Perjalanan Menuju Hidup Sehat

Sudah sebulan saya mengalami perubahan. Well.. Nggak perubahan yang gimana gimana sih. Hanya saja entah mengapa semenjak tinggal di Bandung saya sering sakit. Bukan sakit yang sampe masuk RS. Cuma demam demam drop biasa. Tapi sumpah, its annoying. Sebulan lalu saya bahkan hampir pingsan gara gara lemes banget. Hari minggu ceria yang saya rencanakan bisa jingkrak jingrak nonton Sheila on Seven di Ancol, batal demi panasnya tubuh saya yang fluktuatif. Badan saya lemez total, kepala pening setengah mati, rasanya putar putar dan saya enggak doyan makan. Liat atau ngerasa bau makanan, kayak nggak ada nyawanya. Saya muntah dua kali dalam semalam. Bahkan malam berikutnya pun masih muntah. Nggak tanggung tanggung, sampe yang saya muntahin adalah cairan pahit. Perut saya sampe kosong sodara sodara. Hiks. Lingkaran di bawah kelopak mata jadi hitam nan cekung. Kalau mbak mbak kesehatan sih bilang kalau saya dehidrasi. Dan seketika dropnya tubuh saya menghilangkan plan saya selama weekend itu. Bahkan saya harus say bay terhadap ajakan Luqman dan Hida untuk nonton Payung Teduh di Ciwalk. Huwaaaaa..

Gegara sakit entah apa itu, saya sok sokan jadi dokter buat diri saya. Pasti ini gara gara unhealthy lyf selama bertahun tahun. Makan sembarangan, sambal kebanyakan, saos saosan, micin, minuman berkarbonasi dan aneka rupa makanan artifisial yang nggak banget buat tubuh. Selain itu saya udah jarang banget olahraga ditambah saya yang duduk mulu. Bikin bobot saya juga naik (well pembelaan yang sedikit meringankan adalah saya habis operasi geraham kemarin jadi butuh nutrisi lebih. Wkwkwk). Sungguh tidaa sehat sekalee.

Dan seketika saya mulai memantapkan diri untuk mengubah pola hidup. Yah.. Nggak bisa langsung kontan sih. Selaw bet sure aja. Yang saya lakukan pertama kali adalah mulai puasa lagi :D. Salah satu fungsi puasa adalah rehat untuk pencernaan. Maka saya pun memberikan hak pada perut saya sejenak dua kali dalam seminggu istirahat.

Kedua, mulai olahraga lagi. Kalau dulu sebulan sekali, sekarang saya mencoba (istiqomah) seminggu sekali. Jogging kek, streching kek. Pokoknya gerakkk!.

Ketiga mengatur pola makan. Saya mulai mengurangi cabai (saya termasuk mahluk yang freak sama cabai), mulai mengurangi makanan yang terlalu asam, mulai masak makanan rumahan lagi.

Cuma satu yang belum saya urusi: pola tidur dan penggunaan gadget. Saya tidur masih sembarangan jamnya. Sengantuknya. Dan seringkali jam 1 malam saya belum tidur. Esoknya mata berat banget dan badan pegel. Kapok? iya. Pagi itu aja. Dan malamnya tetep diulangi. Selain itu, yang sebenarnya membahayakan adalah penggunaan gadget. Bayangkan, yang bikin lama tidur sebenarnya hapean browsing ini itu dan chattingan di dalam gelapnya kamar. Kebayang dong gimana letihnya mata. Bisa bisa saya minus bahkan silindris. Duh.. ini nih yang harus saya kendalikan.

Yah.. namanya usaha. Enggak tahu kapan bisa mulai konstan. Tapi yang penting mulai berusaha. Dari sekarang! 😀

Advertisements

Setun a.k.a Stone Garden

Dalam suasana kemerdekaan, saya memilih untuk merayakannya bersama Santika dengan mengunjungi Stone Garden nun di ujung barat Bandung. Btw letaknya sih bukan lagi di Bandung tapi di Padalarang. Hehe. Uniknya, sefasih fasihnya turis melafalkan “Stone Garden” bak gaya bicara Cinta Laura, orang sana taunya juga Setun. Wakakak. Malah menurut saya, sebutan kearifan lokal warga sini yang menyebut ‘Setun’ lebih enak di kuping. Baiklah, mulai disini, kita akan menggunakan term Setun ya.

Perjalanan dimulai dengan membeli tiket ka lokal sebesar nol rupiah (horeeee dapat promo kereta. Kalau biasanya sih tiketnya seharga empat sampai lima ribu rupiah) dan menanti kereta lokal di stasiun Bandung di peron selatan. Tak lama kami menunggu, kereta berangkat pada pukul 08.45 setelah sebelumnya melakukan pengisian bahan bakar. Pukul 09.15 kereta sampailah di perhentian, Stasiun Padalarang. Oleh karena kami belum sarapan (karena terburu buru mau upacara hari 17 an), kami membeli lauk di sekitar stasiun dan sarapan sejenak. Baru pukul 09.45 kami lanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkot berwarna kuning arah Rajamandala. Untuk menemukan angkot berwarna kuning ini mudah saja. Cukup dengan berjalan kurang lebih 75 meter barat Stasiun Padalarang, akan terlihat kerumunan angkot yang sedang ngetem menunggu antrian jalan. Tarif angkotnya sih kalau sampai di jalan raya arah Setun kira kira lima ribu rupiah. Eh, tapi saya pernah beruntung mendapatkan angkot yang mau mengantar sampai ke Setun dengan membayar sepuluh ribu rupiah saja. Lumayan tuh nggak perlu jalan ngos ngosan sampai Setun.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam (karena saat itu nggak macet), kami sampailah ke Stone Garden. Nggak sampai tepat di area wisatanya sih. Di tepi jalan masuk arah Setun maksudnya. Hehe. Untuk bisa sampai ke Setun, kita harus jalan kurang lebih 1,5 kilometer. Lumayan, pemanasan sist. Haha. Oh ya, tiket masuk Setun kurang lebih lima ribu rupiah ditambah kalau (bawa kendaraan) ya parkir buat mobilnya juga nambah.

Well.. untuk gadis gadis di luar sana yang ingin tampil chic dengan outfit yang keren, jangan sampai salah alas kaki ya. Sungguh direkomendasikan untuk pakai alas kaki yang tahan batu dan dan debu. Kan sayang, flatshoes cantik cantik jebol di tengah jalan karena nggak kuat diseret pemiliknya melintasi jalan yang berbatu. Haha. Oh ya, jangan lupa kacamata hitam. Seriously, disini panas dan agak silau sih menurut saya. Nggak banyak tempat teduh (karena yang mengunjungi tempat ini juga banyak makanya tempat neduhnya jadi berkurang karena udah dipakai sama mereka).

Setun adalah gugusan bebatuan yang menjulang bak bukit di Padalarang. Di hamparan bebatuan ini kita bisa berwisata sekaligus belajar bahwa bumi itu bulat (sorry to the flat earthers). Kalau bumi datar, saya nggak kebayang nih gimana ada jaman glasial dan interglasial (bahasa gampangnya: jaman es dan antar es) yang menyebabkan adanya pergerakan bumi yang bikin daratan yang tadinya jadi rumahnya spengebob dan patrick jadi naik ke atas dan membentuk Gunung Kidul atau Gugusan Setun. Coba kalau bumi itu datar, kalau ada jaman es, terus suatu saat di jutaan tahun lalu esnya cair, tumpah ke angkasa dong. Duhhh deeek. Logika goblok ala saya sih. Jangan dipikirin kalau emang nggak setuju.

Well, lupakan soal teori bumi datar atau cekung cembung atau apalah. Bodo amat. Yang jadi muhasabah saya di Setun adalah, gimana dahsyatnya kekuatan Tuhan saat itu menciptakan es, mencairkannya, menenggelamkan yang muncul dan memunculkan yang tenggelam. Seorang Batman yang punya duit tumpeh tumpeh, bikin alat yang bisa menggeser bumi pun nggak akan sanggup buat melakukan hal tersebut. Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

Area Stone cukup bikin capek lho, btw. Haha. Jadi siapkan air minum yang buanyak juga cemilan. Tapi kalau nggak sempat bawa, tinggal turun ke area masuk tadi dimana berjajar penduduk setempat yang menjajakan kelapa muda beserta jajanan penggugah selera yang bisa dinikmati sambil lesehan. Yah, meskipun nggak bisa sekaligus nonton hamparan Setun. Saya pikir konsep ini bagus juga. Nggak bisa kebayang kalau warung2 didirikan di area Setun. Pertama, ngurangin area terbuka Setun. Kedua sampah!. Bayangin aja, sampah yang dihasilkan sama pengunjung yang minum kelapa dan buang sampah ciki, digeletakin sembarangan di area bebatuan. Kan jorok. Dan meletakkan area dagang di sebelah pintu masuk Setun adalah keputusan tepat.

Rupanya tidak hanya bebatuan saja yang menghuni Setun. Monyet monyet pun juga. Saya punya pengalaman yang nggak menyenangkan dengan monyet Setun. Mereka nakal banget dengan menyergap cepatnya mereka menyambar apa yang ada di tangan saya sampe saya teriak teriak diliatin orang. Mana waktu itu lagi agak rame. Duhhh dek. Malu nian. Haha. Untung ada ibu ibu setempat yang lagi beberes sampah dan rerumputan menyelamatkan saya. Huaaaaaa. Dan untungnya ketika saya dan Santika mengunjungi Setun kemarin tidak terjadi insiden perampokan oleh monyet monyet tidak tahu diuntung itu. Mungkin mereka lagi upacara bendera agustusan juga. Haha.

Dan.. perjalanan diakhiri dengan sholat ashar di dekat pintu masuk. Kami pun segera turun ke jalan raya untuk mencari angkot Rajamandala yang kembali ke Stasiun Padalarang. Sayang sih nggak mengunjungi Goa Pawon. Tapi kesorean sih. Haha. Well.. next saya akan ceritakan soal destinasi yang masih sepaket sama Goa Pawon. Selamat Hari Merdeka. Merdekaaa!!!

Siapa Bilang Odontektomi Sakit?

  1. Nun jauh sebelumnya (dua tahun lalu)

Ini adalah pengalaman pertama saya bedah. Yes.. operasi. Bukan jenis operasi besar sih, tapi cukup bikin deg degan karena saya takut dengan jarum suntik. Haha.

Well.. cerita dimulai sejak dua tahun lalu ketika saya mulai dengan rajin mendatangi dokter gigi akibat gigi saya bolong. Alasan awal kenapa saya tetiba rajin ke dokter gigi yakni, di suatu siang yang syahdu ada dua mbak mbak dari FKG (Fakultas Kedokteran Gigi) sebuah universitas tua mendatangi saya yang sedang leyeh leyeh menikmati sepoi angin siang siang di bangku hitam. Dia melihat gigi saya dan menawari untuk menambal gigi geraham saya yang terlihat oke padahal berpotensi bolong. Maka, saya pun mengiyakan tawaran mbak itu dan datang keesokan harinya ke FKG. Kedatangan saya ke FKG ternyata membuka permasalahan baru yakni: gigi saya impaksi!. Impaksi adalah gigi geraham belakang yang tumbuh tidak normal (dan sebagian besar akan menimbulkan masalah di kemudian hari). Geraham belakang miring dan harus dioperasi. Udah berasa ada petir nyamber nyamber di kepala saya, gaes. Haha.

Tapi karena dasarnya saya takut dengan prosedur operasi, saya tidak juga segera melakukan operasi. Sampai akhirnya beberapa minggu kemudian, tambalan mbaknya ini nggak beres dan saya harus ke sebuah klinik untuk mengurus gigi saya. Dan yu know.. yang saya nggak suka adalah si mbak koas yang dulu menawarkan prakteknya pada saya tidak mengecek mengontrol ataupun memberikan pertanggungjawaban soal bagaimana bagaimananya gigi saya waktu itu. Terima bongkar pasang tapi nggak terima kontrol. Duh.. sedih bangeeet kan. Doa saya semoga mbak yang menjadikan saya percobaan waktu itu bisa menjadi dokter gigi yang handal. Lhah.. temen saya, si Nower lebih parah lagi mbak koassnya. Belum juga dioperasi, mbaknya terlalu jujur “Mas, biasanya habis operasi nyeri hebat”. Wakakakak. Dokter macam apa itu, bukannya nenangin malah bikin nambah panik. Si Nower cuma bisa deg degan keringat dingin waktu itu dan kami yang mendengar ceritanya ngakak nggak berhenti henti. Yah.. semoga mbaknya FKG ini nggak ada bakat bikin orang mati berdiri sebelum dioperasi.

