sungai? Tentu saja ada. Air tenang nan (mungkin agak dalam) berbau busuk karena buangan limbah dari perusahaan perusahaan serakah seenaknya saja membuang limbah ke sungai. Pemandu kami menjelaskan bahwa mereka bisa dipastikan tidak menjalankan sistem daur ulang limbah dan asal buang saja ke kali yang jadi nadi kota. Kotornya air sungai bisa jadi mempengaruhi resapan air di kota itu. Minum air racun? Yaps. Sangat sangat mungkin terjadi.

Mengerikannya, ketika banjir terjadi, buaya buaya di penangkaran dekat sungai lepas entah kemana mereka. Huuuwwwaaaa. Kebayang gimana si krokodil dan bebi bebinya lepas kemana mana. Pas banjir surut terus nemu buaya nangkring di dapur. Its not funny moment. Dan parahnya ada satu dua yang nggak ketemu. Entah dia mati entah dia sembunyi entah menemukan kediaman baru. Hiiiiiii.

Well.. Kalau ada kesempatan lagi mungkin saya akan mencoba rafting di air yang masih bersih. Ada nggak ya? *mikir dulu

Sampireun

Saya suka pergi ke danau. Ya, tentu saja  karena rumah saya berada masih di sekitar Danau Rawa Pening di Jawa Tengah. Nah, kali ini pengalaman saya mencoba resort dengan view danau adalah ketika saya mengunjungi resort di Sampireun yang terletak di Desa Ciparay, Samarang, Garut.

Sampireun sendiri adalah sebuah telaga di daerah Samarang, Garut yang hingga saat ini masih dikeramatkan penduduknya. Nah lho.. Gimana ceritanya danau keramat tapi ada resort di dalamnya. Tentu saja ini soal penggabungan konsep tradisional dan modern. Secara tradisional, pembangunan resort yang modern di tahun 1999 itu tidak ingin mengubah wajah asli telaga Sampireun. Maka dibangunlah cottage ramah lingkungan mengelilingi danau yang luasannya kira kira 1 ha.

Kalau menurut saya sih, suasana yang ada di Sampireun bener bener adem. Sepoi angin diantara dedaunan, juga teduhnya pepohonan yang menaungi jalan jalan setapak sekitar cottage. Ademnya bikin betah. Telaganya pun masih dijaga sehingga tidak ada sampah mengapung meskipun sebuah bungkus permen sekalipun. Bangunannya yang terbuat dari kayu dan bambu juga bikin suasana jadi asri. Interior di dalamnya juga mengikuti standar pelayanan minimum hotel -entah bintang berapa itu- dengan menyajikan pelayanan untuk para pelancong yang rata rata keluarga ayah ibu kakek nenek cucu cicit yang ingin menghabiskan waktu liburan mereka dengan menginap di hotel dekat danau. Tak hanya liburan untuk keluarga, banyak juga acara seperti outbond atau meeting dari berbagai kantor diselenggarakan disini. Kerjaan berbalut liburan. Kira kira begitu.

Pengunjung cottage yang baru datang akan disuguhi bandrek. Kemudian pengunjung akan diantar ke cottagenya. Bisa jalan kaki mengelilingi jalan setapak sekitar danau atau berperahu menuju cottage. Semuanya seru. Serabi terhidang di meja pagi hari. Kalau sore, katanya sih ada pertunjukan calung yang dimainkan oleh penduduk sekitar. Keesokan paginya, kita bisa makan surabi yang lewat di depan cottage sambil menikmati hangatnya mentari yang memantul ke telaga.

Oh ya, jangan coba coba berenang di danau. Ada larangan untuk berenang karena tidak ada petugas penyelamat yang bisa membantu jika terjadi hal hal tidak diinginkan (baca: tenggelam). Ketika menggunakan sampan pun, pengunjung (sangat disarankan) menggunakan coat sebagai alat safety.

Hingga saat ini, warga desa dan pengelola resort setempat melakukan tradisi tahunan yakni bedah balong yang artinya mengeringkan telaga Sampireun. Danau yang luasannya tidak begitu besar (tapi lumayan juga capeknya kalau harus menguras segitu danau. Hehe) setiap tahun dibersihkan dengan upacara khusus dipandu tetua tetua adat setempat. Konsep inilah yang dijual kepada masyarakat. Kalau tidak salah sih tahun 2017 dilaksanakan sebelum memasuki bulan Puasa. Sayangnya saya nggak tahu kalau ada even tersebut jadi nggak ada poto poto telaga dalam keadaan kering.

Kalau ada yang ingin saya harapkan, tentu saja: nonton Bedah Balong. Meski entah kapan. 😀

Sehari Menenun Harapan

Saya suka produk berbau handycraft dan etnik. Alasannya simpel: pengingat bahwa kita tetaplah orang timur meski jaman sudah kebarat baratan. Kalau cuma beli, semua orang bisa beli barang barang etnik. Tapi kesempatan belajar membuat benda benda etnik, saat ini saya pikir tidak banyak seperti pembuatan kain tradisional sudah tidak banyak yang bisa. Dan saya dapatkan lagi kesempatan untuk mempelajari seluk beluk tenun ATBM (alat Tenun Bukan Mesin) di Desa Moyudan.

Saya tidak pernah mengerti bahwa membuat kendhit (bahasa Indonesia sih stagen. Itu tuh kain pelilit perut yang biasa digunakan ibu hamil atau orang orang tua jaman dulu) ternyata proses pembuatannya susah minta ampun. Kain yang kita kenakan dibuat dengan tenaga luar biasa dan waktu yang amat lama. Kapas kapas yang tumbuh di kebun dipintal menjadi ribuan meter benang. Benang benang itu melalui serangkaian proses menjadi benang benang dalam gulungan yang akhirnya berselang seling dengan benang dasar menjadi kain yang ternyata kain itu hanyalah kain mentah dan belum bisa dipakai. Kain masih akan melewati proses penjahitan setelahnya baru bisa dikenakan sebagai pencegah hipotermia.

Jaman berbeda dan tidak banyak lagi orang bisa melakukan proses pembuatan kain dari mentahan hingga jadi gulungan siap jahit. Generasi yang memiliki skill satu persatu meninggal dunia dan generasi muda tak banyak yang mau melanjutkan. Alasannya sibuk dengan pekerjaan mereka yang sudah menyita waktu. Tersisalah para pejuang tenun yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga. Dari ibu ibu di Sejatidesa, Moyudan, Sleman Yogyakarta (kurang RT RW nya yak. Haha) inilah saya belajar betapa setiap usaha manusia itu adalah kerjakeras yang harus dihargai.

Setelah selesai dengan urusan di sawah dan dapur, mereka duduk tepekur di depan alat tenun setinggi 1,5 meter dengan lebar kurang dari 2 m. Kaki dan tangan bergerak naik turun maju mundur secara bergantian dan simultan. Dengan tidak terburu buru, mereka konsisten menghasilkan. Sesekali berhenti karena tangis anak yang lapar ingin menyusu. Sesekali berhenti untuk membenahi alat yang ngadat karena terlalu sering digunakan.

Hingga tahun 2013, warga Sejatidesa masih menghasilkan stagen warna hitam pekat. Itupun hasilnya tidak konsisten karena tidak semua perajin bisa menghasilkan jumlah yang banyak. Belum lagi harganya ‘terlalu’ murah di pasaran. Bayangkan kerjakeras ibu ibu tua sepanjang minimal 10 m kain stagen dihargai cuma beberapa belas ribu. Miris. Orang tidak tahu betapa sulitnya proses pembuatannya. Sedangkan ibu ibu ini juga butuh untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Maka mereka hanya menganggap pekerjaan menenun hanyalah sekedar selingan dari hasil keringat memburuh di sawah orang.

Mulai tahun 2013, dengan inisiatif anak anak muda dari Dreamdelion seperti Fitriani Kembar dkk yang peduli dengan kehidupan perajin dan masa depan tenun, memberi ide inovasi. Warna stagen yang tadinya monoton, menjadi stagen warna warni. Konsep yang menurut saya simpel tapi catchy. Cuma mengubah konsep warna, malah jadi produk yang menarik mata. Hanya mengubah konsep warna, ikut meningkatkan nilai jual produk itu juga. Dengan mengubah konsep warna, berubah juga masa depan tenun stagen Sejatidesa. Yang tadinya kerjakeras berminggu minggu hanya dihargai belasan ribu, sekarang dengan produk baru mereka bisa mendapatkan penghasilan yang lumayan. Kualitas dan harga produk bisa bersaing dengan produk lain di pasaran.

Stagen yang tadinya hanya digunakan sebagai perata perut bagi orang hamil atau pelengkap pakaian kebaya para orang tua, sekarang bisa digunakan semua umat. Kain stagen diolah menjadi sepatu, jam tangan, baju, gelang, tas dan aksesori lainnya. Anak anak muda yang tadinya memandang stagen adalah fashion oldstyle, jadi mau menggunakan tenun warna warni karena tenun sudah jadi fashion jaman naw. Fullcolor dan instagramable.

Produk yang baik tak akan sampai pada konsumen tanpa adanya promosi dan pengelolaan yang baik pasca produksi. Untuk itu, warga desa membentuk koperasi kecil kecilan dengan dipandu oleh Mas Tyo dkk. Bagaimana warga yang tadinya bekerja sendiri sendiri, sekarang bersatu dalam sebuah pengelolaan terpusat yang diharapkan bisa membantu warga perajin hidup lebih baik. Tak cuma memasarkan secara getok tular (mulut ke mulut), mereka pun memanfaatkan media sosial dan komunitas. Kalau tidak salah tahun 2015 diadakan Pasar Tenun Rakyat untuk mengenalkan tenun kepada khalayak ramai sekaligus membuka desa Sejatidesa menjadi salah satu desa wisata alternatif di wilayah Sleman dengan daya tarik utamanya tenun stagen warna warni.  And congratulation untuk Dreamdelion, Fitriani, Mas Tyo dkk. Kerjakeras mereka mengubah mindset orang Sejatidesa membangunkan kembali tradisi tenun berhasil sudah. Yang tadinya berputus asa karena regenerasi tenun yang hidup segan mati tak mau, sekarang bersemangat lagi karena prospek ke depan sudah sangat jauh lebih baik.

Sebagai desa wisata, mereka mengemas paket wisata berbaur bersama penduduk selama beberapa hari dengan konsep kembali ke desa dan belajar menenun. Tentunya tenun masih menjadi ‘jualan’ utama desa ini. Akan tetapi kearifan lokal juga diperkenalkan kepada pengunjung. Sungguh beruntung, saat itu saya mendapatkan kesempatan untuk ikut menyaksikan prosesi Buritan yang sudah hampir tidak pernah lagi dilakukan (mungkin akan saya ceritakan di postingan lain)

Selain bikin paket wisata beberapa hari membaur bersama warga, saya cukup salut dengan ide mereka mengemas kegiatan sehari menenun stagen untuk warga umum. Pertama kegiatan itu jelas akan menarik turis untuk datang mengunjungi desa mereka. Turis yang belajar. Kedua, income untuk desa. Meskipun bersifat berkala (belum begitu rutin), pelatihan tersebut tentunya memberi tambahan pendapatan untuk perajin. Ketiga media promosin masive yang murah. Setiap turis yang datang akan bercerita ke beberapa lainnya. Mereka pun penasaran, mulai searching ke medsos dan akhirnya datang sendiri untuk memuaskan dahaga penasaran mereka.

Turis diajak untuk mengenal sejarah tenun Stagen Sejatidesa sembari melihat produk yang sudah dihasilkan oleh perajin. Kemudian sesi praktek. Pengunjung diajak mengunjungi rumah perajin dan dikenalkan alat dan bahan untuk menenun dan praktek membuat stagen itu sendiri. Bagaimana cara memintal benang, cara menggerakkan mesin sehingga benang saling mengunci hingga jadilah stagen.