Dengan dokter yang merawat saya di klinik beliau menyarankan saya untuk melakukan pengangkatan gigi geraham belakang saya yang impaksi. Maka saya datang beberapa hari kemudian dengan membawa sebuah rontgen gigi geraham belakang saya yang miringnya emang parah banget. Setelah dengar penjelasan dari gambarnya, saya tambah parno waktu denger second opinion kalau gigi saya emang wajib ain tak bisa ditawar harus banget dibedah dan nggak ada cara lain untuk menyembuhkan selain operasi. Resiko jika gigi belakang saya tidak diambil, di usia tiga puluhan ke atas, saya akan mengalami migrain parah. Belum lagi ada masalah pada syaraf di kepala dan tengkuk serta leher. Dan masalah tidak berhenti disana saja. kalau ada bakteri jahat, salah salah dia akan nemplok ke saluran gigi dan turun.. turun.. turun terus menuju jantung. Taraaa.. saya bisa mati akibat bakteri yang nyasar ke jantung atau paru-paru. Hiiiii.. horrroorrr.

Apakah setelah mendengar cerita horror tapi nyata dari dokter gigi betulan di klinik tersebut saya jadi memiliki keberanian untuk operasi? Tidak sodara sodara. Tidak samasekali. Bahkan saya menyepelekan. Hehe. Ah.. masalahnya cuma urusan sisa makanan nyelip doang kan ya. Ah pake sikat gigi yang lembut juga pasti ilang. Kumur kumur juga selesai. Nggak bakal sakit deh. Dan bla bla bla

Sampai suatu ketika, saya merasakan nyeri yang teramat sangat di bagian geraham belakang. Satu hari sebelum saya dan Hida melakukan perjalanan ke Purwokerto untuk menengok Kasubret Stasiun Pekalongan, Arif Firmansyah, saya mulai sakit gigi. Dan siksaan terberat adalah ketika saya bangun pagi, nggak mandi dan langsung mengejar kereta Ciremai dari Stasiun Bandung menuju Pekalongan. Meskipun saya sudah minum obat pereda nyeri, syaraf gigi saya tetap tak mau diam. Satu satunya pereda nyeri justru ketika saya ngemut air putih (minum air putih dan menahan selama beberapa detik di mulut), baru syarafnya mau tenang. Tapi habis itu, saya tetap harus menelan air putih. Dan seketika air masuk ke kerongkongan, si saraf gigi mulai bergoyang lagi. Duhhhh sakitnya..

Jadi, lagu Megy Z yang sakit gigi lebih baik daripada sakit hati itu benar benar dusta sodara sodara!. Mana ada sakit gigi nggak sakit. Duhhhh sumpah siksaan. Makan nggak enak, tidur nggak nyenyak, bawaannya senggol bacok. Seringkali saya terbangun di tengah malam karena kesakitan. Iyuhhhhhh mendingan sakit hati akibat omongan orang (bukan sakit liver lho), cuma di perasaan tapi makan masih enak tidur masih nyenyak. Dan seketika saya mengatakan pada diri saya untuk say yes ke dokter bedah mulut. Pertahanan saya runtuh seketika. Tapi yang ajaib justru ketika selama perjalanan ke Pekalongan, saya buka buka pengalaman odontektomi, sakit di gigi saya ilang. Nah lho.. syaraf saya mulai anteng. Lega kalik ada kepastian mau dicabut. 😀

  1. Pra Odontektomi

Sepulangnya dari Pekalongan, saya mendatangi klinik Mediska yang di depan Mayasari dekat Stasiun Bandung. Saya memang sudah menegakkan niat untuk menandatangani surat tindakan odontektomi. Bagi yang belum tahu apa itu odontektomi, odontektomi ialah prosedur pengambilan gigi geraham belakang yang bermasalah. Well.. fyi, sampai saya masuk ke ruangan drg. Maya, saya masih berharap ada cara lain untuk menghilangkan rasa nyeri di gigi saya tanpa harus melakukan tindakan operasi. Oleh drg. Maya, ujung ujungnya yang dibahas adalah operasi gigi belakang lagi, gigi belakang lagi. Dan tidak ada cara lain agar saya bisa sembuh kecuali lewat operasi, sodara sodara. Haha. *dalam hati nyeseg banget sebenarnya. Kemudian seperti yang sudah diskenariokan oleh Sang Pencipta, saya mengiyakan untuk dirujuk ke RS. Pindad.

Well.. kenapa harus RS. Pindad Bandung? Saya tidak punya alasan lain. Haha. Satu satunya alasan adalah drg. Maya yang merujukkan saya kesana dan disanalah tempat yang menerima BPJS. Jadi, saya tidak akan berlagak sok sokan punya uang banyak hanya untuk memaksa pergi ke rumah sakit atau klinik mahal. Saya mah sadar diri nggak punya duit dan emang membutuhkan BPJS untuk mengkover pengeluaran operasi odontektomi saya yang disinyalir bisa habis lebih dari 4 juta untuk operasi bius total. Buat saya hayuk we mah, mau dimanapun asal ditangani oleh ahlinya biar saya cepet sembuh.

Sebelum saya bertemu dengan dokter bedah gigi saya di Pindad, saya melakukan rontgen panoramic, itutuh ngambil foto x-ray gigi. Berapa pengeluaran saya? entah. Saya tidak tahu karena sudah ditanggung oleh Perusahaan. *asiiiiiq.

Di hari selanjutnya, saya cek jadwal praktek dokter bedah mulut dan menemukan bahwa ada dokter gigi yang buka praktik pada hari rabu sore jam 4 (karena saya harus kerja dulu paginya) Maka dengan berbekal kopian KK, KTP, BPJS, foto rontgen gigi dan surat rujukan dokter Maya untuk pendaftaran operasi, saya siap menghadapi tantangan di depan *halah. Yu know.. udah datang jam 2 siang, ternyata saya urutan nomer 16 sodara sodara.

Setelah menunggu agak lama, karena antrinya juga lama, saya pun masuk ke ruang pemeriksaan. Oleh dr. Sulaeman saya diedukasi secara singkat padat dan jelas mengenai keadaan gigi saya yang wajib ain untuk diambil empat empatnya. *ingat put, wajib ain tanpa pengecualian. Dengan kondisi dua geraham molar miring dan dua normal. Dua atas harus tetap diambil karena ruang gerak untuk geraham atas sangat sempit. Toh lagipula kalau molar bawah diambil, kasihan banget pasangannya. Dia tidak lagi bisa menumpu karena geraham molar bawah dicabut mengakibatkan dia akan turun. Nah lho.. operasi lagi.. tadinya saya ditawarkan untuk operasi satu persatu (dua tahun lalu ketika masih di Yogya), tapi kali ini saya dengan amat sangat membesarkan hati, saya memilih untuk operasi bius total. Huwaaaaaa… betapa deg degannya saya bahkan sebelum saya operasi. Saya pun pulang dengan tidak percaya bahwa saya barusan menandatangani dokumen persetujuan operasi. *duh.. mabok apa sih saya.

Dan.. persiapan saya sebelum operasi yang dijalankan selasa depan antara lain: minum air putih yang banyak, kurangi stress dan main kesana kemari. Tawaran dolan kesana kemari, nongkrong sana sini saya iyakan karena saya tahu seminggu ke depan saya nggak akan bisa seenaknya santai santai ria macam sebelum saya operasi. Haha.

Satu hari sebelum operasi, saya mengambil foto rontgen paru paru yang akan digunakan sebagai referensi dokter sebelum menganestesi saya. Sakit? enggak tuh. Orang cuma buka baju, badan tegak nempel ke alat foto, tarik nafas, hembuskan terus udah deh. Foto jadi kurang lebih 30 menit kemudian.

Delapan jam sebelum saya operasi, saya melakukan pengambilan darah di lab. Darah saya di siku kiri kira kira satu ampul kecil suntikan. Kemudian saya disuruh membuka kerudung karena akan diambil sample darah di telinga bagian kiri. Saya sih nggak begitu paham kenapa darah di telinga kiri juga diambil. Mungkin karena dekat dengan geraham saya kalik ya.

  • Odontektomi

Fyi, bahkan sebelum saya odontektomi yang dijadwalkan akan dilaksanakan pada malam rabu, 18 Juli 2017, saya masih kerja sepagian lho. Nggak papa kok masih beraktifitas. Tapi saran saya, kurangi porsi aktifitasnya. Boleh, tapi jangan terlalu keras untuk persiapan fisik dan mental pra operasi.

Pukul 5 sore saya sampai di RS Pindad dan melakukan pendaftaran ulang pra operasi. Dan saya pun diantar ke ruang pra medikasi. Dan tara… sudah banyak orang berbaju hijau hijau bertudung biru muda mengobrol di ruang tersebut. Mereka adalah pasien yang juga dalam proses odontektomi. Saya memilih untuk menunggu di luar saja sembari menunggu solat magrib dan isya yang saya jama’.

Pukul 18.30 saya masuk ruangan dan tinggal beberapa orang lagi selain saya yang belum masuk ke ruang bedah. Setiap setengah jam, pak dokter datang dan memilih pasiennya (ternyata ada audisinya. Haha. Audisi ini dimaksudkan untuk memilih pasien dengan tingkat kesulitan terendah yang akan didahulukan. Untuk menghemat waktu dan tenaga ya.). Saya yang saya pikir akan dapat giliran terakhir karena saya masuk paling terakhir, ternyata saya dapat nomer tiga dari terakhir. Haha. Alhamdulilah.

Deg degan masih menghantui setiap langkah saya masuk ke ruangan yang agak luas dengan peralatan di sana sini dan sebuah dipan sempit bermandikan cahaya dari lampu bundar di atasnya. Monitor jantung terletak tegak di sebelah dipan tersebut. Dan.. tensi saya tetiba naik di angka 167 persis sebelum saya terlelap akibat perawat menyuntikkan obat bius di jarum infus tangan kiri saya. saya yang sempat lihat tensi saya segera menarik nafas dan alhamdulilah tensi saya turun ke 140 dan mungkin terus turun.. dan saya pun.. tepar.

  1. Pasca odontektomi

Saya bangun pada pukul 20.09, kurang lebih setengah jam setelah saya masuk ruang bedah pada pukul 19.32. Saya seketika shock dan kebingungan karena lampu operasi yang benderang itu telah sirna. Saya terbangun karena mulut saya penuh dengan tampon kapas dan air liur bercampur darah yang mengumpul di kerongkongan bikin saya tersedak. Terbatuk batuk sampe perawatnya ngeliatin saya. Sakit? Enggak sih. Kayaknya karena masih ada pengaruh obat bius. Sakit sih enggak. Tapi sewot karena dingin. Haha. Saya kezel karena saya nggak diselimutin. Itu ruang pasca medikasi dinginnya naudzubillah (atau saya yang emang lagi kedinginan?) haha. Fyi, pasca operasi saya bisa ngomong dengan lancar kok. Bahkan saya panggil perawat dan minta diselimutin. dr. Sulaeman yang kebetulan mampir ke ruangan itu dan menanyakan pasiennya satu persatu bertanya kepada saya: gimana, udah baikan?. Ya saya jawab lah: udah dok. Saya kedinginan. Haha.

Setengah jam di ruang pasca medikasi, saya dipindahkan ke ruang perawatan bersama beberapa pasien lainnya. Saya ambil ponsel dan telepon bulik saya yang sedang koas dan juga beberapa orang lain yang bisa saya ajak kontakan. Saya telepon bisa setengah jam lho. Hehe. Sekitar pukul 9 malam, saya baru bisa minum air dan makan es krim (setelah kentut dan dinyatakan boleh makan oleh perawat). Tak berselang lama, perawat menyuntikkan obat tester alergi ke kulit lengan bawah tangan sya. Wiiii rasanya.. senggol bacok bener sakitnya saking kecilnya jarum suntik. Dan entah karena efek obat apa gimana saya baru tidur pukul 12 malam.

Paginya, saya dikasih minum energen. Satu jam kemudian saya udah dikasih makan nasi dengan lauk daging tim dan sayur buncis. Wah.. perjuangan banget deh waktu makan seporsi nasi itu. huwaaaaa.. makannya harus pelan dan meyakinkan. Meyakinkan diri biar nggak kena luka. Haha. Btw, kenapa bisa lama banget makannya? Kalau saya makan lama karena disambi ngobrol sana sini, ini lama karena susah banget buka mulut. Geraham rasanya berat banget dan nyeri. Hehe. Tapi jangan bayangin sakit banget. Nggak sakit sih karena pengaruh obat masih ada, tapi bengkaknya itu lho yang bikin nggak bisa mangap. Oh ya, jangan lupa obatnya yang seabrek banyaknya itu diminum teratur.

Siang pukul 9, saya udah keluar dari ruang rawat, ngurus administrasi ini itu dan cao pesen grab buat pulang. Dan kemudian saya masih sempet berkereta lokal menuju Stasiun Bandung. Sampe kosan, saya nyuci baju seember, mandi dan kemudian teparr. Seriously nggak akan kenapa napa kok habis di odon.

Pasca Odontektomi

Bagaimana saya makan? Nggak ada perubahan pra maupun pasca odon. Makannya tetep nasi, cuma makannya lebih pelan dan nggak bisa panas, keras maupun pedas. Dan seketika buat saya, itu siksaan. Haha.  Cuma karena termotivasi biar luka saya cepet sembuh, saya banyak banyak makan. Bisa? sangat bisa. Tapi ya banget gitu. Harus hati hati. Dan bobot saya naik bangettttt. Haha. Yaudahlah, gendut biar, yang penting sehat. wkwkwkw.

Obat yang dikasih dokter sangat harus dihabiskan tanpa boleh terlewat sedikitpun. Btw saya pernah sekali kelewatan obat akibat obat saya ketinggalan di kosan Mba Nanda ketika saya berkunjung ke Jogja. Ampun dah. Tepok jidat. Habis itu besoknya ketika obat kiriman saya datang, saya berjanji dalam hati untuk tetap setia meminum obat itu hingga titik darah penghabisan karena saya nggak mau balik lagi ke ruang bedah *lap ingus.

Btw apakah saya lancar lancar saja paska operasi? Tidak sodara sodara. Di Rabu siang satu minggu setelah operasi yang dilaksanakan pada tanggal 18 Juli 2017 lalu, dimana mulut saya udah bisa mangap dengan merdekanya meski masih bengkak, saya panik karena pipi kiri bagian dalam saya terbuka!. Maksud saya jahitan saya yang terbuka. Hehe. Seketika itu saya pulang ke kosan, ambil semua berkas kemudian berlari menuju klinik Mediska Stasiun Timur Bandung. Dan kebetulan ibu dokter giginya sedang diklat, maka saya ditangani oleh perawat gigi. Beliau bilang bahwa jahitan saya kebuka dan kemungkinan besar harus melakukan pendarahan ulang. Apaaaah? Pendarahan ulang??? seketika saya lemes. Ya keles saya harus disuntik lagi terus dijahit lagi. Tidaaaaaaaak. Saya pun datang lagi minggu depan sesuai saran Pak Perawat.

Seninnya saya datang lagi, kali ini lengkap dengan ibu dokter. Saya pun lalu dicek kondisinya dan oleh bu drg. Maya, saya dirujuk ulang ke dokter bedah saya lagi. Dan prosedur bolak balik ke RS Pindad Bandung pun dimulai kembali.

Datang ke Pindad awal waktu sambil menyerahkan fc KK, KTP, surat rujukan dari klinik kemudian menunggu verifikasi data. Setelah itu, saya (lagi lagi) urutan ke enambelas. Setelah menunggu hingga pukul 15.45 (karena praktek dimulai pukul 15.00), akhirnya giliran saya dipanggil juga. Apa kata dokter Sulaeman? “Ah, tunggu aja dua bulan mba, nanti nutup sendiri”. Dan seketika rasanya saya mau teriak horeeeeeee *bahagianya saya nggak jadi operasi ulang. Huaaaa… alhamdulilah.

Get Lost in Surabaya

Saya sudah janji untuk menceritakan penglaman saya nggembel di surabaya. And.. this is it.

Di hari saya dengan bodohnya kelewatan stasiun pemberhentian saya yang seharusnya di Puwosari menjadi bablas sampai Madiun, saya mengontak salah satu sahabat saya, Santikul. Dia berencana untuk mengunjungi surabaya, rumah Mba Tari, sahabat kami yang berasal dari kota berikon hiu dan buaya berkelahi. Maka, saya dengan sedikit pikir panjang, memutuskan untuk mengiyakan tawaran tersebut. Saya kontak mba tari dan taraaa.. akhirnya saya tergopoh gopoh dikerjar waktu untuk segera sampai ke stasiun madiun.

Di kereta pasundan yang berhenti di stasiun madiun, saya bertemu dengan sahabat saya santikul dan mba tari serta ibunya. Perjalanan tiga jam terasa begitu panjang. Pukul 21.30 kami meninggalkan stasiun gubeng, menumpang taksi sampai ke rumah mba tari yang berjarak kuranglebih 30 menit di dekat jembatan suramadu. Sebelum kami sampai, kami sengaja untuk mampir ke samping jembatan suramadu. Jembatanyang mirip mirip sama jembatan kalifornia di amrik sono. Sayangnya penerangan yang warna warni sedang tidak dinyalakan. Tapi kami cukup puas setidaknya sempat melihat suramadu. Haha.

Maka, kami pun pulang karena capek luar biasa dan ngantuk yang tiada terkira. Tapi alih alih bisa tidur, saya sulit memejamkan mata. Bagaimana bisa saya tidur di tempat yang panasnya luar biasa., di jogja saya bisa saja tidur tak berselimut bahkan pakai kaos tipis atau kaos dalam lah. Tapi di surabaya.. waaaaaaaa…. keringat saya bercucuran banyaknya. Puanasss. Bukan cuma urusan letak kotanya yang di pesisir. Tapi tentang surabaya yang sudah dipenuhi dengan tembok tembok tinggi industri yang juga ikut menyumbangkan suhu udara satu hingga dua derajat banyaknya. Cuaca terbaik di surabaya saya rasa hanya ketika pagi hari. Haha. Cuaca hangat dan segar.

Hari kedua saya tiba di subaray diisi dengan rencana berputar putar keliling kota. Setelah galau mau kemana saking banyaknya destinasi kece yang bisa didatangi, kami memutuskan untuk menuju jembatan merah sebagai destinasi pertama. Dengan menggunakan becak (ini pertama kalinya saya pakai becak setelah saya mutung gara gara ditipu sama tukang becak stasiun purwosari). Bentor, becak yang tak lagi sederhana, membawa kami menyusuri arus ramai kendaraan jalanan surabaya. Melewati pertokoan, makam wage rudolf, kampung pecinan dan kurang lebih 15 menit kemudian sampailah kami di jembatan merah. Sensasinya? Luarrr biasaaa. Becak yang sekecil itu ditumpangi oleh tiga orang yang badannya nggak lagi mini mini. Dan.. sumpah deg degan buk.. berasa kayak mau jatuh jatuh apalagi dengan kendaraan yang jauh dari standar aman serta nyaman. Jelas senam jantung sepanjang jalan. Tapi saya senang. Betul betul sebuah pengalaman luar biasa menyusuri surabaya dengan becak yang waw emejing bikin panik. Becak memang raja jalanan di surabaya.

Jembatan Merah, seperti namanya yang diabadikan dalam sebuah lagu perjuangan berjudul sama, masih berdiri kokoh diantara arus muara sungai bengawan solo yang serupa susu coklat tenang tapi menghanyutkan. Kami pun menyusuri gedung gedung peninggalan kolonial di kanan kiri daerah Jembatan Merah. Yang paling menarik untuk saya adalah bangunan di sebuah jalan, yang kondisinya sudah tidak terurus dengan tembok boncel sana sini, kaca pecah, kayu lapuk, sulur sulur tanaman terjuntai kemana mana. Benar benar mengingatkan saya pada filem filem Tim Burton yang bernuansa gothik. Ini adalah penjara yang sering saya baca pada artikel artikel sejarah perjuangan Indonesia pada jaman Belanda dan Jepang. Penjara ini adalah saksi bisu pada masa jaman penjajahan. Yang unik adalah di samping penjara ada bangunan yang difungsikan sebagai gudang retail barang kebutuhan sehari hari seperti sabun, pasta gigi dan sikat gigi. Nggak kebayang jika saya adalah pemilik atau pegawai yang harus mengontrol kondisi gudang. Saya pasti nggak berani sendirian dan nggak akan berani kerja selepas ashar. Horror.

Lepas Penjara Kalisosok, kami pun mengunjungi House of Sampoerna. Bangunan ini adalah bagian dari CSR perusahaan rokok yang pernah jaya dan pernah menjadi milik putra Indonesia sebelum sahamnya dilepas untuk Philip Morris yang orang bule itu. Guide dari House Sampoerna menjelaskan sejarah awal pendirian pabrik rokok yang pernah jaya di masanya. Berawal dari suami istri keturunan tionghoa, beliau yang pada awalnya berjualan barang sehari hari seperti beras, gula, dan aneka kebutuhan dapur di warung kecil di jaman kolonial. Pada akhirnya banting setir pada bisnis tembakau dan rokok kretek. Dengan perjuangan jatuh bangunnya, ia bisa mewariskan keahliannya pada anak cucu dan jadilah perusahaan sebesar itu masih jaya bahkan hingga sekarang. Ya, meskipun sudah bukan lagi kepemilikan orang Indonesia. Hal yang bisa dijadikan pelajaran adalah ketekunan memang segalanya. Bakat tidak akan menentukan apa apa kecuali benar benar dikelola dengan ketekunan dan kerja keras. Kita bisa saja tidak cerdas. Tapi kalau tekun, lain soal.

Sayang seribu sayang, kami bertiga tidak bisa naik ke bis tur surabaya akibat kehabisan tiket. *sedih*.

Usai sembahyang dhuhur, kami melanjutkan perjalanan menuju Jembatan Merah (lagi). Yang asik adalah, lagi lagi kami berwisata arsitektural. Bangunan bangunan yang usianya ratusan tahun *yang horrornya banget*, berdiri di sepanjang bantaran kali Bengawan Solo. Meskipun hanya bisa dinikmati dengan visual, tapi benar benar sebuah perjalanan yang luar biasa yang mengingatkan kita bahwa nenek moyang pernah berjuang untuk kemerdekaan ini. Bangunan bangunan ini jadi saksi ada ribuan orang mati meninggalkan sejarah bahwa negeri ini pernah dikoyak dengan darah dan air mata. Maka, jangan sok pintar dengan mengatakan mengebom indonesia adalah sebuah jihad. Kita punya seperempat kepala dengan isi yang berbeda beda. Keragaman di tengah pulau pulau yang berserakan yang ternyata bisa dijaga dengan indahnya. Ingatlah bahwa kita tidak ingin memulai perang saudara seperti halnya yang terjadi di Timur Tengah sana. Jika sebuah negara sudah berkonflik maka hancur sudah peradabannya.

Kekancan

Adalah sebuah hal yang alamiah terjadi dalam hidup kita jika ada yang senang dengan kita ataupun ada yang benci dengan kita. Bahkan itu adalah anugerah. Lho? Kok bisa?. Tentu saja. Mampu berperasaan adalah ciri ciri bahwa kita manusia normal yang memiliki emosi. Emosi dalam diri manusia adalah anugerah. Coba kalau kita suka pada semua hal, berarti kita nggak normal. Kalau kita benci pada semua hal, itu juga nggak normal. Kok lebay banget yak semua muanya dibenci. Haha. Kalau cuma ada satu hal di dunia ini, nggak akan seru hidup ini. Berarti semua telah mati. Manusia mati berarti otaknya udah nggak jalan, perasaannya apalagi. Maka bersyukurlah bahwa kita masih merasakan keseimbangan.

Gimana pandangan saya soal saya disukai atau tidak disukai? saya yang emang tipikal bodo amatan ini, tidak begitu peduli apakah saya disukai atau dibenci. Saya hidup dengan lenggang kangkung. Wajar wajar saja dalam hidup sehingga tidak begitu merasa harus ambil pusing jika ada yang membenci saya. Saya teringat dengan wejangan Pak Eddy dulu “Mbak, kamu tidak bisa menyenangkan semua orang. Maka, bersiaplah untuk belajar”. Dan saya pun bersiap siap untuk belajar bahwa hidup tidak bisa dipaksakan. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang dan kita tidak bisa memenuhi keinginan tiap orang untuk memenuhi standar mereka. Setiap orang adalah unik. Dan kita memang tidak harus menyukai atau membenci orang lain. Yang wajar saja.

Pertemanan terkadang entah kenapa memang melibatkan perasaan. Percaya atau tidak, itu berlaku juga pada saya. First impression terkadang saya bisa merasakan tipikal orang yang saya temui. Gini gini saya punya bakat juga jadi asesor. Haha. Cuma kurang belajarnya aja. First impression kadang membawa kita untuk merasakan apakah kita nyaman dengan orang yang kita temui atau tidak. Apakah kita akan yakin untuk berteman terus dengan mereka. Secara alamiah semua orang bisa mengenali siapa yang bisa jadi kawan atau lawan. Ya, walaupun tentu tidak seratus persen benar. Terkadang fakta bisa mengubah first impression tersebut. Sebagai contoh. Ada orang kalem yang kita temui di awal ternyata cuwawakan luar biasa ketika sudah lama mengenal. Ada orang yang nampak menyebalkan di awal tapi ternyata dia sangat baik hati. Maka solusinya, tetaplah berteman dengan wajar. Jangan terlalu bawa bawa perasaan alias suudhon berlebihan. Dan berilah jarak pada pertemanan agar kita tidak saling terluka. Mobil yang terlalu dekat bisa jadi akan bersenggolan. Tapi mobil yang terlalu jauh pun tidak baik. Seiring berjalannya waktu, maka kita bisa menentukan mana yang bisa jadi kawan mana yang bisa jadi lawan.