Usai ibadah dhuhur bagi yang muslim dan makan siang (Oh ya, btw menu makan siang kemarin sangat enak. Sayur daun katuk dengan tempe goreng, ikan asin, sambal dan kerupuk. Minumnya teh anget. Saya sampai nambah dua kali. Haha). Pengunjung masuk ke ruang workshop untuk membuat suvenir yang bisa dibawa pulang. Kalau saya dan teman teman workshop kemarin kebetulan dapat kesempatan untuk bikin pouch ponsel.

Kain stagen warna warni diukur (Saya lupa berapa belas sentimeternya) dirangkaikan dengan kain jadi, dijahit dengan menggunakan mesin, diberi tali dan taraaaaa.. pouch bisa dibawa pulang. Part paling menyenangkan adalah ketika memilih warna stagen dan mencoba menjahit. Saya cukup deg degan karena saya punya trauma dengan mesin jahit. Dulu waktu kecil saya pernah iseng main main dengan mesin jahit yang menyala. Tak disangka, jarum menusuk ke telunjuk kiri. Thats why sampai besar saya tidak suka kalau harus berurusan dengan semua hal bernama jarum. (Tapi lama kelamaan saya pelan pelan bisa menghilangkan ketakutan itu dan belajar menjahit manual dengan jarum biasa. Ya karena saya harus menisiki baju baju saya yang bolong :D). Berhasilkah saya menjahit handycraft? bisaaaaa. :D. Meskipun kurang terampil menggunakan. Ya lumayanlah setidaknya saya berani mencoba.

Well, saya belajar banyak tentang bagaimana menghargai slow fashion. Bikin satu helai kain saja susahnya minta ampun. Berapa banyak waktu terbuang, berapa harga yang mereka jual di pasaran yang ternyata sangat jauh dari adil, berapa kali kita seenaknya saja tidak menghargai kerjakeras mereka. Bagaimana dengan mudahnya saya membuang uang untuk berganti ganti beli aneka baju sedangkan perusahaan perusahaan besar di luar sana seperti Z*ara dan H*M diberitakan mengeksploitasi karyawan karyawan mereka untuk menghasilkan laba besar dengan produk fast fashion mereka. Padahal tak usah jauh jauh, kita pun belum bisa menghargai produk fashion dalam negeri sendiri. Bagaimana saya yang muda ini bahkan nggak terampil bikin kain tenun satu sentimeter aja.

At the end, ternyata kita masih punya kearifan lokal yang harus dijaga agar generasi di milenium selanjutnya nggak kehilangan bukti bahwa nenek moyang mereka di masa lalu punya mahakarya luar biasa yang sudah mendunia: tenun Indonesia.

 

Piknik ke Gede Via Jalur Gunung Putri

Ini pertama kalinya setelah dua tahun yang lalu saya mengunjungi gunung. Rindu dengan suasana tenang, hijaunya sejauh mata memandang dan kabut yang kadang turun memberikan nuansa mythical yang syahdu. Seperti halnya saya yang tinggal di daerah pegunungan, hijaunya alam adalah yang paling dirindukan. Yang kedua, interaksi dengan orang tanpa gangguan gadget yang bikin individual. Yang ketiga, pengalaman dalam setiap lika liku perjalanannya, karena selalu akan ada cerita cerita ajaib yang muncul dalam sebuah petualangan entah itu cerita manis, pahit atau asam pedas. So rich. Itulah mengapa ajakan dari seorang kawan saya iyakan (yang ternyata si Icol nggak jadi berangkat karena harus tugas dinas ke Kalimantan Tengah selama beberapa waktu).

Satu bulan sebelum pendakian, saya memaksa diri untuk setidaknya dalam minimal dua kali dalam satu minggu melakukan stretching dan jogging. Persiapan yang sangat jauh dari cukup. Barang barang pendakian juga saya pinjam sana sini. entah itu dari Mba Dien, Kang Hapid, Gembel. Pendakian kali ini saya tidak begitu sembrono. Saya menyiapkan segala sesuatu yang bisa saya usahakan agar saya tidak begitu bergantung pada tim dan saya tidak merepotkan mereka (ya meskipun pada akhirnya saya bikin kesalahan fatal lagi: nggak bawa baju ganti yang cukup).

Pukul 14.00 dengan menggunakan Argo Parahyangan, saya meluncur Jakarta, sebagai checkpoin tim yang akan melakukan pendakian ke Gunung Gede Pangrango. Pukul 17.30, saya sampai di Stasiun Jatinegara dan berpindah ke KRL menuju Stasiun Manggarai. Teman teman saya sudah menunggu di Stasiun Manggarai untuk bersama sama pergi menuju Stasiun Bogor. Nah lho.. ribet yak pindah berkali kali. Hehe

1. Calo

Bisa dibilang ini adalah pertama kalinya saya menghadapi calo di gunung dan sekaligus pendakian paling costly selama beberapa kali naik gunung. Emezing ya beberapa tahun lalu saya mendengar bahwa gunung yang paling mahal adalah Gede Pangrango, dan kali ini saya mengalami secara live.

Ada syarat yang harus dipenuhi pendaki sebelum bisa menapaki tanah Gede Pangrango yakni ijin pendakian (simaksi) dan surat kesehatan. Simaksi dengan registrasi online sebelumnya di website resmi Gede Pangrango (ini kerennya Gede Pangrango yang sudah menggunakan teknologi untuk mengontrol jumlah pendaki setiap harinya) kemudian bayar masing masing orang kurang lebih Rp. 34.000. Nah yang jadi masalah adalah surat kesehatan yang katanya harus didapatkan di Klinik Eddelweis. Yang menyebalkan adalah pendaki harus mendapatkan syarat tersebut sebelum hari H pendakian agar tidak antri sampai siang. Pengalaman pendaki lain, mereka antri dari pagi dan baru bisa nanjak siang. Kan sial banget. Kenapa dipersusah prosesnya. Mana Mba Nopek yang rumahnya di Depok harus menempuh jarak dan waktu yang lumayan hanya untuk lembaran lembaran surat yang proses mendapatkannya makan ati banget.

Akhirnya dengan bantuan seseorang yang mengaku bisa membantu, kami harus membayar mahal (waktu itu per orang bayar Rp. 50.000) agar proses bisa segera selesai dan nanjak tanpa antri. Indonesia banget ya. Semua dipersulit dan banyak orang memanfaatkan momen ini untuk mencari keuntungan. Dan dua minggu setelah pendakian kami, ternyata muncul surat edaran bahwa kini pendaki tak harus jauh jauh mencari surat kesehatan di Klinik Eddelweis. Pendaki bisa mencari surat kesehatan di klinik terdekat. Rasanya.. hmm.. Kzl deh. Tapi setidaknya berita ini melegakan karena akan mengurangi calo calo busuq yang mencari keuntungan dalam kesusahan orang lain.

Pemorotan kedua terjadi ketika kami kemalaman sampai di stasiun Bogor. Mas Andre yang memang orang sunda berusaha untuk menawar tarif angkot hijau yang berjejer di dekat pintu keluar stasiun. Dari beberapa penawaran, kebanyakan memberikan range harga minimal 300.000 rupiah. Wawwww. so mahal (tapi ya emang saat itu udah malam banget sih).

Oleh karena perut sudah kerucukan, kami pun meninggalkan sejenak kepenatan tawar menawar yang ruwet itu. Makanlah kami di salah satu nasi goreng di dekat stasiun yang rasanya (yuccksss membuat saya komat kamit saya nggak akan sakit perut dengan kondisi tubuh saya yang lagi drop). Usai makan, akhirnya kami mengiyakan tawaran terendah yang sempat di dealkan oleh teman teman saya yakni di harga: Rp. 270.000 dengan perjanjian bahwa kami akan diantarkan menuju basecamp.

Angkot melaju dengan kecepatan yang lumayan di antara jalanan yang bisa dibilang sepi untuk ukuran Jabodetabek di tengah . Dan yang bikin hati was was adalah saya lihat dengan mata kepala, si supir ini kriyip kriyip menyetir sambil mengantuk. Huuuwwwaaaa. Sungguh mengerikan. Hanya doa saja yang bisa terucap agar Tuhan memberi selamat. Saya teler selama kurang lebih satu jam perjalanan menuju basecamp Gunung Putri dan terbangun setelah supir menghentikan laju angkot yang kami tumpangi di sebuah pertigaan yang telah berjejer angkot angkot kuning. Si supir angkot menyuruh kami turun dan berganti angkot karena supir Bogor tidak bisa melanjutkan angkotnya di wilayah supir Pasar Cipanas. Fix. Kami kesal setengah mati. Ngajak ribut memang dengan orang orang yang tidak menjunjung tinggi nilai kejujuran seperti ini. Tau gitu pakai transportasi online saja yang harganya pasti (kemarin sih kita ngecek juga kurang lebih Rp.300.000 an karena butuh dua mobil yang bisa mengangkut orang sejumlah tujuh dan tujuh carrier yang lumayan makan space. Jadi satu mobil kira kira Rp. 140.000 an) dan nggak mblenjani janji. Saya dan teman teman mangkel banget karena menurut perjanjian si supir akan mengantar kami ke tempat tujuan akan tetapi dia melanggar janji yang ia buat setelah akad dengan pembeli. Dan dia nampaknya memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Si bapak ini nampaknya sadar bahwa perjalanannya “pasti” akan terhenti. Dan yu know lah pasti ada kongkalikong dengan angkot angkot yang menunggu di Pasar Cipanas. Maka ia mengiyakan untuk mengantar kami demi keuntungan “yang penting dapat uang”. Fix. Semoga berkah hidupnya, kang.

Pukul 02.30 kami sampai di basecamp Gunung Putri setelah perjalanan selama kurang lebih setengah jam setelah kami ditodong di Pasar Cipanas. Oh ya, tarif angkot yang kami naiki dari Pasar Cipanas tadi kurang lebih Rp. 15.000. Di basecamp sudah banyak pendaki pendaki lain yang baru tiba, udah mirip kumpulan karang taruna. Hehe.

Fyi, esoknya ketika saya menunggu antrian mandi di rumah warga, saya ngobrol dengan salah seorang pendaki lain yang mau nanjak. Ternyata dia dan timnya naik bis ke Cipanas hanya Rp. 25.000 rupiah saja (tanpa disertai drama tipu tipu macam kami). Haha. Benar benar pengalaman menarik. yang kami dapatkan semalam Kalau nggak gitu ya nggak ada ceritanya sih ya. Hehe.

Kami pun bergegas menaiki jalur nik menuju salah satu rumah penduduk yang menyewakan rumahnya sebagai barak transit para pendaki. Jadi, profesi penduduk sekitar basecamp selain menjadi petani sayuran ya jadi pemilik budget ho(s)tel sekaligus restoran bagi kami, para pendaki. Oh ya, sekaligus (calo). Yang terakhir ini saya tidak akan bercerita banyak karena memang tidak banyak yang saya ketahui tentang dunia calo percaloan (surat kesehatan atau simaksi) Gunung Gede Pangrango.

Pukul 08.30, usai mandi, sarapan dan packing, kami memulai perjalanan kami menyusuri pematang kebun warga menuju basecamp pendakian. Di titik inilah perjalanan kami baru saja di mulai. Petugas Jagawana melakukan pengecekan kondisi dan logistik para pendaki. Well, kemarin sih nggak disuruh bongkarin carrier satu persatu. Tapi hanya diminta mengeluarkan barang barang yang sekiranya berbahan kimia yang dapat mencemari kawasan hutan seperti: peralatan mandi. Bhaay pada pasta gigi saya tercintah. Dan untuk pendaki wanita yang baru haid, ternyata tidak dilarang untuk mendaki. Saya pikir nantinya akan diberi perlakuan khusus (baca: suruh pulang). Haha. Ternyata petugas cukup memberi wejangan bahwa wanita yang sedang haid tidak boleh melamun, tidak boleh buang sampah bekas haid sembarangan, tidak boleh ini tidak boleh itu. Wewww.. tau gitu pas pendakian Ungaran tahun 2015 harusnya saya tetap ikut ya. Tapi saya pikir hal seperti ini tidak berlaku di semua gunung. Pasti ada wilayah gunung tertentu yang tidak membolehkan perempuan haid untuk datang mendaki. Dan saya lega di Gede Pangrango, saya yang sedang haid dibolehkan untuk mendaki.