Tingkatan tertinggi dalam sebuah pertemanan adalah ketika kita bisa saling memberi manfaat dalam kebaikan dengan hati tulus. Semakin banyak dan semakin luas kita berteman maka kita akan sampai pada fase tak harus memiliki. Ingat ketika kita masih SD dan kita tidak suka ketika sahabat sebangku main dengan teman lain? Ya itulah pertemanan ala SD. Rasa memiliki yang masih besar dan ada kalanya kita tidak bisa berbagi. Pertemanan di SMP, kita mulai mengenal lingkaran yang lebih besar dengan permasalahan yang mulai kompleks. Pertemanan di SMA, kita diuji dengan banyak nilai dan norma yang apakah kita akan pertahankan atas nama persahabatan atau dilanggar atas nama persahabatan juga. Pertemanan ala kuliah, sudah tidak bisa mengenal lingkaran tetap karena dinamisnya kehidupan perkuliahan. Persahabatan tingkatan dewasa adalah ketika kita bisa memandang semua masalah dalam bingkai keseloan dan tahu mana menyelesaikan masalah dengan elegan. Dan siap untuk tersakiti. Jika dulu marah karena teman ‘direbut’ orang lain, maka sekarang tidak lagi karena sejatinya aku senang jika temanku lainnya mengenal temanku lainnya dan aku pun mengenal teman teman mereka juga. Karena disanalah aku bisa merasakan bagaimana bahagianya jika semua bisa berteman dengan baik. Silatuhami bro. Tapi, jika kamu masih bawa bawa perasaan, berarti dolanmu kurang adoh, jiwamu butuh asupan makanan jiwa yang bergizi.

Kita adalah mahluk hidup. Kita bernapas. kita memiliki otak yang hidup dan aktif. Kita memiliki jantung yang berdenyut. Kita merasakan sakit. Kita merasakan lapar. Kita merasakan sedih. Kita merasakan bahagia. Kita makan. Kita berlari. Kita berpikir. Kita tumbuh. Dan tak ada satupun dari kita yang abadi.

Kita adalah mahluk Tuhan bernama manusia. Tak hanya diberikan panca indera yang terhubung secara fisik untuk berhubungan dengan Sang Pencipta dan alam semesta. Kita juga dianugerahi dengan hati dan pikiran.

Mengapa ada cinta dan benci? Karena itu adalah konsekuensi keseimbangan di muka bumi ini. Manusia tak bisa terus menerus merasakan cinta dan kiita tak bisa selamanya hidup dalam kubangan kebencian. Karena Tuhan sudah mengatur dunia yang sementara kita tempati ini berdasarkan teori keseimbangan. Ada dua hal bertolak belakang yang akan selalu dan terus menyertai hidup manusi dari mereka lahir hingga kembali lagi ke haribaaNya. Lahir-mati. Cinta-benci. Suka-tidak suka. Tidak puas-lila legawa. Sedih-senang. berlari-berjalan. Dan banyak hal lain yang diciptakan Tuhan agar dunia tetap pada porosnya.

Bayangkan jika hidup kita bahagia sepanjang masa tanpa ada jeda kesedihan walau sesaat. Pasti ramai orang akan bunuh diri karena bosan dengan hidupnya. Dan ingatlah bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan sifat pelupa dan cepat bosan. Bayangkan jika hidup kita sedih sepanjang waktu tanpa ada jeda kebahagiaan walau receh macam bahagia melihat orang lain tersenyum atau angin sepoi yang membelai kala panas datang menjerang.  Pasti ramai orang mati bunuh diri karena berputus asa menganggap Tuhan tak adil padanya. Maka kesedihan dan kebahagiaan adalah dua sisi mata uang. Tak akan pernah terpisahkan sampai kapanpun.

Soal pertemanan dan hubungan dengan manusia. Kita adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian lewat hubungan bernama pertemanan/kekeluargaan/urusan bisnis/urusan sosial. Dimana pertemanan adalah sebuah urusan yang membutuhkan skill seni tingkat tinggi untuk bertahan di dalamnya. Ada trik khusus yang secara alamiah dimiliki oleh setiap orang dalam menentukan dengan siapa mereka berteman. Sebagai contoh. Mengapa ada geng? Ya karena anak anak tersebut telah memilih lingkaran yang mereka rasa cocok untuk berteman. Mereka rasa cocok untuk mereka seriusi sebagai lingkaran acuan dalam hidup mereka. Dalam satu kelas, tidak akan pernah mungkin satu kelas itu akan pergi kemana mana bersama bak kumpulan burung merpati yang sedang terbang bersama sama. Dalam beberapa urusan kolektif seperti lomba voli atau tarik tambang atau lomba kebersihan kelas, mereka akan bekerja sama. Tapi dalam urusan sehari hari tidak akan pernah mungkin. Ketika si anak anak ke kantin, nongkrong di belakang sekolah, main ke mall, PS-an di warnet atau futsalan, tentu mereka punya lingkaran tersendiri. Paling tidak si A akan berteman dengan F, G, K. Kemudian si N adalah satu geng dengan T dan P. Si J adalah teman dari V, W, G, L, Z, M, H, dan B. Dimana mereka ini adalah teman satu kelas, terkadang bisa bekerja sama tapi terkadang bisa bentrok juga geng geng tersebut hanya karena hal sepele. Kelas bisa diartikan keluarga besar, satu RT, satu kelas ketika kita sekolah, satu kumpulan arisan dan aneka arti lingkaran pertemanan, Ya begitulah kenyataan dalam pertemanan.

Suka atau tidak suka, kita hidup dengan perasaan. Manusia diberi anugerah oleh Tuhan untuk merasakan hal hal yang bisa dirasakan tidak hanya dengan panca indera namun juga dengan hati. Kita tahu kapan merasakan sedih, senang, marah, kecewa, resah, gundah, berdebar debar, gamang dan aneka perasaan lain. Suka tidak suka juga terjadi dalam hal pertemanan. Ada kalanya kita tidak suka dengan seseorang karena alasan ini itu. Ada kalanya kita senang dengan sebuah hal karena ketidaksukaan ini itu. Jadi hiduplah dengan selaw. Lihatlah sesuatu dengan banyak perspektif, dan tetap kalem karena toh kita tidak akan bisa menyenangkan semua orang. Kembali ke hukum keseimbangan, dunia ini butuh rasa suka tidak suka biar hidup tidak oleng.

Salam kekancan.

Alun Alun Tour di Madiun

Ini pertama kalinya saya menjelajah Surabaya. Hal paling gobis –ini bahasanya Daisy, yang artinya guoblikkk ra uwis uwis, bodoh tak berkesudahan. Bagaimana tidak. Saya yang pulang dari Bandung dengan kereta Kahuripan tidak menyangka akan kelewatan arah. Sampai di Klaten, saya sempat terbangun namun tertidur kembali karena saya baru akan turun di stasiun berikutnya, Purwosari. “ah, baru sampai Klaten. Tidur lagi ah, bentar lagi bangun nyampe Purwosari”. Dan seketika saya bangun njenggirat sambil melongo ketika saya dengan kedua mata menyaksikan plang Solo Balapan terlewat di depan mata.

Oh shiiiiiitttttt. Saya menepuk jidat dengan sungguh sungguh. Menarik nafas panjang dan seketika menjatuhkan diri ke bangku yang saya duduki. Buoooodoooohhhhhhnya setengah mati. Kahuripan tidak akan berhenti sampai perhentian berikutnya yang masih jauh Setelah termenung meratapi kebodohan saya dan mulai bisa berpikir jernih, saya buka google map dan mulai mengecek rute perhentian kereta. Setelah menimbang nimbang di perhentian mana saya akan berhenti, saya memutuskan untuk lanjut ke Madiun. Kenapa Madiun? Padahal Kahuripan berhenti di beberapa stasiun setelah Solo Balapan. Saya bisa saja berhenti di Sragen, Walikukun atau Paron. Tapi masalahnya berhenti di pagi buta di stasiun kecil. Plis. What to do. Hiks. Mending langsung sekalian ke stasiun besar di Madiun sana.

Dan.. taraaaa.. sampailah saya di Madiun di hampir setengah enam pagi. Setelah sembahyang subuh, gosok gigi serta cuci muka saya yang kucel akibat tidur tidur ayam kaki pegel semalaman di kereta, saya keluar dan menunggu di lobi masuk kereta. Stasiun Madiun masih sepi orang waktu itu. Hanya ada satu dua warga yang menunggu kereta mereka. Saya pun membuka referensi tempat yang bisa dikunjungi di Madiun kemudian menghela nafas lega. Setidaknya Madiun punya alun-alun. Haha. Setahu saya Madiun emang nggak ada apa apa. Bukannya nggak ada apa apa. Tapi dengan kondisi musafir kesasar kayak saya, susah juga mau merencanakan perjalanan ke Trinil, air terjun atau monumen Kresek. Selalu ada hal indah saat susah. Bayangin. Jaman sekarang, saya nyasar tapi masih pegang hape. Masih bisa buka google, gmaps, bahkan chatting sama keluarga buat tanya referensi sana sini atau sharing betapa guobliknya saya pagi ini. Coba jaman dulu. Nyasar ya nyasar aja, nggak ada ampun. Pulang nggak akan tahu jam berapa tanpa bisa kontak ke keluarga.

Saya pun segera me list daftar kunjungan: Alun-Alun, masjid agung dan pasar. Haha. Sangat sangat normal.

Kenapa alun alun, masjid agung dan pasar?. Simpel. Tempat tempat itu masih bisa saya jangkau dengan berjalan kaki dan pusatnya masih di tengah kota. Jadi, tidak akan mengganggu mobilitas saya sekiranya saya akan bepergian menggunakan moda transportasi pulangnya. Saya tinggal memantau jalan lewat gmaps, belok sana belok sini dan.. taraaaa. Sampailah saya di Alun-Alun dengan jalanan yang seolah milik saya sendiri saking sepinya. Wakakak. Yaaa.. itung itung olahraga jiwa dan raga. Tamba mutung dan tamba kesel. Obat kezel dan obat capek.

Alun-Alun adalah simbol sejarah untuk sebuah kota, terutama kota dengan hegemoni kerajaan di Jawa ini. Madiun adalah salah satunya. Peletakan alun alun akan juga menyeret tempat tempat penting lainnya. Bahkan kalau tidak salah, di sebelah mana ada pusat pemerintahan, sebelah mana tempat ibadah, sebelah mana pasar, sebelah mana pusat keamanan. Dan alun alun di jaman dulu bisa disebut sebagai check poin bagi  sejuta umat penduduk wilayah tersebut. Orang jualan, di pinggir alun alun, raja mau ngasih pengumuman biasanya di alun alun, ada pertunjukan rakyat di alun alun, bahkan mau pacaran aja janjiannya di alun alun. *ning alun alun tak enteni. Sepira puteran tak ubengi- lagu Alun alun Nganjuk. Haha.

Alun Alun Madiun di hari Sabtu pagi menjadi titik ramai para warga yang ingin menikmati pagi segar bersama burung burung Merpati yang terbang ke tanah mematuki biji biji jagung sebaran anak anak yang ingin melihat kawanan mereka lebih dekat. Para tua dan muda asik bercengkerama setelah ngos ngosan jogging di lapangan Alun-Alun yang berpendopo kembar tersebut. Ada juga yang asik tetiduran di bangku taman dan sisanya berjualan aneka jenis makanan sarapan.

Pukul 7.30, saya berkesempatan untuk menonton pertunjukan drumband. Well.. bukan drumband sih. Tapi latihan drumband anak anak TK yang didampingi ibunya dimana para ibu tersebut bertindak sebagai cheerleader. Seru ih. Haha. Saya menonton kurang lebih satu jam. Betewe keren juga performa anak anak TK ini. Kayak nggak ada capeknya memainkan instrumen musik drumband. Apalagi disemangati ibu mereka sendiri yang make rumbai rumbai rafia warna merah putih dan kuning. Unyuuuu. Haha

Matahari semakin tinggi dan saya lapar. Setelah saya berkeliling alun alun, saya memutuskan untuk berhenti pada seorang ibu ibu penjual nasi kuning di trotoar yang sedang sibuk melayani pengunjung. Ibu itu mengatakan pada saya untuk membungkus makanan dalam stereofoam saja. Padahal saya pengen makan lesehan saja di dekat ibu itu berjualan. Alasan ibu itu menawari saya makan bungkus di stereofoam untuk menghindari kejaran satpol PP yang menegakkan aturan untuk tidak berjualan di atas pukul 9 sedangkan waktu itu sebenarnya belum menunjukkan pukul 9 pagi. Kemudian saya mengiyakan karena saya pikir kasihan juga ibunya pasti kedandapan jika Satpol PP datang. Ah.. sudahlah saya mengalah untuk makan di stereofoam dan mencari tempat lain untuk makan. Dan.. hingga pukul sepuluh kurang si ibu masih berjualan di sana. Oh damn. Kok agak kzl ya saya. Haha.

Dan saya mengabaikan kekesalan saya (lagi) dengan membaca buku pinjaman saya dari Santika. Lagi lagi.. alhamdulilah. Selalu ada hal indah di tengah susah. Haha. Setidaknya ada buku yang menyelamatkan saya dari mati gaya akibat hape sekarat tinggal 1 % dan nggak ada laptop yang bisa jadi pemandu gmaps. Haha, Sebuah buku biografi berbentuk novel menceritakan tentang riwayat KH. Hasyim Asyari, pendiri Pesantren Tebu Ireng yang juga seorang pendiri Nahdlatul Ulama, sebuah ormas keagamaan Islam terbesar di negeri ini. Buku itu cukup emejing so wow. Kehidupan seorang ulama yang ditempa ujian hidup namun tetap tawadlu dalam menjalani hidupnya.

Suasana Alun Alun terasa sangat syahdu dengan rindangnya pepohonan yang menaungi dari terik mentari Jumat yang panasnya membuat mahlukNya harus teringat pada neraka. Sungguh semakin syahdu dengan alunan murrotal Quran yang nampaknya dilagukan sendiri oleh warga sana di Masjid Agung Madiun, saya terlena oleh sepoi angin yang membelai dan lantunan ayat suci yang mengingatkan saya pada rumah.

Sudah kesekian kalinya pengamen menyanyi di depan saya dan saya jengah juga dengan pemandangan pengamen yang berkumpul di pojokan tapi tak menghiraukan undangan sembahyang jumuah di masjid yang hanya berjarak 50 m dari tempat mereka asik bercengkerama (mereka adalah orang yang sama yang sedang meminta minta di gerbang masjid persis ketika Jumatan selesai dan saya yang mau sholat dhuhur disana). Maka saya pun pergi dari bangku taman yang telah sepagian saya gunakan untuk kontemplasi. Dan.. kaki saya yang mulai lecet pun tersihir untuk masuk ke toko outdoor favorit saya untuk menemukan pasangan sandalnya. Tak berapa lama, uang yang sejatinya saya hemat hemat ternyata melayang juga untuk membeli sandal gunung. Padahal saya sudah bilang pada diri saya untuk berpuasa beli sandal gunung karena mutung sandal saya hilang di masjid dicuri orang. Eh.. ternyata saya buka puasa juga. Eheheh.

Setelah puas cuci mata di toko outdoor, saya pergi ke masjid untuk menunaikan solat dhuhur dan.. mandi. Hehe. Rasanya badan lengket seharian ingin menyentuh air biar seger. Yah.. meskipun saya pakai baju yang nggak dicuci beberapa hari, rasanya nikmat air siang siang sungguh harus disyukuri. Belum lagi, setelah sembayang saya ketiduran meskipun cuma setengah jam. Nikmatnya luar biasa. 😀

Senangnya setelah asharan, ada tausiyah pendek dari imam masjid dibawakan dalam bahasa setempat, bahasa Jawa. Sungguh dahaga agama sedikit terobati.

Usai saya keluar dari masjid, saya tersepona dengan stand buku yang digelar di depan alun alun. Tidak banyak memang. Hanya ratusan buku saja. Tapi sanggup membuat saya membelalakkan mata pengen bawa pulang buku bukunya. Akhirnya tak hanya sandal namun juga buku sebagai buah tangan. Haha.

Oleh karena saya lapar dan belum makan siang pula, maka saya mampir ke pecelan 88 di dekat alun alun setelah mbak mbak penjaga toko oleh oleh yang saya sambangi memberi tahu saya tentang warung tenar itu. duhhh deekkk.. warung 88 ternyata ada di perempatan selanjutnya. Kirain deket. Ya emang deket sih, tapi kalau jalan lumayan juga. Setelah masuk ke tempatnya emang benar sih ini tempat tenar. Lihat di dinding dindingnya, poto poto orang penting dipigura oleh pemiliknya. Selain untuk pengingat kenangan, tentu saja strategi promosi pada warga jika warung mereka laris sampai sampai orang penting kayak Dahlan Iskan dan aneka artis makan di kedai mereka. Rasanya? Mantap sih. Harganya juga murah. Saya yang hanya makan pecel tanpa isi (jerohan, babat, lidah dll) alias pecel polosan, hanya dikenai Rp. 7000. Paling paling kalau yang dengan isian harganya nggak akan jauh jauh dari 12 ribu-15 ribu an. Madiun emang top banget soal pepecelan.

Akhirnya saya berjalan kembali ke stasiun dan menunggu kereta Pasundan datang mengangkut saya ke Surabaya. Well.. kenapa saya bisa ke Surabaya? Ada di postingan selanjutnya.

Menyerang Ibu

Mumpung bentar lagi mau Kartinian, saya pengen nulis tentang sosok wanita. Sosok Ibu. Tulisan saya kali ini memang tidak secara khusus mengulas tentang sosok seseorang atau tokoh. Tapi tentang perspektif dalam dunia wanita: Ibu.

Seperti yang kita lihat di berita berita akhir akhir ini, dimana banyak sekali anak menggugat ibunya hanya karena uang. Dengan dalih memperebutkan warisan, mereka tega menyeret ibu mereka ke meja hijau. Nggak tanggung tanggung lho nilai yang mereka tuduhkan pada ibunya. Milyaran coyyyy.. Dunia memang sudah kebalik.

Seorang ibu di Bandung digugat anak dan menantunya sebesar 1,8 milyar dimana nilai tersebut didapat dari fluktuasi invlasi dan lasi lasi lainnya atas pinjaman yang diajukan saudara lain si anak yang dipinjam lebih dari sepuluh tahun lalu. Puluhan tahun lalu sih emang cuma pinjam 20 juta. Tapi di tahun 2017 ini nilainya membengkak menjadi 1, 8 milyar. What so emejing. Bisa dinalar nggak? Enggak lah. Hya keleeeus sampe satu koma delapan milyar. Ulangi. Satu koma delapan milyar coyyy. Saya nggak bisa bayangin si Ibu yang udah tua renta ini bahkan sakit sakitan sampai membayar satu koma delapan milyar. Plis cuy.. itu uang hasil ngepet darimana cobak buat bayarin si anak (yang menurut pandangan saya udah tega menyakiri hati ibunya)? :’(.

Publik sebagian besar memang menyalahkan si anak dan menantu atas gugatan mereka yang.. emang kurang ajar beutsss (kalau menurut pikiran orang waras). Sebagai pemirsah telepisi dan netizen budiman, kita memang tidak tahu pasti duduk perkara dan cerita cerita yang terjadi sebenarnya kenapa bisa berujung hingga pengadilan. Tapi kalau melihat gimana sekilas ceritanya, bisa dibilang sebuah perbuatan durhaka bila kita bikin orang tua sedih apalagi sampe nyeret orang tua sampai pengadilan. Menusuk hati beudd. Semua agama mengajarkan kepatuhan kita pada mahluk bernama Ibu. Di agama saya, islam, Nabi Muhammad bahkan sangat menjunjung tinggi harkat wanita. Dibuktikan dengan sabdanya: hormatilah ibumu, ibumu, ibumu, baru ayahmu. Ibu disebut tiga kali lho. Spesial. Artinya ibulah yang wajib ain harus pake banget dihormati entah bagaimana caranya.

Akar masalahnya dimana? Uang. Materialisme. Hedonisme. Rasa tidak puas. Rasa ketidakadilan. Rasa ingin memiliki berlebih. Kalau bukan uang apalagi. Satu koma delapan lho. Entah masalahnya apa, apa kita rela mengorbankan pertalian darah dengan ibu dan saudara saudaranya hanya untuk uang segitu doang?. Mikir nggak tuh si anak dan mantu dengan apa si ibu bisa bayar tuntutan mereka. Jaman sekarang siapa sih yang punya duit cash satu koma delapan milyar kecuali kalau dia komisaris perusahaan. Sedangkan si Ibu ini adalah wong cilik yang udah bukan saatnya mikir duit tapi udah mikir mati atas usianya yang beranjak senja. Jika si anak anak ibu lainnya bantuin dengan cara nyari utangan, mereka mau nggadein apa? Tegakah jual semua aset sampai buat makan anak keponakannya susah? Mikir nggak sih kalau uang nggak bakal dibawa mati. Mikir nggak sih kalau uang itu cuma sebuah kertas yang nilainya cuma bisa buat beli sandang pangan papan sesaat tapi sampai kapanpun nggak akan bisa beli yang namanya keluarga.

Warisan satu sisi memang membantu anak cucu untuk hidup sekaligus something shit di sisi lain. Kok bisa jadi something shit? Ya karena jadi ajang perebutan bahkan pertumpahan darah jika semua pihak yang tidak bijak berserakah dengan harta warisan itu. Di titik terendah saya menyaksikan sendiri bagaimana warisan mengubah sistem dalam keluarga besar saya. Memporakporandakan segalanya hingga ke titik sehancur hancurnya. Membuat saya berpikir dua kali untuk mencintai hal material bernama uang. Masihkah kita bisa merasa uang adalah di atas segalanya ketika keluarga hancur? I swear it more than shittt. Puahittttnya kayak minum satu galon brotowali. Kayak orang yang udah nggak punya harga diri. Ketika semua diukur dengan uang, yang tertinggal hanya kebodohan. Ketika yang dipikir adalah kekenyangan perut sendiri, yang terjadi kemudian hanyalah dungu dan kemudian mati sia sia.

Jika memang masalah si anak dan mantu dengan saudara saudaranya yang melibatkan hutang piutang terjadi puluhan tahun lalu, apakah sekarang tidak bisa diselesaikan baik baik dengan tidak melukai perasaan ibundanya? Ini yang membuat saya tidak habis pikir. Memangnya dari lahir mana si anaknya ini turun ke dunia? Lahir dari batu macam Sun Go Kong? Tetiba lahir cenger ke dunia? Tidak ingatkah ia bahwa ibunya yang udah renta itu dulu yang mati matian ngasih makan dari belum bisa apa apa sampai dia jadi seorang wanita yang kuat. Tidak ingatkan ibunya juga yang banting tulang mengurusi segalanya agar ia tetap hidup.

Dan yang lucu adalah si anak berdalih ingin melindungi si ibu. Melindungi ya nggak gitu juga kalik.. Ya masak melindungi kok tega bener nyeret ke pengadilan. Melindungi kok tega bener memeras ibunya sampe sebesar itu nominal tuntutannya. Melindungi kok tega bener sampai menomorduakan tali persaudaraan dengan saudara saudara kandungnya. Melindungi kok tega bener ngasih solusi rumahnya dijual terus keuntungannya dibagi. Separoh dikasih ke ibunya, separoh dibagi buat ngelunasin hutang sejak dahulu kala itu. Nah lho.. dimana logikanya ketika ngasih separoh untuk ibunya. Orang itu masih rumah punya ibu dan ibunya aja belum mati lho. Kok bisa mutusi dewe kalau si ibu dapat bagian separoh. Dan kalau dirunut ke depan, sangat nggak bijak kalau dibagi macam itu. Uang separoh yang dikasih ke ibunya itu nggak akan bertahan selamanya. Percayalah uang itu nggak akan bertahan. Yang namanya uang di tangan, kebutuhan dan keinginan itu ada terus. Baru akan berhenti kalau uangnya habis. Entah itu nanti dirongrong orang, atau habis karena kebutuhan yang nggak ada habisnya. Kalau udah gitu ya tunggu aja kehancuran. Atau ketika uang si ibu ternyata masih hingga akhir hayatnya, uang ini tetap akan jatuh ke tangan anak anaknya. Endingnya? Bunuh bunuhan antar saudara buat memperebutkan uang yang nggak seberapa banyak.

Andai si anak dan mantunya ini merasakan pahitnya kehilangan “home”. Iya. Itu adalah rumah. Namun rumah bukan hanya sebuah tempat singgah. Ada banyak kenangan yang selamanya tidak bisa dihilangkan karena disanalah kita mengenal cinta dan kasih sayang keluarga. Disanalah kita pertama kali belajar mengenal lingkungan dan berusaha belajar kuat menghadapi hidup. Ketika ia hilang maka rasanya tercerabutlah segalanya. Ketika suatu saat saya melihat ibu saya bersengketa dengan saudaranya perihal warisan dan itu menyangkut rumah maka dunia saya ikut terguncang walaupun saat itu saya masih belum ngerti apa apa. Dan sekarang ketika saya sudah besar dan paham, dan ada berita seperti itu lagi, meskipun bukan saya yang mengalami. Tapi.. saya ikut bersedih. Melu perih.