2. Hujan di tengah perjalanan

Perjalanan di awal didominasi oleh kebun para warga yang rata rata belum memasuki masa panen (bahkan ada yang masih masa pembenihan). Jadi kami masih melihat hamparan tanaman kehijauan yang sedang tumbuh tumbuhnya. Seger!. 200 m setelah pos basecamp, kita akan menemukan pos baru. Pos ini berbentuk sebuah rumah yang lebih tepatnya diperuntukkan untuk pos administrasi jagawana. Kemudian menemukan aliran air, dan akhirnya jalan setapak. Jalan setapak ini pun bisa dibilang masih jalan yang digunakan penduduk untuk naik ke kebun. Baru 150 m kemudian menemukan jalan berbatu di antara pepohonan tanda kita memasuki hutan kawasan Gede.

Di cuaca yang mendung mendung semriwing ini (kadang sesekali mentari masih menembus hutan meski kemudian mendung lagi), menapaki tanah yang padat dengan hiasan daun daun gugur jadi sangat mantap. Pohon pohon lembab dengan lumut lumut yang tumbuh suburnya. Adem di hati. Kontur tanah berupa lereng dengan kemiringan yang dibilang curam banget ya nggak, dibilang nggak curam ya kenyataannya ada beberapa part yang lumayan bikin ngos ngosan. Tapi overall, saya suka tracknya. Naik tapi mantap karena struktur tanah yang ditahan oleh akar akar pepohonan.

Setelah sampai di pos 3 (buntut lutung), saya memutuskan berhenti sebentar. Apalagi Hadi, Jo dan Mas Andre juga berhenti untuk makan di warung dekat pos 3. Saya pun menggunakan kesempatan itu untuk tidur sejenak :D. By the way, di setiap pos selalu ada warga desa setempat yang mengais rejeki dengan menjual gorengan, kopi dan nasi uduk. Jadi bagi para pendaki yang kehabisan logistik, tidak usah khawatir. Masih ada para warga yang siap menjadi pemadam kelaparan. Hehe.

 

Kami pun naik lagi menyusul Mas Adit, Mas Reza dan Mba Nopek yang sudah duluan 100 m di depan kami. Baru juga kami jalan 15 menit, kabut menyeruak diantara pepohonan. Lama lama ia turun jadi rintik rintik hujan yang lama kelamaan terus menjadi deras. Kami berhenti mencari tempat yang agak landai untuk berteduh sementara sembari memakai mantel. Kami melanjutkan perjalana dan berhentu lagi karena intensitas hujan sudah tidak bisa ditolerir. Tim mengeluarkan flysheet dan kami pun segera mendirikan barak sementara di tenga guyuran hujan yang derasnya konstan. Rasanya seperti mengulang kembali pendakian ke Gunung Merbabu beberapa tahun lalu dimana dalam keadaan nggak fit saya nekat ikut dan kehujanan. Tapi bedanya kali ini hujan tidak disertai dengan badai. Untuk mengusir dingin, kami mengeluarkan kompor dan segera memasak minuman hangat untuk diminum kami semua dan tak lupa berbagi juga dengan pendaki yang (nekat) naik ke pos selanjutnya.

Lama juga kami berteduh di sela hujan yang bikin tubuh menggigil. Pukul 17.00 kami memutuskan untuk turun ke pos 3 mengingat cuaca yang (lebih baik) untuk tidak dilawan. Ketika dimintai pendapat, saya bilang pada tim: jika memang pada masih ingin naik maka harus naik ke pos selanjutnya dan jangan turun kecuali memang untuk pulang. Tapi jika kita harus turun ke pos selanjutnya, jangan lanjutkan perjalanan naik. Saya sendiri tidak punya passion untuk mengejar sunrise esok hari di puncak. Saya hanya berkaca dari beberapa tahun lalu. Saat itu saya masih naif. Masih bisa bodoh, masih bisa nekat. Tapi saat ini saya sudah tidak punya energi untuk nyari mati di alam liar. Bukan karena takut mati, tapi karena takut nyusahin orang lain. Nggak lucu kan kalau saya sampai hipotermia dan teman teman saya ikut kebingungan padahal yang susah saya. Haha. Lagipula bukan sunrise atau sunset yang saya kejar. Saya mau naik ke Gede karena kangen dengan suasana gunung. Suasana alam dimana saya bisa istirahat sejenak dari banyak hal yang membingungkan. Cuma itu. Tidak lebih. Perkara perjalanan lancar dan bisa sampai puncak, itu bonus yang tidak wajib ain dikejar. More than that, ada satu hal yang wajib ain tidak bisa ditawar yang harus dikejar: selamet. Percuma rempong rempong tapi tidak selamat. Berangkat aman, selamat  dan pulang pun juga aman dan selamat.

Dan kami pun mencapai Pos 3 masih dengan keadaan hujan namun sudah lebih reda. Tiga tenda didirikan. Satu untuk saya dan Mba Nopek, dua untuk para lelaki. Dengan bodoh (lagi lagi) saya tidak membawa baju yang cukup kering. Untungnya jaket parasit saya kering. Saya pun masih menggunakan celana (yang untungnya berbahan parasit yang kering dalam hitungan dua jam) dan hanya mengganti dalaman dan jaket kering.

Magrib, kami mulai memasak makanan. Mas Reza, Mba Nopek dan Mas Andre membuat nasi liwet dan menggoreng ayam bumbu kuning yang sudah dibawa dari rumah. Hanya sampai pukul 22.00 malam kami ngobrol sana sini. Saatnya menarik selimut dan tidur hingga pagi. Saya pun bertukar sleeping bag dengan Mas Adit karena dia pikir selimut saya basah. Tidak basah, hanya lembab. Cuma ya saya kasihan aja karena sleeping bag saya emang tipis. ._. Eniwey makasih Mas Adit atas pinjaman sleeping bag yang bikin saya ngiler pengen beli sleeping bag yang proper.

Pagi menjelang dan kami menikmati pagi camping dengan makan dan menunggu mentari menembus pepohonan sembari mengamati aktivitas para pendaki yang udah mirip sama komplek satu RT. Hal menarik yang bisa saya temukan adalah mengamati Bapak Bapak yang dengan kreatifnya mencari pendapatan dengan mendirikan warung di hutan. Sebagai supplier makanan, ia tidak hanya berjuang menjaga dapur rumahnya tetap mengepul tetapi juga menjaga pendaki yang kehabisan makanan untuk tetap bertenaga. Kapan lagi makan gorengan hangat di gunung. Wkwkw. Saat itu, kebetulan salah satu anaknya yang masih SD (atau SMP) ya ikut membantu ayahnya melayani pelanggan. Ternyata si anak ini sudah biasa naik ke warung setiap liburan. Butuh kira kira waktu 3 jam dari bawah sampai ke warung. Dan itu nampak seperti perjalanan biasa untuknya. Uwawww. Apa kabar saya ya yang ngeluh mulu. ._.

Oh ya, kucing oranye kemarin hari ternyata juga berteduh di Pos 3. Si kucing ini nampak cantik dengan bulu oranye yang halus sehat. Entah kucing siapa ini yang ikut hingga ke atas. Apakah ia kucing desa setempat yang main naik aja ngikutin pendaki. Ataukah dia dibuang oleh pendaki lain yang emang niat bawa itu kucing. Sedihnya saya nggak bisa bawa pulang ke rumah karena perjalanan kereta tidak boleh membawa hewan. Hiks.

Sementara pendaki lain masih berjuang untuk naik ke pos selanjutnya, pukul 11 siang kami turun, pulang. Bagi saya, dalam sebuah pendakian selain camping time ada satu hal lain yang menyenangkan: turun gunung. Jalur yang mantap jadi pijakan dan tentu saja waktu tempuh yang dua kali lebih cepat dibandingkan saat kita naik. Melihat track kita turun rasa rasanya sungguh menakjubkan bahwa itulah jalur yang kita lewati kemarin. Tanjakan yang bikin hidup rasanya bebannya nambah jadi lima kali lipat. Dan rasanya begitulah perjuangan hidup. Naik turun sesuai tracknya. Ada kalanya harus berdarah darah, ngos ngosan berantem sama kenyataan yang tidak sesuai harapan. Namun Tuhan menciptakan track lurus dan turun biar kita bisa napas dikit dikit. Dan itulah keseimbangan hidup. Selalu butuh naikan, turunan dan lurus biar nggak oleng.

 

3. Perjalanan pulang yang mengesalkan

Sama seperti saat kita berangkat ke Gunung Putri, perjalanan pulang menuju Jakarta juga sebuah perjalanan yang sungguh bikin jengkel. Kami naik angkot warna kuning arah Pasar Cipanas. Kemudian menumpang bis busuq yang mahalnya (Rp. 25.000) menyamai bis AC yang kemarin dinaiki oleh Mba Nopek sewaktu dia mengambil simaksi. Kondisi bis pun parah sangattt. Bangku yang keras, coverseat bertuliskan nama bis yang sudah pasti nggak pernah dicuci, lantai yang penuh sampah plastik- kulit kacang serta puntung rokok dan yang paling lucknut adalah penumpang bis yang merokok sampai sampai saya bilang ke salah satu dari mereka bahwa saya punya alergi asap. Bis AC yang tidak ada penumpang merokok saja saya hampir dipastikan mual, pusing dan rasanya pengen muntah apalagi bis dengan kondisi seburuk ini. Saya tahan tahan untuk tidak muntah (karena posisi plastik saya ada di carrier yang diletakkan di bagasi) jadi ya saya nggak mau bikin penumpang lain jijik. Hehe. Tapi kesabaran kami benar benar diuji karena jalanan Bogor macet luar biasa di weekend yang mendung mendung manja ini. Satu satunya yang bisa menghibur penumpang teler hanyalah  memaksakan diri untuk tidur atau nonton pemandangan kanan kiri yang dipenuhi dengan kebun teh (yang mana sudah komersial dengan para muda mudi yang gandengan sana sini nyari foto selfi di tengah kebun teh). Dan we know what? bis baru sampai di Terminal Kampung Rambutan pukul 20.00. It means setengah hari perjalanan karena kami baru berangkat dari Pasar Cipanas kurang lebih pukul 15.00 an!. Jakarta dan sekitarnya memang khejhhaaammmmm. Bis berjalan layaknya siput dan kemacetan yang panjang sungguh menguras tenaga dan emosi. Rasa hati ingin menyumpah serapahi bis bis busuq di negeri ini yang sungguh sungguh membuat perjalanan tidak nyaman. Semoga akan ada kebijakan untuk transportasi umum di negeri ini, khususon bis dan angkot. Semoga akan ada Jonan Jonan baru yang mau merevitalisasi transportasi umum biar consumer oriented. Bukan lagi berdasar pada profit oriented yang asal ada penumpang asal dia bayar maka pemilik untung. Gimana mau narik penumpang kalau bikin eneg si customer. Prinsipnya, ada barang ada uang. Namanya orang jualan, kalau produknya bagus maka akan selalu dicari. Ya emang sih, penumpang butuh bis sebagai alat transportasi. Tapi kenyataannya sekarang persaingan tidak hanya pada hal konvensional macam bis umum. Saat ini yang online terus berkembang. Bukan tidak mungkin suatu saat bis umum yang dimiliki swasta ini akan mati karena nggak peka sama perkembangan jaman. Sama seperti perlahan matinya usaha angkot tetangga saya  yang pernah berjaya bertahun tahu lalu. Sekarang ia mulai bangkrut karena lebih banyak orang di daerah saya lebih memilih kredit motor dan munculnya ojek online yang lebih cepat, tepat dan efisien.

Masalah saya tidak selesai begitu saja di Kampung Rambutan. Saya harus pulang ke Bandung juga di malam itu, karena esok hari Senin saya sudah harus on site kerja lagi. Saya sudah ketinggalan kereta pukul 20.00, maka satu satunya kereta yang bisa saya naiki hanya kereta pada pukul 23.00. It means, masih lama banget dan entah dapat tiket atau tidak. Maka saya pun bergegas menuju Stasiun Gambir untuk pulang. Well badan saya remuk karena waktu tempuh saya berangkat dan pulang hampir sama lamanya. Berangkat dari Bandung hari jumat jam 14.00, baru sampai di Gunung Putri jam 02.30. Dan saya pulang dari Gunung Putri jam 14.00, sampai di Bandung jam 03.00. Emezink.

Finally get the ticket and Bandung Im soon to be on my dream. Dan sungguh perjalanan ini saya pulang dengan banyak cerita. Layaknya sebuah piring nasi dengan isiannya, lengkap. Manis asam pahit tawar pedes. Macem macem. Haha.

Dawet Hitam Asli Jembatan Butuh

Dawet ireng adalah minuman (atau makanan ya?) khasnya Purworejo. Itu tuh minuman manis yang berkuah santan dengan siraman gula merah yang manisnya bisa diatur sesuai kebutuhan. Ada yang suka manis banget, ada yang nggak pengen rasa manisnya terlalu nyethek, bisa di atur. Berbeda dengan cendol pada umumnya, dawet ayu memiliki isian cendol berwarna hitam. Kenapa bisa hitam? Pewarnaan hitam ini dahulu bisa dihasilkan dari batang padi (damen) yang dibakar kemudian abunya disaring dan dijadikan pewarna cendol.

Ketika saya menghadiri rewang pernikahan sahabat saya yang tinggal di daerah Mirit, Kebumen yang kebetulan berada di perbatasan Kebumen dan Purworejo, saya direkomendasikan untuk mencicipi Dawet Hitam Asli Jembatan Butuh. Eits.. jangan disingkat ya namanya. Sangat tidak direkomendasikan karea akan memiliki makna yang berbeda.

Untuk menuju Dawet Hitam Asli Jembatan Butuh, cukup menumpang minibus yang lalu lalang di jalan raya Purworejo-Kebumen. Kalau dari Stasiun Kutoarjo, kurang lebih 10-15 menit perjalanan saja, Tarif minibusnya juga nggak mahal mahal amat. Dengan hanya Rp.3000-Rp.5000 kita bisa sampai ke lokasi yang berada di kiri jalan persis sebelum Jembatan Butuh. Cukup katakan pada sopir/kernet minibus, dijamin mereka akan menurunkan anda tepat di depan Dawet Hitam Jembatan Butuh.

Sekilas saya pikir Dawet Hitam Jembatan Butuh akan berupa sebuah kedai makan berukuran tidak terlalu besar seperti rumah makan atau kafe. Namun seketika imajinasi saya buyar ketika saya celingak celinguk mencari dawet yang katanya femes ke segala penjuru Purworejo. Ternyata hanya sebentuk kecil bangunan yang serupa dengan poskamling dengan penjual pikulan yang sedang duduk melayani pembeli yang berjubel. Seketika saya baru percaya setelah saya tanya pada bapak juru parkir dan melihat sendiri plang sederhana yang mejeng di atas lapak poskamling itu.

Dahaga saya semakin menjadi jadi tatkala Pak Sugeng yang sudah sepuh ini mengambil sejumput dawet hitam, menyiram dengan kuah santan dingin dan menuangkan resep rahasia bernama juruh (kelapa merah yang dicairkan) ke atas adonan. Benar benar cocok untuk siang yang panas. Pantas usaha turun temurun ini  bertahan hingga hari ini dan mampu menarik pengunjung setia sebegitu ramainya. Dawetnya kenyal, santan dinginnya menyegarkan apalagi juruhnya juga terbuat dari kelapa merah asli. Harganya pun murah meriah, hanya Rp. 4000 saja (harga bulan Oktober 2017). Kualitas dijaga sejak usaha ini berdiri pada tahun 60 an, membuat pengunjung ingin lagi dan lagi datang kembali.

Perjalanan Menuju Hidup Sehat

Sudah sebulan saya mengalami perubahan. Well.. Nggak perubahan yang gimana gimana sih. Hanya saja entah mengapa semenjak tinggal di Bandung saya sering sakit. Bukan sakit yang sampe masuk RS. Cuma demam demam drop biasa. Tapi sumpah, its annoying. Sebulan lalu saya bahkan hampir pingsan gara gara lemes banget. Hari minggu ceria yang saya rencanakan bisa jingkrak jingrak nonton Sheila on Seven di Ancol, batal demi panasnya tubuh saya yang fluktuatif. Badan saya lemez total, kepala pening setengah mati, rasanya putar putar dan saya enggak doyan makan. Liat atau ngerasa bau makanan, kayak nggak ada nyawanya. Saya muntah dua kali dalam semalam. Bahkan malam berikutnya pun masih muntah. Nggak tanggung tanggung, sampe yang saya muntahin adalah cairan pahit. Perut saya sampe kosong sodara sodara. Hiks. Lingkaran di bawah kelopak mata jadi hitam nan cekung. Kalau mbak mbak kesehatan sih bilang kalau saya dehidrasi. Dan seketika dropnya tubuh saya menghilangkan plan saya selama weekend itu. Bahkan saya harus say bay terhadap ajakan Luqman dan Hida untuk nonton Payung Teduh di Ciwalk. Huwaaaaa..

Gegara sakit entah apa itu, saya sok sokan jadi dokter buat diri saya. Pasti ini gara gara unhealthy lyf selama bertahun tahun. Makan sembarangan, sambal kebanyakan, saos saosan, micin, minuman berkarbonasi dan aneka rupa makanan artifisial yang nggak banget buat tubuh. Selain itu saya udah jarang banget olahraga ditambah saya yang duduk mulu. Bikin bobot saya juga naik (well pembelaan yang sedikit meringankan adalah saya habis operasi geraham kemarin jadi butuh nutrisi lebih. Wkwkwk). Sungguh tidaa sehat sekalee.

Dan seketika saya mulai memantapkan diri untuk mengubah pola hidup. Yah.. Nggak bisa langsung kontan sih. Selaw bet sure aja. Yang saya lakukan pertama kali adalah mulai puasa lagi :D. Salah satu fungsi puasa adalah rehat untuk pencernaan. Maka saya pun memberikan hak pada perut saya sejenak dua kali dalam seminggu istirahat.

Kedua, mulai olahraga lagi. Kalau dulu sebulan sekali, sekarang saya mencoba (istiqomah) seminggu sekali. Jogging kek, streching kek. Pokoknya gerakkk!.

Ketiga mengatur pola makan. Saya mulai mengurangi cabai (saya termasuk mahluk yang freak sama cabai), mulai mengurangi makanan yang terlalu asam, mulai masak makanan rumahan lagi.

Cuma satu yang belum saya urusi: pola tidur dan penggunaan gadget. Saya tidur masih sembarangan jamnya. Sengantuknya. Dan seringkali jam 1 malam saya belum tidur. Esoknya mata berat banget dan badan pegel. Kapok? iya. Pagi itu aja. Dan malamnya tetep diulangi. Selain itu, yang sebenarnya membahayakan adalah penggunaan gadget. Bayangkan, yang bikin lama tidur sebenarnya hapean browsing ini itu dan chattingan di dalam gelapnya kamar. Kebayang dong gimana letihnya mata. Bisa bisa saya minus bahkan silindris. Duh.. ini nih yang harus saya kendalikan.

Yah.. namanya usaha. Enggak tahu kapan bisa mulai konstan. Tapi yang penting mulai berusaha. Dari sekarang! 😀

Setun a.k.a Stone Garden

Dalam suasana kemerdekaan, saya memilih untuk merayakannya bersama Santika dengan mengunjungi Stone Garden nun di ujung barat Bandung. Btw letaknya sih bukan lagi di Bandung tapi di Padalarang. Hehe. Uniknya, sefasih fasihnya turis melafalkan “Stone Garden” bak gaya bicara Cinta Laura, orang sana taunya juga Setun. Wakakak. Malah menurut saya, sebutan kearifan lokal warga sini yang menyebut ‘Setun’ lebih enak di kuping. Baiklah, mulai disini, kita akan menggunakan term Setun ya.

Perjalanan dimulai dengan membeli tiket ka lokal sebesar nol rupiah (horeeee dapat promo kereta. Kalau biasanya sih tiketnya seharga empat sampai lima ribu rupiah) dan menanti kereta lokal di stasiun Bandung di peron selatan. Tak lama kami menunggu, kereta berangkat pada pukul 08.45 setelah sebelumnya melakukan pengisian bahan bakar. Pukul 09.15 kereta sampailah di perhentian, Stasiun Padalarang. Oleh karena kami belum sarapan (karena terburu buru mau upacara hari 17 an), kami membeli lauk di sekitar stasiun dan sarapan sejenak. Baru pukul 09.45 kami lanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkot berwarna kuning arah Rajamandala. Untuk menemukan angkot berwarna kuning ini mudah saja. Cukup dengan berjalan kurang lebih 75 meter barat Stasiun Padalarang, akan terlihat kerumunan angkot yang sedang ngetem menunggu antrian jalan. Tarif angkotnya sih kalau sampai di jalan raya arah Setun kira kira lima ribu rupiah. Eh, tapi saya pernah beruntung mendapatkan angkot yang mau mengantar sampai ke Setun dengan membayar sepuluh ribu rupiah saja. Lumayan tuh nggak perlu jalan ngos ngosan sampai Setun.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam (karena saat itu nggak macet), kami sampailah ke Stone Garden. Nggak sampai tepat di area wisatanya sih. Di tepi jalan masuk arah Setun maksudnya. Hehe. Untuk bisa sampai ke Setun, kita harus jalan kurang lebih 1,5 kilometer. Lumayan, pemanasan sist. Haha. Oh ya, tiket masuk Setun kurang lebih lima ribu rupiah ditambah kalau (bawa kendaraan) ya parkir buat mobilnya juga nambah.

Well.. untuk gadis gadis di luar sana yang ingin tampil chic dengan outfit yang keren, jangan sampai salah alas kaki ya. Sungguh direkomendasikan untuk pakai alas kaki yang tahan batu dan dan debu. Kan sayang, flatshoes cantik cantik jebol di tengah jalan karena nggak kuat diseret pemiliknya melintasi jalan yang berbatu. Haha. Oh ya, jangan lupa kacamata hitam. Seriously, disini panas dan agak silau sih menurut saya. Nggak banyak tempat teduh (karena yang mengunjungi tempat ini juga banyak makanya tempat neduhnya jadi berkurang karena udah dipakai sama mereka).

 

Setun adalah gugusan bebatuan yang menjulang bak bukit di Padalarang. Di hamparan bebatuan ini kita bisa berwisata sekaligus belajar bahwa bumi itu bulat (sorry to the flat earthers). Kalau bumi datar, saya nggak kebayang nih gimana ada jaman glasial dan interglasial (bahasa gampangnya: jaman es dan antar es) yang menyebabkan adanya pergerakan bumi yang bikin daratan yang tadinya jadi rumahnya spengebob dan patrick jadi naik ke atas dan membentuk Gunung Kidul atau Gugusan Setun. Coba kalau bumi itu datar, kalau ada jaman es, terus suatu saat di jutaan tahun lalu esnya cair, tumpah ke angkasa dong. Duhhh deeek. Logika goblok ala saya sih. Jangan dipikirin kalau emang nggak setuju.

 

Well, lupakan soal teori bumi datar atau cekung cembung atau apalah. Bodo amat. Yang jadi muhasabah saya di Setun adalah, gimana dahsyatnya kekuatan Tuhan saat itu menciptakan es, mencairkannya, menenggelamkan yang muncul dan memunculkan yang tenggelam. Seorang Batman yang punya duit tumpeh tumpeh, bikin alat yang bisa menggeser bumi pun nggak akan sanggup buat melakukan hal tersebut. Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

Area Stone cukup bikin capek lho, btw. Haha. Jadi siapkan air minum yang buanyak juga cemilan. Tapi kalau nggak sempat bawa, tinggal turun ke area masuk tadi dimana berjajar penduduk setempat yang menjajakan kelapa muda beserta jajanan penggugah selera yang bisa dinikmati sambil lesehan. Yah, meskipun nggak bisa sekaligus nonton hamparan Setun. Saya pikir konsep ini bagus juga. Nggak bisa kebayang kalau warung2 didirikan di area Setun. Pertama, ngurangin area terbuka Setun. Kedua sampah!. Bayangin aja, sampah yang dihasilkan sama pengunjung yang minum kelapa dan buang sampah ciki, digeletakin sembarangan di area bebatuan. Kan jorok. Dan meletakkan area dagang di sebelah pintu masuk Setun adalah keputusan tepat.