Ibu dan Bapak saya tidak samasekali mau mempermasalahkan warisan. Bahkan mereka berdua bilang bahwa mereka tidak mewariskan pada kami harta karena mereka tidak punya harta samasekali. Mereka hanya bisa mewariskan doa dan ilmu. Dua hal tak kasat mata tapi bekal untuk selamanya. Saya tidak hidup dalam gelimang harta dan hanya mengandalkan ridha orang tua dan guru untuk hidup agar berkah.

Hal yang bisa dipetik dari masalah gugatan anak pada orang tua adalah entah apa masalah di belakangnya sebaiknya selesaikan secara kekeluargaan karena pada dasarnya ada ridha ibu dalam segala urusan kita. Jika ia tidak ridha maka sial menaungi sepanjang hayat. Ingatlah bahwa ridha Tuhanmu bergantung pada ridha orang tuamu.

Kasak Kusuk Kakus

Salah satu hal naluriah manusia adalah ekskresi. Buang air. Dan hal yang membedakan kita dari hewan adalah kita tidak akan seenak jidat buang air di sembarang tempat. Maka dibuatlah sebuah tempat bernama kakus alias kamar mandi alias jeding alias wc alias toilet alias jumbleng dan alias alias lain dengan nama yang berbeda di berbagai tempat. Desainnya pun macam macam. Ada yang hanya sebuah lubang yang digali dalam tanah di belakang rumah, ada yang menjadikan sungai sekitar rumahnya sebagai kakus abadi terpanjang di dunia,  ada yang bersekat bambu di atas kolam lele, ada yang bersekat papan, ada yang bertembok batu bata sampai yang bertatahkan pualam. Semua model, lengkap!. Dan sebagai orang Indonesia saya pernah merasakan semua. *kebanggaan sebagai orang Indonesia. Haha. Well.. oke. Saya bercanda.

Oleh saya yang ndeso ini, saya merasakan bahwa sebagai bangsa yang memegang teguh budaya yang masih tradisional, saya merasa buang hajat juga merupakan suatu hal yang berdasar pada budaya. Nggak percaya? Tuh.. googling di internet. Cari informasi mengenai culture shock yang dialami sebagian warga yang belum mengenal wc. Wc yang sebenarnya difungsikan sebagai tempat kakus menjadi kandang ayam. Haha. Unyuuu. Tapi jangan salahkan warga tersebut. Ya jelas jelas mereka nggak salah karena memang budaya mereka (mungkin) saja tidak mengenal adanya wc yang sudah susah susah dibuat oleh pemerintah pakai dana bantuan. Khuznudzon lah bahwa warga tersebut sebenarnya sudah mangkel tingkat dewa karena pemerintah cuma mbikinin tanpa ngasih tau cara makainya. Mungkin airnya nggak ngalir padahal dinding kamar mandinya udah dikeramik. Mungkin wc nya udah bisa dipakai tapi mampet dan yang punya ide bikin wc nggak ngasih tahu cara menanggulangi mampet sehingga meluber dan isinya kampul kampul sampe keluar bikin selera makan sirna seketika padahal perut juga lagi nggak bersahabat. Mungkin pipa airnya bocor dan airnya habis dan berbagai mungkin mungkin yang khuznudzon lainnya. Uhuk. Dan.. pada akhirnya warga kembali ke buang hajat sembarangan (terbukti dari plang plang jangan buang hajat sembarangan yang pernah saya temukan di desa yang memang susah air). Sebenarnya mereka buang hajat nggak bisa disebut sembarangan. Tapi karena tidak terpusat ya jadinya di kebon atau di tempat tempat lain yang bisa membaui orang lewat. Orang males lewat bukan karena hantu. Tapi karena bau. Tapi semenjak ada program kebersihan dicanangkan, nampaknya persoalan toilet di desa sudah dapat dipecahkan. Horeeeeeee.

Indonesia baru mengenal adanya toilet emang baru baru aja. Mungkin dalam dua ratus tahun terakhir ini. Biasanya? Ya ke toilet terbesar di dunia yang multifungsi juga selain kakus juga sebagai tempat cuci, mandi dan kadang diambil airnya untuk minum (bahkan sampai sekarang dimana nonton tipi bisa lewat hape). Nah lho.. haha. Mungkin baru jaman jaman Pak Harto (piye? Penak jamanku tha?) orang Indonesia diinvasi dengan toilet secara besar besaran. Tentu untuk menyukseskan Indonesia bersih dan sehat.

Dan nun di kota sana, saya hanya mengernyitkan dahi ketika melihat toilet (yang rata rata didesain ala ala Londo) basah oleh air dan jejak jejak sepatu menghiasi sana sini bagaikan lukisan cap tangan manusia purba di goa goa tua. Okelah saya nggak ikut mbersihin, harusnya sih nggak usah komen gini yak. weeiittzzz.. tapi saya yang (nampaknya) agak peduli ini kadang harus nyiram sisa sisa warga lho mbakyu.. kan jijay ugakkk *emot zebelll.

Tapi yang membuat saya kadang tertawa sinis adalah toilet model duduk bukanlah sesuatu yang Endonesa banget. Saya pikir dulunya orang membuat tolet duduk adalah karena kekinian. Model model baru gitu lah. Ternyata saya salah. Menurut penuturan salah satu profesor, toilet duduk adalah toilet yang memang didesain untuk bangsa barat sono karena mereka nggak bisa jongkok. Nah lho.. haha. Apa hanya karena si bule bule itu susah buat jongkok terus dipaksain juga buat warga endonesah yang sebenarnya budayanya lebih sering jongkok ya?. Padahal toilet jongkok lebih sehat daripada duduk. Itu kata para praktisi kesehatan sih *dan dalam salah satu riwatyat, Nabi pun mengajarkan demikian (ingat salah satu sabda Nabi untuk hidup sehat: jangan kencing sambil berdiri. Selain air kencing nyiprat kemana mana, nggak sehat juga buat organ tubuh).

Yang lucu lagi adalah, lantai kamar mandi yang terbiasa untuk dibasahi. Budaya kita adalah menyiram kaki setelah masuk kakus. Membersihkan kaki gitu lah. Kalau nggak siram kaki rasanya nggak afdhol. Dan saya menemukan entah itu di stasiun, di tempat umum, bahkan pernah di tempat yang dianggap elit macam di mall atau hotel warga endonesah masih membasahi lantai kamar mandi padahal jelas jelas ada pengumuman larangan membasahi air di lantai. Haha. Ya walaupun ada petugas kebersihan kamar mandi yang senantiasa menjaga kebersihan toilet di tempat umum macam stasiun atau mall. Tapi ini soal mindset warga endonesah yang memang belum siap diajak kebarat baratan. Kalau begini siapa yang salah dong? Arsitek yang bikin desain awal kamar mandi? Pak tukang yang beli bahan? Kontraktor yang ngerjain? Yang bayarin proyek? Apa orang endonesia yang emang punya kebiasaan cuci kaki dan cebok pakai air yang disiram dari depan? Gimance cyinnnn..

Saya sering sebel kalau pergi ke mall yang kamar mandinya sok kebarat baratan (sama mangkelnya dengan pergi ke toilet terminal yang juorokkkknya naudzubillah dan baunya pesingnya bikin muntah). Elegan memang dengan glasses door yang berat beud mau buka pintu aja, kaca super besar dengan wastafel yang keliatan belinya nggak cukup pakai receh limaratusan setoples. Terlihat cukup meyakinkan bahwa menit menit yang kita habiskan di dalam adalah bagai surga dunia di tengah serangan hedonisme mall yang menyerbu ibukota. Eh, pas mau bersih bersih, semprotan airnya ternyata yang di belakang. Itu tuh yang berada di sebelah dalam lubang toilet bukan semprotan yang berselang. Kan kampret yak. Banyak orang Indonesia yang masih merasa ‘jijik’ jika pembersihan tidak sempurna (pipis di toilet terminal yang stigmanya jorok aja masih mending karena biasanya disana airnya melimpah ruah dengan gayung dan ember yang menampung air dari pancuran).

Believe it or not, bukan saya doang yang ngerasa masih kotor kalau membersihkan nggak beres kayak gitu. *akuu kotoooooorr. Buat orang yang ngerti adab thaharah, kebayang gimana rempongnya kita membersihkan sisa kotoran tapi ngerasa masih kotor. Gimance ibadahnya cyinn? Rasa was was sangat besar. Dan.. ngeselinnya adalah karena tidak terbiasa dengan bersih bersih yang seperti itu, prosesnya jadi lama dan bikin kesel yang ngantri. Yang di dalam kamar mandi kesel betz, yang nungguin sampe harus gedor gedor pintu karena kebelet pipis juga. *mba.. jangan digedor pintunya. Pecah, ganti lho. Mahal. Haha. Mungkin akan ada satu dua orang yang nyinyir “ih, toilet flashbutton yang dibelakang tinggal muter pancur aja nggak bisa gunain”. Ya maap mba.. apalah uwe yang orang desa. Taunya jumbleng (wc) dan kalen (sungai). Dua duanya nggak butuh flashbutton dan nyiram airnya lebih bersih, sisanya buat pakan ikan yang hidup di dalamnya dan insyaAllah buat solat masih sah karena air najis nggak nyiprat kemana mana. Haha. Dulu sih saya diajarkan sama bu nyai kalau membersihkan itu dari depan ke belakang. Biar thaharahnya sempurna. Soalnya thaharah (bebersih) adalah kunci penting sahnya ibadah. Udah sekompleks itu aja. Wkwkwk.

Kalau saya ditantang untuk mendesain kamar mandi yang indonesia banget? Boleeeehhh. Saya akan membuat kamar mandi itu ramah warga yang tidak familiar dengan modernitas toilet. Jangan sampai susah susah bikin toilet eh malah jadi sarang ayam bertelur kayak yang terjadi di beberapa daerah. Kan ngakak. Jangan sampai udah ditulisin pake spidol segede gaban tentang larangan mencuci kaki tapi diabaikan setiap waktu cuma gara gara tidak memahami etnografi kebudayaan masyarakat setempat, kitanya jadi cultural lag. Haha.

Pertama, lihat dulu tradisi dan budaya dari daerah setempat. How did they manage their toilets in the past? Lihat dulu gimana adab mereka kalau “ke belakang”. Baru dipikirkan bisa nggak memasukkan nilai modernisme ke dalam budaya. Mungkin saja bisa, malah harus karena mengikuti perubahan jaman juga. Tapi tentu tidak bisa sepenuhnya dan tidak bisa dalam waktu tiba tiba. Harus berproses, Mengadopsi budaya luar bukan berarti mencomot seluruh aspek kebarat baratannya. Contoh kecil, orang barat emang suka kamar mandi kering. Sedangkan kebalikannya kita yang punya budaya untuk cuci kaki (berdoalah sebelum kita tidur. Jangan lupa cuci kaki tanganmu.. itu tuh lagunya Tasya yang judulnya jangan takut gelap). Ya udah, bikinlah kamar mandi yang mengakomodasi pembersihan kaki dengan cara menyediakan ember dan gayung serta pancuran. Dasar lantainya juga jangan tegel yang granit cakep cakep itu soalnya lama keringnya dan kalau letheh (menggenang air) jorok beudd (yu know.. saya pernah hampir kepleset di lantai kamar mandi granit mewah hanya gegara warga nyiram pipis anaknya di lantai granit padahal toilet duduknya di atas. Hiks.). Harusnya batu batu kecil yang bisa jadi jalan serapan air biar ainya juga langsung menyerap tanah. Atau katakan lantai yang mudah dibersihkan deh. Kalau mau pakai granit, pastikan setelah dipel basah juga sekalian dipel kering . Tapi toilet duduk pada akhirnya juga harus disediakan untuk memudahkan para difable untuk ke belakang. O, ya ventilasi. Jangan sampai megap megap di dalam karena nggak bisa nafas karena nggak ada ventilasi. Saya pernah kayak gitu di salah satu rumah warga. Wadaaawww panas beudd. Toilet duduk selain buat warga difable juga untuk mengakomodasi warga yang udah bisa dan terbiasa menggunakan toilet kebarat baratan. Biasanya orang orang kota yang terpelajar juga akan menggunakan toilet tersebut secara terpelajar. Lain soal kalau orang terpelajar itu ternyata juga cuci kaki di toilet kebarat baratan. *ngakak banget tapi ini fenomena. Wakakaka.

Oke. Sekarang cerita lain soal kamar mandi di kosan saya. Yu know.. saya pernah sampe cerewet banget nulisin kamar mandi kosan saya hanya karena jijik liat gayung diletakin di lantai kamar mandi yang kecipratan air pipis. Bunyinya begini “Mohon untuk meletakkan gayung di ember. Teh, kalau gayung diletakkan di lantai padahal lantainya kena najis maka solatnya bisa nggak sah” dan ternyata nggak mempan. *tepok jidat. Saya sampai harus pergi ke kamar ciwi ciwi tetangga saya untuk bilang bahwa jangan meletakkan gayung di lantai. Selain karena airnya bisa berhukum musta’mal alias meragukan, sayanya juga jijaaaaaayyyy. Jorok bolehlah tapi jangan dipiara juga keleuuus. Soalnya kamar mandi bukan cuma kita yang menggunakan tapi juga orang lain. Maka pastikan jangan meninggalkan sisa seperti bungkus sampo, sabun yang diletakkan di lantai bahkan sisa sisa perut kita yang nggak disiram. hooooeeeekkkk..