Rupanya tidak hanya bebatuan saja yang menghuni Setun. Monyet monyet pun juga. Saya punya pengalaman yang nggak menyenangkan dengan monyet Setun. Mereka nakal banget dengan menyergap cepatnya mereka menyambar apa yang ada di tangan saya sampe saya teriak teriak diliatin orang. Mana waktu itu lagi agak rame. Duhhh dek. Malu nian. Haha. Untung ada ibu ibu setempat yang lagi beberes sampah dan rerumputan menyelamatkan saya. Huaaaaaa. Dan untungnya ketika saya dan Santika mengunjungi Setun kemarin tidak terjadi insiden perampokan oleh monyet monyet tidak tahu diuntung itu. Mungkin mereka lagi upacara bendera agustusan juga. Haha.

Dan.. perjalanan diakhiri dengan sholat ashar di dekat pintu masuk. Kami pun segera turun ke jalan raya untuk mencari angkot Rajamandala yang kembali ke Stasiun Padalarang. Sayang sih nggak mengunjungi Goa Pawon. Tapi kesorean sih. Haha. Well.. next saya akan ceritakan soal destinasi yang masih sepaket sama Goa Pawon. Selamat Hari Merdeka. Merdekaaa!!!

Sekelumit tentang Operasi Gigi Geraham Saya Kemarin

Nun jauh sebelumnya (dua tahun lalu)

Ini adalah pengalaman pertama saya bedah. Yes.. operasi. Bukan jenis operasi besar sih, tapi cukup bikin deg degan karena saya takut dengan jarum suntik. Haha.

Well.. cerita dimulai sejak dua tahun lalu ketika saya mulai dengan rajin mendatangi dokter gigi akibat gigi saya bolong. Alasan awal kenapa saya tetiba rajin ke dokter gigi yakni, di suatu siang yang syahdu ada dua mbak mbak dari FKG (Fakultas Kedokteran Gigi) sebuah universitas tua mendatangi saya yang sedang leyeh leyeh menikmati sepoi angin siang siang di bangku hitam. Dia melihat gigi saya dan menawari untuk menambal gigi geraham saya yang terlihat oke padahal berpotensi bolong. Maka, saya pun mengiyakan tawaran mbak itu dan datang keesokan harinya ke FKG. Kedatangan saya ke FKG ternyata membuka permasalahan baru yakni: gigi saya impaksi!. Impaksi adalah gigi geraham belakang yang tumbuh tidak normal (dan sebagian besar akan menimbulkan masalah di kemudian hari). Geraham belakang miring dan harus dioperasi. Udah berasa ada petir nyamber nyamber di kepala saya, gaes. Haha.

Tapi karena dasarnya saya takut dengan prosedur operasi, saya tidak juga segera melakukan operasi. Sampai akhirnya beberapa minggu kemudian, tambalan mbaknya ini nggak beres dan saya harus ke sebuah klinik untuk mengurus gigi saya. Dan yu know.. yang saya nggak suka adalah si mbak koas yang dulu menawarkan prakteknya pada saya tidak mengecek mengontrol ataupun memberikan pertanggungjawaban soal bagaimana bagaimananya gigi saya waktu itu. Terima bongkar pasang tapi nggak terima kontrol. Duh.. sedih bangeeet kan. Doa saya semoga mbak yang menjadikan saya percobaan waktu itu bisa menjadi dokter gigi yang handal. Lhah.. temen saya, si Nower lebih parah lagi mbak koassnya. Belum juga dioperasi, mbaknya terlalu jujur “Mas, biasanya habis operasi nyeri hebat”. Wakakakak. Dokter macam apa itu, bukannya nenangin malah bikin nambah panik. Si Nower cuma bisa deg degan keringat dingin waktu itu dan kami yang mendengar ceritanya ngakak nggak berhenti henti. Yah.. semoga mbaknya FKG ini nggak ada bakat bikin orang mati berdiri sebelum dioperasi.

Dengan dokter yang merawat saya di klinik beliau menyarankan saya untuk melakukan pengangkatan gigi geraham belakang saya yang impaksi. Maka saya datang beberapa hari kemudian dengan membawa sebuah rontgen gigi geraham belakang saya yang miringnya emang parah banget. Setelah dengar penjelasan dari gambarnya, saya tambah parno waktu denger second opinion kalau gigi saya emang wajib ain tak bisa ditawar harus banget dibedah dan nggak ada cara lain untuk menyembuhkan selain operasi. Resiko jika gigi belakang saya tidak diambil, di usia tiga puluhan ke atas, saya akan mengalami migrain parah. Belum lagi ada masalah pada syaraf di kepala dan tengkuk serta leher. Dan masalah tidak berhenti disana saja. kalau ada bakteri jahat, salah salah dia akan nemplok ke saluran gigi dan turun.. turun.. turun terus menuju jantung. Taraaa.. saya bisa mati akibat bakteri yang nyasar ke jantung atau paru-paru. Hiiiii.. horrroorrr.

Apakah setelah mendengar cerita horror tapi nyata dari dokter gigi betulan di klinik tersebut saya jadi memiliki keberanian untuk operasi? Tidak sodara sodara. Tidak samasekali. Bahkan saya menyepelekan. Hehe. Ah.. masalahnya cuma urusan sisa makanan nyelip doang kan ya. Ah pake sikat gigi yang lembut juga pasti ilang. Kumur kumur juga selesai. Nggak bakal sakit deh. Dan bla bla bla

Sampai suatu ketika, saya merasakan nyeri yang teramat sangat di bagian geraham belakang. Satu hari sebelum saya dan Hida melakukan perjalanan ke Purwokerto untuk menengok Kasubret Stasiun Pekalongan, Arif Firmansyah, saya mulai sakit gigi. Dan siksaan terberat adalah ketika saya bangun pagi, nggak mandi dan langsung mengejar kereta Ciremai dari Stasiun Bandung menuju Pekalongan. Meskipun saya sudah minum obat pereda nyeri, syaraf gigi saya tetap tak mau diam. Satu satunya pereda nyeri justru ketika saya ngemut air putih (minum air putih dan menahan selama beberapa detik di mulut), baru syarafnya mau tenang. Tapi habis itu, saya tetap harus menelan air putih. Dan seketika air masuk ke kerongkongan, si saraf gigi mulai bergoyang lagi. Duhhhh sakitnya..

Jadi, lagu Megy Z yang sakit gigi lebih baik daripada sakit hati itu benar benar dusta sodara sodara!. Mana ada sakit gigi nggak sakit. Duhhhh sumpah siksaan. Makan nggak enak, tidur nggak nyenyak, bawaannya senggol bacok. Seringkali saya terbangun di tengah malam karena kesakitan. Iyuhhhhhh mendingan sakit hati akibat omongan orang (bukan sakit liver lho), cuma di perasaan tapi makan masih enak tidur masih nyenyak. Dan seketika saya mengatakan pada diri saya untuk say yes ke dokter bedah mulut. Pertahanan saya runtuh seketika. Tapi yang ajaib justru ketika selama perjalanan ke Pekalongan, saya buka buka pengalaman odontektomi, sakit di gigi saya ilang. Nah lho.. syaraf saya mulai anteng. Lega kalik ada kepastian mau dicabut. 😀

  1. Pra Odontektomi

Sepulangnya dari Pekalongan, saya mendatangi klinik Mediska yang di depan Mayasari dekat Stasiun Bandung. Saya memang sudah menegakkan niat untuk menandatangani surat tindakan odontektomi. Bagi yang belum tahu apa itu odontektomi, odontektomi ialah prosedur pengambilan gigi geraham belakang yang bermasalah. Well.. fyi, sampai saya masuk ke ruangan drg. Maya, saya masih berharap ada cara lain untuk menghilangkan rasa nyeri di gigi saya tanpa harus melakukan tindakan operasi. Oleh drg. Maya, ujung ujungnya yang dibahas adalah operasi gigi belakang lagi, gigi belakang lagi. Dan tidak ada cara lain agar saya bisa sembuh kecuali lewat operasi, sodara sodara. Haha. *dalam hati nyeseg banget sebenarnya. Kemudian seperti yang sudah diskenariokan oleh Sang Pencipta, saya mengiyakan untuk dirujuk ke RS. Pindad.

Well.. kenapa harus RS. Pindad Bandung? Saya tidak punya alasan lain. Haha. Satu satunya alasan adalah drg. Maya yang merujukkan saya kesana dan disanalah tempat yang menerima BPJS. Jadi, saya tidak akan berlagak sok sokan punya uang banyak hanya untuk memaksa pergi ke rumah sakit atau klinik mahal. Saya mah sadar diri nggak punya duit dan emang membutuhkan BPJS untuk mengkover pengeluaran operasi odontektomi saya yang disinyalir bisa habis lebih dari 4 juta untuk operasi bius total. Buat saya hayuk we mah, mau dimanapun asal ditangani oleh ahlinya biar saya cepet sembuh.

Sebelum saya bertemu dengan dokter bedah gigi saya di Pindad, saya melakukan rontgen panoramic, itutuh ngambil foto x-ray gigi. Berapa pengeluaran saya? entah. Saya tidak tahu karena sudah ditanggung oleh Perusahaan. *asiiiiiq.

Di hari selanjutnya, saya cek jadwal praktek dokter bedah mulut dan menemukan bahwa ada dokter gigi yang buka praktik pada hari rabu sore jam 4 (karena saya harus kerja dulu paginya) Maka dengan berbekal kopian KK, KTP, BPJS, foto rontgen gigi dan surat rujukan dokter Maya untuk pendaftaran operasi, saya siap menghadapi tantangan di depan *halah. Yu know.. udah datang jam 2 siang, ternyata saya urutan nomer 16 sodara sodara.

Setelah menunggu agak lama, karena antrinya juga lama, saya pun masuk ke ruang pemeriksaan. Oleh dr. Sulaeman saya diedukasi secara singkat padat dan jelas mengenai keadaan gigi saya yang wajib ain untuk diambil empat empatnya. *ingat put, wajib ain tanpa pengecualian. Dengan kondisi dua geraham molar miring dan dua normal. Dua atas harus tetap diambil karena ruang gerak untuk geraham atas sangat sempit. Toh lagipula kalau molar bawah diambil, kasihan banget pasangannya. Dia tidak lagi bisa menumpu karena geraham molar bawah dicabut mengakibatkan dia akan turun. Nah lho.. operasi lagi.. tadinya saya ditawarkan untuk operasi satu persatu (dua tahun lalu ketika masih di Yogya), tapi kali ini saya dengan amat sangat membesarkan hati, saya memilih untuk operasi bius total. Huwaaaaaa… betapa deg degannya saya bahkan sebelum saya operasi. Saya pun pulang dengan tidak percaya bahwa saya barusan menandatangani dokumen persetujuan operasi. *duh.. mabok apa sih saya.

 

Dan.. persiapan saya sebelum operasi yang dijalankan selasa depan antara lain: minum air putih yang banyak, kurangi stress dan main kesana kemari. Tawaran dolan kesana kemari, nongkrong sana sini saya iyakan karena saya tahu seminggu ke depan saya nggak akan bisa seenaknya santai santai ria macam sebelum saya operasi. Haha.

Satu hari sebelum operasi, saya mengambil foto rontgen paru paru yang akan digunakan sebagai referensi dokter sebelum menganestesi saya. Sakit? enggak tuh. Orang cuma buka baju, badan tegak nempel ke alat foto, tarik nafas, hembuskan terus udah deh. Foto jadi kurang lebih 30 menit kemudian.

Delapan jam sebelum saya operasi, saya melakukan pengambilan darah di lab. Darah saya di siku kiri kira kira satu ampul kecil suntikan. Kemudian saya disuruh membuka kerudung karena akan diambil sample darah di telinga bagian kiri. Saya sih nggak begitu paham kenapa darah di telinga kiri juga diambil. Mungkin karena dekat dengan geraham saya kalik ya.

  • Odontektomi

Fyi, bahkan sebelum saya odontektomi yang dijadwalkan akan dilaksanakan pada malam rabu, 18 Juli 2017, saya masih kerja sepagian lho. Nggak papa kok masih beraktifitas. Tapi saran saya, kurangi porsi aktifitasnya. Boleh, tapi jangan terlalu keras untuk persiapan fisik dan mental pra operasi.

Pukul 5 sore saya sampai di RS Pindad dan melakukan pendaftaran ulang pra operasi. Dan saya pun diantar ke ruang pra medikasi. Dan tara… sudah banyak orang berbaju hijau hijau bertudung biru muda mengobrol di ruang tersebut. Mereka adalah pasien yang juga dalam proses odontektomi. Saya memilih untuk menunggu di luar saja sembari menunggu solat magrib dan isya yang saya jama’.

Pukul 18.30 saya masuk ruangan dan tinggal beberapa orang lagi selain saya yang belum masuk ke ruang bedah. Setiap setengah jam, pak dokter datang dan memilih pasiennya (ternyata ada audisinya. Haha. Audisi ini dimaksudkan untuk memilih pasien dengan tingkat kesulitan terendah yang akan didahulukan. Untuk menghemat waktu dan tenaga ya.). Saya yang saya pikir akan dapat giliran terakhir karena saya masuk paling terakhir, ternyata saya dapat nomer tiga dari terakhir. Haha. Alhamdulilah.

Deg degan masih menghantui setiap langkah saya masuk ke ruangan yang agak luas dengan peralatan di sana sini dan sebuah dipan sempit bermandikan cahaya dari lampu bundar di atasnya. Monitor jantung terletak tegak di sebelah dipan tersebut. Dan.. tensi saya tetiba naik di angka 167 persis sebelum saya terlelap akibat perawat menyuntikkan obat bius di jarum infus tangan kiri saya. saya yang sempat lihat tensi saya segera menarik nafas dan alhamdulilah tensi saya turun ke 140 dan mungkin terus turun.. dan saya pun.. tepar.

Pasca odontektomi

Saya bangun pada pukul 20.09, kurang lebih setengah jam setelah saya masuk ruang bedah pada pukul 19.32. Saya seketika shock dan kebingungan karena lampu operasi yang benderang itu telah sirna. Saya terbangun karena mulut saya penuh dengan tampon kapas dan air liur bercampur darah yang mengumpul di kerongkongan bikin saya tersedak. Terbatuk batuk sampe perawatnya ngeliatin saya. Sakit? Enggak sih. Kayaknya karena masih ada pengaruh obat bius. Sakit sih enggak. Tapi sewot karena dingin. Haha. Saya kezel karena saya nggak diselimutin. Itu ruang pasca medikasi dinginnya naudzubillah (atau saya yang emang lagi kedinginan?) haha. Fyi, pasca operasi saya bisa ngomong dengan lancar kok. Bahkan saya panggil perawat dan minta diselimutin. dr. Sulaeman yang kebetulan mampir ke ruangan itu dan menanyakan pasiennya satu persatu bertanya kepada saya: gimana, udah baikan?. Ya saya jawab lah: udah dok. Saya kedinginan. Haha.

 

Setengah jam di ruang pasca medikasi, saya dipindahkan ke ruang perawatan bersama beberapa pasien lainnya. Saya ambil ponsel dan telepon bulik saya yang sedang koas dan juga beberapa orang lain yang bisa saya ajak kontakan. Saya telepon bisa setengah jam lho. Hehe. Sekitar pukul 9 malam, saya baru bisa minum air dan makan es krim (setelah kentut dan dinyatakan boleh makan oleh perawat). Tak berselang lama, perawat menyuntikkan obat tester alergi ke kulit lengan bawah tangan sya. Wiiii rasanya.. senggol bacok bener sakitnya saking kecilnya jarum suntik. Dan entah karena efek obat apa gimana saya baru tidur pukul 12 malam.

Paginya, saya dikasih minum energen. Satu jam kemudian saya udah dikasih makan nasi dengan lauk daging tim dan sayur buncis. Wah.. perjuangan banget deh waktu makan seporsi nasi itu. huwaaaaa.. makannya harus pelan dan meyakinkan. Meyakinkan diri biar nggak kena luka. Haha. Btw, kenapa bisa lama banget makannya? Kalau saya makan lama karena disambi ngobrol sana sini, ini lama karena susah banget buka mulut. Geraham rasanya berat banget dan nyeri. Hehe. Tapi jangan bayangin sakit banget. Nggak sakit sih karena pengaruh obat masih ada, tapi bengkaknya itu lho yang bikin nggak bisa mangap. Oh ya, jangan lupa obatnya yang seabrek banyaknya itu diminum teratur.

Siang pukul 9, saya udah keluar dari ruang rawat, ngurus administrasi ini itu dan cao pesen grab buat pulang. Dan kemudian saya masih sempet berkereta lokal menuju Stasiun Bandung. Sampe kosan, saya nyuci baju seember, mandi dan kemudian teparr. Seriously nggak akan kenapa napa kok habis di odon.

Pasca Odontektomi

Bagaimana saya makan? Nggak ada perubahan pra maupun pasca odon. Makannya tetep nasi, cuma makannya lebih pelan dan nggak bisa panas, keras maupun pedas. Dan seketika buat saya, itu siksaan. Haha.  Cuma karena termotivasi biar luka saya cepet sembuh, saya banyak banyak makan. Bisa? sangat bisa. Tapi ya banget gitu. Harus hati hati. Dan bobot saya naik bangettttt. Haha. Yaudahlah, gendut biar, yang penting sehat. wkwkwkw.

Obat yang dikasih dokter sangat harus dihabiskan tanpa boleh terlewat sedikitpun. Btw saya pernah sekali kelewatan obat akibat obat saya ketinggalan di kosan Mba Nanda ketika saya berkunjung ke Jogja. Ampun dah. Tepok jidat. Habis itu besoknya ketika obat kiriman saya datang, saya berjanji dalam hati untuk tetap setia meminum obat itu hingga titik darah penghabisan karena saya nggak mau balik lagi ke ruang bedah *lap ingus.

Btw apakah saya lancar lancar saja paska operasi? Tidak sodara sodara. Di Rabu siang satu minggu setelah operasi yang dilaksanakan pada tanggal 18 Juli 2017 lalu, dimana mulut saya udah bisa mangap dengan merdekanya meski masih bengkak, saya panik karena pipi kiri bagian dalam saya terbuka!. Maksud saya jahitan saya yang terbuka. Hehe. Seketika itu saya pulang ke kosan, ambil semua berkas kemudian berlari menuju klinik Mediska Stasiun Timur Bandung. Dan kebetulan ibu dokter giginya sedang diklat, maka saya ditangani oleh perawat gigi. Beliau bilang bahwa jahitan saya kebuka dan kemungkinan besar harus melakukan pendarahan ulang. Apaaaah? Pendarahan ulang??? seketika saya lemes. Ya keles saya harus disuntik lagi terus dijahit lagi. Tidaaaaaaaak. Saya pun datang lagi minggu depan sesuai saran Pak Perawat.

Seninnya saya datang lagi, kali ini lengkap dengan ibu dokter. Saya pun lalu dicek kondisinya dan oleh bu drg. Maya, saya dirujuk ulang ke dokter bedah saya lagi. Dan prosedur bolak balik ke RS Pindad Bandung pun dimulai kembali.

Datang ke Pindad awal waktu sambil menyerahkan fc KK, KTP, surat rujukan dari klinik kemudian menunggu verifikasi data. Setelah itu, saya (lagi lagi) urutan ke enambelas. Setelah menunggu hingga pukul 15.45 (karena praktek dimulai pukul 15.00), akhirnya giliran saya dipanggil juga. Apa kata dokter Sulaeman? “Ah, tunggu aja dua bulan mba, nanti nutup sendiri”. Dan seketika rasanya saya mau teriak horeeeeeee *bahagianya saya nggak jadi operasi ulang. Huaaaa… alhamdulilah.

Get Lost in Surabaya

Saya sudah janji untuk menceritakan pengalaman saya nggembel di Surabaya. And.. this is it.

Di hari saya dengan bodohnya kelewatan stasiun pemberhentian saya yang seharusnya di Puwosari menjadi bablas sampai Madiun, saya mengontak salah satu sahabat saya, Santikul. Dia berencana untuk mengunjungi Surabaya, rumah Mba Tari, sahabat kami yang berasal dari kota berikon hiu dan buaya berkelahi. Maka, saya dengan sedikit pikir panjang, memutuskan untuk mengiyakan tawaran tersebut. Saya kontak mba tari dan taraaa.. akhirnya saya tergopoh gopoh dikerjar waktu untuk segera sampai ke stasiun madiun.

Di kereta pasundan yang berhenti di Stasiun Madiun, saya bertemu dengan sahabat saya Santikul dan Mba Tari serta ibunya. Perjalanan tiga jam terasa begitu panjang. Pukul 21.30 kami meninggalkan Stasiun Gubeng, menumpang taksi sampai ke rumah Mba Tari yang berjarak kurang lebih 30 menit di dekat Jembatan Suramadu. Sebelum kami sampai, kami sengaja untuk mampir ke samping Jembatan Suramadu. Jembatan yang mirip mirip sama jembatan Kalifornia di Amrik sono. Sayangnya penerangan yang warna warni sedang tidak dinyalakan. Tapi kami cukup puas setidaknya sempat melihat suramadu. Haha.

Maka, kami pun pulang karena capek luar biasa dan ngantuk yang tiada terkira. Tapi alih alih bisa tidur, saya sulit memejamkan mata. Bagaimana bisa saya tidur di tempat yang panasnya luar biasa, di Jogja saya bisa saja tidur tak berselimut bahkan pakai kaos tipis atau kaos dalam lah. Tapi di Surabaya.. waaaaaaaa…. keringat saya bercucuran banyaknya. Puanasss. Bukan cuma urusan letak kotanya yang di pesisir. Tapi tentang Surabaya yang sudah dipenuhi dengan tembok tembok tinggi industri yang juga ikut menyumbangkan suhu udara satu hingga dua derajat banyaknya. Cuaca terbaik di Surabaya saya rasa hanya ketika pagi hari. Haha. Cuaca hangat dan segar.

Hari kedua saya tiba di Surabaya diisi dengan rencana berputar putar keliling kota. Setelah galau mau kemana saking banyaknya destinasi kece yang bisa didatangi, kami memutuskan untuk menuju jembatan merah sebagai destinasi pertama. Dengan menggunakan becak (ini pertama kalinya saya pakai becak setelah saya mutung gara gara ditipu sama tukang becak stasiun purwosari). Bentor, becak yang tak lagi sederhana, membawa kami menyusuri arus ramai kendaraan jalanan Surabaya. Melewati pertokoan, makam Wage Rudolf, Kampung Pecinan dan kurang lebih 15 menit kemudian sampailah kami di Jembatan Merah. Sensasinya? Luarrr biasaaa. Becak yang sekecil itu ditumpangi oleh tiga orang yang badannya nggak lagi mini mini. Dan.. sumpah deg degan buk.. berasa kayak mau jatuh jatuh apalagi dengan kendaraan yang jauh dari standar aman serta nyaman. Jelas senam jantung sepanjang jalan. Tapi saya senang. Betul betul sebuah pengalaman luar biasa menyusuri Surabaya dengan becak yang waw emejing bikin panik. Becak memang raja jalanan di Surabaya.