Well.. persoalan thaharah janganlah dianggap remeh. Ini urusannya dengan ibadah. Tapi urusan ke belakang memang juga bersangkut paut dengan urusan budaya. Udah sekolah tinggi tinggi tapi acuh soal kebersihan yang urusannya sampai akhirat sana. Kan kasihan.

Pas Jaman Sekolah: Dilema Jurusan

Di sebuah sore, salah satu keponakan saya menanyakan tentang cerita saya dulu sekolah. Dia yang sudah duduk di bangku SMA galau memilih jurusan di sekolahnya. Duh.. jadi nostalgia nih. Well.. buat kamu kamu yang galau jurusan. Ini cerita Cicik dulu ketika masih sekolah.

Baiklah. Akan saya ceritakan. Untuk menjadi dokter, teknisi, guru, tentara atau cita cita normatif lainnya, maka kamu harus punya nilai bagus (ini adalah kebenaran pahit yang benar benar shit selain: kamu harus siap dengan biaya besar dan mungkin koneksi besar). Ya emang sih harus bagus. Karena sainganmu sebajeg kere (naudzubillah banyaknya) maka ya harus bagus nilainya. Apalagi saingan saingan orang orang yang masuk ke jurusan kedokteran adalah mereka anak anak dokter yang parlente, anak anak orang orang kaya yang buang buang uang dengan mudahnya. Maka, apalah saya yang dari keluarga yang biasa aja, harus berbagi uang juga buat sekolah sekolah adik adik saya. Jalan satu satunya hanyalah: punya otak brilan dengan nilai akademik kece badai. Apakah terjadi? Tentu tidak. Haha. Saya cerdas, tapi nilai pas pasan.

Tentang sekolah saya. Apakah sekolah saya elit? Bisa dibilang begitu. Isinya anak anak brilian dan tajir. Keluarga saya hanya mampu menyekolahkan saya di sekolah negeri yang setidaknya kalau nggak bisa bayar sekolah, bisa lah nunggak utangan dulu. Maka, saya pun hingga saya lulus kuliah saya selalu sekolah di negeri. Perkara kenapa saya bisa keterima di sekolah elit ya hanya satu: takdir. Bukan karena saya pintar bukan karena saya tajir. Tapi nampaknya Tuhan menggariskan saya lolos tes dan masuk ke sekolah elit. Simpel. Bukan untuk merendah. Banyak yang lebih pinter dari saya. Beneran. Ini soal garis takdir.

Part I Masa Basic School

Sekolah Dasar saya adalah sekolah dasar tua yang didirikan beberapa tahun setelah Indonesia Merdeka. Bahkan jika ibu saya pernah bercerita bahwa kakek saya pihak ibu dulu pernah bersekolah disana, ada kemungkinan sekolah dasar saya dulunya merupakan SR alias Sekolah Rakyat. Weeeww.. jadul euyyy.. apalagi daerah rumah kami memang dekat dengan perkebunan karet yang didirikan oleh Belanda. Dan keluarga saya adalah salah satu yang di jamannya dulu sudah merasakan mewahnya sekolah.

Sampai lulus dari SD, saya sampai bosan mengenyam singgasana peringkat dua abadi, dimana saingan saya hanya satu orang. Arif namanya (bahkan kami sampai lulus SMA, satu sekolah terus). Peringkat peringkat di bawah saya, tiga, empat dan seterusnya akan selalu berganti orang. Tapi saya dan Arif adalah peringkat satu dan dua abadi. Haha.

Lulus dari SD, saya dipaksa untuk masuk sekolah elit terfavorit di kota saya. Alasannya: pertama karena SMP tersebut adalah sekolah negeri. Kedua, orang tua saya menganut mahzab bahwa semakin tua dan elit (tingkatan prestasi) sekolahnya maka kualitas pendidikannya semakin baik. Dan sialnya saya lolos. Nah lho.. saya bilang sial? Karena sebenarnya saya tidak menikmati.

Sekolah menengah pertama saya berjalan tidak baik baik saja. Dengan nilai yang amburadul, saya bertahan. Sudah bisa bertahan di rimba yang isinya anak anak cemerlang buat saya sudah bagus. Saya tidak pernah mau mengejar peringkat. Lelah. Enam tahun di sekolah dasar, saya dipaksa untuk bisa dasar dasar mata pelajaran yang membuat saya sekecil itu sudah berpikir bahwa saya lelah. Untuk apa akademis dikejar? Biar jadi peringkat kelas? Dan saya sudah di peringkat dua abadi. Bosen dapat peringkat terus. Seolah sebenarnya yang bersaing hanya saya dan Arif, si peringkat satu. Dan kemudian saya mengalami sebuah jetlag dan cultural shock karena keanekaragaman pertemanan di SMP yang bikin saya kaget dan saya masih dipaksa untuk berprestasi.

Saya belajar untuk satu motivasi: biar nggak dimarahi. Itu saja. Dan. sejak kecil saya di’paksa’ untuk berprestasi. Dan saya pun jenuh? Buoseeenn. Saya lelah dimaki maki dengan dalih biar disiplin. Biar saya pinter. Ah.. alasan paling bego yang pernah saya dengar karena sebenarnya pribadi saya lembut dan resisten pada bentakan teriakan meskipun saya ribuan kali tak terhitung menghadapi saat saat keras. Maka itulah yang membuat saya pada akhirnya menjadi keras kepala. Saya mungkin kehilangan masa kecil saya untuk bermain dengan bebasnya. Dan balas dendamnya saya kehilangan waktu bermain saya ketika saya kecil, maka saya hobi plesiran sama teman teman. Tidak plesiran bepergian kemana. Tapi saya hampir selalu main ke rumah teman saya dengan dalih ngerjain tugas. Kadang beneran ngerjain tugas, kadang ya cuma main main.

Dan saya akan bilang iya. Apa yang ingin dikejar? Peringkat? Pride? Di satu titik saya bilang semua itu damn shit so shit. Saya lelah. Saya ingin mengalir saja. SMP saya waktu itu ada di jalan Kartini. Dan ada sebuah sekolah menengah atas yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari SMP saya. Dalam hati saya berjanji pada diri saya: saya nggak mau sekolah di jalan Kartini lagi. Sekolah ini membuat saya jenuh, apalagi tiga tahun disana adalah transformasi saya dari anak desa menjadi abege kosmopolitan yang gaholnya sama anak anak yang dari kecil bergaya hidup perkotaan. Saya nggak suka. Lelah. Ada banyak cerita disana yang buat saya nggak akan pernah mau saya ulangin lagi. Maka saya usaha mati matian biar diterima di sekolah di Kalan Kemiri. Bukan karena sekolah itu sekolah favorit. Tapi karena saya merasa di Kartini saya merasa tersakiti. *hedeh.. drama bener yak. Tapi itulah jalan hidup, haha.

Sekolah menengah atas saya berjalan lebih tidak baik. Uancurnya minta ampun. Haha. Rangking saya sempat ambruk ke 30 dari 36 siswa. Saya: bodo amat. Saya lelah dimarah marahi dimana ada saat saat saya merasa down dan hanya saya sendiri yang menyemangati diri saya bahwa “saya nggak tolol. Saya bisa. Saya nggak seburuk itu. Kalian yang tolol karena tidak pernah mau mendengarkan saya. Kalian yang sok tahu karena merasa paling benar.” Saya tidak hidup untuk diforsir masalah nilai. Saya tidak pernah menangis karena nilai nilai saya buruk. Tapi saya menangis karena saya dituntut untuk sesuatu yang mungkin saya tak ada hati. Tapi di SMA ini saya merasa lebih bahagia. Jetlag dan cultural shock saya sudah reda dan saya bisa beradaptasi di lingkungan orang orang elit yang buat saya membosankan.

Semester pertama dan kedua di tahun pertama adalah penentuan untuk penjurusan di kelas II. Nilai saya amburadul. Maka nilai saya, hanya kurang dari no koma sekian sekian dari  standar masuk IPA. Jaman jaman feodal dulu sih masih menganggap IPA sebagai pilihan terbaik. Dalam hati saya marah. marah karena saya diharuskan wajib ain masuk IPA karena orang tua saya masih mendewakan jurusan IPA. Sejujurnya saya pernah mengumpat dalam hati “Ya kalik IPA yang terbaik. Kalau IPA adalah yang terbaik, kenapa orang tua saya masih gini gini aja. Plis, ini bukan tahun tujuh puluhan dimana sekali masuk IPA bisa jadi direktur perusahaan”.

Sejujurnya saya suka semua mata pelajaran. Tapi kemudian saya berubah membenci beberapa mata pelajaran bukan karena susahnya. Tapi karena saya akan selalu dimarahi jika saya tidak bisa mengerjakan. Bukannya saya tidak mau berusaha. Tapi tekanan itu yang membuat saya semakin membenci dan akhirnya semakin cuek. Believe or not, Ujian Nasional yang dianggap momok itu, saya pun benar benar ngitung benik. Haha. Literally menghitung kancing baju seragam saya. Sumpah.  Saking jeleknya angka angka soal di kertas ujian, saya ogah mau ngitung. Kalau saya lagi mood sama huruf B ya saya pilih B. Kalau ternyata Al Ikhlas saya berhenti di huruf C ya saya pilih C. Seriously.

Tentang jurusan mana yang terbaik

Jika suatu saat anak anak saya menanyakan pada saya, ibunya, jurusan mana yang sebaiknya mereka pilih. Maka saya akan menyarankan mereka untuk juga mempertimbangkan semua hal termasuk hati mereka. Biar suara hati mereka juga ikut didengar. Tentang urusan rejeki, percayalah Tuhan tidak tidur. Kalau takut nggak bisa masuk IPA karena takut nggak dapat kerja, maka you cursed yourself. Kalau mikir jurusan IPS isinya anak anak nggak punya otak yang kerjaannya bikin onar, maka nampaknya kamu perlu piknik biar uteknya sehat. Kalau mikir jurusan bahasa cuma bisa jadi admin jaga konter hape yang dianggap pekerjaan nggak berkelas, kamu harus tau bahwa para diplomat di luar sana bertaruh untuk menyelamatkan negeri kita dari ancaman dengan cangkeman. Seriously, skill mahal yang nggak dimiliki semua orang.  Maka jika masih terbungkus stereotipe jurusan ini bagus, jurusan ini jelek, maka kamu tolol karena terlalu bergantung dengan hal yang materialistis. Kayak nggak percaya Tuhan aja. Bukan masalah jurusan apa yang kamu dapatkan. Tapi, tentang bisakah kamu bertahan di masyarakat PASCA NANTI KAMU LULUS. Intinya cuma itu.

Percayalah, saya ketemu dengan banyak orang yang latar belakang IPA toh mereka juga sama aja dengan jurusan lain jadi waitress di warung makan bahkan tukang batu karena susahnya nyari kerja di jaman sekarang. Saya ketemu lulusan IPA dengan nilai nilai briliant, dan “cuma” jadi penjaga loket. Dan jurusan manajemen akuntansi yang notabene dikuasai oleh anak IPS pun juga jadi sasaran anak anak IPA. Coba tanya, ada berapa persen anak anak IPA ambil jurusan manajeman atau akuntansi di kuliahan?. Sakbajeg kere. Dan berapa anak Bahasa yang sukses? Sebelas dua belas sama anak IPA kok. Anak IPS yang pengangguran? Anak IPS yang kerjanya malakin orang? Ada. Sakbajeg kere juga. Lulusan IPA yang jadi bajingan? Banyak. Simpel. Dunia nggak bisa dipukul rata hanya karena stigma jurusan.

Believe me, jurusan apapun bukan penentu seratus persen keberhasilan hidupmu. Jurusanmu hanya salah satu faktor saja. Sisanya, mampu kah kamu bertahan dengan hal hal lain di kehidupanmu dan lain lain. Dan balik ke makna sebuah kata “sukses”. What is success? Emang sukses itu artinya apa? Emang kalau udah masuk jurusan yang dianggap berkelas, hidup kita sukses? Itu pertanyaan retorik, bung. Terlalu filsafatis.

Maka, bijaklah. Tanyakan dirimu apa yang kamu sukai. Hitung hitungan atau hapalan. Logika itu yang pertama karena tidak ada salah dan benar dalam memilih sebuah keputusan jurusan di SMA/SMK. Yang jelas bersikap bijaklah juga untuk menentukan arah setelah kamu sekolah. Apakah mau lanjut sekolah di perguruan tinggi, bekerja atau bahkan menikah. Tujuannya cuma tiga itu. oh, tambah satu lagi: pengangguran fulltime.