Jembatan Merah, seperti namanya yang diabadikan dalam sebuah lagu perjuangan berjudul sama, masih berdiri kokoh diantara arus muara sungai Bengawan Solo yang serupa susu coklat tenang tapi menghanyutkan. Kami pun menyusuri gedung gedung peninggalan kolonial di kanan kiri daerah Jembatan Merah. Yang paling menarik untuk saya adalah bangunan di sebuah jalan, yang kondisinya sudah tidak terurus dengan tembok boncel sana sini, kaca pecah, kayu lapuk, sulur sulur tanaman terjuntai kemana mana. Benar benar mengingatkan saya pada pilem pilem Tim Burton yang bernuansa gothik. Ini adalah penjara yang sering saya baca pada artikel artikel sejarah perjuangan Indonesia pada jaman Belanda dan Jepang. Penjara ini adalah saksi bisu pada masa jaman penjajahan. Yang unik adalah di samping penjara ada bangunan yang difungsikan sebagai gudang retail barang kebutuhan sehari hari seperti sabun, pasta gigi dan sikat gigi. Nggak kebayang jika saya adalah pemilik atau pegawai yang harus mengontrol kondisi gudang. Saya pasti nggak berani sendirian dan nggak akan berani kerja selepas ashar. Horror.

Lepas Penjara Kalisosok, kami pun mengunjungi House of Sampoerna. Bangunan ini adalah bagian dari CSR perusahaan rokok yang pernah jaya dan pernah menjadi milik putra Indonesia sebelum sahamnya dilepas untuk Philip Morris yang orang bule itu. Guide dari House Sampoerna menjelaskan sejarah awal pendirian pabrik rokok yang pernah jaya di masanya. Berawal dari suami istri keturunan tionghoa, beliau yang pada awalnya berjualan barang sehari hari seperti beras, gula, dan aneka kebutuhan dapur di warung kecil di jaman kolonial. Pada akhirnya banting setir pada bisnis tembakau dan rokok kretek. Dengan perjuangan jatuh bangunnya, ia bisa mewariskan keahliannya pada anak cucu dan jadilah perusahaan sebesar itu masih jaya bahkan hingga sekarang. Ya, meskipun sudah bukan lagi kepemilikan orang Indonesia. Hal yang bisa dijadikan pelajaran adalah ketekunan memang segalanya. Bakat tidak akan menentukan apa apa kecuali benar benar dikelola dengan ketekunan dan kerja keras. Kita bisa saja tidak cerdas. Tapi kalau tekun, lain soal.

Sayang seribu sayang, kami bertiga tidak bisa naik ke bis tur Surabaya akibat kehabisan tiket. *sedih*.

Usai sembahyang dhuhur, kami melanjutkan perjalanan menuju Jembatan Merah (lagi). Yang asik adalah, lagi lagi kami berwisata arsitektural. Bangunan bangunan yang usianya ratusan tahun *yang horrornya banget*, berdiri di sepanjang bantaran kali Bengawan Solo. Meskipun hanya bisa dinikmati dengan visual, tapi benar benar sebuah perjalanan yang luar biasa yang mengingatkan kita bahwa nenek moyang pernah berjuang untuk kemerdekaan ini. Bangunan bangunan ini jadi saksi ada ribuan orang mati meninggalkan sejarah bahwa negeri ini pernah dikoyak dengan darah dan air mata. Maka, jangan sok pintar dengan mengatakan mengebom Indonesia adalah sebuah jihad. Kita punya seperempat kepala dengan isi yang berbeda beda. Keragaman di tengah pulau pulau yang berserakan yang ternyata bisa dijaga dengan indahnya. Ingatlah bahwa kita tidak ingin memulai perang saudara seperti halnya yang terjadi di Timur Tengah sana. Jika sebuah negara sudah berkonflik maka hancur sudah peradabannya.

 

Kekancan

Adalah sebuah hal yang alamiah terjadi dalam hidup kita jika ada yang senang dengan kita ataupun ada yang benci dengan kita. Bahkan itu adalah anugerah. Lho? Kok bisa?. Tentu saja. Mampu berperasaan adalah ciri ciri bahwa kita manusia normal yang memiliki emosi. Emosi dalam diri manusia adalah anugerah. Coba kalau kita suka pada semua hal, berarti kita nggak normal. Kalau kita benci pada semua hal, itu juga nggak normal. Kok lebay banget yak semua muanya dibenci. Haha. Kalau cuma ada satu hal di dunia ini, nggak akan seru hidup ini. Berarti semua telah mati. Manusia mati berarti otaknya udah nggak jalan, perasaannya apalagi. Maka bersyukurlah bahwa kita masih merasakan keseimbangan.

Gimana pandangan saya soal saya disukai atau tidak disukai? saya yang emang tipikal bodo amatan ini, tidak begitu peduli apakah saya disukai atau dibenci. Saya hidup dengan lenggang kangkung. Wajar wajar saja dalam hidup sehingga tidak begitu merasa harus ambil pusing jika ada yang membenci saya. Saya teringat dengan wejangan Pak Eddy dulu “Mbak, kamu tidak bisa menyenangkan semua orang. Maka, bersiaplah untuk belajar”. Dan saya pun bersiap siap untuk belajar bahwa hidup tidak bisa dipaksakan. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang dan kita tidak bisa memenuhi keinginan tiap orang untuk memenuhi standar mereka. Setiap orang adalah unik. Dan kita memang tidak harus menyukai atau membenci orang lain. Yang wajar saja.

Pertemanan terkadang entah kenapa memang melibatkan perasaan. Percaya atau tidak, itu berlaku juga pada saya. First impression terkadang saya bisa merasakan tipikal orang yang saya temui. Gini gini saya punya bakat juga jadi asesor. Haha. Cuma kurang belajarnya aja. First impression kadang membawa kita untuk merasakan apakah kita nyaman dengan orang yang kita temui atau tidak. Apakah kita akan yakin untuk berteman terus dengan mereka. Secara alamiah semua orang bisa mengenali siapa yang bisa jadi kawan atau lawan. Ya, walaupun tentu tidak seratus persen benar. Terkadang fakta bisa mengubah first impression tersebut. Sebagai contoh. Ada orang kalem yang kita temui di awal ternyata cuwawakan luar biasa ketika sudah lama mengenal. Ada orang yang nampak menyebalkan di awal tapi ternyata dia sangat baik hati. Maka solusinya, tetaplah berteman dengan wajar. Jangan terlalu bawa bawa perasaan alias suudhon berlebihan. Dan berilah jarak pada pertemanan agar kita tidak saling terluka. Mobil yang terlalu dekat bisa jadi akan bersenggolan. Tapi mobil yang terlalu jauh pun tidak baik. Seiring berjalannya waktu, maka kita bisa menentukan mana yang bisa jadi kawan mana yang bisa jadi lawan.

Tingkatan tertinggi dalam sebuah pertemanan adalah ketika kita bisa saling memberi manfaat dalam kebaikan dengan hati tulus. Semakin banyak dan semakin luas kita berteman maka kita akan sampai pada fase tak harus memiliki. Ingat ketika kita masih SD dan kita tidak suka ketika sahabat sebangku main dengan teman lain? Ya itulah pertemanan ala SD. Rasa memiliki yang masih besar dan ada kalanya kita tidak bisa berbagi. Pertemanan di SMP, kita mulai mengenal lingkaran yang lebih besar dengan permasalahan yang mulai kompleks. Pertemanan di SMA, kita diuji dengan banyak nilai dan norma yang apakah kita akan pertahankan atas nama persahabatan atau dilanggar atas nama persahabatan juga. Pertemanan ala kuliah, sudah tidak bisa mengenal lingkaran tetap karena dinamisnya kehidupan perkuliahan. Persahabatan tingkatan dewasa adalah ketika kita bisa memandang semua masalah dalam bingkai keseloan dan tahu mana menyelesaikan masalah dengan elegan. Dan siap untuk tersakiti. Jika dulu marah karena teman ‘direbut’ orang lain, maka sekarang tidak lagi karena sejatinya aku senang jika temanku lainnya mengenal temanku lainnya dan aku pun mengenal teman teman mereka juga. Karena disanalah aku bisa merasakan bagaimana bahagianya jika semua bisa berteman dengan baik. Silatuhami bro. Tapi, jika kamu masih bawa bawa perasaan, berarti dolanmu kurang adoh, jiwamu butuh asupan makanan jiwa yang bergizi.

Kita adalah mahluk hidup. Kita bernapas. kita memiliki otak yang hidup dan aktif. Kita memiliki jantung yang berdenyut. Kita merasakan sakit. Kita merasakan lapar. Kita merasakan sedih. Kita merasakan bahagia. Kita makan. Kita berlari. Kita berpikir. Kita tumbuh. Dan tak ada satupun dari kita yang abadi.

Kita adalah mahluk Tuhan bernama manusia. Tak hanya diberikan panca indera yang terhubung secara fisik untuk berhubungan dengan Sang Pencipta dan alam semesta. Kita juga dianugerahi dengan hati dan pikiran.

Mengapa ada cinta dan benci? Karena itu adalah konsekuensi keseimbangan di muka bumi ini. Manusia tak bisa terus menerus merasakan cinta dan kiita tak bisa selamanya hidup dalam kubangan kebencian. Karena Tuhan sudah mengatur dunia yang sementara kita tempati ini berdasarkan teori keseimbangan. Ada dua hal bertolak belakang yang akan selalu dan terus menyertai hidup manusi dari mereka lahir hingga kembali lagi ke haribaaNya. Lahir-mati. Cinta-benci. Suka-tidak suka. Tidak puas-lila legawa. Sedih-senang. berlari-berjalan. Dan banyak hal lain yang diciptakan Tuhan agar dunia tetap pada porosnya.

Bayangkan jika hidup kita bahagia sepanjang masa tanpa ada jeda kesedihan walau sesaat. Pasti ramai orang akan bunuh diri karena bosan dengan hidupnya. Dan ingatlah bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan sifat pelupa dan cepat bosan. Bayangkan jika hidup kita sedih sepanjang waktu tanpa ada jeda kebahagiaan walau receh macam bahagia melihat orang lain tersenyum atau angin sepoi yang membelai kala panas datang menjerang.  Pasti ramai orang mati bunuh diri karena berputus asa menganggap Tuhan tak adil padanya. Maka kesedihan dan kebahagiaan adalah dua sisi mata uang. Tak akan pernah terpisahkan sampai kapanpun.

Soal pertemanan dan hubungan dengan manusia. Kita adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian lewat hubungan bernama pertemanan/kekeluargaan/urusan bisnis/urusan sosial. Dimana pertemanan adalah sebuah urusan yang membutuhkan skill seni tingkat tinggi untuk bertahan di dalamnya. Ada trik khusus yang secara alamiah dimiliki oleh setiap orang dalam menentukan dengan siapa mereka berteman. Sebagai contoh. Mengapa ada geng? Ya karena anak anak tersebut telah memilih lingkaran yang mereka rasa cocok untuk berteman. Mereka rasa cocok untuk mereka seriusi sebagai lingkaran acuan dalam hidup mereka. Dalam satu kelas, tidak akan pernah mungkin satu kelas itu akan pergi kemana mana bersama bak kumpulan burung merpati yang sedang terbang bersama sama. Dalam beberapa urusan kolektif seperti lomba voli atau tarik tambang atau lomba kebersihan kelas, mereka akan bekerja sama. Tapi dalam urusan sehari hari tidak akan pernah mungkin. Ketika si anak anak ke kantin, nongkrong di belakang sekolah, main ke mall, PS-an di warnet atau futsalan, tentu mereka punya lingkaran tersendiri. Paling tidak si A akan berteman dengan F, G, K. Kemudian si N adalah satu geng dengan T dan P. Si J adalah teman dari V, W, G, L, Z, M, H, dan B. Dimana mereka ini adalah teman satu kelas, terkadang bisa bekerja sama tapi terkadang bisa bentrok juga geng geng tersebut hanya karena hal sepele. Kelas bisa diartikan keluarga besar, satu RT, satu kelas ketika kita sekolah, satu kumpulan arisan dan aneka arti lingkaran pertemanan, Ya begitulah kenyataan dalam pertemanan.

Suka atau tidak suka, kita hidup dengan perasaan. Manusia diberi anugerah oleh Tuhan untuk merasakan hal hal yang bisa dirasakan tidak hanya dengan panca indera namun juga dengan hati. Kita tahu kapan merasakan sedih, senang, marah, kecewa, resah, gundah, berdebar debar, gamang dan aneka perasaan lain. Suka tidak suka juga terjadi dalam hal pertemanan. Ada kalanya kita tidak suka dengan seseorang karena alasan ini itu. Ada kalanya kita senang dengan sebuah hal karena ketidaksukaan ini itu. Jadi hiduplah dengan selaw. Lihatlah sesuatu dengan banyak perspektif, dan tetap kalem karena toh kita tidak akan bisa menyenangkan semua orang. Kembali ke hukum keseimbangan, dunia ini butuh rasa suka tidak suka biar hidup tidak oleng.

Salam kekancan.

Alun Alun Tour di Madiun

Ini pertama kalinya saya menjelajah Surabaya. Hal paling gobis –ini bahasanya Daisy, yang artinya guoblikkk ra uwis uwis, bodoh tak berkesudahan. Bagaimana tidak. Saya yang pulang dari Bandung dengan kereta Kahuripan tidak menyangka akan kelewatan arah. Sampai di Klaten, saya sempat terbangun namun tertidur kembali karena saya baru akan turun di stasiun berikutnya, Purwosari. “ah, baru sampai Klaten. Tidur lagi ah, bentar lagi bangun nyampe Purwosari”. Dan seketika saya bangun njenggirat sambil melongo ketika saya dengan kedua mata menyaksikan plang Solo Balapan terlewat di depan mata.

Oh shiiiiiitttttt. Saya menepuk jidat dengan sungguh sungguh. Menarik nafas panjang dan seketika menjatuhkan diri ke bangku yang saya duduki. Buoooodoooohhhhhhnya setengah mati. Kahuripan tidak akan berhenti sampai perhentian berikutnya yang masih jauh Setelah termenung meratapi kebodohan saya dan mulai bisa berpikir jernih, saya buka google map dan mulai mengecek rute perhentian kereta. Setelah menimbang nimbang di perhentian mana saya akan berhenti, saya memutuskan untuk lanjut ke Madiun. Kenapa Madiun? Padahal Kahuripan berhenti di beberapa stasiun setelah Solo Balapan. Saya bisa saja berhenti di Sragen, Walikukun atau Paron. Tapi masalahnya berhenti di pagi buta di stasiun kecil. Plis. What to do. Hiks. Mending langsung sekalian ke stasiun besar di Madiun sana.

Dan.. taraaaa.. sampailah saya di Madiun di hampir setengah enam pagi. Setelah sembahyang subuh, gosok gigi serta cuci muka saya yang kucel akibat tidur tidur ayam kaki pegel semalaman di kereta, saya keluar dan menunggu di lobi masuk kereta. Stasiun Madiun masih sepi orang waktu itu. Hanya ada satu dua warga yang menunggu kereta mereka. Saya pun membuka referensi tempat yang bisa dikunjungi di Madiun kemudian menghela nafas lega. Setidaknya Madiun punya alun-alun. Haha. Setahu saya Madiun emang nggak ada apa apa. Bukannya nggak ada apa apa. Tapi dengan kondisi musafir kesasar kayak saya, susah juga mau merencanakan perjalanan ke Trinil, air terjun atau monumen Kresek. Selalu ada hal indah saat susah. Bayangin. Jaman sekarang, saya nyasar tapi masih pegang hape. Masih bisa buka google, gmaps, bahkan chatting sama keluarga buat tanya referensi sana sini atau sharing betapa guobliknya saya pagi ini. Coba jaman dulu. Nyasar ya nyasar aja, nggak ada ampun. Pulang nggak akan tahu jam berapa tanpa bisa kontak ke keluarga.

Saya pun segera me list daftar kunjungan: Alun-Alun, Masjid Agung dan Pasar. Haha. Sangat sangat normal.

Kenapa alun alun, masjid agung dan pasar?. Simpel. Tempat tempat itu masih bisa saya jangkau dengan berjalan kaki dan pusatnya masih di tengah kota. Jadi, tidak akan mengganggu mobilitas saya sekiranya saya akan bepergian menggunakan moda transportasi pulangnya. Saya tinggal memantau jalan lewat gmaps, belok sana belok sini dan.. taraaaa. Sampailah saya di Alun-Alun dengan jalanan yang seolah milik saya sendiri saking sepinya. Wakakak. Yaaa.. itung itung olahraga jiwa dan raga. Tamba mutung dan tamba kesel. Obat kezel dan obat capek.

Alun-Alun adalah simbol sejarah untuk sebuah kota, terutama kota dengan hegemoni kerajaan di Jawa ini. Madiun adalah salah satunya. Peletakan alun alun akan juga menyeret tempat tempat penting lainnya. Bahkan kalau tidak salah, di sebelah mana ada pusat pemerintahan, sebelah mana tempat ibadah, sebelah mana pasar, sebelah mana pusat keamanan. Dan alun alun di jaman dulu bisa disebut sebagai check poin bagi  sejuta umat penduduk wilayah tersebut. Orang jualan, di pinggir alun alun, raja mau ngasih pengumuman biasanya di alun alun, ada pertunjukan rakyat di alun alun, bahkan mau pacaran aja janjiannya di alun alun. *ning alun alun tak enteni. Terminal Stasiun tak ubengi- lagu Alun alun Nganjuk. Haha.

Alun Alun Madiun di hari Sabtu pagi menjadi titik ramai para warga yang ingin menikmati pagi segar bersama burung burung Merpati yang terbang ke tanah mematuki biji biji jagung sebaran anak anak yang ingin melihat kawanan mereka lebih dekat. Para tua dan muda asik bercengkerama setelah ngos ngosan jogging di lapangan Alun-Alun yang berpendopo kembar tersebut. Ada juga yang asik tetiduran di bangku taman dan sisanya berjualan aneka jenis makanan sarapan.

Pukul 7.30, saya berkesempatan untuk menonton pertunjukan drumband. Well.. bukan drumband sih. Tapi latihan drumband anak anak TK yang didampingi ibunya dimana para ibu tersebut bertindak sebagai cheerleader. Seru ih. Haha. Saya menonton kurang lebih satu jam. Betewe keren juga performa anak anak TK ini. Kayak nggak ada capeknya memainkan instrumen musik drumband. Apalagi disemangati ibu mereka sendiri yang make rumbai rumbai rafia warna merah putih dan kuning. Unyuuuu. Haha

Matahari semakin tinggi dan saya lapar. Setelah saya berkeliling alun alun, saya memutuskan untuk berhenti pada seorang ibu ibu penjual nasi kuning di trotoar yang sedang sibuk melayani pengunjung. Ibu itu mengatakan pada saya untuk membungkus makanan dalam stereofoam saja. Padahal saya pengen makan lesehan saja di dekat ibu itu berjualan. Alasan ibu itu menawari saya makan bungkus di stereofoam untuk menghindari kejaran satpol PP yang menegakkan aturan untuk tidak berjualan di atas pukul 9 sedangkan waktu itu sebenarnya belum menunjukkan pukul 9 pagi. Kemudian saya mengiyakan karena saya pikir kasihan juga ibunya pasti kedandapan jika Satpol PP datang. Ah.. sudahlah saya mengalah untuk makan di stereofoam dan mencari tempat lain untuk makan. Dan.. hingga pukul sepuluh kurang si ibu masih berjualan di sana. Oh damn. Kok agak kzl ya saya. Haha.

Dan saya mengabaikan kekesalan saya (lagi) dengan membaca buku pinjaman saya dari Santika. Lagi lagi.. alhamdulilah. Selalu ada hal indah di tengah susah. Haha. Setidaknya ada buku yang menyelamatkan saya dari mati gaya akibat hape sekarat tinggal 1 % dan nggak ada laptop yang bisa jadi pemandu gmaps. Haha, Sebuah buku biografi berbentuk novel menceritakan tentang riwayat KH. Hasyim Asyari, pendiri Pesantren Tebu Ireng yang juga seorang pendiri Nahdlatul Ulama, sebuah ormas keagamaan Islam terbesar di negeri ini. Buku itu cukup emejing so wow. Kehidupan seorang ulama yang ditempa ujian hidup namun tetap tawadlu dalam menjalani hidupnya.

Suasana Alun Alun terasa sangat syahdu dengan rindangnya pepohonan yang menaungi dari terik mentari Jumat yang panasnya membuat mahlukNya harus teringat pada neraka. Sungguh semakin syahdu dengan alunan murrotal Quran yang nampaknya dilagukan sendiri oleh warga sana di Masjid Agung Madiun, saya terlena oleh sepoi angin yang membelai dan lantunan ayat suci yang mengingatkan saya pada rumah.

Sudah kesekian kalinya pengamen menyanyi di depan saya dan saya jengah juga dengan pemandangan pengamen yang berkumpul di pojokan tapi tak menghiraukan undangan sembahyang jumuah di masjid yang hanya berjarak 50 m dari tempat mereka asik bercengkerama (mereka adalah orang yang sama yang sedang meminta minta di gerbang masjid persis ketika Jumatan selesai dan saya yang mau sholat dhuhur disana). Maka saya pun pergi dari bangku taman yang telah sepagian saya gunakan untuk kontemplasi. Dan.. kaki saya yang mulai lecet pun tersihir untuk masuk ke toko outdoor favorit saya untuk menemukan pasangan sandalnya. Tak berapa lama, uang yang sejatinya saya hemat hemat ternyata melayang juga untuk membeli sandal gunung. Padahal saya sudah bilang pada diri saya untuk berpuasa beli sandal gunung karena mutung sandal saya hilang di masjid dicuri orang. Eh.. ternyata saya buka puasa juga. Eheheh.

Setelah puas cuci mata di toko outdoor, saya pergi ke masjid untuk menunaikan solat dhuhur dan.. mandi. Hehe. Rasanya badan lengket seharian ingin menyentuh air biar seger. Yah.. meskipun saya pakai baju yang nggak dicuci beberapa hari, rasanya nikmat air siang siang sungguh harus disyukuri. Belum lagi, setelah sembayang saya ketiduran meskipun cuma setengah jam. Nikmatnya luar biasa. 😀

Senangnya setelah asharan, ada tausiyah pendek dari imam masjid dibawakan dalam bahasa setempat, bahasa Jawa. Sungguh dahaga agama sedikit terobati.

Usai saya keluar dari masjid, saya tersepona dengan stand buku yang digelar di depan alun alun. Tidak banyak memang. Hanya ratusan buku saja. Tapi sanggup membuat saya membelalakkan mata pengen bawa pulang buku bukunya. Akhirnya tak hanya sandal namun juga buku sebagai buah tangan. Haha.

Oleh karena saya lapar dan belum makan siang pula, maka saya mampir ke pecelan 88 di dekat alun alun setelah mbak mbak penjaga toko oleh oleh yang saya sambangi memberi tahu saya tentang warung tenar itu. duhhh deekkk.. warung 88 ternyata ada di perempatan selanjutnya. Kirain deket. Ya emang deket sih, tapi kalau jalan lumayan juga. Setelah masuk ke tempatnya emang benar sih ini tempat tenar. Lihat di dinding dindingnya, poto poto orang penting dipigura oleh pemiliknya. Selain untuk pengingat kenangan, tentu saja strategi promosi pada warga jika warung mereka laris sampai sampai orang penting kayak Dahlan Iskan dan aneka artis makan di kedai mereka. Rasanya? Mantap sih. Harganya juga murah. Saya yang hanya makan pecel tanpa isi (jerohan, babat, lidah dll) alias pecel polosan, hanya dikenai Rp. 7000. Paling paling kalau yang dengan isian harganya nggak akan jauh jauh dari 12 ribu-15 ribu an. Madiun emang top banget soal pepecelan.

Jpeg

Madiun, kota pecel paling endezz

Akhirnya saya berjalan kembali ke stasiun dan menunggu kereta Pasundan datang mengangkut saya ke Surabaya. Well.. kenapa saya bisa ke Surabaya? Ada di postingan selanjutnya.