Jangan dijadikan beban soal jurusan apa yang kamu pilih. Jika kamu suka dan jurusan itu bisa membantu mewujudkan impianmu setelah kuliah (misal, masuk teknik otomotif di SMK biar bisa kerja di bidang permesinan dan transportasi, masuk IPA biar nanti kuliahnya bisa ambil teknik kimia atau kedokteran gigi, masuk IPS karena mau mendalami antropologi, atau masuk bahasa karena ingin lanjut kuliah bahasa prancis, atau bisa jadi masuk IPS biar pinter hitung hitungan kalau belanja rumah tangga, masuk bahasa biar bisa jadi pujangga, masuk IPA biar kalau pas PKK bisa menjelaskan fungsi tanaman obat keluarga buat ibu ibu yang datang arisan dan lain sebagainya). Yang jelas, pastikan alasanmu masuk ke jurusan itu. Kalau cuma urusan gengsi, mending kamu pulang tidur, Nak. Naik kelasnya setahun lagi aja. Tapi kalau kamu masuk jurusan karena kebutuhan (penjurusan studi lanjutan), maka pilihlah sesuai logika dan dukungan di masa depan. Tanyakan second, third, fourth bahkan lebih banyak lagi pendapat dari orang orang yang bisa dipercaya. Jika jawaban mereka bisa mengarahkan dirimu merancang masa depanmu, maka pakailah. Tapi jika balik lagi ke urusan gengsi, mending tinggalin darn carilah pendapat ahli lainnya. Jangan korbankan masa depan hanya untuk urusan gengsi semata. Udah bukan jamannya. Kita generasi milenial dan kerja kerasnya lebih ngeri.

Intisari kehidupan

Believe or not, saya sering merasa tolol karena dihantui pemikiran pemikiran di masa depan karena dari kecil orang tua saya selalu menekankan jika kamu tidak berlaku seperti ini maka yang terjadi seperti ini. Jika kamu tidak melakukan ini, maka kamu akan begini. Endingnya.. saya sering menangisi diri saya sendiri. Sendirian. Orang tua saya mana tau kalau saya stress. Taunya saya haha hihi baik baik saja. Padahal rasanya benar benar saya ingin merobek semua raport saya dan mungkin membakarnya. Ibu dan ayah saya hidup dengan keras. Bahkan mereka mengorbankan apapun asal kami anak anaknya bisa sekolah. Dan rasanya itu tidak sebanding dengan rasa marah saya. Lelah mereka lebih berdarah darah saya. Dan ada rasa sedih terbersit ketika saya tidak bisa mewujudkan apa yang mereka harapkan: masuk IPA.

Sampai saat ini kalau melihat rumah sakit, saya merasa sedih. Sedih karena saya tidak bisa mewujudkan impian ayah saya untuk jadi seorang dokter. Ya, dokter perempuan. Tidak ada yang salah dengan gender di keluarga kami. Tidak peduli laki laki atau perempuan, selama apa yang kamu lakukan bisa memberi manfaat bagi orang di sekitar dan lingkunganmu, maka jangan pikirkan tentang apa yang orang lain katakan. Rahmat Tuhan besar untuk orang yang berjuang di jalanNya. Maka meskipun perempuan tak berarti perempuan tak bisa apa apa. Cerita dimulai ketika saya masih belum kenal sekolah…

Sejak saya kecil, ayah mengumpulkan sedikit demi sedikit alat alat kedokteran. Bahkan buku buku kedokteran yang tebelnya kayak bantal memang dipersiapkan untuk putra putrinya. Barangkali ada satu dari anak anaknya mewujudkan impiannya menjadi dokter. Tapi ayah saya tidak pernah sekalipun mendoktrin kami untuk jadi dokter. Terserah cita cita kalian. Tapi saya tahu, harapannya adalah ada anaknya yang menjadi dokter. Harapan pertama adalah saya. Tapi kemudian kandas. *backsound suara angin bertiup di gurun.

Tapi ada banyak hal yang bisa saya sarikan dari perjalanan hidup saya. Saya seorang leader dan terlahir memang jadi leader. Setidaknya ada satu masa di masa depan saya, saya adalah seorang pengambil keputusan. Maka saya memang harus ditempa sejak kecil untuk urusan tekanan. Ayah dan Ibu saya adalah orang yang sangat peduli dengan pendidikan. Pendidikan emang nggak akan menjamin kita sukses di masa depan. Seriously. *pertanyaan gobloknya adalah ngapain sekolah tinggi tinggi kalau jadi pengangguran. Nah, titik poinnya bukan karena sekolah tinggi sama aja nganggur. Bukan itu. titiknya adalah pendidikan adalah titik dimana kita belajar untuk berlatih menggunakan nalar dan kemampuan. Pendidikan itu bukan buat nyari kerja. Tapi sangu mati. Itulah yang didengung dengungkan ibu saya. Tiga hal yang dibawa mati salah satunya adalah ilmu. Maka ilmu bisa berasal darimana saja. Tak melulu dari pesantren, juga tak melulu dari sekolah yang merupakan hasil adaptasi kita dari bangsa barat. Dari banyak hal kita bisa belajar, bahkan pada rumput yang bergoyang.

Kalau Lagi Sakit

Weekend saya penuh dengan acara: leyeh leyeh lemes di kosan. Agenda luar kota yang sejatinya sudah saya rencanakan jauh jauh hari terpaksa batal karena malam sabtunya saya panas, badan gemreges dan pusing. Apalagi saya kehujanan dalam perjalanan pulang dari warung kelontong yang jaraknya satu kilometer dari kosan saya. Tidak hanya itu, saya pun diare. Dan diare saya berupa cairan berwarna kuning dan sedikit berbusa. Tidak sebau feses normal, tapi baunya cukup menandakan bahwa ada yang tidak beres pada tubuh saya. Pusing dan lemas tidak hanya berhenti satu dua hari. Tapi berhari hari. Nampaknya bukan lagi masalah pencernaan yang sepele. Tapi gejala tipes. Kapan sembuh? Hanya Tuhan yang tahu. Haha. Lengkap sudah. Maka saya memilih untuk menarik selimut hingga pagi, selama berhari hari.

Kalau sudah sakit begini, ya nikmati saja. Jalani. Haha. Dan.. inilah yang biasanya saya lakukan kalau lagi sakit.

  1. Sugesti tubuh agar tetap fit

Diare seperti ini bukan kali pertama buat saya. Dulu malah lebih parah lagi. Waktu itu saya ada ujian di Bandung dan dalam keadaan safar, saya menginap di kosan temen, mana tempat ujiannya lumayan jauh dan hasilnya saya paksakan agar tubuh fit. Lalu bagaimana respon tubuh? Ternyata cara ini ampuh juga. Layaknya dalam kondisi darurat perang, tubuh saya nampaknya bisa bertoleransi dengan keinginan pemiliknya yang ingin tetap fit. Dulu ketika saya hampir kena campak (atau gejala tipes ya?) di Bone Bolango, saya juga paksakan tubuh agar tetap fit. Yah, walaupun suhu tubuh saya panas pakai banget. Hanya saja waktu itu saya katakan pada diri saya sendiri: jangan sakit. Harus segera fit lagi. Disini nggak ada keluarga kamu. Mereka teman temanmu. Walaupun mereka sudah seperti keluarga, bukan berarti kamu harus merepotkan mereka. Pokoknya nggak boleh sakit selama di KKN. Harus tetap fit. Apalagi besok udah menjelang pulang. Jangan campak lagi ya. dan cara ini berhasil. Jelang satu hari, suhu tubuh saya menurun. Ya walaupun masih nggak begitu oke tingkat kesehatannya, tapi sugesti tersebut berhasil. Bahkan lusanya saya berenang di Bunaken. Yah.. walaupun agak pusing pusing dikit.

  1. Paksakan untuk makan

Meskipun nggak doyan makan, tubuhmu harus membangun jaringannya lagi agar segera pulih. Maka, mau nggak mau jangan turuti nafsu makanmu yang turun. Paksakan untuk makan meskipun sedikit biar ada asupan gizi  buat tubuh. Dan gara gara sakit, makan saya tambah nggak teratur. Kadang saya cuma mau makan satu kali sehari. Itupun cuma beberapa suap. Besoknya mulai baikan, bisa makan sampai setengah piring. Eh, besoknya drop lagi, nggak doyan makan. Liat makanan sedikit aja bawaannya kenyang banget, mual malah. Dan.. pastikan jangan menyiksa tubuh dengan makan yang belum diperbolehkan. Seperti contoh, saya yang pagi ini panasnya sudah agak turun hanya saja masih lemas namun saya paksakan diri untuk beraktivitas (maklum cyinn.. anak kosan. Apa apa diurus sendirian. Single pulak. Haha). Lapar? Tidak. Seriusan. Bahkan rasanya nggak pengen makan. Tapi lagi lagi saya rutuki diri saya untuk segera keluar dari kosan nyari makan. Maka, bakso jadi makanan saya pagi ini. Itupun makannya harus sabar banget. Emang kalau sakit gini makanan jadi agak hambar meskipun kita udah campur dengan macam macam bumbu. Dan.. sialnya saya memberi sambal kebanyakan. Walhasil, perut saya panas. dan diare saya nambah. Tak terhitung puluhan kali saya harus ke belakang. Duh Gusti..

  1. Minum banyak air putih

Dalam kondisi sakit, apalagi kalau diare, tubuh kehilangan banyak cairan. Maka, pastikan bahwa kita minum lebih banyak air dan cairan lain seperti oralit, pocari, air sirup dan lain lain. Jangan lupa didoakan dulu. Biar segera sembuh. Kalau kata ibu saya berilah mantra “tamba teka lara lunga”. Manjur? Pasti 😀

  1. Tidur cukup

Salah satu penyebab sakit adalah karena kita terlalu memaksa diri bekerja terlalu keras sehingga hak tubuh untuk rehat berkurang. Maka, sudah saatnya kita memenuhi hak tubuh untuk beristirahat. Dia bukan mesin yang bisa kita paksa untuk terus menerus bekerja. Ada saatnya ia istirahat untuk maintenance komponen komponennya sehingga bisa bekerja dengan lebih optimal. Pada kasus saya (dan banyak orang), tidur menjadi solusi paling tokcer kalau sedang sakit.

  1. Olahraga cukup

Masalah kita saat ini adalah: tidak getol olahraga dengan alasan malas atau sibuk. Setidaknya olahraga satu kali dalam seminggu biar otot ngga gampang cedera dan aliran darah lancar. Padahal saya juga udah olahraga lho. Ya, walaupun nggak teratur sih. Mungkin emang udah waktunya sakit kali ya. Hehe. *syukur aja.

  1. Obat: solusi terakhir

Saya termasuk orang yang anti obat meskipun ayah saya memberikan saya bertablet tablet aneka obat. Kalau sudah sakit, biasanya ibu saya bisa dengan mudahnya mendeteksi bahwa ada yang tidak beres dengan kesehatan saya ”pergi ke klinik dan minum obat”. Dan saya biasanya hanya iya iya saja padahal nggak pergi ke klinik juga. Hehe. Tapi ada kondisi dimana saya pada akhirnya menyerah dengan minum obat: kalau udah terlanjur parah. Wkwkk. Kalau pusingnya nggak ketulungan atau  panas tubuh nggak segera mereda, saya akan segera minum sebutir obat. Kemudian.. tidur. Atau waktu kasus saya kena biduran, di hari kedua yang saya kira rasa gatal itu akan hilang –ternyata malah nambah parah-, membuat saya pada akhirnya mau juga ke klinik dan minum obat. Hasilnya? CTM nya bikin teller :D. Haha. Kemudian saya tidur dan.. jadi agak baikan. Haha. Alhamdu..lillaaahh

  1. Jangan dicela, syukuri saja

Sakit, sehat, senang, sedih datangnya dari Yang Maha Kuasa. Maka, jangan sekali kali mencela sakitmu (doakan juga agar cepat sembuh). Justru sakit adalah pengurang dosa. Maka, ganti umpatan kita dengan syukur hamdalah karena bisa merasakan sakit. Kalau udah pernah ngerasa sakit berarti tahu syukur nikmat sehat. Syukur bahwa saya kena diare pas weekend. Untung saya kena diare bukan dalam perjalanan saya kerja, untung saya sakit tapi cucian udah pada kering. Untung saya sakit tapi warung yang jual makanan deket. :D.

  1. Telepon orang tercinta

Percaya nggak percaya, salah satu penyebab sakit adalah kangen, haha. Kalau sudah begini, saya akan segera menelepon rumah untuk sekedar menanyakan kabar. Berbicara dengan orang rumah meski sebentar cukup meringanan rasa kangen yang menyebabkan saya sedikit lebih cerah ceria dan kemudian sembuh seperti sediakala 😀

Dan.. rasanya sakit sendirian itu.. ehem banget. Maka, bersyukurlah diberi nikmat sehat.